Sejarah di Tangan Pemenang - Catatan Bang Pay

Sejarah di Tangan Pemenang

Dari teras rumah kami masuk ke ruang tamu. Cukup luas. Di sudut-sudutnya tergantung gamis perempuan yang lumayan banyak. Saya tanya ke Bang Yusof, apakah pakaian itu dijual? Ia membenarkan. Diceritakan pula kepada saya bahwa istrinya yang menjahit semua pakaian tersebut.

 

Selanjutnya bang Yusof mengambil sebuah kitab, membukanya, dan mulai membaca. Kitab itu bertuliskan huruf Arab, tapi pengucapannya Melayu. Waktu SMA saya pernah dapat pelajaran seperti ini. Orang-orang di Jawa menyebutnya Arab Jawi.

 

Dari apa yang dibaca bang Yusof akhirnya saya mengetahui bahwa orang-orang Muslim yang ada di daerah Chau Doc ini berasal dari Trengganu. Kakek moyang mereka merantau ke daerah ini. Mendakwahkan Islam dan mencari penghidupan yang baru.

 

Di kitab tersebut hanya diceritakan asal muasal namun tak ada pembahasan detil tentang Champa. Maksudnya apa korelasinya dengan orang-orang Champa, sehingga mereka menyebut diri sebagai Melayu Champa?

 

Sampai di sini saya tak mendapatkan informasi lebih. Perjalanan sejauh ini, ingin mendapatkan info detil tentang kerajaan Islam Champa, tapi tak didapat. Kecurigaan saya tentang informasi sejarah yang dihilangkan oleh penjajah semakin kuat. Meski saya juga harus bilang bahwa ini kecurigaan yang tidak berdasar data ilmiah.

 

Padahal sejarah mencatat, masa pecerahan Eropa terjadi berkat ekspansi Islam. Baik itu bermula di tanah Andalus maupun Byzantium. Kebudayaan dan peradaban barat yang sebagia besar bersumber dari warisan filsafat Yunani sesungguhnya tidak bisa diakses Barat tanpa kontribusi penerjemah muslim dimasa keemasan Islam

 

Tapi ketika barat muncul sebagai pemenang. Kondisi malah berbalik. Sejarah kegemilangan Islam nyaris tak terdengar. Islam kemudian dicitrakan sebagai peradaban terbelakang, bodoh, dan miskin.

 

Tentang jejak sejarah Islam Champa yang belum terang bagi saya, tentu saja tak serta merta saya menyalahkan Barat. Bisa jadi ini karena memang saya yang masih belum mendapat akses ke sana.

 

Selesai membaca kitab asal usul nenek moyang, Bang Yusof, sesuai rencana, mengajak saya berkeliling Chau Doc. Kami berangkat dengan sepeda motor. Menyeberangi sungai. Berhenti di atas jembatan besar. Ia menyarankan saya untuk memotret kondisi sungai, yang barangkali menjadi objek wisata menarik bagi para wisatawan. Saya turun dari motor, memotret.

 

Kampung-kampung kecil kami telusuri. Rumah-rumah panggung menghiasi sisi kiri dan kanan jalan. Ini perkampungan melayu, saya membatin berkali-kali saat melihat kondisi kampungnya. Para lelaki dengan kain sarungnya, perempuan yang menutup kepalanya dengan kerudung.

 

Fix, mereka saudara seiman. Yang terpisahkan sekat nasionalisme. Berada di bawah naungan negara komunis. Ya Allah, semoga hidayah terlimpahcurah kepada saudara seiman dimanapun berada. Sehingga Islam yang tinggi ini benar-benar ditinggikan pemeluknya dengan segenap daya dan upaya

 

Salam
Pay Jarot Sujarwo

 

instagram.com/payjarotsujarwo

cerita lengkap ada di channel telegram
t.me/payjarot

Pay Jarot Sujarwo
Pay Jarot Sujarwo for some reasons, ever since I was little I always like running away from home