Minggu, 29 September 2019

Tentang Membaca


Bagaimana cara menghasilkan tulisan yang mampu menggerakan orang menuju perubahan?

Itu pertanyaan dari seorang mahasiswa baru saat kemarin sore kami diskusi ringan soal literasi. Ini pertanyaan berat. Kenapa?

Sebab bagaimana akan lahir tulisan yang mampu menggerakkan orang, ketika tidak mau membaca. Saya mencoba menyebut beberapa nama, seperti Tan Malaka dan Soe Hok Gie, misalnya. Mahasiswa ini tak tau. Belum pernah mendengar sebelumnya.

Ini saya bisa maklumi. Tak juga bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Sebab saat ini mereka hidup di dalam situasi dimana membaca itu adalah sesuatu yang tak perlu. Akibatnya, jika membaca hasilnya ngantuk juga membosankan.

Kalau begini kenyataannya, maka dipastikan kita tak bisa menghasilkan tulisan yang mampu membuat pembaca bergerak menuju perubahan.

Tapi sore kemarin saya senang, beberapa mahasiswa baru ini antusias. Satu di antaranya pernah dengar Nama Hasan Al Bana. Itu angin segar. Semoga tak sekadar mendengar nama, tapi juga mau membaca karyanya atau biografi tentangnya.

Para mahasiswa baru ini sepakat untuk datang diskusi santai di warung kopi setiap minggu sore. Nanti kita akan membaca banyak buku. Nanti kita akan cerita tentang bagaimana cara mendatang ide tulisan. Nanti kita akan praktik menulis.

Pun akan kita bahas perkara ideologi. Pelan-pelan, mahasiswa ini semoga saja bisa kompromi dan akhirnya bikin keputusan bahwa menghabiskan waktu dengan main PUBG di warung kopi sambil membiarkan pacarnya duduk cemberut di sebelahnya adalah hal sia-sia yang sudah saatnya ditinggalkan.

Oh iya, saya punya buku bagus di rumah. Sila jika mau datang dan ikut membaca.

0 Comments:

Posting Komentar