Jumat, 20 Desember 2019

LUPUT



Ada Bulgaria, ada pula Bulgar. Ada juga yang menyebutnya Bolgar. Hampir mirip tapi pada satu titik antara Bulgaria dan Bulgar berbeda. Dulu, asal mereka sama. Sungai Volga. Ini sungai terpanjang di Eropa. Kalau kau suka linguistik, kau akan suka dan mencari kaitannya; volga-bolga-bolgar-bulgar-bulgaria. Ah, jadi ingat zaman-zaman kuliah dulu.

Sungai Volga merupakan saksi abadi dari berbagai macam tabiat manusia, mulai dari sekadar perlintasan berbagai suku bangsa, hingga perebutan kekuasaan yang mengharuskan pertumpahan darah.

Kita mengenal nama Genghis Khan yang dari namanya saja kita akan langsung membayangkan penaklukan demi penaklukan. Salah satu rahasia kekuatan bangsa Mongol ini adalah kepiawaian mereka dalam menciptakan teknologi pembuat ransum atau perbekalan awet lainnya untuk para tentara. Mereka akan bergerak begitu cepat dari negeri ke negeri hingga mampu mengalahkan bangsa Persia yang jauh lebih beradab. Genghis Khan dan pasukannya kala itu tak mengenal huruf, tak bisa baca tulis. Tak berperadaban.

Sungai Volga ini pula yang dipercaya sebagai pintu gerbang masuknya Islam yang nantinya akan terus meluas meliputi negeri-negeri Eropa. Kalau kau ingin berkunjung ke sana hari ini, dari Moscow, kau bisa pergi ke negeri Kazan, ibukota Tatarstan. Melewati jalan darat kurang lebih tiga sampai empat jam kau akan sampai di Bolgar yang masuk dalam distrik Spassky.

Lalu apa hubungannya Bolgar dengan Bulgaria? Jarak antara keduanya hampir 3000 kilometer. Bolgar berada di wilayah Rusia, Bulgaria di daerah Balkan yang bersebelahan dengan Yunani. Ternyata mereka memang berasal dari satu rumpun suku-suku Azov. Orang-orang Bolgar yang tidak memeluk Islam terus melakukan pengembaraan. Bertemu dengan suku-suku lain. Kawin mawin dengan orang-orang Slavia. Memeluk Kristen Ortodhox. Hingga akhirnya menetap di sungai Danube kemudian menyebut diri mereka sebagai Bulgaria.

Di masa kekhilafahan Abbasiyah, orang-orang Bolgar bertemu Islam di sungai Volga. Yang tak mau masuk Islam memilih pergi hingga beribu-ribu kilometer. Tapi inilah agama yang penuh rahmat bagi seluruh alam. Meliputi bumi hingga titik terjauh. Nanti, kurang lebih tujuh abad kemudian, di masa kekhilafahan Utsmaniyah, Islam sampai ke wilayah Balkan, masuk Bulgaria, membuat orang-orang sana jatuh hati kemudian memeluknya.

Orang-orang Slavia yang memeluk Islam kemudian menyebut dirinya sebagai orang Pomak. Entah apa maknanya. Tak kudapatkan referensi tentang ini. Orang-orang Slavia ini tinggal di sebagian Yunani, Turki, juga Bulgaria. Mereka tak mau disamakan sebagai orang Turki karena mereka memang bukan orang Turki. Tapi begitulah Islam, perbedaan suku bangsa itu kemudian melebur dalam satu akidah. Dalam satu aturan dari pemilik bumi.

Saat aku berada di kota Sofia tak banyak kutemukan sisa-sisa peradaban Islam. Sebagain besar dihancurkan pada saat komunis berkuasa. Lima abad kegemilangan, secepat kilat menjelma kabar buruk yang memilukan. Tak hanya bangunan seperti masjid dan madrasah yang dihancurkan. Tapi juga manusianya. Mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, jika tidak mau berarti mereka memilih dibunuh.

Berikutnya adalah citra buruk terhadap Islam yang harus terus menerus diangkat ke permukaan. Kasar. Begal. Hina. Terbelakang. Tak berpendidikan. Citra ini menyergap pikiran manusia-manusia modern. Didukung pemerintah yang meminggirkan Islam dengan sengaja melalui berbagai kebijakan.

Komunitas Muslim Roma adalah kelompok masyarakat yang begitu menderita di zaman modern. Desa-desa mereka tanpa listrik, fasilitas pendidikan, juga lapangan kerja. Perlakuan diskriminatif seperti tak pernah selesai mereka alami. Politik belah bambu yang dilakukan barat pun mereka rasakan. Karena mereka beragama Islam, orang-orang Bulgaria modern menyebut mereka sebagai Gipsi Turki. Tetapi komunitas Turki menolak mereka, sebab kulit mereka lebih gelap. Gipsi. Tak diterima di komunitas Turki. Tak diterima di komunitas Bulgaria. Beragama Islam. Masih hidup. Tapi luput dari perhatian kita semua.

Itulah kenapa kita memerlukan kepemimpinan yang satu. Yang akan melindungi kaum muslimin di seantero negeri. Tak peduli apa suku bangsanya, selama akidahnya Islam, mereka adalah saudara yang wajib mendapat perlindungan. Kepemimpinan yang satu ini akan menerapkan syariat secara menyeluruh.

Jangan luput lagi. Mari ikut berjuang, kawan.

0 Comments:

Posting Komentar