Minggu, 23 Agustus 2020

Suka Baca

The Journey of Being a Writer (1)


Yang paling berjasa dalam proses kepenulisan saya adalah bapak. Jauh hari sebelum saya berpikir untuk menjadi seorang penulis, tepatnya ketika saya masih sangat kecil, bapak sudah menyuguhi berbagai macam bahan bacaan. Mari kita sebut satu per satu yang masih diingat.

Donald bebek, majalah Ananda, Majalah Bobo, Komik si Buta dari Gua Hantu, aneka komik Gultom Agency, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Asmaraman Ko Ping Ho, Lima Sekawan, dan banyak lagi.

Saking banyaknya, saya ingat pada waktu SD saya membuka taman bacaan di teras rumah. Saya ajak teman-teman bermain di rumah untuk ikut membaca. Teman-teman akrab, gratis. Nanti kalau ada yang mau bawa pulang, mereka harus bayar. Kalau saya tidak salah nominalnya 25 atu 50 rupiah per buku.

Hampir semua penulis profesional, baik mereka yang benar-benar menghasilkan banyak buku atau pun mereka yang bekerja sebagai motivator kepenulisan, hampir semua dari mereka akan mengatakan bahwa jika ingin menjadi penulis berkelas, harus menjadi pembaca berkelas. Tak mungkin penulis berkualitas akan lahir jika si penulis tidak suka membaca. Nasihat semacam ini sudah lazim kita dengar. Begitu juga saya. Jika diharuskan memberikan nasihat kepada pemula tentang step by step menjadi penulis, akan saya katakan bahwa step pertama adalah membaca.

Ini bukan sekadar teori. Berapa banyak kosakata yang bisa masuk ke dalam otak kepala kita jika kita tak membaca? Lalu kalau tak punya banyak kosa kota, apa yang mau kita tulis?

Untuk itu, saya ingin ucapkan terima kasih kepada bapak, yang dengan sadar telah membelikan saya banyak buku bacaan ketika kecil. Karena buku-buku yang dibelikan bapak hampir semuanya bergenre fiksi, wajar kalau kemudian saya menjadi suka menulis fiksi. Tak bisa dipungkiri tentang korelasi ini. Apa yang kita baca, sebagian besar menjadi inspirasi kita dan akhirnya menjadi tulisan.

Step one: Reading. Done

 


0 Comments:

Posting Komentar