Selasa, 05 November 2019

Cerita Kopi

Kopi adalah sesuatu yang luar biasa. Bisa memberikan kebaikan di dua sisi. Pantang Alkohol di Inggris dan Peradaban di mana-mana.
---
Ini adalah percakapan imajiner antara pengusaha kopi dan penyair yang ia rekrut untuk menjadi marketing dari usaha yang ia jalankan. Pinker dan Wallis.

Percakapan itu terjadi di London dengan setting waktu di tahun 1896. Di bagian-bagian awal, si pencipta karakter Pinker dan Wallis akan cukup membuat pembaca terksesima untuk melanjutkan kecintaannya pada kopi.

Saya ingin masuk ke latar waktu dari adegan itu.

Ini adalah masa dimana Alfonso de Albuquerque sukses mempromosikan rempah ke sisi barat dunia, sehingga mereka berebut datang ke wilayah timur. Untuk rempah, pada mulanya. Belanda berhasil. Cerita sebelumnya, Belanda tahu betul, bahwa kopi juga sesuatu yang tak boleh ditinggalkan. Dari Al-Mukha, kopi dibawa, dipaksakan ditanam di Jawa. Pada akhirnya menjadi pundi-pundi harta tak ternilai. Aromanya menyebar di atas meja, dihirup para pejuang Renaissance Eropa. Berkelas terlebih bagi mereka yang pantang Alkohol.

Memang, saya tak menemukan data berapa jumlah pecandu alkohol di Inggris yang kemudian berpindah ke kopi. Tapi berbagai literatur telah kita baca, bahwa kopi ikut membersamai bangun jatuhnya peradaban di mana-mana. Mulai dari teman para pemburu ilmu yang mencintai penciptanya di malam hari, agar kuat terjaga, agar banyak karya tertulis, agar banyak zikir terucap, agar dekat dengan pencipta, hingga menjadi alasan kolonialisasi berbagai macam negeri.

Anthony Cappella berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca untuk lebih larut menyelami kopi. Tapi perlu digarisbawahi, dia adalah penulis yang otaknya berkembang karena Renaissance. Pemuja sekulerisme. Pengakuannya terhadap kemajuan besar di segala bidang yang menghasilkan peradaban mulia bernama Islam, tak membuatnya menjadi pengembannya.

Tentu saja pembaca perlu untuk senantiasa kritis, agar tidak mudah larut dalam diksi berbahaya yang berkumpul dalam 680 halaman bookpapaer 65 mg yang kemudian kita menyebutnya dengan nama Novel.

Ngopi dimana kita pagi ini?

0 Comments:

Posting Komentar