Senin, 05 Agustus 2019

Berjumpa Doktor Paling Produkif Sedunia


Oleh: Pay Jarot Sujarwo

Siapa yang pernah dengar nama Dr. Ahmad Sastra? Beliau adalah ketua Forum Doktor Islam Indonesia. Aktivis muslim, para pejuang yang rindu akan kebangkitan Islam tentu saja sudah tidak asing dengan beliau.

Saya pribadi belum pernah bertemu dengan seorang Doktor, super sibuk, mengajar di mana-mana, dalam dan luar negeri, jadwal dakwah juga padat, ditambah produktivitas menulisnya yang bikin siapapun geleng kepala. Tapi orang itu wujud. Nampak. Namanya Dr. Ahmad Sastra.

Di sosial media juga grup whatsApp, tulisannya berseliweran kesana kemari. 100% dari tulisan itu adalah tulisan yang mengajak kita berpikir kemudian memahami betul akar masalah yang di hadapi manusia zaman sekarang ini, sambil menemukan jalan keluar dari permasalahan itu. Setiap hari. Selalu saja ada tulisan panjang beliau. Tak jarang jumlahnya lebih dari satu.

Di media cetak, khususnya Republika, wah tak usah ditanya lagi. Dr. Ahmad Sastra adalah orang yang tulisannya langganan terbit di Republika. Bukunya juga diterbitkan beberapa penerbit. Bahkan ada penerbit yang akhirnya bangkrut tapi masih menyimpan tulisan beliau yang belum sempat terbit. MasyaAllah. Inilah senyata-nyatanya amal jariyah yang siapa pun ingin bisa melakukannya. Semoga Allah menjaga keistiqomahan beliau dalam menyampaikan ide-ide bernas via tulisan.

Kemarin saya diundang makan oleh beliau. Tentu saja ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Seorang pejalan, yang singgah di suatu kota, terus diundang makan oleh doktor istimewa. Setiap akhir pekan, doktor ini mengajar di Singapura. Di Indonesia beliau juga punya mahasiswa dari Malaysia yang dibina untuk menghasilkan buku. Mengajar di berbagai kampus, filsafat, juga literasi untuk peradaban. Ngeri betul mendengarnya. Tapi orang "ngeri" ini ternyata baik hati dan ngotot mentraktir saya makan. Mau gimana lagi, saya pasrah dan bergembira.

Di meja makan, Dr Ahmad Sastra bercerita tentang aktivitas kepenulisannya. Sudah puluhan tahun beliau berjumpa dengan orang-orang yang tak berhenti berkeluh kesah tidak bisa menulis.

"Padahal menulis itu seperti memasak," katanya.

"Ada yang memasak induktif ada pula yang memasak deduktif," beliau melanjutkan. Wah saya baru dengar perkara ini. Sepertinya seru.

Memasak induktif maksudnya: masuk dapur kemudian memasak dari bahan yang ada di dapur, masakan disesuaikan dengan bahan yang ada.

Masak deduktif adalah mau masak menu tertentu tanpa melihat bahan di dapur, jika tak ada bahan yang sesuai menu, maka dia harus ke pasar dulu untuk beli bahan.

Itulah analogi menulis, menulis induktif adalah membuat tulisan dari apa yang sudah ada dalam otak dan pengalaman selama ini. Terlalu banyak informasi dan ilmu yang selama ini mengendap dalam otak setiap orang, hanya belum dituangkan saja kan?
Modal masak, setelah ada bahan, tinggal keterampilan/teknik dan alat-alat masak. Setelah itu masaklah sesering mungkin, Insyaallah akan sedap dengan sendirinya. Bagikan masakan kepada setiap orang, untuk dirasakan dan dikomentari.

Begitu kira-kira petuah bijak dari doktor paling produktif sedunia ini. Setidaknya versi saya.

Selain soal induktif dan deduktif, beliau juga bercerita tentang ibu-ibu yang sudah puluhan tahun memasak dengan ibu-ibu muda yang baru memasak. Tentu saja akan ada beda rasa. Beda pula imajinasi juga improvisasi.

Ini indikasi nyata bahwa menulis itu memerlukan proses. Dan jika tidak betah dengan proses itu maka bersiaplah rasa yang kita hasilkan menjadi hambar.

Saya pribadi sering menemukan anak-anak muda yang begini ini. Tidak sabar dalam menulis. Inginnya tulisannya buru buru menjadi buku biar bisa dibaca banyak orang. Nanti jika bukunya terbit dan ternyata tidak laku, karena memang tulisan yang belum matang, lalu ngomel-ngomel sendiri.

Balik lagi ke meja makan. Seusai makan kami bercakap-cakap tentang kemungkinan-kemungkinan. Kita pindah meja. Beliau menyalakan laptop, dan MasyaAllah, ada ratusan tulisan yang menanti untuk diterbitkan.

Sungguh saya sangat ingin ikut campur dalam prosesi amal jariyah ini. Sungguh, saya ingin diajak. Ini peluang besar dalam rangka menyelamatkan hidup saya dari siksa di hari akhir. Entah berapa banyak dosa ini.

Bismillah, saya beranikan diri untuk "nembung" kepada pak Doktor.

"Boleh naskah-naskahnya saya bantu agar terbit jadi buku?"

Beliau mengiyakan. Saya begitu bungah. Girang tak alang kepalang. Perpindahan naskah dari laptop ke hardisk terjadi. Ya Allah, ridhoi upaya ini.

Kurang lebih satu jam perjumpaan kami. Selanjutnya kita berpisah. Dr ahmad sastra akan mengajar, saya akan melanjutkan perjalanan. Semoga Allah menjaga pertemanan kami, di dunia, juga akherat.

0 Comments:

Posting Komentar