Senin, 30 Desember 2019

Lari dari Rumah




Sejak kecil aku terbiasa dengan gelap. Ya, gelap. Tepatnya ruang kecil bernama kamar mandi yang pintunya dikunci dari luar kemudian lampunya dimatikan. Aku menangis. Sesekali sekadar sedu sedan, kerap pula sampai meraung. Panik. Takut. Itulah buah ketidaktaatan. Sejak kecil, jika orangtua perlu memberiku hukuman, maka hukumannya adalah gelap. Dijebloskan ke kamar mandi, dikunci dari luar, lampunya dimatikan.

Seharusnya ada efek jera setelah melakukan aktivitas yang dianggap keterlaluan, kemudian dihukum dimasukkan ke dalam gelap. Tapi hukuman itu gagal. Aku malah tumbuh menjadi pembangkang. Sewaktu ketahuan merokok padahal baru saja tamat SD, aku hanya takut sebentar saja. Beberapa hari kemudian merokok lagi. Tak bisa merokok sendirian di dalam kamar, pindah lokasi bersama beberapa orang teman merokok di semak belukar.

Semakin besar, aku punya aktivitas baru. Lari dari rumah. Tak bisa lagi aku ditangkap lalu dimasukkan ke dalam kamar mandi. Aku memilih lari. Tak pulang berhari-hari. Tidur berpindah-pindah dari rumah teman yang satu ke teman lain. Begitu terus sampai akhirnya saudaraku menjemput ke sekolah. Lalu aku pulang. Dimarahi. Dinasihati. Mengangguk sebentar. Terus lari lagi.

Teori-teori tentang ketaatan yang didapat dalam ruang-ruang sekolah, gagal merasuk dalam pikiran untuk kemudian diamalkan. Belum lagi lingkungan mendukung. Sistem mendukung. Puncaknya, ketika tamat SMA, berkesempatan meninggalkan Pontianak menuju ke Jogjakarta, di situlah aplikasi dari ketidaktaatan merajalela.

Sekarang, setelah bertahun-tahun kemudian aku berada di Bulgaria. Di negeri yang bahkan memimpikannya saja tak pernah. Tiba-tiba saja aku disergap rindu. Kenangan akan ketidaktaatan di masa lalu menggedor-gedor relung hati. Perjalanan ini telah begitu jauh.

Pertemuan dengan Pak Krassin menurutku bukan suatu kebetulan. Pada akhirnya aku dipaksa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan orang-orang di masa lalu. Tentang kebengisan. Tentang penjajahan. Apakah ini buah dari ketidaktaatan, sehingga bisa saja agama yang disandang bernama Islam, tapi perangai tak bisa dipertanggungjawabkan.

Jawabannya adalah opini yang dipaksakan untuk masuk ke kepala masing-masing kita. Kita sudah terlalu lama berada dalam cengkraman sekulerisme. Sehingga untuk yang begini-begini kita terima saja sebagai konsekuensi logis dari kehidupan.

Ternyata, rusaknya citra Islam tak hanya kudengar dari Pak Krassin. Agama ini begitu buruk di mata mereka. Dan anehnya, sebagian besar dari kita menyetujuinya.

Di tengah kota Sofia ada sebuah gereja yang berdiri cukup megah. Namanya Sveti Sedmochislenitsi Church. Berada di taman yang rimbun, gereja ini didedikasikan untuk St. Cyrirl dan Methodius dua orang bersaudara yang merupakan teolog Bizantium. Kedua orang ini kemudian menjadi begitu terkenal bahkan dianggap setara dengan rasul karena telah merancang alfabet Glagolitic, alfabet pertama yang digunakan untuk menuliskan huruf Slavonic kuno. Kalau kau bingung dengan apa yang kuceritakan, kau bayangkan saja huruf-huruf yang ada di negara Rusia, Bulgaria, Serbia, serta beberapa negara Balkan lainnya. Hari ini deretan abjad tersebut dikenal dengan nama huruf Cyrillic.

Gereja Sveti Sedmochislenitsi resmi digunakan pada tahun 1903. Agar orang-orang terus menerus mengenang santo Cyrril dan Methodius. Karena dengan alphabet inilah kemudian alkitab diterjemahkan dan orang-orang Slavia bisa membacanya kemudian diharapkan bisa taat memeluk Kristen. Kebudayaan pun berubah. Mereka seolah menemukan identitasnya.

Padahal hampir 400 tahun sebelumnya, bangunan ini adalah masjid. Dibangun dimasa pemerintahan Sulaiman Al Qanuni saat Islam begitu jaya di Bulgaria. Ini adalah Khalifah yang namanya terdengar di seluruh dunia. Di Barat, dia dikenal dengan istilah Sulaiman The Magnificien. Sulaiman yang Agung. Masjid tersebut merupakan salah satu bukti keagungannya yang tentu saja merupakan buah dari ketaatan kepada pencipta.

Dikenal dengan nama Masjid Hitam sebab menaranya terbuat dari batu granit bernama hitam. Di wilayah masjid ada sekolah untuk orang-orang belajar Ilmu pengetahuan. Ada juga dapur umum untuk orangmiskin. Tapi semenjak Utsmani tak lagi punya kuasa di Bulgaria, tempat ini berubah fungsi menjadi penjara. Hingga pada akhirnya diubah lagi menjadi gereja.

Setelah masa Sulaiman Al Qanuni, kekhilafahan Utsmani memang melemah. Terjadi kekalahan dan kemerosotan di banyak tempat. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktaatan. Syariat mulai ditinggalkan. Banyak pejabat hidup dalam gelimang kemewahan. Tradisi barat yang dianggap menyenangkan diadopsi untuk kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya mereka benar-benar terusir dari Bulgaria. Beberapa waktu  masih berkuasa di Turki, tanah asalnya. Tapi tak lama. Kekuasaan itu harus diberikan kepada pecundang bernama Kemal Pasha. 1924. Tutup riwayat.

Di Sofia, Bulgaria, hari-hari yang kulakukan adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Menyandang gelar lari dari rumah,bukannya aku mendekat pada ketaatan, malah sebaliknya. Bersembunyi di balik kesan gagah seorang pengembara, padahal begitu lemah di hadapan sang pencipta. Tak berdaya.

Kakiku terus melangkah. Semakin hari semakin akrab dengan dingin. Hingga di sebuah sore, bertemu dengan sebuah taman kota yang begitu luas. Di ujung pandangan, mataku menabrak sebuah monumen yang lumayan tinggi. Aku mendekat. Ada beberapa patung tentara. Juga ada patung seorang wanita menggendong bayinya. Inilah monumen yang kemudian terus diingat-ingat warga masyarakat. Masuk ke dalam pelajaran sekolah. Dipaksa agar tiap orang melupakan kemegahan The Black Mosque yang sudah hadir sejak masa Sulaiman yang Agung. Momument itu diberinama Pametnik na Savetskata armia, Monumen yang didedikasikan untuk tentara Soviet.

Selamat datang era baru di Sofia.

Jumat, 20 Desember 2019

LUPUT



Ada Bulgaria, ada pula Bulgar. Ada juga yang menyebutnya Bolgar. Hampir mirip tapi pada satu titik antara Bulgaria dan Bulgar berbeda. Dulu, asal mereka sama. Sungai Volga. Ini sungai terpanjang di Eropa. Kalau kau suka linguistik, kau akan suka dan mencari kaitannya; volga-bolga-bolgar-bulgar-bulgaria. Ah, jadi ingat zaman-zaman kuliah dulu.

Sungai Volga merupakan saksi abadi dari berbagai macam tabiat manusia, mulai dari sekadar perlintasan berbagai suku bangsa, hingga perebutan kekuasaan yang mengharuskan pertumpahan darah.

Kita mengenal nama Genghis Khan yang dari namanya saja kita akan langsung membayangkan penaklukan demi penaklukan. Salah satu rahasia kekuatan bangsa Mongol ini adalah kepiawaian mereka dalam menciptakan teknologi pembuat ransum atau perbekalan awet lainnya untuk para tentara. Mereka akan bergerak begitu cepat dari negeri ke negeri hingga mampu mengalahkan bangsa Persia yang jauh lebih beradab. Genghis Khan dan pasukannya kala itu tak mengenal huruf, tak bisa baca tulis. Tak berperadaban.

Sungai Volga ini pula yang dipercaya sebagai pintu gerbang masuknya Islam yang nantinya akan terus meluas meliputi negeri-negeri Eropa. Kalau kau ingin berkunjung ke sana hari ini, dari Moscow, kau bisa pergi ke negeri Kazan, ibukota Tatarstan. Melewati jalan darat kurang lebih tiga sampai empat jam kau akan sampai di Bolgar yang masuk dalam distrik Spassky.

Lalu apa hubungannya Bolgar dengan Bulgaria? Jarak antara keduanya hampir 3000 kilometer. Bolgar berada di wilayah Rusia, Bulgaria di daerah Balkan yang bersebelahan dengan Yunani. Ternyata mereka memang berasal dari satu rumpun suku-suku Azov. Orang-orang Bolgar yang tidak memeluk Islam terus melakukan pengembaraan. Bertemu dengan suku-suku lain. Kawin mawin dengan orang-orang Slavia. Memeluk Kristen Ortodhox. Hingga akhirnya menetap di sungai Danube kemudian menyebut diri mereka sebagai Bulgaria.

Di masa kekhilafahan Abbasiyah, orang-orang Bolgar bertemu Islam di sungai Volga. Yang tak mau masuk Islam memilih pergi hingga beribu-ribu kilometer. Tapi inilah agama yang penuh rahmat bagi seluruh alam. Meliputi bumi hingga titik terjauh. Nanti, kurang lebih tujuh abad kemudian, di masa kekhilafahan Utsmaniyah, Islam sampai ke wilayah Balkan, masuk Bulgaria, membuat orang-orang sana jatuh hati kemudian memeluknya.

Orang-orang Slavia yang memeluk Islam kemudian menyebut dirinya sebagai orang Pomak. Entah apa maknanya. Tak kudapatkan referensi tentang ini. Orang-orang Slavia ini tinggal di sebagian Yunani, Turki, juga Bulgaria. Mereka tak mau disamakan sebagai orang Turki karena mereka memang bukan orang Turki. Tapi begitulah Islam, perbedaan suku bangsa itu kemudian melebur dalam satu akidah. Dalam satu aturan dari pemilik bumi.

Saat aku berada di kota Sofia tak banyak kutemukan sisa-sisa peradaban Islam. Sebagain besar dihancurkan pada saat komunis berkuasa. Lima abad kegemilangan, secepat kilat menjelma kabar buruk yang memilukan. Tak hanya bangunan seperti masjid dan madrasah yang dihancurkan. Tapi juga manusianya. Mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, jika tidak mau berarti mereka memilih dibunuh.

Berikutnya adalah citra buruk terhadap Islam yang harus terus menerus diangkat ke permukaan. Kasar. Begal. Hina. Terbelakang. Tak berpendidikan. Citra ini menyergap pikiran manusia-manusia modern. Didukung pemerintah yang meminggirkan Islam dengan sengaja melalui berbagai kebijakan.

Komunitas Muslim Roma adalah kelompok masyarakat yang begitu menderita di zaman modern. Desa-desa mereka tanpa listrik, fasilitas pendidikan, juga lapangan kerja. Perlakuan diskriminatif seperti tak pernah selesai mereka alami. Politik belah bambu yang dilakukan barat pun mereka rasakan. Karena mereka beragama Islam, orang-orang Bulgaria modern menyebut mereka sebagai Gipsi Turki. Tetapi komunitas Turki menolak mereka, sebab kulit mereka lebih gelap. Gipsi. Tak diterima di komunitas Turki. Tak diterima di komunitas Bulgaria. Beragama Islam. Masih hidup. Tapi luput dari perhatian kita semua.

Itulah kenapa kita memerlukan kepemimpinan yang satu. Yang akan melindungi kaum muslimin di seantero negeri. Tak peduli apa suku bangsanya, selama akidahnya Islam, mereka adalah saudara yang wajib mendapat perlindungan. Kepemimpinan yang satu ini akan menerapkan syariat secara menyeluruh.

Jangan luput lagi. Mari ikut berjuang, kawan.

Kamis, 28 November 2019

Pulang Halaqoh Masih Pagi



Puisi oleh: Pay Jarot Sujarwo
Inspired by: water colour painting of Deni Junaedi

Di luar, langit sudah biru
Awan putih tipis tipis mengarak rindu
Pekan depan kita akan kembali bertemu
Mengeja aksara meraba fakta mematri waktu
Dengan siasat jitu

Suasananya terkadang syahdu
Tak jarang menggebu

Sepulang Halaqoh,
Rerupa warna luruh dalam genang air.
Menjelma rumah jawa, jalan gang, juga pepohonan.
Barangkali juga ada selokan, kelokan,
ketemu belokan, berakhir dengan kuburan.
Tapi pagi ini jabat tangan musyrif seperti titip pesan,
Bahwa perkampungan yang kita gambar,
bisa jadi noktah berharga meraih kebangkitan.

Di kampung itu kita halaqoh.
Di kampung itu kita setia dengan fikroh dan thoriqoh.

Sepulang halaqoh, pagi bercerita tentang harapan tanpa umpama
Dahsyat dan berharga!

Pontianak, November 2019

Selasa, 26 November 2019

Nasionalisme (Part 2)

Perjanjian Westphalia telah mengakhiri perang tiga puluh tahun antara Katolik dan Protestan di Jerman. Setelah perjanjian ini juga warna politik di Eropa berubah. Kekuatan Kaisar Romawi Suci Hancur. Belanda merdeka dari Spanyol. Perancis muncul sebagai kekuatan baru. Jerman menentukan wilayahnya sendiri. Swedia menguasai baltic. Konsep nation-state berkembang. Pemisahan agama dari kehidupan adalah asasnya. Kita kenal dengan nama sekulerisme. 1648 kejadiannya.

Jika kita jeli, sekularisme sebenarnya hadir bukan dari proses berpikir, melainkan hasil kompromi. Sekulerisme diambil sebagai jalan tengah dari dua pemikiran kontradiktif.

Pemikiran pertama berasal dari tokoh-tokoh gereja semenjak abad pertengahan (abad ke5 sampai 15) yang mengatakan bahwa seluruh urusan kehidupan harus tunduk dengan aturan agama yang otoritasnya ada di tangan gereja.

Pemikiran kedua berasal dari para filsuf di akhir abad pertengahan yang menolak keberadaan pencipta. Tuhan itu tidak ada. Jadi kenapa harus ikut aturan Tuhan?

Dua pemikiran ini begitu kontradiktif dan menimbulkan gejolak baru. Maka orang-orang berkompromi dan mengambil jalan tengah. Gereja mengurusi agama saja. Negara mengurusi kehidupan.

Negara-bangsa yang muncul pada waktu itu, dengan bangga mengusung sekulerisme sebagai asasnya dalam rangka menatap kehidupan yang lebih baik.

Dominasi gereja melemah. Ilmu pengetahuan semakin memuncak. Isaac Newton hadir dengan bukunya Principia. Dia merupakan ilmuwan paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di abad pencerahan.

Selain Newton, ada pula John Locke yang menerbitkan buku Two Treatises of Government, yang menyajikan ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi liberal.

Menurut Locke, ide hak suci raja harus ditolak. Pemerintah harus menjalankan pemerintahan berdasarkan persetujuan yang diperintah. Maka lahirlah hak-hak asasi individu manusia serta bagaimana negara melindungi hak-hak individu tersebut.

Pemikiran John Locke ini kemudian mendorong orang-orang untuk bertindak bebas, karena ini dilindungi oleh negara. Tidak ada lagi urusannya dengan agama. Selanjutnya, seperti yang sudah kita pelajari bersama, gagasan ini melahirkan revolusi monumental di dunia yang kita kenal dengan nama Revolusi Perancis.

Sekarang, mari kita runut ulang, agar tidak lupa.

Eropa berada di Era yang begitu gelap selama kurang lebih 10 abad. Perang berkepanjangan. Bodoh. Miskin. Terbelakang. Amoral.

1648, ditandatangani perjanjian Westphalia. Nasionalisme hadir dan menyebar ke Eropa.

Dalam rangka mewujudkan nasionalisme ini mereka perlu asas. Perlu pondasi. Perlu akidah. Dipilihlah akidah moderat, jalan tengah, bernama sekulerisme.

Setelah itu ilmu pengerahuan berkembang. Issac Newton memunculkan berbagai macam teori pengetahuan, John Locke menginspirasi orang berbuat bebas (liberal) yang hak-haknya dilindungi negara.

Revolusi perancis terjadi, Eropa lahir kembali. Renaissance. Dan ini harus disebarkan ke seluruh dunia. Nasionalisme dianggap konsep paling ideal demi kemajuan. Agama tak boleh atur kehidupan.

Ditetapkanlah konsep ideal itu hingga hari ini.

Tapi benarkah ini konsep yang benar-benar ideal?

Minggu, 10 November 2019

Nasionalisme (Part 1)

Dahulu, di masa gelap, di Eropa, orang-orang tak berhenti berperang. Alasannya bisa macam-macam; agama, suku, bisnis, geografi, dan lainnya.

Kejadian ini berlangsung terus menerus. Yang cukup terkenal adalah perang 30 tahun (1618 - 1648).

Kasat mata, ini terlihat seperti konflik antara Katolik dan Protestant. Padahal kepentingan antar dinasti (yang saat ini berlokasi di negara Jerman) cukup kuat. Para pemilik tanah juga terlibat. Selanjutnya, bunuh membunuh antar rakyat.
  
Peristiwa lain, perang 80 tahun antara Spanyol dan Belanda (1568 - 1648). What? 80 tahun mereka berperang? Mulai dari saling menghina antar suku hingga saling bunuh.

Begitulah Eropa, benua gelap yang diakibatkan oleh perang, menjadi terang pun dengan perang.

1648, pihak-pihak penting sepakat untuk menandatangani perjanjian damai. Berlokasi Osnabrück dan Münster, Westfalen (sekarang di Jerman).

Melibatkan Kaisar Romawi Suci, Ferdinand III, dari Wangsa Habsburg, Kerajaan Spanyol, Kerajaan Prancis, Kekaisaran Swedia, Republik Belanda, Pangeran Kekaisaran Romawi Suci, dan perwakilan berdaulat dari kota imperium bebas.

Selanjutnya perjanjian damai ini dikenal dengan nama Perjanjian Westfalen (Westphalia). Kerajaan Spanyol berdamai dengan Belanda. Sekaligus mengakui eksistensi Republik Belanda. Di sini juga ditandatangani dengan perdamaian antara Kaisar Romawi Suci dan Perancis juga sekutu-sekutunya. Swedia juga sekutu-sekutunya begitu pula.

Kata sejarawan, Westphalia menjadi penanda perubahan sistem politik Eropa. Dari sistem kerajaan yang berkoalisi dengan gereja, berganti menjadi konsep negara berdaulat. Rakyat ikut campur menentukan pemimpinnya. Gereja tak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sekuler asasnya. Demokrasi sistemnya. Dari sini kemudian kita mengenal negara berdaulat. Nasionalisme.

Nasionalisme hadir dan menyebar begitu cepat di Eropa. Apakab masalah beres? Apakah perang berakhir? Tidak. Selanjutnya kita akan mengenal kekejaman demi kekejaman dalam rangka pencaplokan wilayah kekuasaan baru. Kolonialisme berlangsung. Ratusan tahun umurnya. Nasionalisme dipaksakan hingga ke seluruh penjuru dunia.

(bersambung)

Selasa, 05 November 2019

Cerita Kopi

Kopi adalah sesuatu yang luar biasa. Bisa memberikan kebaikan di dua sisi. Pantang Alkohol di Inggris dan Peradaban di mana-mana.
---
Ini adalah percakapan imajiner antara pengusaha kopi dan penyair yang ia rekrut untuk menjadi marketing dari usaha yang ia jalankan. Pinker dan Wallis.

Percakapan itu terjadi di London dengan setting waktu di tahun 1896. Di bagian-bagian awal, si pencipta karakter Pinker dan Wallis akan cukup membuat pembaca terksesima untuk melanjutkan kecintaannya pada kopi.

Saya ingin masuk ke latar waktu dari adegan itu.

Ini adalah masa dimana Alfonso de Albuquerque sukses mempromosikan rempah ke sisi barat dunia, sehingga mereka berebut datang ke wilayah timur. Untuk rempah, pada mulanya. Belanda berhasil. Cerita sebelumnya, Belanda tahu betul, bahwa kopi juga sesuatu yang tak boleh ditinggalkan. Dari Al-Mukha, kopi dibawa, dipaksakan ditanam di Jawa. Pada akhirnya menjadi pundi-pundi harta tak ternilai. Aromanya menyebar di atas meja, dihirup para pejuang Renaissance Eropa. Berkelas terlebih bagi mereka yang pantang Alkohol.

Memang, saya tak menemukan data berapa jumlah pecandu alkohol di Inggris yang kemudian berpindah ke kopi. Tapi berbagai literatur telah kita baca, bahwa kopi ikut membersamai bangun jatuhnya peradaban di mana-mana. Mulai dari teman para pemburu ilmu yang mencintai penciptanya di malam hari, agar kuat terjaga, agar banyak karya tertulis, agar banyak zikir terucap, agar dekat dengan pencipta, hingga menjadi alasan kolonialisasi berbagai macam negeri.

Anthony Cappella berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca untuk lebih larut menyelami kopi. Tapi perlu digarisbawahi, dia adalah penulis yang otaknya berkembang karena Renaissance. Pemuja sekulerisme. Pengakuannya terhadap kemajuan besar di segala bidang yang menghasilkan peradaban mulia bernama Islam, tak membuatnya menjadi pengembannya.

Tentu saja pembaca perlu untuk senantiasa kritis, agar tidak mudah larut dalam diksi berbahaya yang berkumpul dalam 680 halaman bookpapaer 65 mg yang kemudian kita menyebutnya dengan nama Novel.

Ngopi dimana kita pagi ini?

Minggu, 29 September 2019

Tentang Membaca


Bagaimana cara menghasilkan tulisan yang mampu menggerakan orang menuju perubahan?

Itu pertanyaan dari seorang mahasiswa baru saat kemarin sore kami diskusi ringan soal literasi. Ini pertanyaan berat. Kenapa?

Sebab bagaimana akan lahir tulisan yang mampu menggerakkan orang, ketika tidak mau membaca. Saya mencoba menyebut beberapa nama, seperti Tan Malaka dan Soe Hok Gie, misalnya. Mahasiswa ini tak tau. Belum pernah mendengar sebelumnya.

Ini saya bisa maklumi. Tak juga bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Sebab saat ini mereka hidup di dalam situasi dimana membaca itu adalah sesuatu yang tak perlu. Akibatnya, jika membaca hasilnya ngantuk juga membosankan.

Kalau begini kenyataannya, maka dipastikan kita tak bisa menghasilkan tulisan yang mampu membuat pembaca bergerak menuju perubahan.

Tapi sore kemarin saya senang, beberapa mahasiswa baru ini antusias. Satu di antaranya pernah dengar Nama Hasan Al Bana. Itu angin segar. Semoga tak sekadar mendengar nama, tapi juga mau membaca karyanya atau biografi tentangnya.

Para mahasiswa baru ini sepakat untuk datang diskusi santai di warung kopi setiap minggu sore. Nanti kita akan membaca banyak buku. Nanti kita akan cerita tentang bagaimana cara mendatang ide tulisan. Nanti kita akan praktik menulis.

Pun akan kita bahas perkara ideologi. Pelan-pelan, mahasiswa ini semoga saja bisa kompromi dan akhirnya bikin keputusan bahwa menghabiskan waktu dengan main PUBG di warung kopi sambil membiarkan pacarnya duduk cemberut di sebelahnya adalah hal sia-sia yang sudah saatnya ditinggalkan.

Oh iya, saya punya buku bagus di rumah. Sila jika mau datang dan ikut membaca.

Minggu, 18 Agustus 2019

Sedikit Bocoran Soal Project Menulis buku Perjalanan di Kuala Lumpur dan Malaka

oleh Pay Jarot Sujarwo

Beberapa waktu lalu saya buka paket trip. Saya kasi judul Islamic Trip and Travel Book Project. Destinasinya adalah Kuala Lumpur dan Malaka. Pesertanya saya buka ke siapa saja. Tak hanya orang dari daerah saya Pontianak. Tapi juga dari manapun di negeri ini yang pengen ikut, disilakan.

Saya punya alasan kenapa saya buka paket trip seperti itu. Alasan prinsipilnya karena trip ini adalah perjalanan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Taqorub. Bagian dari ibadah. itu yang harus diniatkan dari awal. Jika pun ada peserta yang niat dari hatinya ingin berlibur, senang-senang, jalan-jalan ke tempat wisata, ya tidak apa-apa. Namun ikhtiar untuk senantiasa menyampaikan ide-ide Islam dalam segala situasi tidak boleh terbengkalai. Makanya kemudian judul dari perjalanan ini adalah Islamic Trip.

Tentang project menulis buku? Bukankah dengan dikasi embel-embel menulis buku kemudian pangsa pasar jadi menyempit? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak suka menulis dan tidak bisa menulis?

Itu beberapa pertanyaan yang muncul. Pertanyaan wajar karena memang seperti itulah realitasnya. Tapi lagi-lagi saya punya jawaban prinsipil. Proyek menulis buku ini harus terealisasikan. Dengan demikian ada sesuatu yang bisa dibagikan kepada khalayak. Tak sekadar umbar foto di media sosial. Dalam buku yang nanti akan terbit banyak sekali isi kepala dari tiap peserta tumpah. Ada pemikiran. Ada cuplikan sejarah. Ada laporan pandangan mata. Ada testimoni. Ada pesan kesan. Perlu diingat, ini adalah Islamic Trip. Alllah terlibat dalam perjalanan ini (idrak sillah billah). Jika pada akhirnya Allah ridha, bukankah bukunya nanti akan menjadi amal jariyah dimana tiap manfaat yang diambil oleh pembaca, kita mendapatkan pahalanya. Bagaimana jika ternyata bukunya best seller? Berapa pahala yang akan kita dapat? Tak terhitung.

Itu kalau best seller? Bagaimana kalau bukunya tidak laku?

Kalau bukunya tidak laku, tidak kemudian ikhtiar kita ini menjadi dosa. Tetap saja Allah lebih tahu tentang niat kita. Tentang ikhtiar mengabadikan momentum perjalanan dengan kata-kata. insyaAllah ini menjadi amal sholih.

Begitu kira-kira jawaban prinsipilnya. Meski demikian, saya juga punya jawaban tidak prinsipil. Kenapa Islamic Trip dan Travel Book Project? Kenapa tidak open trip biasa?

Karena saya bukan guide, seperti yang dipahami masyarakat kebanyakan tentang profesi guide turis.
"Bapak ibu, sekarang kita sudah sampai di sini, silakan menikmati tempat ini, 30 menit saja ya. nanti kita kumpul di sini. terus pindah lagi ke tempat lain,"

"Ayo bu... ibuuu. ibuuu, cukup belanjanya bu. kita dikejar waktu. ayo pada kumpul. ayo ayo ayo kumpul"
"Bapak ibu, tempat ini awalnya begini begitu sejarahnya panjang begini begitu lalu terjadi perang begini begitu (meanwhile guide bertutur, peserta poto-poto)

Bukan. Jika seperti itu profesi guide, maka itu bukan saya. Saya lebih suka menyebut diri sebagai teman perjalanan. Tour Leader yang mengikuti perintah Rasulullah. Bahwa harus ada pemimpin dalam perjalanan.

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

jika keluar 3 (tiga) orang dalam sebuah perjalanan hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin (dalam safar, pen) (HR Abu daud)

Pada posisi ini, insyaAllah kita akan lebih akrab. yang mengikat dalam perjalanan kita adalah hukum syara. Sementara potensi peserta untuk explore destinasi dengan berbagai macam imajinasi, bisa lebih besar.

Jawaban lain, kenapa Islamic Trip dan Travel Book Project, karena ini adalah perjalanan yang membahagiakan.
-----
Ah, itu sih bukan jawaban.
----

Lho? Tidak percaya?

Cerita ini tidak memaksa kamu untuk percaya atau tidak percaya. Cerita ini mengajak kamu untuk mendaftar dan ikut serta.

Seat masih terbuka
bisa WA langsung ke nomor saya 081256918507, 089505852201

Jumat, 16 Agustus 2019

Babe

oleh Pay Jarot Sujarwo


Foto Karya Almarhum Sugeng Hendratno
Wow, it’s amazing. Aku membatin setelah melihat hasil potret. Diriku yang jadi objek. Lalu jangan kau pikir gambar ini dihasilkan dari HP android dengan teknologi kamera bokeh yang digemari anak-anak alay zaman kekinian. Bukan. Itu diambil dengan kamera DSLR, entah apa merknya, memiliki lensa yang begitu panjang, diambil dari jarak yang jauh. Lokasi pemotretan, Rumah Mimpi, tahun kejadian, 2009.

Fotografernya bukan fotografer sembarangan. Dia adalah fotografer terbaik yang pernah dimiliki tanah ini. Jangan, jangan kau banding-bandingkan dia dengan fotografer lainnya. Tidaklah sekali-kali ada yang menyamainya. Titik. Tanpa penawaran.

Aku mengenalnya, barangkali sekitar tahun 2007 atau 2008. Jumpa kami pertama di markas Canopy Indonesia, jalan Karimata 43. Bang Deny Sofian yang memperkenalkannya kepadaku. Dari situ interaksi kami semakin sering. Keakraban terjalin. Nanti, setelah dari Karimata, sama-sama kita bangun Rumah Mimpi, di Taman Gitananda. Sungguh, waktu itu para seniman di kota ini merasa punya tempat. Kreatif. Guyup. Bersahaja. Akur.

Para sastrawan punya aktivitasnya sendiri. Pembuat film begitu pula. Musisi kumpul berkarya. Para fotografer begitu tangguh. Masing-masing punya ruang kreatif, namun antar disiplin ilmu punya jalur interaksi yang juga indah. Di rumah mimpi ia mengajar fotografi bagi para fotografer pemula. Apa yang terjadi saudara pemirsa? Hari ini hampir semua siswanya telah menjadi fotografer profesional. Ia dipanggil Babe. Ini bukan sekadar karena usianya lebih tua, tapi memang kebijaksanaan seorang bapak ada padanya. Orang-orang tak sekadar belajar fotografi dan perkara seni budaya, tapi ada nilai kearifan dalam dirinya. Babe. Jika ia pergi, maka semua anaknya akan merindu.

Pasca Rumah Mimpi, interaksiku dengannya mulai jarang. Tapi aku tau, ia menjadi fotografer andalan WWF. Ia memotret orang utan, memotrret burung enggang, memotret badak, memotret pedalaman. Ia membuat entah berapa pasang mata berdecak kagum karena hasil karyanya. Di tangannya, karya fotografi punya value berharga.

Oh iya, usia kami terpaut jauh, tapi kami punya tanggal lahir yang sama. 5 Juli. Jika facebook memberi selamat ulang tahun kepadaku, pasti juga mengucapkan selamat kepadanya. Di rumah mimpi, dulu para seniman pernah merayakan ulang tahun kami bersama.

Waktu merambat, musim berganti. Aku semakin jarang berjumpa Babe. Beberapa kali, jika pas main ke WWF, pernah kulihat ia sekali dua. Tapi sangat jarang. Apalagi setelah mengetahui ia harus bertugas di luar Kalimantan Barat.

Hingga suatu hari, kudengar kabar duka. Ia terkena kanker dan harus dirawat di rumah sakit di Jakarta. Ia sendiri yang menceritakan kepada dunia perihal sakitnya lewat facebook. Ya, waktu itu ia masih bisa pegang HP, unggah berita terkini sambil berharap doa dari sanak kerabat.

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (Surah Yunus ayat 49)

Pada akhirnya Allah yang punya hak atas kehidupan dan kematian. Hari ini, tak bisa dimajukan tak bisa dimundurkan, Babe pergi dari dunia. Selanjutnya ia akan melewati fase berikutnya. Fase alam kubur, dilanjutkan dengan fase pertanggungjawaban.

Semua orang yang mengenalnya tentu saja merasa kehilangan. Babe tak hanya fotografer terbaik, tetapi teman, guru, sekaligus ayah bagi banyak orang yang darinya betapa banyak pelajaran telah diambil.

Kami yang hidup ini tak ada lain yang bisa dilakukan, selain berdoa, semoga banyak pelajaran itu berbuah pahala. Menjadi bekal bagi Babe di akherat. Menjadi modal baginya jika harus berhadapan dengan malaikat saat dimintai pertangungjawaban.

Kematian Babe sekaligus menjadi pelajaran bagiku juga kita semua, bahwa besok bisa jadi kita yang dijemput ajal. Besok bisa jadi kita yang dimintai pertanggungjawaban. Sudahkah kita mempersiapkan?

Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga babe Sugeng Hendratno husnul khotimah.

----------------
Pontianak 20 Juli 2019

Senin, 05 Agustus 2019

Berjumpa Doktor Paling Produkif Sedunia


Oleh: Pay Jarot Sujarwo

Siapa yang pernah dengar nama Dr. Ahmad Sastra? Beliau adalah ketua Forum Doktor Islam Indonesia. Aktivis muslim, para pejuang yang rindu akan kebangkitan Islam tentu saja sudah tidak asing dengan beliau.

Saya pribadi belum pernah bertemu dengan seorang Doktor, super sibuk, mengajar di mana-mana, dalam dan luar negeri, jadwal dakwah juga padat, ditambah produktivitas menulisnya yang bikin siapapun geleng kepala. Tapi orang itu wujud. Nampak. Namanya Dr. Ahmad Sastra.

Di sosial media juga grup whatsApp, tulisannya berseliweran kesana kemari. 100% dari tulisan itu adalah tulisan yang mengajak kita berpikir kemudian memahami betul akar masalah yang di hadapi manusia zaman sekarang ini, sambil menemukan jalan keluar dari permasalahan itu. Setiap hari. Selalu saja ada tulisan panjang beliau. Tak jarang jumlahnya lebih dari satu.

Di media cetak, khususnya Republika, wah tak usah ditanya lagi. Dr. Ahmad Sastra adalah orang yang tulisannya langganan terbit di Republika. Bukunya juga diterbitkan beberapa penerbit. Bahkan ada penerbit yang akhirnya bangkrut tapi masih menyimpan tulisan beliau yang belum sempat terbit. MasyaAllah. Inilah senyata-nyatanya amal jariyah yang siapa pun ingin bisa melakukannya. Semoga Allah menjaga keistiqomahan beliau dalam menyampaikan ide-ide bernas via tulisan.

Kemarin saya diundang makan oleh beliau. Tentu saja ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Seorang pejalan, yang singgah di suatu kota, terus diundang makan oleh doktor istimewa. Setiap akhir pekan, doktor ini mengajar di Singapura. Di Indonesia beliau juga punya mahasiswa dari Malaysia yang dibina untuk menghasilkan buku. Mengajar di berbagai kampus, filsafat, juga literasi untuk peradaban. Ngeri betul mendengarnya. Tapi orang "ngeri" ini ternyata baik hati dan ngotot mentraktir saya makan. Mau gimana lagi, saya pasrah dan bergembira.

Di meja makan, Dr Ahmad Sastra bercerita tentang aktivitas kepenulisannya. Sudah puluhan tahun beliau berjumpa dengan orang-orang yang tak berhenti berkeluh kesah tidak bisa menulis.

"Padahal menulis itu seperti memasak," katanya.

"Ada yang memasak induktif ada pula yang memasak deduktif," beliau melanjutkan. Wah saya baru dengar perkara ini. Sepertinya seru.

Memasak induktif maksudnya: masuk dapur kemudian memasak dari bahan yang ada di dapur, masakan disesuaikan dengan bahan yang ada.

Masak deduktif adalah mau masak menu tertentu tanpa melihat bahan di dapur, jika tak ada bahan yang sesuai menu, maka dia harus ke pasar dulu untuk beli bahan.

Itulah analogi menulis, menulis induktif adalah membuat tulisan dari apa yang sudah ada dalam otak dan pengalaman selama ini. Terlalu banyak informasi dan ilmu yang selama ini mengendap dalam otak setiap orang, hanya belum dituangkan saja kan?
Modal masak, setelah ada bahan, tinggal keterampilan/teknik dan alat-alat masak. Setelah itu masaklah sesering mungkin, Insyaallah akan sedap dengan sendirinya. Bagikan masakan kepada setiap orang, untuk dirasakan dan dikomentari.

Begitu kira-kira petuah bijak dari doktor paling produktif sedunia ini. Setidaknya versi saya.

Selain soal induktif dan deduktif, beliau juga bercerita tentang ibu-ibu yang sudah puluhan tahun memasak dengan ibu-ibu muda yang baru memasak. Tentu saja akan ada beda rasa. Beda pula imajinasi juga improvisasi.

Ini indikasi nyata bahwa menulis itu memerlukan proses. Dan jika tidak betah dengan proses itu maka bersiaplah rasa yang kita hasilkan menjadi hambar.

Saya pribadi sering menemukan anak-anak muda yang begini ini. Tidak sabar dalam menulis. Inginnya tulisannya buru buru menjadi buku biar bisa dibaca banyak orang. Nanti jika bukunya terbit dan ternyata tidak laku, karena memang tulisan yang belum matang, lalu ngomel-ngomel sendiri.

Balik lagi ke meja makan. Seusai makan kami bercakap-cakap tentang kemungkinan-kemungkinan. Kita pindah meja. Beliau menyalakan laptop, dan MasyaAllah, ada ratusan tulisan yang menanti untuk diterbitkan.

Sungguh saya sangat ingin ikut campur dalam prosesi amal jariyah ini. Sungguh, saya ingin diajak. Ini peluang besar dalam rangka menyelamatkan hidup saya dari siksa di hari akhir. Entah berapa banyak dosa ini.

Bismillah, saya beranikan diri untuk "nembung" kepada pak Doktor.

"Boleh naskah-naskahnya saya bantu agar terbit jadi buku?"

Beliau mengiyakan. Saya begitu bungah. Girang tak alang kepalang. Perpindahan naskah dari laptop ke hardisk terjadi. Ya Allah, ridhoi upaya ini.

Kurang lebih satu jam perjumpaan kami. Selanjutnya kita berpisah. Dr ahmad sastra akan mengajar, saya akan melanjutkan perjalanan. Semoga Allah menjaga pertemanan kami, di dunia, juga akherat.

Kamis, 01 Agustus 2019

Feta

Chapter ke 34 buku RUTE: catatan tentang kembara
oleh Pay Jarot Sujarwo


Yang tak bisa lepas dari Eropa adalah keju. Ini tidak ada perdebatan. Seolah-olah mereka tak bisa hidup tanpa keju. Alasannya kenapa, tak tak pernah tahu. Riset tentang itu tak pernah kulakukan. Aku pribadi pada mulanya tak suka dengan keju. Maksudnya begini, selama di Indonesia, pernah beberapa kali mencicipi keju yang tentu saja rasanya cocok di lidah.

Ketika sampai di Bulgaria, berkenalan pertama kali dengan keju, langsung kuputuskan untuk tidak menyukainya. Belum, aku belum mencicipinya. Hanya menciumnya. Baunya begitu menyengat. Bau kambing yang tak sedap. Kalau gulai kambing aku suka. Tapi langsung kuputuskan tak suka dengan keju bau kambing ini.

Begitu juga dengan turunannya seperti yogurt. Tak mau kumakan. Pernah sekali disuruh mencicipi oleh seorang teman. Belum terlalu dalam masuk kerongkongan, langsung kuputuskan tak suka dengan benda satu ini. Terserah kau lah kalau mau bilang lidahku lidah kampung. Tak ada urusannya dengan kehidupanku.

Di Bulgaria, orang-orang bangga dengan keju berwarna putih. White Cheese bahasa Inggrisnya. Ini khas. Khusus daerah Balkan, keju ini dikenal dengan nama Feta. Keju berwarna putih dengan rasa sedikit asin dan memiliki tekstur yang rapuh. Feta adalah bahasa Yunani. Karena memang dari sanalah keju ini berasal. Konon sudah diproduksi manusia sejak 8000 tahun sebelum masehi. Ingat ini hanya konon. Tak perlu kau percaya seratus persen.

Menurut orang-orang Yunani, sejarah keju sama tuanya dengan kemanusiaan itu sendiri. Memang pembuatan keju tak diketahui darimana asalnya, tapi diyakini erat hubungannya dengan proses penjinakan hewan liar yang akhirnya menjadi hewan domestik. Seperti domba dan juga sapi. Itu sudah terjadi 10.000 tahun sebelum masehi. Kalau cerita Yunani kuno, biasanya hampir setiap hal dihubungkan dengan mitologi, termasuk urusan keju ini. Kata mereka, para dewa yang punya ide pertama kali mengajarkan manusia membuat keju. Artinya ini adalah makanan dewa-dewa. Aristaios, putra Apollo diutus untuk turun ke bumi, dialah dewa yang mengajarkan seni pembuatan keju kepada manusia. Catatan tentang ini akan kau temukan di Homer’s Odissey.

Tapi itu di masa Yunani Kuno. Di masa modern sekarang ini Feta telah menjelma ke dalam berbagai jenis keju yang sekaligus membawa ciri negaranya masing-masing. Feta Yunani berbeda dengan Feta Turki berbeda dengan Feta Bulgaria berbeda dengen Feta Makedonia berbeda dengan Feta Serbia berbeda dengan Feta Rumania berbeda dengan feta dari batas-batas negara yang lain.

Di Bulgaria kau akan mendengar orang-orang menamakan keju putih ini dengan sebutan Sirine. Dan sekali lagi, dia berbeda dengan keju putih Yunani atau pun negara lain. Apa bedanya? Ah, tak tau aku dan bukan itu poinnya. Tapi tak kau perhatikankah betapa urusan nasionalisme telah mennciptakan pengkotakan luar biasa bahkan hingga urusan keju? Mereka akan sangat egois demi membangga-banggakan keju dari negaranya masing-masing.

Kalau sebutan ‘sirine’ mungkin akan terdengar mirip dengan orang-orang Serbia, Kroasia, Makedonia, di Bulgaria ada lagi sebutan yang ini benar-benar asli Bulgaria. Tak ada di tempat lain. Asli. Titik. Tidak boleh kau samakan dengan batas negara lain. Namanya Brindza. Juga dikenal dengan sebutan Tangra Bulgarian Feta. Terbuat dari susu domba murni dari domba yang merumput bebas di pegunungan Rhodope. Nama Tangra berasal dari mitologi Bulgaria Kuno, sebagai Dewa yang melindungi hewan dan menjaga pertanian. Ah, lagi-lagi mitologi.

Tapi dari pegunungan Rodhope kau tak hanya akan mendengar kisah keju dan juga musik Kaba Gaida. Juga ada kisah komunitas muslim Bulgaria di sana. Mengakar dalam sejarah panjang peradaban yang sejarah itu pelan-pelan namun pasti coba dihilangkan dari ilmu pengetahuan modern oleh pemenang perang, barat. Sejarah itu tak disebut-sebut oleh Profesor Krassin kecuali hanya sekelompok orang bengis yang terus menerus melakukan pembantaian selama berabad-abad. Islam di zaman modern, seperti tak punya tempat. Kalau pun ada, tempatnya di bagian bawah yang semakin ke sini semakin mudah untuk dilecehkan.

Nanti akan kuceritakan padamu tentang pegunungan Rhodope. Sekarang aku ingin mencicipi feta rasa Bulgaria. Tapi kawan, kau jangan terkejut mendengar cerita ini. Kalau tertawa boleh lah. Sedikit saja. Tadi kau sudah dengar ceritaku tak suka keju. Tapi benda satu ini ada di mana-mana. Buka kulkas ketemu keju. Di meja makan ada keju. Terlebih saat makan salad, ada feta di dalamnya, juga olive oil (zaitun) yang begitu menggiurkan.  

Ok. Aku tak bisa terus menerus menghindar dari feta. Tak bisa. Harus kucoba. Di pasar tradisional, aku ketemu orang jual beras dan indomie. Alhamdulillah. Berasnya dari vietnam, bungkus indomienya bertuliskan huruf arab yang ternyata dari Suriah. Nanti setelah dibuka, akan ketemu bumbu indomie origin dari Indonesia. Siapa yang tidak bangga dengan Indomie Indonesia? Ah, lagi-lagi nasionalisme. Sialan. Konsep nation state ini sudah seharusnya dipinggirkan dengan persatuan umat yang hakiki.

Nasi dan Indomie inilah yang jadi makanan andalanku selama di Bulgaria. Tentu saja aku juga sedia telor dan membeli sayur beku yang tersimpan dalam pendingin untuk persiapan selama musim dingin. Ada garam, garlic, onion, juga sedikit gula dan cabe, aku selamat dari berbagai macam makanan Eropa yang rasanya hambar.

Baik, di meja makan nasi terhidang. Semangkuk indomie siap sedia. Juga telur dadar dengan kecap dan sambal. Berikutnya adalah feta. Jangan kau cium baunya. Jangan. Tapi kau kunyah nasi sesuap, kau ambil feta sedikit, masukkan dalam mulutmu yang masih terisi nasi itu. Kunyah secara bersamaan. Jika kau tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah, hirup kuah indomie juga kunyahlah makanan kebanggan Indonesia Raya itu barang sesuap. Masih belum terasa netral? Telor kecap sambal masukan mulutmu. insyaAllah aman sentausa sehat sejahtera.

Itu yang aku lakukan. Begitu terus menerus. Lama kelamaan porsi kejunya ditambah. Sebab kau akan semakin terbiasa. Nanti pada suatu titik, kau akan ketemu bahwa keju putih ini, bahwa feta yang berasal dari dewa-dewa ini, ternyata rasanya lezat. Sungguh. Aku sudah membuktikan. Berikutnya, tak lagi kau perlukan nasi juga indomie, telor kecap dan sambal.

Cukup kau cuci bayam segar, ambil daunnya, simpan di atas piring. Lumuri dengan minyak zaitun. Taburi sedikit garam. Aduk merata. Lalu makanlah daun bayam itu bersama dengan feta. Hmmm, yummi.


Senin, 29 Juli 2019

Sebuah Akhir yang Baik

Quarter pertama 2015, sepulang dari perjalanan ke Kamboja dan Thailand, aku terlibat percakapan intensif dengan seorang teman ngopi tentang Islam. Hingga akhirnya dari percakapan intensif ini muncul kesepakatan bahwa kita akan mengkaji Islam secara intensif pula. Minimal sepekan sekali waktu maksimal dua jam setiap pertemuan. Kemudian aku mengenal pertemuan ini dengan sebutan halaqoh. Teman ngopi ini berubah fungsi menjadi guru ngaji, dikenal dengan sebutan musyrif.

Meski sudah ada kesepakatan halaqoh sekali sepekan, dan musyrif punya kesibukan yang teramat sangat, tapi aktivitas ngopi bareng dan cerita pemikiran Islam tidak dihentikan. Malah semakin intensif. Aku masih ingat, waktu itu hampir tiap hari kita berjumpa. Sarapan, sebelum musyrif berangkat mengajar di kampus, sempatkan sarapan bersamaku. Nanti siang, jika ada kesempatan jumpa, kita minum kopi bersama. Terus malam hari, jumpa lagi di warung kopi.

Inilah fase pembinaan. Konon, keputusanku untuk berhijrah harus terus dikawal. Orang-orang di Pontianak sudah tau trackrecord-ku. Pecundang kelas kakap terhadap aturan Allah. Diajak sholat, apa jawabanku? Yak, tepat. Sudah pernah! Untuk itu musyrif merasa perlu bertemu denganku hampir setiap hari. Lama kelamaan aku mengetahui metode ini dengan sebutan mutaba'ah.

Perkataan mutaaba’ah berasal dari kata taaba’a. Kata ini memiliki beberapa pengertian. Di antaranya, tatabba’a (mengikuti) dan raaqaba’ (mengawasi). Dengan demikian, kata mutaaba’ah bererti pengikutan dan pengawasan. Yang dimaksud dengan mutaaba’ah sebenarnya adalah mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Keren juga kelompok dakwah ini, batinku. Metode pembinaan luar biasa. Musyrif harus benar-benar memastikan bahwa pola pikir para daris (murid) adalah pola pikir Islam, dilanjutkan dengan pola sikap Islam. Selanjutnya akan terbentuk kepribadian Islam. Tentu saja aqidah Islam adalah bagian yang harus tertanam dalam. Aqidah yang dibangun atas landasan pemikiran ini kemudian akan mendorong seseorang untuk menyongsong kebangkitan. Karena pola pikirnya Islam, pola sikapnya Islam, kepribadiannya Islam, aqidahnya Islam, maka kebangkitan yang disongsong adalah kebangkitan Islam.

Keren kan. Keputusan untuk bertobat setelah dibina dalam halaqoh-halaqoh dan mutaba'ah-mutaba'ah membuat kita punya komitmen kuat untuk menjadi pejuang Islam yang semata-mata hanya berharap ridhaNya. Tak banyak kutemukan kelompok dakwah yang begitu rapi seperti ini. Atau mungkin tak ada?

Di masa-masa mutaba'ah ini, musyrif memberiku beberapa referensi bacaan. Salah satu buku Yang diberikannya di masa-masa awal pertemuan kami adalah buku berjudul Indonesia Milik Allah karya ustaz Hari Moekti. Aku kaget. Hari Moekti? Tanyaku dalam hati. Maksudnya, kabar roker kondang ini hijrah kemudian memutuskan menjadi da'i, sudah kuketahui sejak dulu. Tapi aku tak menduga, ternyata "mantan setan" ini juga bersama kelompok dakwah yang sekarang sedang membinaku. Berarti Hari Moekti juga ikut halaqoh? Berarti Hari Moekti juga didatangi musyrifnya untuk mutaba'ah? Luar biasa, pantas saja kemudian beliau begitu istiqomah dalam jalan dakwahnya. Menyerahkan hidupnya hanya untuk Islam.

Selanjutnya nama Hari Moekti menjadi kerap kudengar bersama dengan da'i - da'i pejuang syariat Islam lainnya. Pantas saja, dulu sebelum aku ikut kelompok dakwah ini, musyrif, yang waktu itu masih sebatas teman ngopi pernah cerita bahwa dia dan teman-temannya akan mengundang Hari Moekti ke Pontianak. Dalam hatiku, jago betul orang ini. Bikin acara tak tanggung-tanggung, yang diundang orang sekaliber Hari Moekti. Berapa besar dana yang dipunya?

Ternyata eh ternyata, Hari Moekti adalah teman satu pengajian. Ternyata eh ternyata tak perlu honor untuk mendatangkan Hari Moekti dalam agenda dakwah. Cukup menyediakan akomodasi seadanya.

Kesempatan lain, aku dapat berita bahwa Hari Moekti akan ke Pontianak lagi. Kali ini yang mengundangnya dari Masjid Kapal Munzalan Mubarakan di jalan Ampera. Maka tak kan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan datang paling depan, membawa buku karangan beliau, nanti selesai tausiyah aku akan menghampiri beliau sambil minta tanda tangan di buku lalu berfoto bersama. Begitu rencanaku.

Hari yang ditentukan tiba. Saking semangatnya aku pergi di awal waktu menuju masjid Munzalan. Membawa kamera, membawa tripod. Sesuai rencana aku akan duduk paling depan, kan kurekam ceramah beliau, kuunggah di Youtube. Berhasil. Tak ada yang lebih depan dari tempat dudukku. Kami hanya berjarak beberapa meter. Aku begitu dekat dengan mantan setan ini. Ceramahnya menggelegar. Waktu itu beliau datang dalam rangka maulid nabi. Katanya, Nabi Muhammad SAW itu bukan diutus oleh Allah hanya untuk mengurusi urusan individu, tapi juga masyarakat, bahkan negara. Meneladani Nabi itu artinya secara individu kita harus mencontoh nabi, dalam kelompok masyarakat, tata sosial kehidupan harus mencontoh seperti apa yang dilakukan nabi, dalam bernegara juga tak boleh lari dari aturan yang diajarkan nabi. Yakni aturan Allah SWT. Itu baru namanya mencintai Nabi Muhammad SAW.

Sungguh, gayanya berceramah punya ciri yang khas. Sesekali beliau melucu, tak jarang membuat haru, kerap mendidihkan darah ini untuk ikut bangkit, taat di jalan Allah dan memperjuangkan jalan ini agar bisa diterapkan secara menyeluruh. Allahu Akbar.

Salah satu kalimat yang membekas disampaikan ustaz Hari Moekti malam itu di Masjid Munzalan, kira-kira begini, "Semenjak runtuhnya Daulah Islamiyah, para pemimpin berganti, bukan raja, bukan presiden, tetapi para pengusaha."

Para pengusaha inilah yang menguasai negara-negara. Sebut saja negaranya, di belakang para penguasanya pasti ada pengusaha. Ini langgeng, berlangsung terus menerus semenjak awal abad 20 sampai sekarang. Hampir seratus tahun. Kenapa langgeng? Karena sistem untuk menjalankan negara di dunia ini adalah sistem bentukan mereka, para pengusaha itu. Nama sistemnya sekulerisme, anak kandunya bernama kapitalisme, teknis menjalankan sistemnya dikenal dengan nama demokrasi.

Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Suara rakyat lewat wakil-wakilnya menjelma menjadi suara Tuhan. Vox populi Vox dei. Para wakil rakyat ini berhak membuat hukum yang seharusnya ini adalah tugasnya Tuhan. Di belakang para wakil rakyat ini siapa? Benar, pengusaha. Merekalah yang menguasai negara dimanapun berada. Lalu untuk siapa demokrasi ini dijalankan? Ya untuk para pengusaha. Dari pengusaha oleh pengusaha untuk pengusaha. Lho, rakyatnya kemana? Tenang saja, rakyat sudah cukup puas berpesta memeriahkan demokrasi bentukan pengusaha ini yang katanya untuk memilih para wakil rakyat yang sejatinya adalah para suruhan pengusaha.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Tegas dalam setiap dakwah yang disampaikan. Kalimatnya yang cukup terkenal adalah dakwah itu menyampaikan apa yang harus mereka dengar bukan apa yang ingin mereka dengar.

Di waktu yang lain, sebenarnya aku kembali punya kesempatan bertemu lagi dengan ustaz Hari Moekti. Waktu itu aku dipercaya oleh panitia penyelenggara kegiatan Kalbar Book Fair untuk mengurusi sesi acara bedah buku. Ada beberapa penulis nasional yang hendak diundang.

Pesan panitia, yang penting ramai. Pokoknya gimana caranya pembicara tersebut mampu menyedot masa. Langsung terucap dari mulutku nama ustaz Hari Moekti. Panitia kaget seraya bertanya, memangnya aku punya kontak beliau?

"Tenang saja, aku punya," jawabku yang tetap saja tidak membuat para panitia ini percaya. Aku membantin, gampanglah itu, teman sepengajian kok. Singkat cerita aku dapat nomor kontak manajemen Ustaz Hari Moekti. Setelah dihubungi, pihak manajemen mengatakan insyaallah ustaz Hari Moekti berkenaan namun akan dikonfirmasi ulang sebab manajemen harus melihat ulang jadwal beliau.

Kata manajemen, ustaz Hari belakangan mulai suka sakit karena kelelahan. Jadi kalau harus keliling keluar daerah harus disediakan waktu untuk beristirahat setidaknya sehari. Tidak boleh kayak dulu. Habis ceramah di kota ini, langsung bandara, pindah ke kota itu. Selesai, pindah lagi ceramah ke kota lain. Naik mobil, naik kapal, tidur di hotel, tidur di camp pengungsian, dijalani. Dari Aceh hingga Papua, tiap daerah pernah disinggahi beliau untuk berdakwah. Tak kenal lelah.

Tapi manajemen bersikeras, sekarang tak bisa lagi seperti dulu. Sudah ada ring di jantungnya, meski sesungguhnya pemasangan ring di jantungnya itu bukan alasan baginya untuk kendor berdakwah. Hingga akhirnya rencana ustaz Hari Moekti untuk hadir di kegiatan kalbar Book Fair gagal karena jadwalnya berbenturan dengan kota lain, dan jika beliau harus terbang ke Pontianak itu artinya beliau tak sempat istirahat.

Hal ini saya sampaikan ke panitia. Terus, penggantinya siapa? Tanya panitia. Yang tetap pokoknya harus ramai. Saya katakan, Felix Siauw.

"Hah, Felix Siauw? Memangnya kamu punya kontaknya?"

Kalau saja panitia Book Fair mau ikut mengkaji Islam bersama kelompok dakwah tempat ku belajar, juga tempat ustaz Hari Moekti belajar, juga tempat Ustaz Felix Siauw belajar, dia mungkin tidak seketerkejut itu. Akhirnya Ustaz Felix datang Ke Pontianak, bukunya yang dibahas berjudul habbits. Ribuan orang tumpah ruah memadati acara. Alhamdulillah.

Setelah itu, tak ada lagi kesempatanku bertemu ustaz Hari Moekti. Wajahnya hanya kerap kusaksikan dalam desain poster tabligh yang berseliweran di grup-grup WA. Juga beberapa kali kusaksikan beliau di Televisi. Hingga akhirnya kami berada dalam satu grup WA yang sama. Ini adalah grup para seniman muslim yang punya tekat berkesenian dalam rangka menyongsong peradaban gemilang bernama Islam. Ustaz Hari adalah salah satu pembina grup seniman muslim ini. Dari grup ini kuketahui semakin ke sini ustaz Hari Moekti kerap dilanda sakit. Tapi berkali-kali beliau sakit, berkali-kali beliau bangkit. Berdakwah lagi dari satu kota ke kota yang lain. Adik kandungnya yang juga anggota grup seniman muslim ini, abah Moekti Candra yang sering update perkembangan kesehatan beliau.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Roker yang menjadi idola jutaan manusia seantero nusantara. Menyebut dirinya sendiri sebagai setan. Sebab ambisinya sebagai artis populer adalah ambisi setan. Hari Moekti sudah mengajak jutaan manusia jingkrak-jingkrak tak karuan di saat konser. Hari Moekti telah menjadi perantara para lelaki perempuan berpelukan di tempat umum padahal mereka bukan mahrom. Hari Moekti telah mengundang orang untuk menenggak alkohol. Hari Moekti, pada masanya telah mengajak orang secara terang-terangan untuk bermaksiat. Untuk mengikuti langkah - langkah setan. Maka Hari Moekti menyebut dirinya sebagai setan.

Ketika beliau memutuskan untuk bertobat, maka beliau adalah mantan setan. Yang senantiasa menyeru kepada orang-orang beriman untuk tidak mengikuti langkah langkah setan. Untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh. Seruan ini adalah seruan Allah dalam Al-Quran, yang ketika dijalani maka rahmat bagi seluruh alam akan kita rasakan.

Hari Moekti adalah salah satu pejuang yang layak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Totalitasnya dalam berdakwah seperti tak tergantikan. Suaranya lantang menyerukan penegakan syariah dan khilafah. Kerinduannya akan kejayaan Islam tampak nyata dalam setiap ceramahnya. Hari Moekti, telah menjadi inspirasi jutaan manusia untuk ramai-ramai bertobat, ramai-ramai berjuang menerapkan syariat.

Saat mengetahui kabar kepergiannya lewat adiknya, Abah Moekti Candra via grup WA, darah di dadaku langsung berdesir kencang. Beliau telah dipanggil. Manajer hakiki ustaz Hari Moekti sudah meminta beliau untuk istirahat. Sudah, jangan keliling lagi. Sudah. Cukup. Sekarang istirahat lah bersama pemilik hidup.

Aku menangis? Tentu saja. Apalagi setelah membaca banyak catatan orang-orang seperjuangan. Ustaz Titok Priastomo menulis dalam status facebooknya, Ya Allah, berikanlah kpd beliau pengganti yg lebih baik dari dunia ini, dan berilah juga kepada kami pengganti-pengganti seperti -atau lebih baik dari- beliau. Ini doa tulus dari teman seperjuangan sekaligus bukti nyata bahwa sosok Hari Moekti adalah salah satu manusia terbaik dari umat terbaik. Yang tak pernah menolak panggilan Allah untuk berdakwah, untuk menyeru kepada yang makruf mencegah kepada yang mungkar. Bukan untuk popularitas dirinya pribadi, tapi semata-mata untuk menjalankan perintah Allah. Ya. Perintah Allah. Menolak perintah Allah, berarti menolak berada di surganya Allah.

Manusia terbaik ini, pulang dengan jalan terbaik pula. Saat sedang memenuhi panggilan dakwah di Cimahi. Di hotel terserang sakit, langsung dibawa ke rumah sakit, beberapa menit kemudian wafat. Tak perlu berlama-lama, Allah sudah sangat merindukannya.

Terakhir, mengiringi kepergian beliau, izinkan saya mengutip kalimat Ustaz Ismail Yusanto. Ini sahabat beliau. Ini inspirator beliau, yang juga inspirator jutaan manusia di Indonesia yang untuk senantiasa istiqomah berada di jalan dakwah.

Kata ustaz Ismail, di saat tabligh, beliau dipanggil Allah. Sebuah akhir yang baik, Insyaallah.

Izinkan kami melanjutkan perjuanganmu wahai kekasih Allah, hingga pada saatnya nanti syariah dan khilafah dapat benar-benar kita rasakan di dunia ini. Bersama barisan Imam Mahdi ikut berjuang menegakkan kalimat La illaha ilallah Muhammad Rasulullah.

Pontianak, 25 Juni 2018