Kamis, 01 Oktober 2020

Berkenalan dengan Deni Je dan Lukisannya yang Mendebarkan

Leiden Centraal. Situasinya tak jauh berbeda dengan stasiun kereta di kota-kota lainnya di Belanda. Sibuk. Orang-orang dengan cermat melihat papan jadwal kereta yang terpajang di beberapa sudut. Ada yang terlihat berlari mengejar kereta yang hendak berjalan sambil membawa segelas kopi yang baru dibelinya. Sebagian yang lain berdiri di smoking area, bersantai sambil menunggu jadwal keberangkatan. Suara peluit terdengar. Satu kereta berjalan.


Di Leiden Centraal ini saya bikin janji dengan seorang kawan. Jordi namanya. Kami akrab ketika Jordi tinggal kurang lebih satu tahun di Pontianak, volunteer fisioterapi. Saat saya punya kesempatan mengunjungi negerinya, tentu saja kami bikin janji untuk jumpa.

Di Belanda, saya tinggal di Rotterdam dengan memegang visiting visa selama 90 hari. Tapi kota Rotterdam terlalu megah. Terlalu sibuk. Terlalu kapitalistik. Saya yang sebelum ini tinggal di salah satu negara Balkan, yang masih menyisakan aroma komunisme, Bulgaria, agak sulit beradaptasi dengan Rotterdam.

Beruntung, setiap akhir pekan ada tiket kereta terusan yang dijual dengan harga murah. Maka, berbekal tiket murah itulah beberapa kota seperti Amsterdam, Utrecht, Breda, Mastrich, Den Haag, Kinderdijk, dan banyak lagi kota lainnya termasuk Leiden, tertapaki.

Tak ada destinasi khusus yang ingin saya kunjungi di Leiden selain perpustakaan KITLV. Saya ingin lihat fisik buku yang saya tulis yang jadi koleksi perpustakaan ini. Sisanya, ya tempat-tempat umum yang biasa dikunjungi para pejalan. Saya turisnya, Jordi guidenya.

“Itu patung Rembrandt,” kata Jordi saat kami melewati taman kecil. Saya bukan orang yang paham betul dengan dunia seni rupa, tapi nama Rembrandt, bukanlah nama asing di telinga saya. Dulu, ketika masih kuliah di Jogja, kerap saya mendengar nama-nama pelukis dunia diperbincangkan oleh teman-teman perupa, termasuk nama Rembradt ini.

Cerita di atas adalah sedikit cuplikan peristiwa yang saya alami pada 2012 silam. Leiden dan Rembrandt, dua hal yang kemudian menyeret saya pada kubangan masa lalu, the dark ages. Selama ratusan tahun, Leiden dan juga berbagai kota lainnya di Eropa mengalami masa yang begitu gelap. Wabah penyakit, kelaparan, miskin, bodoh, terbelakang. Sementara itu para raja sibuk berperang satu sama lain, dan juga sibuk menindas rakyatnya sendiri. Inilah masa paling kelam yang pernah dialami Eropa.

1648 sebuah perjanjian ditandatangani. Perjanjian yang menghentikan perang 30 tahun antara Katolik dan Protestan. Perjanjian yang juga membuat Spanyol mengakui kedaulatan Republik Belanda setelah mendudukinya selama 80 tahun. Dikenal dengan sebutan perjanjian Westphalia.

Kata sejarawan, Westphalia menjadi penanda perubahan sistem politik Eropa. Dari sistem kerajaan yang berkoalisi dengan gereja, berganti menjadi konsep negara berdaulat. Rakyat ikut campur menentukan pemimpinnya. Gereja tak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sekuler asasnya. Demokrasi sistemnya. Dari sini kemudian kita mengenal negara berdaulat. Nasionalisme.

Di masa inilah pelukis kelahiran Leiden, Rembrant Harmenszoon van Rijn menikmati masa jayanya. Masa Renaisance. Masa dimana namanya sejajar dengan pelukis Italia yang hanya menggunakan nama depannya saja, sebutlah Leonardo, Michaelangelo, Rafael, atau Titian. Ia mulai mengeja namanya sebagai Rembrandt—dengan sisipan huruf d.

Dulu, ketika berjumpa dengan patung Rembrandt di Leiden, yang saya pahami tak lebih dari sekadar nama besarnya dan juga lukisan legendarisnya. Itu saja. Karena memang seperti itulah maklumat yang saya dapatkan. Ceritanya berbeda bertahun-tahun kemudian saat saya berjumpa dengan pelukis nyentrik dari Jogjakarta pada 2016 silam. Nama lengkapnya Deni Junaedi tapi ia kerap memperkenalkan diri dengan sebutan Deni Je.

Saya dan Deni Je bertemu di Jogjakarta. Momentumnya adalah pertemuan sesama seniman muslim. Waktu itu, dari Jogja kami melakukan perjalanan ke sebuah desa sunyi di Klaten. Di sana, kami sama-sama berkarya dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya kesenian.

Ada satu statemen dari Deni Je yang menjadi pemantik luar biasa diskusi kami kala itu. Kata Deni, karya seni dan gerakan seni yang hadir, khususnya karya seni yang menjadi mainstream, selalu terkait dengan politik, kekuasaan, kepemimpinan dan ideologi yang terjadi pada saat itu. Deni Je mencontohkan di masa kerajaan Hindu – Budha di Nusantara, maka karya-karya seni yang hadir adalah karya-karya seni yang bernafaskan Hindu – Budha, beragam candi dan patung adalah sebagian contohnya.

Selanjutnya Deni Je bercerita tentang sejarah gerakan seni di Nusantara. Ketika dominasi Hindu – Budha harus tersisih dengan hadirnya Islam, warna karya seni yang hadir pun bernafaskan Islam. Nanti, kolonialisme hadir dengan sifat utamanya yang eksploitatif. Keindahan yang ada di nusantara di eksploitasi sedemikian rupa dalam berbagai macam karya seni. Lukisan wanita telanjang hadir sekaligus sebagai bentuk pemuas nafsu para kolonial.

Kolonialisme di nusantara kemudian digantikan oleh nasionalisme. Karya-karya seni yang hadir pun memiliki core nasionalisme. Estetika yang dimunculkan adalah estetika yang mengarah kepada perjuangan nasional. Selanjutnya muncul kekuatan baru, sosialisme – komunisme. Hadir gerakan seni atas nama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang kemudian berkarya untuk perlawanan. Lekra membawa nilai estetis baru, yakni seni untuk rakyat. Tujuannya adalah membangkitkan semangat-semangat kerakyatan sesuai dengan visi sosialisme. Hadir karya-karya berbentuk misalnya kepalan tangan, orang-orang protes, petani, palu, arit, teriakan-teriakan rakyat terhadap penindasan, dan semacamnya.

Kehadiran Lekra (sosialisme) tentu saja mendapat pertentangan. Para seniman yang mengusung ideologi liberalisme kapitalis juga tidak mau diam. Mereka memunculkan gerakan Manifes Kebudayaan (manikebu). Nilai estetikanya seni untuk seni (ansich). Formalisme. Seni itu bukan untuk rakyat. Seni itu bukan untuk nilai yang lain. Seni itu ya untuk seni. Maka pada masa ini jayalah karya-karya seni beraliran abstrak dan bentuk formalisme lainnya. Tentu saja ini sangat dibenci oleh kelompok Lekra. Kenapa? Karena seni abstrak tidak bisa digunakan untuk propaganda. Tidak bisa dimanfaatkan untuk melawan.

Karena pada kenyataannya sosialisme komunisme tidak bisa berkuasa, maka seni bergaya formalis yang kemudian naik panggung. Di masa ordebaru seni semacam ini semakin berkembang. Hingga akhirnya mucullah seni modern dan post modern.

Lalu bagaimana dengan kita? Seniman, beragama Islam, apakah ikut larut menghasilkan karya yang berwarna sekuler kapitalistik seperti para seniman kebanyakan? Atau menghasilkan karya yang kemudian mewarnai arah perjuangan kita? Sebuah karya yang kemudian akan mengisi peradaban yang gilang gemilang pasca runtuhnya peradaban kapitalistik ini.

Sampai di sini jeda sebentar.
Tarik nafas panjang.

"Luar biasa," saya membatin. Deni Je, seniman lukis yang baru saya kenal, memiliki isi kepala yang mustanir. Seorang pejuang ideologi dengan kesenian sebagai salah satu senjatanya.

Beberapa hari lalu saya bertanya tentang Rembrandt kepada Deni Je via WhatsApp. Saya ingin tahu apa impresi pertamanya tentang pelukis Renaisance tersebut.

“Totalitas gelap terang,” demikian Deni Je membalas pesan singkat saya.

Dalam dunia seni rupa, Rembrandt dikenal sebagai pelukis dengan gaya Chiaroscuro (kontras antara gelap dan terang). Saya pribadi tidak terlalu mendalami (atau sebut saja tidak punya maklumat) seni rupa. Tapi saya ingin mengaitkan “gelap terang” nya Rembrandt dengan arah gerakan kesenian sesuai dengan ideologi yang diembannya.

Rembrandt termasuk salah satu pelukis yang beruntung, hidup di masa Renaissance, saat Eropa “lahir kembali” dan menuju masa keemasan. Pembeli karya-karya Rembrandt adalah orang-orang Eropa kaya dari berbagai kalangan. Tapi begitulah, satu hal yang tak boleh di lupa, seniman ini hidup di masa kapitalisme diagung-agungkan. Kekayaan menjadi tolok ukur. Gaya hidup yang membuat orang-orang menjadi begitu rakus. Rembrandt out of control, pelukis mahsyur di masa produktifnya ini pada akhirnya harus menanggung beban kemiskinan yang teramat parah.

Lalu apa kaitannya dengan cerita Deni Je di atas? Ternyata Renaissance memang mengantarkan Eropa pada jalan kemenangan. Ideologi sekuler dengan bertopang pada sistem ekonomi kapitalis kemudian menyebar hingga seluruh penjuru dunia. Menghancurkan Islam (1924), menghancurkan sosialisme (1991) yang sempat mencoba memberikan perlawanan. Lalu para seniman, seperti yang disampaikan Deni Je, pada akhirnya ikut arus dengan ideologi mainstream yang sedang berkuasa.

Nah, posisi kita dimana?

Saya pribadi adalah orang yang begitu bersyukur bisa bertemu, kenal dan akrab dengan Deni Je. Jika tidak, barangkali saya juga akan berkarya seni seperti orang-orang kebanyakan. Menulis sajak dengan tema humanisme universal, membuat cerpen dengan gaya-gaya formalis struktural atau surealis. Atau bisa juga ikut-ikutan genit bikin karya-karya sastra kekiri-kirian.

Pertemuan dengan Deni Je waktu itu pada akhirnya membuat saya betul-betul menyadari, bahwa sebagai seorang Islam, sudah sepantasnya kita mengaplikasikan Islam ini ke dalam seluruh aspek kehidupan. Tak terkecuali kesenian. Jika mereka yang mengemban ideologi kapitalisme mengatakan bahwa nilai estetis seni itu ya untuk seni (ansich), atau ada juga pengemban ideologi sosialis komunis tak henti memperjuangankan kesenian sebagai alat propaganda yang berpihak kepada rakyat, para seniman muslim seharusnya berkarya seni dengan berlandaskan Islam. Bukankah kita telah sama-sama sepakat bahwa Islam adalah ideologi (mabda) yang apabila ideologi ini diterapkan di seluruh lini kehidupan akan menghasilkan sebuah peradaban yang begitu luhung? Lalu kenapa kita tidak berkarya seni demi tegaknya peradaban Islam?

Jeda lagi. Tarik nafas lagi.

Sebentar lagi, Deni Je, akan melakukan pameran tunggal. Pameran lukisan yang sekaligus mengabarkan posisinya sebagai seniman mabda’i. Menghadirkan lukisan-lukisan remarkable, fokus terhadap sebuah tema unik yang jarang terlintas di benak seniman kebanyakan.

The Sent Down Iron. Besi yang diturunkan. Tema ini inspirasi utamanya adalah Al Qur’an al Karim. Khususnya surah Al Hadid ayat 25.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Akan ada beberapa lukisan, karya-karya terbaru Deni Je, yang keseluruhannya menampilkan besi dalam berbagai konsep. Menurut Deni Je, Allah dengan sengaja menggunakan kata “anzalna” (Kami menurunkan) alkitab (Al-Qur’an) yang menandakan bahwa Al-Qur’an berasal dari luar bumi. Kata yang sama juga terdapat pada besi (al hadid) yang ini, sesuai surah Al Hadid ayat 25 tersebut menunjukkan bahwa besi adalah sesuatu yang diturunkan Allah ke bumi. Bukan berasal dari bumi.

Pada blog www.denijunaedi.com Deni Je menulis “Besi dikirim ke bumi dari supernova. Ledakan bintang raksasa ini menyebar besi ke jagad raya dan memberikan paket hadiah pada bumi. Oleh karena itu, ia menyebut konsepnya: "The Sent Down Iron" (besi yang diturunkan).”

Secara visual, saya menikmati lukisan-lukisan cat air bertemakan besi karya Deni Je. Tapi tentu saja sebuah pameran lukisan bukan sekadar ingin memanjakan mata penikmat dengan tampilan visual. Ada pesan yang ingin disampaikan sang seniman. Bagi seorang Deni Je, pesan itu tentu saja pesan ideologis. Pesan seorang pejuang kebangkitan peradaban gemilang.

4 Oktober 2019, Eropa merayakan 350 tahun kematian Rembrandt. The Rembrandt Exhibiton dihelat di London. Seolah-olah mereka ingin mengabarkan kepada dunia tentang kemahsyuran pelukis pengemban ideologi liberal tersebut. Karya-karyanya masih eksis sampai hari ini.

4 Oktober 2020, tak ada kaitannya dengan kematian Rembrandt. Sebuah pameran lukisan juga akan dihelat. Secara online. Bisa dinikmati siapa saja dari berbagai sudut dunia. The Sent Down Iron. Besi Yang Diturunkan. Al Hadid 25. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua untuk ikut terlibat dalam proyek besar. Ikut terlibat dalam perjuangan. Ikut terlibat dalam kemenangan. Tegaknya sebuah peradaban agung. Peradaban Islam.

Pontianak, 30 September 2020


Kamis, 03 September 2020

Interaksi dengan orang sefrekuensi

 The Journey of Being a Writer (7)


Pasca terbitnya karya pertama di media cetak, tentu saja beriring sejalan dengan produktivitas. Intensitas menulis semakin besar. Pak Bhe, salah seorang senior di sanggar bilang kepada kami-kami ini, sudah saatnya kalian belajar komputer. Bisa pinjam komputer anak BEM. Bisa juga belajar sendiri di rental komputer depan kampus. 

Ternyata untuk menjadi penulis di koran harus punya modal. Modal sewa rental komputer, modal ngeprint, modal transport ke kantor pos dan juga prangko. Tapi soal semangat, jangan coba diremehkan. 

Untuk menjaga intelektualitas, kami habiskan waktu dengan membaca dan berdiskusi. Jika bahan bacaan di sanggar sudah habis, kami ke perpustakaan kampus. Pinjam buku jarang kembali. Jika kehabisan teman diskusi di sanggar, kami mengembara, keliling kampus untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sefrekuensi. Kerap kami kolaborasi. Pentas bareng, konflik bareng, ketawa bareng, berkarya bareng. 

Saya tidak mengikuti perkembangan para penulis baru era kekinian. Apakah mereka sibuk masyuk dalam berbagai komunitas, atau khusuk menyendiri dalam berkarya. Ya dua duanya boleh-boleh saja. Terserah saja. Yang terpenting ada karya yang dihasilkan. 

Kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu cara yang saya pilih. Di mana dengan cara ini kreativitas dapat berlangsung secara terus menerus. Gesekan dengan orang-orang sevisi. Ini penting. Interaksi yang terjadi akan begitu mudah merangsang lahirnya ide. 

Mari kita sebutkan salah satu contoh. Tamansari Jogjakarta. Para turis yang mengunjungi tamansari, dalam kepalanya, akan menikmati keindahan tempat itu untuk diceritakan nantinya menjadi bahan cerita ke sanak kerabat, bahwa pernah ke sana. Kalau turis itu kaya kaya, besar kemungkinan mereka punya tustel. Nanti akan jepret-jepret di tempat itu, lalu klisenya dicuci, fotonya dicetak, masuk dalam album kenangan, dipajang di ruang tamu rumah agar bisa dilihat juga oleh para tamu yang berkunjung ke rumah. 

Penulis atau minimal orang-orang yang baru belajar menulis seperti saya tentu saja datang dengan mindset yang berbeda. Menikmati keindahan tamansari, ya tentu saja. Tapi tak sekadar itu. Saya juga tak punya tustel untuk mengabadikan keindahannya, maka kemudian saya menggunakan indera yang nantinya akan dicampur dengan imajinasi. Maka jadilah puisi. Maka jadilah cerpen. Perjalanan akan berlanjut ke pasar Ngasem, menikmati suasana, mengamati suasana, maka jadilah puisi, maka jadilah cerpen. Begitu seterusnya. 

Tapi sesederhana itu kah? Tentu saja tidak. Ada informasi lain yang kita butuhkan untuk membuat puisi atau cerpen kita lebih berisi. Untuk itulah interaksi diperlukan. Di angkringan, akan muncul percakapan-percakapan tentang kebudayaan Jogjakarta. Tentang lokalitas. Nanti bisa saja masuk ke Tamansari. Sejarahnya, kampung di sekitarnya, para pengrajin batik dan seniman lukis, wisatawan, dan banyak hal lainnya. 

Pilihan saya untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan inilah yang pada akhirnya punya sumbangan besar terhadap proses kreatif kepenulisan. Untuk itu saya perlu menyebut beberapa nama, yang pada fase Jogja punya andil luar biasa dalam keistiqomahan saya untuk tetap menulis. Pak Yatmin dan Pak Bhe sudah saya sebut diawal. Dua orang ini adalah senior di sanggar KSP. Teman satu sanggar ada Abror Yudhi Prabowo. Nanti datang juga seniman lain di sanggar bernama Gembel. Terus ada juga pak Sriwintolo Ahmad. Pun Sigid Nugroho, yang pada akhirnya memperkenalkan saya dengan abangnya Yatno Wibowo, seorang aktivis kiri miitan pada masanya.  Tak boleh di lupa, teman-teman di Komunitas Sastra Kalimambu. Berhubung ini bukan acara siaran radio yang  banyak kirim salam ke banyak nama, jadi saya tak bisa menyebutkan satu persatu nama orang-orang lainnya yang berengaruh dalam hidup saya. 

Poinnya adalah, jika kamu, ya kamu, baru mau belajar menulis, boleh dicoba untuk berinteraksi dengan banyak orang sefrekuensi. Aktif berdiskusi atau minimal diam mendengarkan. Akan banyak hal yang didapat yang akan sangat membantu proses kepenulisanmu. Meski itu tak harus. Mau duduk menyendiri di warung kopi sambil ngacak-acak berbagai informasi di google, juga boleh kok. 



Rabu, 02 September 2020

Proses

 The Journey of Being a Writer (6)



“Pay, tulisanmu terbit di koran.”

Akhirnya saya mendapatkan info berharga ini. Setelah entah amplop ke berapa yang saya kirim ke koran. Dulu, hampir tiap pekan saya dan beberapa kawan menulis puisi atau cerpen dan dikirimkan ke koran. Setiap hari minggu, senantiasa kami cek, dan kecewa jika tak ada nama kami tertera di sana.

Tapi tak mengapa. Begitulah risiko yang dihadapi penulis pemula. Di masa itu, hampir tiap hari kami menerima wejangan tentang bagaimana caranya memaknai proses. Bagaimana menghadapi penolakan demi penolakan. Bagaimana menghasilkan karya yang matang.

Sekarang, saat semuanya menjadi serba cepat, orang-orang juga ingin cepat-cepat berada pada puncak karier. Istilah yang sering dipakai orang modern, ‘instan’.

Sebut saja misalnya, seorang anak baru lulus SMA. Baru saja mengikuti seminar motivasi kepenulisan. Merasa begitu semangat untuk menulis. Lalu membuat tulisan yang sembaralarngan. Yang secepat kilat selesai. Karena di zaman sekarang menerbitkan buku itu gampang banget, maka karya ini pun terbit menjadi buku. Lalu buku ini di jual. Beberapa keluarga dan teman dekat membeli, selebihnya tidak. Dipromosikan di facebook dan instagram, berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, bukunya tak ada lagi yang beli.

Suatu ketika, salah satu pembaca bukunya kasih komen agak negatif. Misalnya,tulisanmu ini terkesan terburu-buru. Atau, kok aku agak bosan ya bacanya? Atau, ini alurnya bagaimana kalau diubah sedikit agar konfliknya bisa nendang. Atau, banyak salah ketik nih bukunya.

Setelah peristiwa buku kurang laris dan komentar negatif tersebut, anak ini menghilang dari dunia persilatan kepenulisan. Merajuk. Tak mau lagi menulis. Lalu menyalahkan diri sendiri. Menyesal telah terjerumus dalam seminar motivasi kepenulisan. Dimaki-makinya seminar itu dalam status facebook.

Dik, mental seperti ini tak terjadi di masa saya zaman dahulu kala. Maksudnya begini, hasil dari sebuah karya tentu saja melewati proses. Kadang memang terjadi proses yang singkat. Saya juga tak menampik bisa saja tulisan berkualitas hadir dalam waktu singkat. Tapi bukan itu poinnya.

Di sanggar, kami benar-benar diajari tentang kenapa harus menulis. Bukan, bukan terbit di koran yang menjadi tujuan, bukan pula agar menjadi popular. Pun bukan pula agar kaya raya. Tapi much more deeper.

Untuk sebuah value mendalam dari karya kepenulisan inilah, kita membutuhkan proses. Ini kebutuhan. Mutlak harus dilakukan. Bagaimana kita menikmati proses, menghayatinya, merelakan ketika sedang down, bersyukur ketika sedang up. Proses ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Maaf, kali ini saya cenderung menjadi penasihat. Tak lain dan tak bukan karena sampai hari ini masih saja berseliweran penulis-penulis muda yang merasa gagah perkasa dengan bahan tulisannya yang begitu mentah. Dikritik sedikit, mewek.

Baik, sampai di sini dulu cerita kita. Nanti akan dilanjutkan lagi dengan nostalgia. Nostalgia pengalaman pertama tulisan terbit di media cetak. Nostalgia tentang sebuah proses yang tidak singkat.

Oh iya, waktu itu koran pertama yang memuat tulisan saya bernama Bernas. Tulisan yang terbit adalah cerpen, berjudul Ranjang. Tahun 1999 akhir. Honornya 50.000, lumayan bisa buat hidup sebulan.


Senin, 31 Agustus 2020

Sanggar

 The Journey of Being a Writer (5)


Tentu saja, meskipun penting, tetapi menunggu puisi terbit di media cetak bukan prioritas. Ada hal yang lebih penting yakni dapat kampus. Soalnya diskusi dengan bapak via wartel cukup alot kala itu. Bapak ingin saya pulang saja ke Pontianak. Saya ingin tetap tinggal di Jogja. Bapak tak kuasa berargumen, saya menang.

Seorang teman SMA, di antara banyak teman yang lain, ada juga yang belum dapat kampus. Namanya Hanif. Dia punya saudara di Jogja yang bisa pinjamkan sepeda motor. Akhirnya kami berdua berkeliling mencari brosur kampus yang masih buka.

Singkat cerita, saya lulus di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa Indonesia. Sebuah kampus yang sama sekali tidak masuk dalam perencanaan. Tapi tak mengapa, pikir saya waktu itu, tahun depan bisa daftar lagi UMPTN agar bisa masuk Fakultas Sastra atau bisa masuk ISI.

Rencana tahun depan daftar lagi pun tak terwujud, sebab baru saja beberapa minggu kuliah, seorang teman sekelas mengajakku untuk ikut workshop teater yang diselenggarakan salah satu UKM di kampus. Teman sekelasku ini tau informasinya disaat mengikuti OSPEK. Wah seru kayaknya ini. Workshop teater. Dulu waktu SMA saya pernah nonton sinetron Ali Topan Anak Jalanan yang diperankan Ari Sihasale. Meski tidak menggebu-gebu, tapi ada terbersit niat ingin jadi aktor biar bisa kayak Ali Topan.

Sanggar dan Komunitas. Ini dua kata yang kukenal setelah mengikuti workshop. Komunitas karena kami memang berkelompok serupa organisme dan saling berinteraksi. Kerap pula tempat kami berinteraksi itu disebut sanggar, karena aktivitas yang kami lakukan mengerucut pada satu hal, kesenian. Nama formalnya Kelompok Sastra Pendapa (KSP), orang-orang lebih suka menyebutnya Sanggar KSP.

Saya merasa perlu mencantumkan nama ini, sebab memang di sinilah kemudian saya pada akhirnya pertama kali berkenalan dengan proses kreatif kesenian. Tak hanya membaca koran, tak hanya diomeli wali kelas, tak hanya karena sinetron Ali Topan, tapi di sanggar ini saya betul-betul membaca teks dan peristiwa, berinteraksi panjang dalam diskusi-diskusi mendalam menyoal kesenian, hingga akhirnya lahirlah sesuatu yang kita kenal dengan sebutan Karya.

Karena senior di Sanggar mempersilakan anak-anak baru untuk tidur di sini, akhirnya saya memutuskan pindah dari asrama Kalbar. KSP angkatan 13. Saya masih ingat angka itu. Di sini mesin tik bapak punya jasa besar. Beberapa anak baru, selain saya punya hobi yang sama, membaca dan menulis karya sastra. Beberapa senior selain menjadi guru menulis, juga menjadi salah satu kompetitor dalam menguasai mesin tik. Kami bergantian.

Jika sedang berkumpul, kami kerap dengar wejangan. Jika sendirian, kami larut dalam banyaknya bacaan dan tulisan. Nanti ada lagi waktu berkumpul, kami manfaatkan untuk mendiskusikan karya yang dihasilkan. Begitu terus menerus. Kami juga latihan teater. Kami juga berkenalan dengan teman-teman sanggar dari kampus lain. Kami berinteraksi. Kami khusuk masyuk dengan soalan-soalan kesenian. Kami lupa kuliah. Atau dengan berbagai macam alasan, mulai enggan kuliah. Alasan yang cukup populer, sanggar adalah universitas kehidupan. Di kampus, dosennya diktator. Jual diktat beli motor. Ah, betapa naifnya kami kala itu.

Hingga suatu hari, datang seorang sepuh. Pak Yatmin namanya. Beliau membaca apa yang kami tulis. Kami mendiskusikannya. Lalu beliau bilang, “kirimkan karya ini ke koran.”

Kalau dulu bu Nurjanah mengatakan itu tanpa analisa. Dia hanya memberikan harapan kepada seorang remaja. Kali ini Pak Yatmin tak sekadar memberi harapan, tapi juga ¾ keyakinan bahwa apa-apa yang kami tulis bakalan terbit di koran-koran. Tulisan yang sudah mulai matang bagi anak delapanbelas tahunan.

Kami berebut mesin tik. Satu karya selesai diketik rapi. Dua karya selesai diketik rapi. Tiga karya selesai diketik rapi. Dilipat tiga. Dimasukan dalam amplop. Dikirim ke koran. Ada tiga koran ternama di Jogja yang memuat karya sastra pada waktu itu. Bernas, Keudalatan Rakyat, dan Minggu Pagi.

Kepada Redaktur Sastra Harian bla bla bla. Satu minggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu, tidak terbit. Empat minggu ditunggu, tidak terbit.


Minggu, 30 Agustus 2020

Kirim Karya ke Koran

 The Journey of Being a Writer (4)


kantor pos Jogja

Ini adalah cerita bagaimana mengirimkan karya tulis ke media cetak. Sesuatu yang barangkali tidak terlalu populer bagi penulis-penulis kekinian, tetapi begitu berharga bagi siapa saja, generasi sebelum kekinian. Termasuk saya.

Setelah beberapa pekan saya menumpang di indekos kerabat bapak di wilayah jalan Kaliurang, saya harus pindah. Ya pindah karena status saya hanya menumpang. Saya harus mencari tempat tinggal sesungguhnya. Proses pendaftaran kuliah sudah beres. Namanya waktu itu UMPTN. Gagal. Atau tidak diterima di tiga kampus negeri yang saya daftar. Cerita tentang ini ada saya tulis di buku saya berjudul RUTE: catatan tentang kembara.

Karena tidak lulus kampus negeri di Jogja, Bapak menyuruh saya pulang. Tapi saya enggan. Sudah pergi jauh-jauh menyeberang lautan dengan ombak garang yang potensial membuat isi perut pada keluar, masak harus pulang gara-gara tidak lulus di kampus negeri.

Waktu itu, saya sudah jumpa beberapa kawan SMA. Sebagian di antara mereka sudah ada yang dapat kampus. Sebagian yang lain belum. Tapi dari kawan-kawan ini saya dapat informasi tentang asrama Kalimantan Barat, di Jalan Bintaran. Sendirian, saya datangi Asrama tersebut, bertemu dengan pengurusnya, memohon agar saya bisa tinggal di situ. Gagal. Katanya asrama sudah penuh. Tidak mungkin dipaksakan lagi dengan orang baru.

“Terus saya harus tinggal dimana?” Ini bukan keluhan, tapi harapan.

Kakak senior asrama, yang saya lupa siapa namanya, kemudian mengabulkan harapan itu. Setidaknya memberi harapan baru. Katanya, di Jalan Bintaran ini adalah Asrama Kalbar I, ada juga Asrama Kalbar II, di Jalan Bausasran. Coba saja ke sana. Saya tak tau arah. Akhirnya saya diantar oleh warga asrama yang lain menuju Asrama Bausasran. Sampai di sana, sudah penuh juga. Tak ada kamar lagi bagi saya.

Tujuan selanjutnya adalah Asrama ke III. Terkenal dengan sebutan Asrama Pingit, tepatnya di kampung Badran. Kampung tempat para gali mendekam. Di sini lagi-lagi tak tersedia kamar. Sudah penuh. Tapi, kata ketua Asrama, untuk menumpang beberapa hari bisa disilakan tidur di sini, sebab ada satu kakak senior asrama yang sedang pergi ke Bandung. Betapa bahagianya hati ini.

Kebahagiaan lain adalah pertemuan saya dengan teman MTs di Asrama ini. Busrani namanya. Saya merasa punya energi baru setelah beberapa hari khawatir tak dapat tempat tinggal. Nanti, setelah kakak senior pulang dari Bandung, saya memohon-mohon kepada ketua Asrama agar saya diperbolehkan tinggal di sini, minimal hingga saya dapat kampus. Alhamdulillah diizinkan.

Di Asrama Pingit inilah saya bertemu dengan koran Republika, Kompas, dan juga koran-koran lokal. Di Asrama Pingin inilah saya mulai rajin membaca karya-karya sastra yang terbit di koran. Saya berjumpa dengan beberapa nama yang sudah saya kenal ketika masih SMA. Saya juga berjumpa dengan beberapa nama baru.

Waktu itu tahun 1999. Baru setahun pasca peristiwa aksi mahasiswa menggulingkan kekuasaan Orde Baru. Karya-karya sastra yang terbit, tak jarang berbicara tentang ini. Berbau kritik sosial, intrik politik, gerakan masasiswa, juga penculikan mahasiswa. Saya merasa bergairah dengan membaca karya-karya model begini.

“Mungkin ini yang dimaksud bu Nurjanah, ketika SMA dulu,” kata saya dalam hati.

Semakin rajin saya membaca karya di koran-koran minggu itu, semakin sering saya menulis karya berwarna serupa. Hingga akhirnya saya memberanikan diri. Mesin tik bapak menjadi saksi. Diksi demi diksi berderet beriringan dengan suara tik-tok mesin tik. Imaijinasi saya melambung-lambung. Saya membayangkan peristiwa demonstrasi mahasiswa. Saya membayangkan suara senjata. Jadilah puisi.

Selesai. Kertas HVS beberapa lembar yang sudah berisi beberapa buah puisi saya lipat tiga. Masuk dalam amplop putih yang di sana juga sudah tertulis alamat tujuan. Kepada Yth. Redaksi Sastra Republika, di Jakarta. Naik bis jalur 12, turun di depan kantor pos ujung Malioboro. Beli perangko seharga 1.500. Selesai. Lalu pulang dengan harapan yang sangat besar agar puisi tersebut bisa terbit. Nanti kopiannya akan saya kirim ke bu Nurjanah jika terbit.

Seminggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu tidak terbit. Sebulan ditunggu tidak terbit.  


Rabu, 26 Agustus 2020

Jogja dan Mesin Tik Bapak

 The Journey of Being a Writer (3)



Setamat SMA, saya ke Jogjakarta. Tak mudah untuk melakukan negoisasi dengan bapak tentang hal ini. Sebab bapak hanya pegawai negeri biasa yang tak diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas korupsi. Gajinya tak banyak. Tapi Alhamdulillah, setelah melakukan negosiasi yang alot, keinginan untuk berangkat ke Jogja terlaksana.

23 Juni 1999 menggunakan kapal laut KM Leuser jurusan Pontianak – Semarang. Kenapa saya masih ingat tanggal keberangkatan itu? Karena tercatat dalam buku harian. Masa-masa lulus SMA adalah era dimana saya getol menulis catatan harian. Sebagian buku harian itu saya bawa ke Jogja. Apa gunanya? Saya pribadi tak begitu paham apa gunanya membawa buku harian banyak-banyak ke Jogja. Bikin penuh tas saja. Toh isinya gitu-gitu doang. Tapi saya tidak menyesal. Sebab nanti, ketika sudah dapat kampus, sudah bergabung dalam komunitas sastra, saya sangat berterima kasih kepada tumpukan buku harian saya tersebut. Bagian ini akan saya ceritakan nanti. Sekarang mari kita lanjutkan kisah datang ke Jogja untuk pertama kalinya.

Bapak punya saudara yang kuliah S2 di UGM. Beliau nge-kost di jalan Kaliurang. Sebelum berangkat ke Jogja, saya sempat melakukan surat menyurat terhadap beberapa kawan yang telah berangkat lebih dahulu. MasyaAllah, meski belum ada telepon genggam, tapi ternyata tak mudah berkumpul dengan teman-teman SMA di tanah rantau. Informasinya dari mulut ke mulut. Juga dari alamat yang pernah ditulis dalam surat.

Singkat cerita, setelah beberapa saat menumpang di kost saudara di jalan Kaliurang, akhirnya saya mendapat tempat tinggal tetap. Tidak tetap sebenarnya. Tetapi setidaknya dapat menampung saya untuk beberapa saat. Tempat itu bernama Asrama Mahasiswa Rahadi Osman, tempat anak-anak Kalbar berkumpul dan berinteraksi.

Di asrama, kami langganan media cetak. Kompas, Republika, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat. Selain itu kami juga dikirimi oleh pemda Kalimantan Barat Koran lokal secara berkala, seperti Pontianak Post dan Equator. Di Koran-koran inilah, pada hari minggu, saya menemukan puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang pernah diceritakan oleh bu Nurjanah dulu. Saya masih awam terhadap kesusastraan Indonesia, tapi saya mengetahui bahwa selain majalah Horison yang terbitnya bulanan, kita juga ada peluang untuk mengirimkan karya-karya sastra ke koran-koran yang terbitnya mingguan.

Bu Nurjanah, jasamu takkan ku lupa.

Oh iya, hampir lupa saya menceritakan salah satu bagian penting dalam proses kepenulisan yang saya alami. Yakni, mesin tik bapak. Saya sudah akrab dengan mesin tik milik bapak sejak kecil. Mungkin sejak kelas tiga atau empat SD. Atau bahkan sebelum itu. Bapak saya, karena tak terlalu punya kesempatan untuk korupsi, maklum pegawai rendahan, akhirnya harus mengeluarkan kreativitasnya agar mampu bertahan hidup di tengah tuntutan zaman yang semakin menggila (bisa jadi ini hiperbol, tapi bisa jadi ini nyata).

Kreativitas yang dilakukan bapak adalah membuka jasa pembuatan skripsi. Oh God, ternyata praktik jahat ini sudah berlangsung sejak dulu kala. Praktik yang memanjakan mahasiswa. Praktik yang memalaskan mahasiswa. Praktik yang membuat bodoh mahasiswa. Dan salah satu pelakunya adalah bapak saya (pasang emotikon sedih). Tapi apalah daya saya. Hanya anak SD yang mengetahui bahwa bapaknya punya banyak koleksi buku di rumah dan juga mengoleksi beberapa mesin tik. Dari situ, sejak kelas tiga SD saya sudah mahir menggunakan mesin tik. Terima kasih bapak. Jasamu takkan kulupa. Soal dosamu membuatkan skripsi para mahasiswa itu, bertobatlah. Bertobatlah. Bertobatlah.

Nah, mesin tik ini adalah salah satu senjata yang ikut saya bawa ketika ke berangkat ke Jogja. Nanti, ketika saya hengkang dari Asrama Kalbar dan pindah ke sanggar teater di kampus, mesin tik dan buku harian akan mengambil perannya masing-masing, menjadi wasilah berharga dari lahirnya puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang tertulis nama saya di sana.

Langsung terbit di koran? Belum. Semoga bisa saya ceritakan setelah ini.


Selasa, 25 Agustus 2020

Bu Nurjanah

 The Journey of Being a Writer (2)

Karena ketika SD saya sudah disuguhi banyak bahan bacaan dan saya menyenanginya, kesenangan ini berlanjut ketika saya remaja. Membaca saya jadikan hobi. Tak hanya itu, pelan-pelan saya juga mulai menyenangi aktivitas menulis catatan harian. Ini aktivitas yang sudah saya mulai sejak kecil sebenarnya. Tapi ketika itu hanya sebatas bertukar biodata dengan teman sekelas. Atau menulis surat untuk sahabat pena yang entah berada di mana.

Nah, ketika remaja, keasikan saya membaca berdampak dengan keasikan menulis. Ada banyak sekali buku harian saya yang isinya tak sekadar soal curhat. Tapi pada tahap ini saya mulai mencoba meniru-niru tulisan dari para penulis yang saya baca. Saya mulai suka berimajinasi kemudian menuangkannya dalam catatan harian.

Waktu SD saya pernah juara lomba mengarang dan dikirim hingga tingkat kabupaten. Kemampuan mengarang itu ketika remaja saya teruskan dalam buku harian. Jadilah saya sebagai seorang penulis catatan harian.

Siapa yang membacanya? Tak ada. Ini benar-benar bersifat personal. Tapi siapa menduga bahwa aktivitas personal ketika remaja ini menjadi modal berharga ketika nantinya saya benar-benar terjun ke dalam dunia kepenulisan. Apa modal berharga tersebut? Kebiasaan.

Ya, saya terbiasa menulis meski hanya catatan harian. Ya, saya terbiasa menulis meski temanya hanya berkutat diperkara personal. Tapi apa yang terjadi ketika saya menulis ke perkara lebih luas? Perkara publik. Ya saya tetap terbiasa menulis. Jemari ini menjadi enteng menekan tuts mesin tik.

Jadi puisi. Jadi cerpen. Jadi uneg-uneg.

Waktu SMA, selain suka merokok di belakang kelas, selain suka lompat pagar untuk bolos, saya juga suka berkunjung ke perpustakaan. Di situ saya jumpa dengan Chairil Anwar juga Taufik Ismail. Saya jumpa majalah Horison. Saya jumpa tulisan-tulisan yang membuat imajinasi saya meletup-letup. Imajinasi itu harus mewujud dalam bentuk tulisan. Tulisan itu harus dibaca orang banyak, sama seperti orang banyak membaca Chairil dan Taufik Ismail.

Maka jadilah selembar puisi. Dulu, mading sekolah menjadi hak prerogatif anak-anak OSIS. Merekalah yang berhak memutuskan apakah tulisan ini dan itu layak ditempel di mading. Tapi apa lacur, tak ada aktivitas kepenulisan di mading itu. Yang ada hanya poster-poster pengumuman. Iklan-iklan kegiatan ekskul. Mading apaan ini? Tak ada edukasi ke para siswa, jika ingin menulis dan tulisannya ingin terbit di mading, silakan kirimkan tulisan tersebut ke kakak-kakak OSIS. Tak ada. Akibatnya ya jangan salahkan kalau anak-anaknya pada nongkrong di kebun belakang sekolah sambil merokok. Bukannya menulis lalu mengirimkan tulisannya ke mading.

Maka saya memberanikan diri. Tidak melalui jalur formal dengan mengirimkan tulisan ke kakak OSIS. Tetapi tanpa izin siapapun membuka segel kaca di mading, lalu menempelkan puisi yang saya tulis. Puisi kotemporer. Terinspirasi dari pelajaran bahasa Indonesia.

Apa yang terjadi setelah itu saudara pemirsa? Tak membutuhkan waktu lama, puisi itu dibredel oleh kakak-kakak OSIS. Katanya puisi-puisi itu tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan. Penulis puisinya dicari, sebab sudah bikin sekolah heboh. Tapi kakak OSIS tak berani bertemu langsung dan mengajak penulisnya berkelahi. Mereka lebih memilih jalur formal dengan mengadukan hal ini ke wali kelas sang penulis.

Sang penulis auto dipanggil. Disuruh menghadap. Ini adalah wali kelas terkiller sejagad. Aroma kebengisannya sudah tercium semenjak hak sepatunya menyentuh lantai secara konstan. Kalau dia masuk kelas, seketika huru hara yang terjadi di dalam kelas berubah suasananya menjadi toto tentrem kerto raharjo. Ibu Nurjanah namanya (cium tangan saya ke beliau).

Karena ini urusan Wali Kelas, bukan urusan guru BP, maka lokasi persidangan berada di perpustakaan. Di sana habis-habisan saya diomeli. Itu terjadi tahun 1998. Bayangkan, sudah berapa tahun peristiwa ini saya rahasiakan. Saya hanya menunduk pasrah tak berdaya dengan dada penuh debar, khawatir orang tua dipanggil. Sudah cukuplah orang tua dipanggil karena kasus merokok dan lompat pagar. Jangan lagi kasus menulis puisi yang tidak sesuai dengan norma. Akan coreng moreng lah wajah orang tua saya nanti.

Di akhir persidangan, bu Nurjanah berpesan. Katanya kurang lebih begini, “Seharusnya tulisan seperti ini tidak ditempel di mading. Tetapi dikirimkan ke media-media cetak. Kalau kamu suka menulis, lanjutkanlah hingga kamu menjadi penulis profesional,” ujarnya.

Deg! Jantung saya serasa berhenti berdetak. Saya melihat segaris senyum di bibir bu Nurjanah. Mustahil. Mustahil. Mustahil. Ketika seantero sekolah (yang membaca mading) resah gelisah dan mencerca tulisan yang saya buat, bu Nurjanah, di akhir pidatonya malah memberikan apresiasi yang tak penah diduga sama sekali oleh saya. Benar-benar di luar dugaan. Sebagai seorang Wali Kelas, Bu Nurjanah telah menjalankan tugasnya dengan benar yakni mengomel-omeli saya. Sebagai pembaca karya sastra, Bu Nurjanah telah dengan jujur mengungkapkan apresiasinya. Terharu saya. Sungguh terharu.

Fix, setelah peristiwa itu, tak ada yang mampu mengubah cita-cita saya mejadi seorang penulis profesional.


(gambar hanya ilustrasi, nemu di internet)