Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bang Yusof, Orang Melayu Champa


Sekarang fokus saya ke lelaki berbahasa Melayu. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Yusof. Bang Yusof. Ia bertanya agak detil tentang diri saya. Dari mana? Kenapa bisa sampai di tempat ini? Apakah ada tujuan khusus? Tinggal berapa lama di sini? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Sembari saya menjawab sembari bang Yusof menjelaskan ke orang-orang dengan Bahasa Vietnam. Sebagian dari mereka mengangguk-angguk. Sebagian bertanya balik. Sebagian terlihat asik menikmati kopi.


Saya ceritakan sudah mengetahui tempat ini dari internet. Jadi ketika berkesempatan menjejakkan kaki di Saigon, saya ikhtiarkan untuk sampai di sini. Saya juga dalam proses belajar Islam mendalam dan bisa berjumpa dengan saudara sesame muslim di sini tentu saja membuat gairah keislaman saya menyala-nyala


Meskipun bang Yusof bisa berbahasa Melayu tetapi belum tentu ia bisa memahami seluruh kalimat yang saya sampaikan. Terbukti beberapa kali ia meminta saya mengulangi. Bukan karena tidak mendengar tetapi memang tidak mengerti. However Bang Yusof begitu antusias.


Giliran saya yang bertanya kepada bang Yusof. Kedai kopi ini terlihat ramai. Hampir semuanya sudah berumur. Mungkin saya yang paling muda. Tadi di masjid juga begitu. Kemana anak-anak mudanya?


“Mereka di Saigon,” ujar Bang Yusof. Sebagian lainnya di Kamboja. Di tempat ini tidak ada pekerjaan bagi anak muda.

Di kampong yang tersisa hanya perempuan dan orang-orang tua. Rezeki bergantung dari orang muda. Ada yang pulang ke sini sepekan sekali. Ada yang sebulan sekali.


Kembali saya memperhatikan sekeliling. Orang-orang yang bersahaja. Seperti tak punya beban. Pemilik kedai tampak mondar-mandir mengantarkan pesanan pelanggan. Ada yang tak cukup satu gelas. Mereka nambah. Betapa tidak, ukuran gelas kopinya kecil. Bercampur susu kental manis. Sebagian ada yang minta dicampur es. Ya, segelas tak cukup menikmati Vietnam Drip.


“Bang Yusof kerja apa?”


“Saya berniaga. Dua pekan niaga baju di Kamboja. Dua pekan balik sini. Nanti dua pekan pergi lagi ke Kamboja. Nanti dua pekan balik sini. Duduk-duduk di kedai kopi,” bang Yusof tertawa. Sepertinya menertawakan hidup yang easy going. Tak perlu pusing-pusing.


“Apakah orang-orang sini berasal dari Champa?” Ini pertanyaan inti saya.


“Ya, kami orang Champ. Lebih tapatnya Melayu Champa,” kata bang Yusof. Mendengar ini telinga saya naik. Inilah yang saya cari. Perjalanan dari Pontianak – Kuala Lumpur – Saigon dan akhirnya sampai di Provinsi An Giang ini bisa dibilang misi utamanya ingin mengetahui lebih dalam tentang Champa.

Ini adalah kerajaan legendaris. Di Nusantara sering disebut-sebut dalam pelajaran sekolah. Disebutkan bahwa Champa punya keterkaitan dengan Aceh juga Malaka. Juga jejak ke pulau Jawa. Ada salah satu raja Jawa yang menikah dengan putri Champa. Ada salah satu wali sanga juga dari Champa. Kurang lebih cerita-cerita seperti itu yang sering kita dengar dahulu.


Sekarang saya merasa begitu dekat dengan cerita-cerita itu. Bang Yusof, Alhamdulillah lancar berbahasa Melayu. Saya perlu beberapa hari untuk tinggal di tempat ini.


“Mau tidur dimana?” tiba-tiba bang Yusof mengagetkan saya. Oh iya ya. Bahkan saya belum tahu mau menginap di mana.


Salam

Pay Jarot Sujarwo


ig: payjarotsujarwo 

Join channel telegram: t.me/payjarot

Posting Komentar untuk " Bang Yusof, Orang Melayu Champa"