Kamis, 06 Agustus 2020

Jadi Seniman




Sejak kecil jika ditanya cita-cita saya suka menjawab, ingin jadi seniman. Saya tak terlalu ingat alasannya kenapa, bisa jadi karena saya punya paman (almarhum) yang sejak saya kecil sering memutar kaset Iwan Fals. Di kamar paman juga terpajang poster Iwan Fals. Rasa-rasanya ini keren. Seniman. Saya pengen.

Ketika menginjak remaja cita-cita saya ingin jadi seniman semakin kuat. Saya sudah mulai mengerti tentang definisi. Ada yang bilang kalau seniman itu orangnya bebas. Tak ada peraturan yang biasa mencegah kreativitasnya. Saat remaja, definisi saya tentang seniman ya sebatas ini. Bebas. Saya ingin bebas. Seperti burung. Seperti seniman. 

Ketika dewasa, bikin KTP, saya bubuhkan kata seniman dalam kolom pekerjaan. Ini saya lakukan dengan sadar. Bukan karena saya sudah bisa berdendang ala ala Iwan Fals, bukan pula karena saya bisa bebas secara fisik dan pikiran. Tapi karena  saya punya karya dan bisa dikategorikan sebagai seniman. 

Pada tahap ini, saya bisa klaim bahwa telah berhasil menggapai cita-cita kecil. Tak banyak orang yang bisa menggapai cita-cita kecil. Saya salah satu dari yang tak banyak itu. Apa buktinya? Buktinya saya punya karya dan KTP saya bertuliskan seniman. 

Itu saja tak cukup. Tapi profesi ini juga harus wujud dalam eksistensi aktivitas. Saya bangun jejaring antar seniman. Ikut dalam berbagai anda kesenimanan. Mengikuti kongres seniman yang diselenggarakan kementrian. Saya petantang petenteng tidak karuan. Merasa sudah seniman tentu saja diiringin dengan berbagai unsurnya.

Artistik. Estetis. Imajinatif. Kreatif. Indah. Apa lagi? Oh iya, bebas. Definisi seniman yang saya ketahui ketika remaja juga masih berlaku saat dewasa. Seniman itu bebas. Pikirannya bisa mengembara kemana saja hingga menjelma kreativitas. Boleh menabrak norma. Mengobrak abrik aturan tanpa harus merasa bersalah. Telanjang bulat di jalan raya, boleh tidak? Tidak boleh. Sopan tidak? Tidak sopan. Tetapi karena mengatasnamakan kesenian, ini jadi boleh dan sopan. 

Seniman bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Bisa mengembara ke keberbagai negeri. Bisa "yak yak an" seenak hati. 

Sampai akhirnya saya kenal Islam. Ternyata, sebagai individu, di dalam Islam, kita itu bukanlah individu yang bebas. Kita terikat. Banyak sekali aturan dalam Islam, yang itu tidak bisa dilanggar, meskipun dia seorang seniman. 

Ya, seniman kalau muslim, berarti punya konsekuensi harus ikut aturannya sebagai muslim. Ini aqidah. Konsekuensinya jelas. Terus kalau begitu tak lagi bisa bebas dong? Kalau banyak aturan, menjadi tidak imajinatif dong? Bagaimana etikanya, estetikanya, artistiknya, jadi tidak indah lagi dong? Terus kalau sudah Islam begini, jadi tidak seniman lagi dong?

MasyaAllah, tak membutuhkan waktu lama setelah saya belajar Islam, saya malah bertemu dengan para seniman yang sadar betul akan keindahan. Dan seindah-indahnya laku kesenimanan adalah keindahan yang dibalut taqwa. Komunitas kesenian ini bernama Khat. Dan apa yang kau takutkan tentang tidak indah, tidak estetis, tidak imajinatif, kaku dan semacamnya, oleh komunitas KHAT terbantahkan. Ditambah satu hal, Islam. Taqwa. Profesi mereka ini seniman, tapi sungguh, betapa mereka ikhlas diikat oleh ikatan bernama Islam. Oleh berbagai macam aturan bernama syariat. 

Komunitas ini malah menjadikan kesenian sebagai alat untuk menuju zat yang padanya segala macam keindahan berasal. Allah SWT. 


خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا

“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, Allah menjadikannya sebagai perhiasan untuk langit, untuk melempar para syaitan, dan untuk menjadi alamat (tanda-tanda) sebagai penunjuk arah.” (Shahih Al-Bukhari 4/107)
 

Tabik!

0 Comments:

Posting Komentar