Selasa, 25 Agustus 2020

Bu Nurjanah

 The Journey of Being a Writer (2)

Karena ketika SD saya sudah disuguhi banyak bahan bacaan dan saya menyenanginya, kesenangan ini berlanjut ketika saya remaja. Membaca saya jadikan hobi. Tak hanya itu, pelan-pelan saya juga mulai menyenangi aktivitas menulis catatan harian. Ini aktivitas yang sudah saya mulai sejak kecil sebenarnya. Tapi ketika itu hanya sebatas bertukar biodata dengan teman sekelas. Atau menulis surat untuk sahabat pena yang entah berada di mana.

Nah, ketika remaja, keasikan saya membaca berdampak dengan keasikan menulis. Ada banyak sekali buku harian saya yang isinya tak sekadar soal curhat. Tapi pada tahap ini saya mulai mencoba meniru-niru tulisan dari para penulis yang saya baca. Saya mulai suka berimajinasi kemudian menuangkannya dalam catatan harian.

Waktu SD saya pernah juara lomba mengarang dan dikirim hingga tingkat kabupaten. Kemampuan mengarang itu ketika remaja saya teruskan dalam buku harian. Jadilah saya sebagai seorang penulis catatan harian.

Siapa yang membacanya? Tak ada. Ini benar-benar bersifat personal. Tapi siapa menduga bahwa aktivitas personal ketika remaja ini menjadi modal berharga ketika nantinya saya benar-benar terjun ke dalam dunia kepenulisan. Apa modal berharga tersebut? Kebiasaan.

Ya, saya terbiasa menulis meski hanya catatan harian. Ya, saya terbiasa menulis meski temanya hanya berkutat diperkara personal. Tapi apa yang terjadi ketika saya menulis ke perkara lebih luas? Perkara publik. Ya saya tetap terbiasa menulis. Jemari ini menjadi enteng menekan tuts mesin tik.

Jadi puisi. Jadi cerpen. Jadi uneg-uneg.

Waktu SMA, selain suka merokok di belakang kelas, selain suka lompat pagar untuk bolos, saya juga suka berkunjung ke perpustakaan. Di situ saya jumpa dengan Chairil Anwar juga Taufik Ismail. Saya jumpa majalah Horison. Saya jumpa tulisan-tulisan yang membuat imajinasi saya meletup-letup. Imajinasi itu harus mewujud dalam bentuk tulisan. Tulisan itu harus dibaca orang banyak, sama seperti orang banyak membaca Chairil dan Taufik Ismail.

Maka jadilah selembar puisi. Dulu, mading sekolah menjadi hak prerogatif anak-anak OSIS. Merekalah yang berhak memutuskan apakah tulisan ini dan itu layak ditempel di mading. Tapi apa lacur, tak ada aktivitas kepenulisan di mading itu. Yang ada hanya poster-poster pengumuman. Iklan-iklan kegiatan ekskul. Mading apaan ini? Tak ada edukasi ke para siswa, jika ingin menulis dan tulisannya ingin terbit di mading, silakan kirimkan tulisan tersebut ke kakak-kakak OSIS. Tak ada. Akibatnya ya jangan salahkan kalau anak-anaknya pada nongkrong di kebun belakang sekolah sambil merokok. Bukannya menulis lalu mengirimkan tulisannya ke mading.

Maka saya memberanikan diri. Tidak melalui jalur formal dengan mengirimkan tulisan ke kakak OSIS. Tetapi tanpa izin siapapun membuka segel kaca di mading, lalu menempelkan puisi yang saya tulis. Puisi kotemporer. Terinspirasi dari pelajaran bahasa Indonesia.

Apa yang terjadi setelah itu saudara pemirsa? Tak membutuhkan waktu lama, puisi itu dibredel oleh kakak-kakak OSIS. Katanya puisi-puisi itu tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan. Penulis puisinya dicari, sebab sudah bikin sekolah heboh. Tapi kakak OSIS tak berani bertemu langsung dan mengajak penulisnya berkelahi. Mereka lebih memilih jalur formal dengan mengadukan hal ini ke wali kelas sang penulis.

Sang penulis auto dipanggil. Disuruh menghadap. Ini adalah wali kelas terkiller sejagad. Aroma kebengisannya sudah tercium semenjak hak sepatunya menyentuh lantai secara konstan. Kalau dia masuk kelas, seketika huru hara yang terjadi di dalam kelas berubah suasananya menjadi toto tentrem kerto raharjo. Ibu Nurjanah namanya (cium tangan saya ke beliau).

Karena ini urusan Wali Kelas, bukan urusan guru BP, maka lokasi persidangan berada di perpustakaan. Di sana habis-habisan saya diomeli. Itu terjadi tahun 1998. Bayangkan, sudah berapa tahun peristiwa ini saya rahasiakan. Saya hanya menunduk pasrah tak berdaya dengan dada penuh debar, khawatir orang tua dipanggil. Sudah cukuplah orang tua dipanggil karena kasus merokok dan lompat pagar. Jangan lagi kasus menulis puisi yang tidak sesuai dengan norma. Akan coreng moreng lah wajah orang tua saya nanti.

Di akhir persidangan, bu Nurjanah berpesan. Katanya kurang lebih begini, “Seharusnya tulisan seperti ini tidak ditempel di mading. Tetapi dikirimkan ke media-media cetak. Kalau kamu suka menulis, lanjutkanlah hingga kamu menjadi penulis profesional,” ujarnya.

Deg! Jantung saya serasa berhenti berdetak. Saya melihat segaris senyum di bibir bu Nurjanah. Mustahil. Mustahil. Mustahil. Ketika seantero sekolah (yang membaca mading) resah gelisah dan mencerca tulisan yang saya buat, bu Nurjanah, di akhir pidatonya malah memberikan apresiasi yang tak penah diduga sama sekali oleh saya. Benar-benar di luar dugaan. Sebagai seorang Wali Kelas, Bu Nurjanah telah menjalankan tugasnya dengan benar yakni mengomel-omeli saya. Sebagai pembaca karya sastra, Bu Nurjanah telah dengan jujur mengungkapkan apresiasinya. Terharu saya. Sungguh terharu.

Fix, setelah peristiwa itu, tak ada yang mampu mengubah cita-cita saya mejadi seorang penulis profesional.


(gambar hanya ilustrasi, nemu di internet)

0 Comments:

Posting Komentar