Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja — Monolog yang Memaksa Kita Menertawakan Kepura-puraan
Siaran Pers
YOGYAKARTA — Di atas panggung pertunjukan, suara-suara membelah keheningan. Suara yang tidak menenteramkan, justru terasa menggoyang kenyamanan. Itulah inti dari monolog satir Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja, karya dan garapan Abror Y Prabowo.
Produksi pementasan teater ini lahir dari kolaborasi Ketika Teater Indonesia bersama Family Merdeka Production dan UKM Teater Sentir Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Sebuah pertemuan energi komunitas, mahasiswa, dan praktisi seni yang ingin menegaskan kembali relevansi teater sebagai ruang publik.
Monolog ini tidak memberi kita jawaban manis atau skenario penutup yang nyaman. Melainkan lebih memilih menjadi pembaca yang galak terhadap narasi-narasi optimisme semu, janji-janji yang terdengar megah dalam pidato, upacara yang terlihat rapi di permukaan, dan mekanisme hukum yang seringkali berakhir sebagai seremoni tanpa substansi.
Dengan bahasa sederhana dan kadang terdengar puitis, naskah ini membongkar kepura-puraan public. Praktik korupsi, skandal yang merusak legitimasi, dan bagaimana penanganan hukum kerap tampak tak serius tapi tidak transparan. Dalam dunia realita, mereka yang bertanya dan mempertanyakan justru sering dicap tidak waras. Sebuah ironi yang pada akhirnya menjadi titik sentral penampilan monolog kali ini.
Menurut Abror Y Prabowo, format pementasan monolog ini dipilih bukan kebetulan, tetapi menjadi cara yang menurutnya paling relevan untuk membangun dialog dengan penonton. “Monolog sangat bergantung pada kekuatan aktor dalam menghadirkan pengalaman teater yang intim. Setiap nada, jeda, dan bisik menjadi alat untuk menarik penonton ke dalam dialog personal yang tak mampu dihindari,” terangnya.
Lebih jauh Abror menjelaskan, tata panggung juga tidak menggunakan dekorasi mewah, bahkan relative sederhana. Tujuannya agar tersedia ruang lebih lapang bagi kata dan tubuh. “Penonton duduk bukan sekadar sebagai saksi, melainkan seolah menjadi bagian dari narasi yang dipertanyakan. Pendekatan ini menegaskan kembali gagasan bahwa teater bukan semata hiburan, tetapi arena refleksi sosial,” tambahnya.
Abror yang juga menerbitkan buku kumpulan naskah drama Karikatur dari Negeri Retak menuturkan, dalam pertunjukan ini dirinya sama sekali tidak membicarakan orang gila secara harfiah, melainkan lebih tentang orang-orang waras yang kerap tidak menggunakan kewarasannya untuk membangun kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya
“Kalimat dalam judul itu adalah rangkuman etika dan estetika, di mana kegilaan sebagai metafora pembalikan, sekaligus alat untuk melihat apa yang tak terlihat ketika sopan santun publik membungkus ketidakadilan. Sehingga monolog ini dari kegelisahan terhadap narasi publik yang dipaksa melihat segala kepincangan yang ada di negeri ini seolah terlihat baik-baik saja,” pungkasnya.
Di balik layar, produksi ini menjadi praktik kolaboratif yang menarik. Kerja kreatif yang melibatkan komunitas independen, rumah produksi, dan mahasiswa yang menghidupkan proses kreatif.
Fian Ckhairil Mizan, pimpinan produksi, menyebutkan bahwa keterlibatan lintas generasi inilah yang memberi energi baru bagi perkembangan teater lokal. Menurutnya, pementasan bukan sekadar target artistik, tetapi juga sarana membangun ruang bersama. Ruang di mana kegelisahan kreatif dipertemukan dengan pengalaman penonton dan semangat akademik. “Hasilnya sebuah pertunjukan yang terasa jujur, dekat, dan memaksa percakapan setelah lampu panggung padam,” tuturnya.
Fian menuturkan, pementasan ini adalah kali kedua setelah sebelumnya naskah yang sama ditampilkan di kota Pekalongan. “Respon penonton memperlihatkan spektrum yang menarik. Dari pelajar, pegiat budaya dan masyarakat umum merespons bukan hanya soal gaya atau teknik, melainkan unsur reflektif yang dipicu naskah”, katanya.
Antusiasme itulah yang mendorong tim produksi untuk membawa pertunjukan ke Yogyakarta. “Tentunya dengan pembacaan dramaturgi yang disempurnakan dan stuktur panggung yang lebih matang agar pesan-pesan kritisnya dapat mencapai khalayak yang lebih luas,” tandasnya.
Kritiknya lembut pada bahasa namun tajam pada substansi. Itu pula yang membuat pertunjukan ini relevan. Di mana tidak memaksa satu jawaban, melainkan membuka kemungkinan dialog di ruang-ruang publik yang lebih kecil namun berpengaruh.
Undangan
· Untuk pembaca rubrik budaya yang ingin menyaksikan atau meliput, pementasan dijadwalkan pada Rabu, 4 Februari 2025 di Gedung Militaire Societeit, Jl. Sriwedani No.1, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta.
· Tim produksi menyambut baik permintaan liputan dan review, atau penjadwalan wawancara dengan sutradara dan kru.
· Materi pers tambahan, foto resolusi tinggi, serta kutipan resmi tersedia atas permintaan melalui kontak resmi tim produksi.
Rincian singkat produksi:
· Judul: Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja
· Naskah & Sutradara: Abror Y. Prabowo;
· Produksi: Ketika Teater Indonesia × Family Merdeka Production × UKM Teater Sentir Universitas Mercu Buana Yogyakarta;
· Pimpinan Produksi: Fian Ckhairil Mizan;
· Waktu & Tempat: Rabu, 4 Februari 2025 — Gedung Militaire Societeit, Yogyakarta.
Posting Komentar untuk " Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja — Monolog yang Memaksa Kita Menertawakan Kepura-puraan"