Jumat, 26 Juli 2019

Buku Perjalanan

Dulu, ketika saya bercerita tentang rencana menerbitkan buku perjalanan, banyak orang yang kemudian menunggu-nunggu terbitnya buku tersebut. Orang-orang ini punya ekspektasi besar tentang seperti apa perjalanan yang saya lakukan. Pergi ke mana saja. Pemandangannya yang indah. Kawasan yang sulit dijangkau. Pengalaman menggendong tas ransel di pundak. Sepatu gunung.  Tantangan rintangan selama perjalanan. Bahkan ada yang berharap saya menulis “how to”. Tips dan trik jalan-jalan murah. Panduan perjalanan di musim dingin. Dan semacamnya.

Pada kesempatan ini saya ingin memohon maaf sebab barangkali tak bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Saya tak menulis travel guide juga hal-hal lainnya seperti heroisme seorang traveler. Bisa jadi karena memang saya tak ahli untuk menuliskan detil tentang guidance juga saya bukan seorang traveler yang heroik. Meski saya memahami, buku-buku seperti ini adalah buku-buku yang paling banyak dicari. Nanti lah ya, kapan-kapan, semoga saya ada bisa menulis buku ‘how to’ gaya saya. Tapi saya tidak berjanji. Khawatir tidak terlaksana.

Lalu, ini buku soal apa? Saya sendiri tak terlalu pandai menceritakan buku apa ini. Benar saya telah melakukan perjalanan. Setamat SMA, saya melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Waktu itu saya kuliah di sana. Episode ketika saya di Jogja ini adalah episode seru dalam proses hidup saya. Bertemu dengan berbagai macam pemikiran. Bergejolak. Sungguh, sejak dulu saya ingin mencatatkannya. Alhamdulillah pada kesempatan ini, keinginan itu bisa terwujud. Meski tentu saja tidak semua episode Jogja bisa saya lampirkan di sini. Banyak juga yang tak saya ceritakan dan tak harus saya ceritakan.

Lima tahun di Jogja, jejak kembara ini berlanjut ke Jakarta. Tak terlalu lama di ibukota negara, tapi banyak hal yang mampir dalam otak ini. Pemikiran saya acak kadut ketika di Jakarta. Ini lumrah. Banyak orang sudah tahu karakteristik Jakarta yang kejam. Banyak orang yang ketika berada di Jakarta seketika berubah menjadi orang-orang yang bengis dalam mengejar keuntungan. Industri. Kapital. Baik sekadar untuk bertahan hidup atau pun dalam rangka meraup kekayaan dan terus menyiksa orang kebanyakan. Jakarta menjadi saksi bahwa pemikiran yang sudah lama dibangun di Jogja harus porak poranda begitu saja di ibukota. Belakangan ini saya memahami masalahnya. Pondasi yang tak kuat.

Tanpa pondasi yang kuat, saya pulang kampung. Pontianak. Melewati episode demi episode dalam hidup. Bertemu banyak orang. Bertemu banyak peristiwa. Bertemu banyak pelajaran. Juga kerap tak mengambil pelajaran. Yang penting senang yang penting menang. Di Pontianak, hasrat untuk berkelana muncul menggebu-gebu. Hingga pada suatu waktu, saya berkesempatan untuk terbang begitu jauh, Bulgaria.

Saya merasa ada hal penting yang perlu saya ceritakan selain sekadar tips and trik menjadi pengembara sejati. Pemikiran. Pondasi. Sebab dalam tiap kembara kita akan bergesekan dengan pemikiran berbeda. Sebab dalam tiap kembara kita akan berjumpa dengan hal asing yang punya konsekuensi  logis pada perkembangan hidup mati kita ke depan. Pada titik ini kita perlu pondasi kokoh untuk menopang pemikiran yang benar. Ah, saya jadi seperti mewejang. Tak layak rasanya.

Begini saja biar lebih mudah. Kamu baca saja buku ini. ada banyak kisah di sana. Siapa tahu saja kamu bertemu kesalahan-kesalahan, lalu jangan segan untuk memberikan kritikan. Siapa tahu saja setelah membaca buku ini kamu punya inspirasi untuk mengoreksi saya, untuk menasehati saya, untuk membuat saya semakin termotivasi untuk tak henti berjuang menuju kebangkitan.

Begitu kira-kira RUTE ini ditulis. Sekarang ada di tangan kamu semua. Jika ada waktu, semoga kita bisa jumpa, barangkali kita bisa jalan bersama, atau minimal menyicipi kopi bersama. Sungguh, saya kenal barista yang seduhannya, membuat kita betah berlama-lama.

Jika memang buku ini membawa pesan kebaikan, jangan pelit untuk menyebarkan pesan kebaikan ini kepada orang-oran lain. Semoga Allah ridha dan berbuah pahala bagi kita semua. Aamiin.


0 Comments:

Posting Komentar