Minggu, 28 Juni 2020

Sudah Lama tidak Membaca Ernest Hemingway

Kemarin pagi aku mengunjungi kedai kopi yang kutemukan di sosial media. Seseorang menceritakannya di facebook, kutemukan mapnya di instagram. Meluncur. Untuk sebuah kedai kopi, tak terlalu istimewa. Ini adalah usaha anak-anak muda, ya si barista masih belia. Usaha ini ia jalankan bersama temannya ketika pulang dari Jogja. Di kota itu, ia belajar banyak tentang kopi.

Begitu kira-kira percakapan perkenalanku dengan barista. Yang menarik, salah seorang pengelola kedai kopi ini adalah penyuka sastra. Beberapa buku sastra ia pajang di ruang tamu. Bukan untuk dibaca para tamu. Tapi dibeli. Wait, ini buku-buku sastra klasik. Bukan klise. Siapa yang mau membelinya dikota ini. Harganya juga tidak murah.
Maaf, aku tidak bermakud underestimate dengan selera baca manusia Pontianak. Faktanya beberapa komunitas sastra lumayan bergeliat di sini. Tapi pemandangan pagi itu, disebuah kedai kopi, salah satu meja menghamparkan beraneka ragam buku “daging” semua.

Pramudya, Haruki Murakami, Tan Malaka, Chairil Anwar, Eka Kurniawan, Ernest Hemmingyway, George Orwell, Andrea Hirata, Tan Malaka, Mark Manson, dan buku-buku berkualitas lainnya, mejeng di situ. Kuabaikan sebentar, sebab aku penasaran dengan cerita di baliknya. Kenapa tema ini; kopi dan sastra yang mereka pilih?

Di 101 coffee house juga banyak buku. Mereka punya kopi dengan kualitas baik. Juga buku-buku yang tak kalah menarik. Tapi buku-buku yang dipajang sebagian besar bercerita kopi. Barista 101 memang punya semangat luar biasa mengedukasi tamu tentang kopi. Ya, kopi. Bukan sastra. Dulu di Kopi Bandar Premium, yang sekarang namanya sudah berganti menjadi @Nowadayscoffe, juga ada beberapa buku sastra. Tapi bukan untuk dijual, melainkan koleksi pribadi barista. Nantilah, kapan-kapan, semoga aku bisa melanjutkan percakapan dengan barista, tentang sastra.

Oh iya, pada percakapan kemarin pagi, aku menyebut nama Andi Ds. Si Barista menyebut nama Fase. Kami menjadi lebih cair, sebab kami berdua mengenal orang yang sama. Lebih cair lagi ketika kami berdua punya ikatan emosional yang sama dengan Jogjakarta. Memang, tak semudah itu bagiku untuk mengatakan bahwa sudah akrab dengan barista. Toh ini baru pertemuan pertama. Tapi, sebagai awal jumpa, aku sudah jatuh hati dengan tempat ini.

Percakapan kami terhenti, karena beberapa temanku datang. Kemudian aku menjauh dari bar, menuju ruang tamu. Bercengkrama dengan beberapa sahabat. Membikin rencana seperti yang biasa kami lakukan. Ya, rencana. Kami seperti bersindikat dalam rencana demi rencana. Rentjana Kopi

Pagi itu berakhir. Sebelum pulang, aku mengambil Ernest Hemmingway. Menuju Bar, lalu membayar. Kami bubar.

o0o0o0o0o0o few moment later o0o0o0o0o

Pagi ini, cerita kemarin pagi kutuliskan di sini. Di sebuah kedai kopi. Kopi Bos Pontianak

“Biar seperti Ernest,” ucapku dalam hati.

Selasa, 09 Juni 2020

Proses

Oleh Pay Jarot Sujarwo

Kapan terakhir kali kamu, sebagai penulis, menulis dengan media kertas dan pulpen seperti ini?


Dulu, saya melakukannya. Masa ketika komputer masih menjadi barang mewah, senjata saya adalah mesin ketik. Tapi saya tidak mau gegabah langsung menuangkan ide via mesin ketik tersebut. Saya tidak suka membubuhi kertas dengan type-X jika terdapat kesalahan. Makanya saya perlu kertas dan pena, untuk bikin draft, konsep, atau langsung menjadi cerita. Nanti kalau ceritanya sudah jadi baru disalin ke mesin ketik.



Lama? Dua kali kerja? Ya, tentu saja. Tapi ini tidak berlaku bagi siapa saja yang menganggap ini sebagai bagian dari proses kreatif. Dulu, siapa saja yang berkarya senantiasa menjadikan proses sebagai sebuah prioritas. Lebih penting daripada hasil. Dan melakukan dua kali kerja seperti ini, saya pribadi menjadi begitu menikmati prosesnya.



Editing lebih mengasyikkan. Kertas penuh dengan coretan. Jika lelah, kertasnya bisa juga dijadikan kipas sejenak, lalu lanjut menulis lagi. Proses, ini yang sudah mulai jarang saya temui pada karya-karya penulis pemula. Barangkali sudah zamannya. Tapi masak sih? Cobalah untuk sabar sedikit. Percayalah, yang instan itu kerap hanya berusia instan juga.



Kembali kepada proses menulis di atas kertas. Ketika komputer sudah mulai akrab, di depan kampus, saya mulai rajin pergi ke rental komputer. Di sana saya kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk bisa menguasai benda satu itu, lalu membuat tulisan. Lebih mudah dan lebih cepat. Tapi waktu itu, saya masih menulis di kertas sebagai konsep ataupun cerita yang utuh.



Nanti, kebiasaan menulis dulu di kertas ini akhirnya berhenti ketika saya sudah mampu membeli laptop. Barang itu bisa saya bawa kemana-mana, jadi dimana tempat saya singgah saya bisa menulis. Jika salah, cukup backspace atau delete.



Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Hari ini saya merindukannya.

Tadi, sepulang mengantar pesanan madu, saya pergi ke fotokopi. Membeli buku tulis dan pena. Masya Allah. Harganya murah sekali. 4.500 untuk buku tulis, 3.500 untuk pena. Dari situ, saya ke warung kopi (tentu saja dengan protokol kesehatan), memesan kopi, duduk.



Lalu kata demi kata mulai saya bubuhi di atas kertas. Nikmat betul proses ini. Proses yang kemudian menjadikan saya setia untuk tetap menulis sampai hari ini. Proses yang telah mengantarkan saya pada perjalanan yang begitu jauh.



Di atas kertas, saya membuat sebuah cerita yang kelak akan kamu baca. Ya, kamu.

Sabtu, 09 Mei 2020

Sesal

Salah satu rasa sesal saya saat mengunjungi tanah Eropa adalah melakukan perjalanan tidak dalam rangka mempelajari Islam. Bahkan sebaliknya. Jejak yang membekas dari tiap langkah saya pada waktu itu malah kerap berwarna maksiat. Astagfirullah. Saya ketika itu menjadi bagian dari pengusung liberalisme. Hidup ini untuk mencari kebebasan. Tak terikat oleh berbagai macam aturan.

Wal hasil, perjumpaan saya dengan orang-orang baru dalam setiap perjalanan adalah perjumpaan yang tidak sedikitpun membuat saya dekat dengan Tuhan.
Mari kita masuk ke Spanyol. Kaki saya jejak di Bandara Barajas, Madrid tahun 2012. Pada waktu itu saya sudah tahu bahwa zaman dahulu Spanyol merupakan wilayah yang dinaungi Islam bernama Andalusia. Tapi saya tak punya maklumat lebih. Sama sekali tak punya.
Ketika berjalan keliling kota saya bertemu bangunan bangunan dengan kubah menyerupai masjid. Saya hanya membatin, ya wajar, sebab dulu wilayah ini wilayah Islam. Itu saja. Saya pernah dengar istana Alhambra, tapi tak tahu itu apa. Cerita tentang masjid Cordoba, pun hanya selintas selintas lewat telinga. Thariq bin Ziyad, hanya nama. Sama sekali tak tahu sejarahnya.
Waktu itu, saat masih di Belanda, ketika masih merencanakan trip ke Madrid, teman saya menawarkan. Apakah mau ke Barcelona, ke Andalusia, atau ke Vigo.
Barcelona adalah salah satu kota besar selain Madrid. Semua orang yang ke Spanyol rasa-rasanya senantiasa ingin bisa sampai ke Madrid dan Barcelona. Tapi saya bukan turis. Bukan orang yang ketika sampai di suatu tempat, ingin bersegera pindah ke tempat lain. Lagi pula Madrid sudah cukup mewakili kalau memang alasannya adalah kota Besar.
Andalusia hari ini adalah salah satu region di negara Spanyol. Di sana ada Cordoba, Malaga, Almeria dan lima provinsi lain. Tawaran ini disampaikan kepadaku, karena di Andalusia masih terdapat bangunan-bangunan klasik yang akan mengingatkan kita akan kebesaran Islam di masa lalu. Di sinilah letak rasa sesal saya. Betapa bodohnya saya pada waktu itu. Mungkin karena memang tak punya ghirah Islam. Dan tak punya banyak informasi tentang ini, maka tawaran ini tak saya pilih. Kota berikutnya adalah Vigo. Ini tempat orang tua sahabat yang saya kunjungi di Madrid. Dari Vigo nanti kita akan menyebrang ke Portugal . Tawaran menyebrang ke Portugal cukup menggiurkan. Itu artinya tambah negara. Begitulah isi otak kepala traveler cengceremen macam saya ini. Tidak mutu sama sekali. Dan akhirnya kota Vigo jadi pilihan.
Pasca Spanyol, saya melakukan perjalanan ke beberapa tempat lainnya di Asia Tenggara. Pekan berganti bulan berganti tahun. Hingga suatu hari, di sebuah kota eksotis bernama Chiang Mai, saya bertemu Islam. Pulang ke tanah lahir, saya belajar Islam. Pelan pelan. Sampai akhirnya saya menyadari betapa luar biasanya Islam. Memiliki catatan sejarah hingga belasan abad, dan salah satunya catatan sejarah itu bermukim di Spanyol. Andalusia.
Menangis saya bertahun-tahun sesudahnya. Kenapa saya tidak singgah ke Cordoba? Kenapa saya tidak melihat Alhambra? Kenapa? Begitulah. Rasa sesal mendalam itu ingin saya bayar. Membaca kisah-kisah tentangnya. Juga menuliskannya. Empat tahun setelah perjalanan itu, 2016 saya menerbitkan buku berbahasa Melayu berjudul SEPOK. Kembara di Negeri Spanyol. Andalusia. Sedikit saya cerita Islam di buku ini.
Tapi itu belum cukup. Hasrat untuk kembali ke sana. Semangat mempelajari kelok liku sejarah panjangnya, masih senantiasa tertanam dalam dada. Video ini adalah sedikit cuplikan dari rasa sesal itu. Semoga apa yang saya bagi, membuat saya merasa tak pernah jenuh untuk belajar lagi dan lagi. Jika ada yang salah, mohon saya dikoreksi.
Salam
23 April 2020

Rabu, 22 Januari 2020

POKOKNYA INI SISTEM TERBAIK. TITIK!

Plato pernah menulis, demokrasi adalah pendahuluan untuk menuju tirani.
-
Ini sedikit catatan sejarah tentang Plato. Abad ke 5 SM adalah era setelah dua kali kemenangan melawan Persia. Athena berjaya, demokrasi menjadi mantap jaya. Ini terjadi di masa Perikles.
-
Athena yang semakin hebat cenderung semakin korup. Ini memunculkan rasa dengki dari Sparta. 431 SM muncul perang saudara. Karena ini Yunani menjadi lemah.
-
Tahun 404 SM Athena kalah. Sparta mendudukkan rezim boneka. Nanti Athena akan otonom lagi. Memiliki rezim demokrasi lagi.
-
Plato lahir 428 SM, dia mengalami sedikit sisa-sisa kejayaan Athena tapi dia hidup besar selama perang saudara. Dia melihat kehancuran Athena. Dia melihat demokrasi muncul lagi dan demokrasi yang sama pada tahun 399 SM kemudian menghukum mati Socrates.
-
Plato melihat kondisi demokrasi yang ringkih dan beberapa tahun setelah ia meninggal Athena sebagai simbol utama demokrasi akhirnya runtuh di bawah kerajaan Makedonia.
-
Begitulah, pasca kehancuran Athena, dunia berada di bawah kendali kerajaankerajaan. Demokrasi yang sejak awal lahir tak sempurna semakin ditinggalkan. Rajaraja bertindak sesuai kemauannya. Agar legal, dibikin otoritas bahwa suara raja suara Tuhan. Pada fase ini, ratusan tahun, demokrasi tak terdengar apalagi terlihat.
-
Abad 15, rajaraja mendapat perlawanan. Selama ribuan tahun di tangan para raja kehidupan porak poranda. Rasionalitas tak dipakai. Ilmu pengetahuan tak ada gunanya. Di sekolahsekolah modern era ini disebut the dark ages.
-
Di masa kejayaan Athena, tak ada seorang pun menduga bahwa peradaban itu akan hancur. Tapi dugaan orang salah. Athena hancur. Demokrasi lebur. Rajaraja bertahta.
-
Di era rajaraja berjaya, orang-orang juga tak menduga bahwa era ini juga akan hancur. Para raja dan birokrat asik menikmati tahta, jelata dibiarkan tak mampu berbuat apa-apa. Tapi dugaan orang salah. Perlawanan muncul. Intelektualitas dikedepankan. Ilmu pengetahuan seperti Dewa.
-
Renaissance. Raja-raja bertekuk lutut di bawah daulat para rakyat lewat wakilwakilnya. Fox populi fox dei. Suara raja tak lagi suara Tuhan. Kini sudah berganti menjadi suara rakyat.
-
Tapi sayang, rakyat waktu itu kebingungan mencari ide terbaik. Otoritas Tuhan yang telah diselewengkan rajaraja membuat para rakyat membenci segala hal berbau Tuhan. Ya, Tuhan harus menyingkir. Tak boleh ikut campur dalam roda pemerintahan yang akan berlangsung sebentar lagi.
-
Revolusi Perancis. Manusia berbondongbondong memperlemah posisi rajaraja. Akhirnya monarki tamat riwayat. Di tengah kebingungan, ide usang demokrasi, yang telah memosil ribuan tahun diangkat kembali. Dipaksakan dipakai menjadi sistem. Ditopang kapitalisme sebagai sistem ekonominya. Berhasil. Sistem ini menggurita. Menyebar ke seluruh dunia.
-
Lalu, orangorang menduga bahwa inilah sistem terbaik. Orangorang menduga sistem ini tak akan hancur. Untuk memperkuat dugaannya, orangorang harus rela kehilangan rasionalitasnya.

20/01/2020

Sabtu, 18 Januari 2020

JILBAB TAK WAJIB

©Pay Jarot Sujarwo

Wanita tua berkata, jilbab tidak wajib bagi muslimah. Kalau muslimah itu sudah tua, ya. Maka benarlah perkataannya. Sebab ada dalilnya.

Jilbab itu tak wajib bagi muslimah. Wanita tua bawa-bawa nama budaya. Nuduh banyak orang salah tafsir soal dalil agama. Konon kabarnya jalan tengah.

Bukan. Ini bukan jalan tengah namanya. Tetapi sembrono. Bikin statemen seenak hatinya. Ups, tapi benarkah ini seenak hatinya? Atau jangan-jangan sudah terencana sejak lama?

Di bumi ini, hari ini, muslim tak taat syariat jumlahnya banyak. Meski demikian tidak otomatis orang-orang tidak taat ini mengubah sesuatu yang ditetapkan.

Mereka tahu alkohol itu haram. Mereka minum tapi tak bilang alkohol jadi halal. Mereka tahu babi itu haram. Mereka makan tapi tak bilang babi jadi halal. Mereka tau homosexual itu dilaknat. Mereka homo tapi tak bilang menjadi homo itu boleh.

Mereka tahu sholat itu wajib Mereka tak sholat dan tidak mengatakan bahwa tak sholat itu sudah berubah menjadi mubah. Inilah yang disebut maksiat. Dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Namun tidak sampai pada level keyakinan. Kepada mereka dibebankan dosa maksiat. Kepada mereka kita berharap bisa bertobat.

Soal aurat begitu juga. Sudah sejak duduk di bangku SD mereka, orang-orang beragama Islam ini, tahu batasan aurat. Lalu ketika baligh, mereka membuka aurat, memamerkannya kepada khalayak. Tapi tak pernah mereka mengubah batasan aurat. Tetap saja pusar hingga lutut bagi lelaki. Tetap saja seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan bagi wanita. Dan menutup aurat wajib adanya.

Orang-orang ini tidak taat, tetapi menyadari bahwa mereka tidak taat. Sekali lagi, mereka adalah pelaku maksiat yang kepadanya kita harapkan bertaubat. Tak batal syahadat.

Tapi bagaimana kalau kita benar-benar yakin bahwa babi tak haram? Bagaimana jika kita meyakini bahwa alkohol yang memabukkan itu halal? Bagaimana jika kita mengatakan dengan kesadaran penuh disertai dengan keyakinan bahwa sholat itu tidak wajib?

Dengan cara apa kita nanti menghadap Allah di akhirat? Masih tetap dengan cara membusungkan dada? Coba saja kalau kau bisa!

19/01/2020

facebook.com/payjarotsujarwo1924

Senin, 30 Desember 2019

Lari dari Rumah




Sejak kecil aku terbiasa dengan gelap. Ya, gelap. Tepatnya ruang kecil bernama kamar mandi yang pintunya dikunci dari luar kemudian lampunya dimatikan. Aku menangis. Sesekali sekadar sedu sedan, kerap pula sampai meraung. Panik. Takut. Itulah buah ketidaktaatan. Sejak kecil, jika orangtua perlu memberiku hukuman, maka hukumannya adalah gelap. Dijebloskan ke kamar mandi, dikunci dari luar, lampunya dimatikan.

Seharusnya ada efek jera setelah melakukan aktivitas yang dianggap keterlaluan, kemudian dihukum dimasukkan ke dalam gelap. Tapi hukuman itu gagal. Aku malah tumbuh menjadi pembangkang. Sewaktu ketahuan merokok padahal baru saja tamat SD, aku hanya takut sebentar saja. Beberapa hari kemudian merokok lagi. Tak bisa merokok sendirian di dalam kamar, pindah lokasi bersama beberapa orang teman merokok di semak belukar.

Semakin besar, aku punya aktivitas baru. Lari dari rumah. Tak bisa lagi aku ditangkap lalu dimasukkan ke dalam kamar mandi. Aku memilih lari. Tak pulang berhari-hari. Tidur berpindah-pindah dari rumah teman yang satu ke teman lain. Begitu terus sampai akhirnya saudaraku menjemput ke sekolah. Lalu aku pulang. Dimarahi. Dinasihati. Mengangguk sebentar. Terus lari lagi.

Teori-teori tentang ketaatan yang didapat dalam ruang-ruang sekolah, gagal merasuk dalam pikiran untuk kemudian diamalkan. Belum lagi lingkungan mendukung. Sistem mendukung. Puncaknya, ketika tamat SMA, berkesempatan meninggalkan Pontianak menuju ke Jogjakarta, di situlah aplikasi dari ketidaktaatan merajalela.

Sekarang, setelah bertahun-tahun kemudian aku berada di Bulgaria. Di negeri yang bahkan memimpikannya saja tak pernah. Tiba-tiba saja aku disergap rindu. Kenangan akan ketidaktaatan di masa lalu menggedor-gedor relung hati. Perjalanan ini telah begitu jauh.

Pertemuan dengan Pak Krassin menurutku bukan suatu kebetulan. Pada akhirnya aku dipaksa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan orang-orang di masa lalu. Tentang kebengisan. Tentang penjajahan. Apakah ini buah dari ketidaktaatan, sehingga bisa saja agama yang disandang bernama Islam, tapi perangai tak bisa dipertanggungjawabkan.

Jawabannya adalah opini yang dipaksakan untuk masuk ke kepala masing-masing kita. Kita sudah terlalu lama berada dalam cengkraman sekulerisme. Sehingga untuk yang begini-begini kita terima saja sebagai konsekuensi logis dari kehidupan.

Ternyata, rusaknya citra Islam tak hanya kudengar dari Pak Krassin. Agama ini begitu buruk di mata mereka. Dan anehnya, sebagian besar dari kita menyetujuinya.

Di tengah kota Sofia ada sebuah gereja yang berdiri cukup megah. Namanya Sveti Sedmochislenitsi Church. Berada di taman yang rimbun, gereja ini didedikasikan untuk St. Cyrirl dan Methodius dua orang bersaudara yang merupakan teolog Bizantium. Kedua orang ini kemudian menjadi begitu terkenal bahkan dianggap setara dengan rasul karena telah merancang alfabet Glagolitic, alfabet pertama yang digunakan untuk menuliskan huruf Slavonic kuno. Kalau kau bingung dengan apa yang kuceritakan, kau bayangkan saja huruf-huruf yang ada di negara Rusia, Bulgaria, Serbia, serta beberapa negara Balkan lainnya. Hari ini deretan abjad tersebut dikenal dengan nama huruf Cyrillic.

Gereja Sveti Sedmochislenitsi resmi digunakan pada tahun 1903. Agar orang-orang terus menerus mengenang santo Cyrril dan Methodius. Karena dengan alphabet inilah kemudian alkitab diterjemahkan dan orang-orang Slavia bisa membacanya kemudian diharapkan bisa taat memeluk Kristen. Kebudayaan pun berubah. Mereka seolah menemukan identitasnya.

Padahal hampir 400 tahun sebelumnya, bangunan ini adalah masjid. Dibangun dimasa pemerintahan Sulaiman Al Qanuni saat Islam begitu jaya di Bulgaria. Ini adalah Khalifah yang namanya terdengar di seluruh dunia. Di Barat, dia dikenal dengan istilah Sulaiman The Magnificien. Sulaiman yang Agung. Masjid tersebut merupakan salah satu bukti keagungannya yang tentu saja merupakan buah dari ketaatan kepada pencipta.

Dikenal dengan nama Masjid Hitam sebab menaranya terbuat dari batu granit bernama hitam. Di wilayah masjid ada sekolah untuk orang-orang belajar Ilmu pengetahuan. Ada juga dapur umum untuk orangmiskin. Tapi semenjak Utsmani tak lagi punya kuasa di Bulgaria, tempat ini berubah fungsi menjadi penjara. Hingga pada akhirnya diubah lagi menjadi gereja.

Setelah masa Sulaiman Al Qanuni, kekhilafahan Utsmani memang melemah. Terjadi kekalahan dan kemerosotan di banyak tempat. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktaatan. Syariat mulai ditinggalkan. Banyak pejabat hidup dalam gelimang kemewahan. Tradisi barat yang dianggap menyenangkan diadopsi untuk kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya mereka benar-benar terusir dari Bulgaria. Beberapa waktu  masih berkuasa di Turki, tanah asalnya. Tapi tak lama. Kekuasaan itu harus diberikan kepada pecundang bernama Kemal Pasha. 1924. Tutup riwayat.

Di Sofia, Bulgaria, hari-hari yang kulakukan adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Menyandang gelar lari dari rumah,bukannya aku mendekat pada ketaatan, malah sebaliknya. Bersembunyi di balik kesan gagah seorang pengembara, padahal begitu lemah di hadapan sang pencipta. Tak berdaya.

Kakiku terus melangkah. Semakin hari semakin akrab dengan dingin. Hingga di sebuah sore, bertemu dengan sebuah taman kota yang begitu luas. Di ujung pandangan, mataku menabrak sebuah monumen yang lumayan tinggi. Aku mendekat. Ada beberapa patung tentara. Juga ada patung seorang wanita menggendong bayinya. Inilah monumen yang kemudian terus diingat-ingat warga masyarakat. Masuk ke dalam pelajaran sekolah. Dipaksa agar tiap orang melupakan kemegahan The Black Mosque yang sudah hadir sejak masa Sulaiman yang Agung. Momument itu diberinama Pametnik na Savetskata armia, Monumen yang didedikasikan untuk tentara Soviet.

Selamat datang era baru di Sofia.

Jumat, 20 Desember 2019

LUPUT



Ada Bulgaria, ada pula Bulgar. Ada juga yang menyebutnya Bolgar. Hampir mirip tapi pada satu titik antara Bulgaria dan Bulgar berbeda. Dulu, asal mereka sama. Sungai Volga. Ini sungai terpanjang di Eropa. Kalau kau suka linguistik, kau akan suka dan mencari kaitannya; volga-bolga-bolgar-bulgar-bulgaria. Ah, jadi ingat zaman-zaman kuliah dulu.

Sungai Volga merupakan saksi abadi dari berbagai macam tabiat manusia, mulai dari sekadar perlintasan berbagai suku bangsa, hingga perebutan kekuasaan yang mengharuskan pertumpahan darah.

Kita mengenal nama Genghis Khan yang dari namanya saja kita akan langsung membayangkan penaklukan demi penaklukan. Salah satu rahasia kekuatan bangsa Mongol ini adalah kepiawaian mereka dalam menciptakan teknologi pembuat ransum atau perbekalan awet lainnya untuk para tentara. Mereka akan bergerak begitu cepat dari negeri ke negeri hingga mampu mengalahkan bangsa Persia yang jauh lebih beradab. Genghis Khan dan pasukannya kala itu tak mengenal huruf, tak bisa baca tulis. Tak berperadaban.

Sungai Volga ini pula yang dipercaya sebagai pintu gerbang masuknya Islam yang nantinya akan terus meluas meliputi negeri-negeri Eropa. Kalau kau ingin berkunjung ke sana hari ini, dari Moscow, kau bisa pergi ke negeri Kazan, ibukota Tatarstan. Melewati jalan darat kurang lebih tiga sampai empat jam kau akan sampai di Bolgar yang masuk dalam distrik Spassky.

Lalu apa hubungannya Bolgar dengan Bulgaria? Jarak antara keduanya hampir 3000 kilometer. Bolgar berada di wilayah Rusia, Bulgaria di daerah Balkan yang bersebelahan dengan Yunani. Ternyata mereka memang berasal dari satu rumpun suku-suku Azov. Orang-orang Bolgar yang tidak memeluk Islam terus melakukan pengembaraan. Bertemu dengan suku-suku lain. Kawin mawin dengan orang-orang Slavia. Memeluk Kristen Ortodhox. Hingga akhirnya menetap di sungai Danube kemudian menyebut diri mereka sebagai Bulgaria.

Di masa kekhilafahan Abbasiyah, orang-orang Bolgar bertemu Islam di sungai Volga. Yang tak mau masuk Islam memilih pergi hingga beribu-ribu kilometer. Tapi inilah agama yang penuh rahmat bagi seluruh alam. Meliputi bumi hingga titik terjauh. Nanti, kurang lebih tujuh abad kemudian, di masa kekhilafahan Utsmaniyah, Islam sampai ke wilayah Balkan, masuk Bulgaria, membuat orang-orang sana jatuh hati kemudian memeluknya.

Orang-orang Slavia yang memeluk Islam kemudian menyebut dirinya sebagai orang Pomak. Entah apa maknanya. Tak kudapatkan referensi tentang ini. Orang-orang Slavia ini tinggal di sebagian Yunani, Turki, juga Bulgaria. Mereka tak mau disamakan sebagai orang Turki karena mereka memang bukan orang Turki. Tapi begitulah Islam, perbedaan suku bangsa itu kemudian melebur dalam satu akidah. Dalam satu aturan dari pemilik bumi.

Saat aku berada di kota Sofia tak banyak kutemukan sisa-sisa peradaban Islam. Sebagain besar dihancurkan pada saat komunis berkuasa. Lima abad kegemilangan, secepat kilat menjelma kabar buruk yang memilukan. Tak hanya bangunan seperti masjid dan madrasah yang dihancurkan. Tapi juga manusianya. Mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, jika tidak mau berarti mereka memilih dibunuh.

Berikutnya adalah citra buruk terhadap Islam yang harus terus menerus diangkat ke permukaan. Kasar. Begal. Hina. Terbelakang. Tak berpendidikan. Citra ini menyergap pikiran manusia-manusia modern. Didukung pemerintah yang meminggirkan Islam dengan sengaja melalui berbagai kebijakan.

Komunitas Muslim Roma adalah kelompok masyarakat yang begitu menderita di zaman modern. Desa-desa mereka tanpa listrik, fasilitas pendidikan, juga lapangan kerja. Perlakuan diskriminatif seperti tak pernah selesai mereka alami. Politik belah bambu yang dilakukan barat pun mereka rasakan. Karena mereka beragama Islam, orang-orang Bulgaria modern menyebut mereka sebagai Gipsi Turki. Tetapi komunitas Turki menolak mereka, sebab kulit mereka lebih gelap. Gipsi. Tak diterima di komunitas Turki. Tak diterima di komunitas Bulgaria. Beragama Islam. Masih hidup. Tapi luput dari perhatian kita semua.

Itulah kenapa kita memerlukan kepemimpinan yang satu. Yang akan melindungi kaum muslimin di seantero negeri. Tak peduli apa suku bangsanya, selama akidahnya Islam, mereka adalah saudara yang wajib mendapat perlindungan. Kepemimpinan yang satu ini akan menerapkan syariat secara menyeluruh.

Jangan luput lagi. Mari ikut berjuang, kawan.