Senin, 29 Juli 2019

Sebuah Akhir yang Baik

Quarter pertama 2015, sepulang dari perjalanan ke Kamboja dan Thailand, aku terlibat percakapan intensif dengan seorang teman ngopi tentang Islam. Hingga akhirnya dari percakapan intensif ini muncul kesepakatan bahwa kita akan mengkaji Islam secara intensif pula. Minimal sepekan sekali waktu maksimal dua jam setiap pertemuan. Kemudian aku mengenal pertemuan ini dengan sebutan halaqoh. Teman ngopi ini berubah fungsi menjadi guru ngaji, dikenal dengan sebutan musyrif.

Meski sudah ada kesepakatan halaqoh sekali sepekan, dan musyrif punya kesibukan yang teramat sangat, tapi aktivitas ngopi bareng dan cerita pemikiran Islam tidak dihentikan. Malah semakin intensif. Aku masih ingat, waktu itu hampir tiap hari kita berjumpa. Sarapan, sebelum musyrif berangkat mengajar di kampus, sempatkan sarapan bersamaku. Nanti siang, jika ada kesempatan jumpa, kita minum kopi bersama. Terus malam hari, jumpa lagi di warung kopi.

Inilah fase pembinaan. Konon, keputusanku untuk berhijrah harus terus dikawal. Orang-orang di Pontianak sudah tau trackrecord-ku. Pecundang kelas kakap terhadap aturan Allah. Diajak sholat, apa jawabanku? Yak, tepat. Sudah pernah! Untuk itu musyrif merasa perlu bertemu denganku hampir setiap hari. Lama kelamaan aku mengetahui metode ini dengan sebutan mutaba'ah.

Perkataan mutaaba’ah berasal dari kata taaba’a. Kata ini memiliki beberapa pengertian. Di antaranya, tatabba’a (mengikuti) dan raaqaba’ (mengawasi). Dengan demikian, kata mutaaba’ah bererti pengikutan dan pengawasan. Yang dimaksud dengan mutaaba’ah sebenarnya adalah mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Keren juga kelompok dakwah ini, batinku. Metode pembinaan luar biasa. Musyrif harus benar-benar memastikan bahwa pola pikir para daris (murid) adalah pola pikir Islam, dilanjutkan dengan pola sikap Islam. Selanjutnya akan terbentuk kepribadian Islam. Tentu saja aqidah Islam adalah bagian yang harus tertanam dalam. Aqidah yang dibangun atas landasan pemikiran ini kemudian akan mendorong seseorang untuk menyongsong kebangkitan. Karena pola pikirnya Islam, pola sikapnya Islam, kepribadiannya Islam, aqidahnya Islam, maka kebangkitan yang disongsong adalah kebangkitan Islam.

Keren kan. Keputusan untuk bertobat setelah dibina dalam halaqoh-halaqoh dan mutaba'ah-mutaba'ah membuat kita punya komitmen kuat untuk menjadi pejuang Islam yang semata-mata hanya berharap ridhaNya. Tak banyak kutemukan kelompok dakwah yang begitu rapi seperti ini. Atau mungkin tak ada?

Di masa-masa mutaba'ah ini, musyrif memberiku beberapa referensi bacaan. Salah satu buku Yang diberikannya di masa-masa awal pertemuan kami adalah buku berjudul Indonesia Milik Allah karya ustaz Hari Moekti. Aku kaget. Hari Moekti? Tanyaku dalam hati. Maksudnya, kabar roker kondang ini hijrah kemudian memutuskan menjadi da'i, sudah kuketahui sejak dulu. Tapi aku tak menduga, ternyata "mantan setan" ini juga bersama kelompok dakwah yang sekarang sedang membinaku. Berarti Hari Moekti juga ikut halaqoh? Berarti Hari Moekti juga didatangi musyrifnya untuk mutaba'ah? Luar biasa, pantas saja kemudian beliau begitu istiqomah dalam jalan dakwahnya. Menyerahkan hidupnya hanya untuk Islam.

Selanjutnya nama Hari Moekti menjadi kerap kudengar bersama dengan da'i - da'i pejuang syariat Islam lainnya. Pantas saja, dulu sebelum aku ikut kelompok dakwah ini, musyrif, yang waktu itu masih sebatas teman ngopi pernah cerita bahwa dia dan teman-temannya akan mengundang Hari Moekti ke Pontianak. Dalam hatiku, jago betul orang ini. Bikin acara tak tanggung-tanggung, yang diundang orang sekaliber Hari Moekti. Berapa besar dana yang dipunya?

Ternyata eh ternyata, Hari Moekti adalah teman satu pengajian. Ternyata eh ternyata tak perlu honor untuk mendatangkan Hari Moekti dalam agenda dakwah. Cukup menyediakan akomodasi seadanya.

Kesempatan lain, aku dapat berita bahwa Hari Moekti akan ke Pontianak lagi. Kali ini yang mengundangnya dari Masjid Kapal Munzalan Mubarakan di jalan Ampera. Maka tak kan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan datang paling depan, membawa buku karangan beliau, nanti selesai tausiyah aku akan menghampiri beliau sambil minta tanda tangan di buku lalu berfoto bersama. Begitu rencanaku.

Hari yang ditentukan tiba. Saking semangatnya aku pergi di awal waktu menuju masjid Munzalan. Membawa kamera, membawa tripod. Sesuai rencana aku akan duduk paling depan, kan kurekam ceramah beliau, kuunggah di Youtube. Berhasil. Tak ada yang lebih depan dari tempat dudukku. Kami hanya berjarak beberapa meter. Aku begitu dekat dengan mantan setan ini. Ceramahnya menggelegar. Waktu itu beliau datang dalam rangka maulid nabi. Katanya, Nabi Muhammad SAW itu bukan diutus oleh Allah hanya untuk mengurusi urusan individu, tapi juga masyarakat, bahkan negara. Meneladani Nabi itu artinya secara individu kita harus mencontoh nabi, dalam kelompok masyarakat, tata sosial kehidupan harus mencontoh seperti apa yang dilakukan nabi, dalam bernegara juga tak boleh lari dari aturan yang diajarkan nabi. Yakni aturan Allah SWT. Itu baru namanya mencintai Nabi Muhammad SAW.

Sungguh, gayanya berceramah punya ciri yang khas. Sesekali beliau melucu, tak jarang membuat haru, kerap mendidihkan darah ini untuk ikut bangkit, taat di jalan Allah dan memperjuangkan jalan ini agar bisa diterapkan secara menyeluruh. Allahu Akbar.

Salah satu kalimat yang membekas disampaikan ustaz Hari Moekti malam itu di Masjid Munzalan, kira-kira begini, "Semenjak runtuhnya Daulah Islamiyah, para pemimpin berganti, bukan raja, bukan presiden, tetapi para pengusaha."

Para pengusaha inilah yang menguasai negara-negara. Sebut saja negaranya, di belakang para penguasanya pasti ada pengusaha. Ini langgeng, berlangsung terus menerus semenjak awal abad 20 sampai sekarang. Hampir seratus tahun. Kenapa langgeng? Karena sistem untuk menjalankan negara di dunia ini adalah sistem bentukan mereka, para pengusaha itu. Nama sistemnya sekulerisme, anak kandunya bernama kapitalisme, teknis menjalankan sistemnya dikenal dengan nama demokrasi.

Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Suara rakyat lewat wakil-wakilnya menjelma menjadi suara Tuhan. Vox populi Vox dei. Para wakil rakyat ini berhak membuat hukum yang seharusnya ini adalah tugasnya Tuhan. Di belakang para wakil rakyat ini siapa? Benar, pengusaha. Merekalah yang menguasai negara dimanapun berada. Lalu untuk siapa demokrasi ini dijalankan? Ya untuk para pengusaha. Dari pengusaha oleh pengusaha untuk pengusaha. Lho, rakyatnya kemana? Tenang saja, rakyat sudah cukup puas berpesta memeriahkan demokrasi bentukan pengusaha ini yang katanya untuk memilih para wakil rakyat yang sejatinya adalah para suruhan pengusaha.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Tegas dalam setiap dakwah yang disampaikan. Kalimatnya yang cukup terkenal adalah dakwah itu menyampaikan apa yang harus mereka dengar bukan apa yang ingin mereka dengar.

Di waktu yang lain, sebenarnya aku kembali punya kesempatan bertemu lagi dengan ustaz Hari Moekti. Waktu itu aku dipercaya oleh panitia penyelenggara kegiatan Kalbar Book Fair untuk mengurusi sesi acara bedah buku. Ada beberapa penulis nasional yang hendak diundang.

Pesan panitia, yang penting ramai. Pokoknya gimana caranya pembicara tersebut mampu menyedot masa. Langsung terucap dari mulutku nama ustaz Hari Moekti. Panitia kaget seraya bertanya, memangnya aku punya kontak beliau?

"Tenang saja, aku punya," jawabku yang tetap saja tidak membuat para panitia ini percaya. Aku membantin, gampanglah itu, teman sepengajian kok. Singkat cerita aku dapat nomor kontak manajemen Ustaz Hari Moekti. Setelah dihubungi, pihak manajemen mengatakan insyaallah ustaz Hari Moekti berkenaan namun akan dikonfirmasi ulang sebab manajemen harus melihat ulang jadwal beliau.

Kata manajemen, ustaz Hari belakangan mulai suka sakit karena kelelahan. Jadi kalau harus keliling keluar daerah harus disediakan waktu untuk beristirahat setidaknya sehari. Tidak boleh kayak dulu. Habis ceramah di kota ini, langsung bandara, pindah ke kota itu. Selesai, pindah lagi ceramah ke kota lain. Naik mobil, naik kapal, tidur di hotel, tidur di camp pengungsian, dijalani. Dari Aceh hingga Papua, tiap daerah pernah disinggahi beliau untuk berdakwah. Tak kenal lelah.

Tapi manajemen bersikeras, sekarang tak bisa lagi seperti dulu. Sudah ada ring di jantungnya, meski sesungguhnya pemasangan ring di jantungnya itu bukan alasan baginya untuk kendor berdakwah. Hingga akhirnya rencana ustaz Hari Moekti untuk hadir di kegiatan kalbar Book Fair gagal karena jadwalnya berbenturan dengan kota lain, dan jika beliau harus terbang ke Pontianak itu artinya beliau tak sempat istirahat.

Hal ini saya sampaikan ke panitia. Terus, penggantinya siapa? Tanya panitia. Yang tetap pokoknya harus ramai. Saya katakan, Felix Siauw.

"Hah, Felix Siauw? Memangnya kamu punya kontaknya?"

Kalau saja panitia Book Fair mau ikut mengkaji Islam bersama kelompok dakwah tempat ku belajar, juga tempat ustaz Hari Moekti belajar, juga tempat Ustaz Felix Siauw belajar, dia mungkin tidak seketerkejut itu. Akhirnya Ustaz Felix datang Ke Pontianak, bukunya yang dibahas berjudul habbits. Ribuan orang tumpah ruah memadati acara. Alhamdulillah.

Setelah itu, tak ada lagi kesempatanku bertemu ustaz Hari Moekti. Wajahnya hanya kerap kusaksikan dalam desain poster tabligh yang berseliweran di grup-grup WA. Juga beberapa kali kusaksikan beliau di Televisi. Hingga akhirnya kami berada dalam satu grup WA yang sama. Ini adalah grup para seniman muslim yang punya tekat berkesenian dalam rangka menyongsong peradaban gemilang bernama Islam. Ustaz Hari adalah salah satu pembina grup seniman muslim ini. Dari grup ini kuketahui semakin ke sini ustaz Hari Moekti kerap dilanda sakit. Tapi berkali-kali beliau sakit, berkali-kali beliau bangkit. Berdakwah lagi dari satu kota ke kota yang lain. Adik kandungnya yang juga anggota grup seniman muslim ini, abah Moekti Candra yang sering update perkembangan kesehatan beliau.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Roker yang menjadi idola jutaan manusia seantero nusantara. Menyebut dirinya sendiri sebagai setan. Sebab ambisinya sebagai artis populer adalah ambisi setan. Hari Moekti sudah mengajak jutaan manusia jingkrak-jingkrak tak karuan di saat konser. Hari Moekti telah menjadi perantara para lelaki perempuan berpelukan di tempat umum padahal mereka bukan mahrom. Hari Moekti telah mengundang orang untuk menenggak alkohol. Hari Moekti, pada masanya telah mengajak orang secara terang-terangan untuk bermaksiat. Untuk mengikuti langkah - langkah setan. Maka Hari Moekti menyebut dirinya sebagai setan.

Ketika beliau memutuskan untuk bertobat, maka beliau adalah mantan setan. Yang senantiasa menyeru kepada orang-orang beriman untuk tidak mengikuti langkah langkah setan. Untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh. Seruan ini adalah seruan Allah dalam Al-Quran, yang ketika dijalani maka rahmat bagi seluruh alam akan kita rasakan.

Hari Moekti adalah salah satu pejuang yang layak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Totalitasnya dalam berdakwah seperti tak tergantikan. Suaranya lantang menyerukan penegakan syariah dan khilafah. Kerinduannya akan kejayaan Islam tampak nyata dalam setiap ceramahnya. Hari Moekti, telah menjadi inspirasi jutaan manusia untuk ramai-ramai bertobat, ramai-ramai berjuang menerapkan syariat.

Saat mengetahui kabar kepergiannya lewat adiknya, Abah Moekti Candra via grup WA, darah di dadaku langsung berdesir kencang. Beliau telah dipanggil. Manajer hakiki ustaz Hari Moekti sudah meminta beliau untuk istirahat. Sudah, jangan keliling lagi. Sudah. Cukup. Sekarang istirahat lah bersama pemilik hidup.

Aku menangis? Tentu saja. Apalagi setelah membaca banyak catatan orang-orang seperjuangan. Ustaz Titok Priastomo menulis dalam status facebooknya, Ya Allah, berikanlah kpd beliau pengganti yg lebih baik dari dunia ini, dan berilah juga kepada kami pengganti-pengganti seperti -atau lebih baik dari- beliau. Ini doa tulus dari teman seperjuangan sekaligus bukti nyata bahwa sosok Hari Moekti adalah salah satu manusia terbaik dari umat terbaik. Yang tak pernah menolak panggilan Allah untuk berdakwah, untuk menyeru kepada yang makruf mencegah kepada yang mungkar. Bukan untuk popularitas dirinya pribadi, tapi semata-mata untuk menjalankan perintah Allah. Ya. Perintah Allah. Menolak perintah Allah, berarti menolak berada di surganya Allah.

Manusia terbaik ini, pulang dengan jalan terbaik pula. Saat sedang memenuhi panggilan dakwah di Cimahi. Di hotel terserang sakit, langsung dibawa ke rumah sakit, beberapa menit kemudian wafat. Tak perlu berlama-lama, Allah sudah sangat merindukannya.

Terakhir, mengiringi kepergian beliau, izinkan saya mengutip kalimat Ustaz Ismail Yusanto. Ini sahabat beliau. Ini inspirator beliau, yang juga inspirator jutaan manusia di Indonesia yang untuk senantiasa istiqomah berada di jalan dakwah.

Kata ustaz Ismail, di saat tabligh, beliau dipanggil Allah. Sebuah akhir yang baik, Insyaallah.

Izinkan kami melanjutkan perjuanganmu wahai kekasih Allah, hingga pada saatnya nanti syariah dan khilafah dapat benar-benar kita rasakan di dunia ini. Bersama barisan Imam Mahdi ikut berjuang menegakkan kalimat La illaha ilallah Muhammad Rasulullah.

Pontianak, 25 Juni 2018

0 Comments:

Posting Komentar