Minggu, 10 November 2019

Nasionalisme (Part 1)

Dahulu, di masa gelap, di Eropa, orang-orang tak berhenti berperang. Alasannya bisa macam-macam; agama, suku, bisnis, geografi, dan lainnya.

Kejadian ini berlangsung terus menerus. Yang cukup terkenal adalah perang 30 tahun (1618 - 1648).

Kasat mata, ini terlihat seperti konflik antara Katolik dan Protestant. Padahal kepentingan antar dinasti (yang saat ini berlokasi di negara Jerman) cukup kuat. Para pemilik tanah juga terlibat. Selanjutnya, bunuh membunuh antar rakyat.
  
Peristiwa lain, perang 80 tahun antara Spanyol dan Belanda (1568 - 1648). What? 80 tahun mereka berperang? Mulai dari saling menghina antar suku hingga saling bunuh.

Begitulah Eropa, benua gelap yang diakibatkan oleh perang, menjadi terang pun dengan perang.

1648, pihak-pihak penting sepakat untuk menandatangani perjanjian damai. Berlokasi Osnabrück dan Münster, Westfalen (sekarang di Jerman).

Melibatkan Kaisar Romawi Suci, Ferdinand III, dari Wangsa Habsburg, Kerajaan Spanyol, Kerajaan Prancis, Kekaisaran Swedia, Republik Belanda, Pangeran Kekaisaran Romawi Suci, dan perwakilan berdaulat dari kota imperium bebas.

Selanjutnya perjanjian damai ini dikenal dengan nama Perjanjian Westfalen (Westphalia). Kerajaan Spanyol berdamai dengan Belanda. Sekaligus mengakui eksistensi Republik Belanda. Di sini juga ditandatangani dengan perdamaian antara Kaisar Romawi Suci dan Perancis juga sekutu-sekutunya. Swedia juga sekutu-sekutunya begitu pula.

Kata sejarawan, Westphalia menjadi penanda perubahan sistem politik Eropa. Dari sistem kerajaan yang berkoalisi dengan gereja, berganti menjadi konsep negara berdaulat. Rakyat ikut campur menentukan pemimpinnya. Gereja tak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sekuler asasnya. Demokrasi sistemnya. Dari sini kemudian kita mengenal negara berdaulat. Nasionalisme.

Nasionalisme hadir dan menyebar begitu cepat di Eropa. Apakab masalah beres? Apakah perang berakhir? Tidak. Selanjutnya kita akan mengenal kekejaman demi kekejaman dalam rangka pencaplokan wilayah kekuasaan baru. Kolonialisme berlangsung. Ratusan tahun umurnya. Nasionalisme dipaksakan hingga ke seluruh penjuru dunia.

(bersambung)

3 komentar: