Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Why Cambodia (Part I)

Masjid Al-Serkal Haram di Phnom Penh. Kamboja

Setelah meninggalkan bekas jejak kakinya di beberapa negara Eropa, lelaki itu pada akhirnya pulang. Betapa tidak, ia bukan turis kebanyakan yang harus berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya dalam paket perjalanan singkat sepekan atau dua pekan. Sejak tahun 2010, tiga bulan ia bertahan di Bulgaria, pulang sebentar, lanjut berangkat lagi di bekas negara komunis tersebut pada awal 2011, tiga bulan lagi. Setelah itu, ia menjejakkan kakinya di salah satu negara kapitalis Eropa Barat, Belanda. Pun tiga bulan. Eh, tidak, sebab dua minggu sebelum batas visa berakhir, ia hinggap sebentar di tanah Espanya. Lelaki itu adalah saya.

Tak betah beralama-lama di kampung halaman, saya kembali riset tentang pesawat murah, destinasi, juga tentang waktu perjalanan. Kali ini yang jadi pilihan Indocina. Tak banyak yang saya ketahui tentang Indocina selain cerita berdarah dari PolPot yang mengerikan. Diktator Komunis itu telah membunuh setidaknya 1,7 juta (ada yang mengatakan 2 juta) manusia Kamputjia. Selain itu, saya juga tahu bahwa Indocina adalah negara murah tujuan backpacker Eropa. Sudah, tidak lebih.
Tapi di warung kopi, tiba-tiba saya berucap, “Ingin menulis tentang minoritas Islam di Kamboja.”
Kalimat ini saya sampaikan kepada seorang teman yang sering berbicara Islam di warung kopi. Sebenarnya saya tak terlalu yakin dengan ucapan itu. Apakah benar mau menulis tentang Islam? Sementara kepribadian diri ini jauh sekali dari Islam. Akal pikiran pun tak Islam. Nafsu pun bukan nafsu Islam. Tapi sudahlah. Ini hanya obrol-obrol kedai kopi.
Riset selesai dilakukan. Tiket pesawat sudah di tangan. Beberapa kontakan dari Komunitas Backpacker sudah dihubungi. Berangkat. Rutenya adalah Pontianak – Kuala Lumpur – Phnom Penh. Tapi untuk apa perjalanan ini? Mengapa? Waktu itu saya tak terlalu hirau. Yang penting berangkat. Mengunjungi tempat-tempat baru. Bertemu orang-orang baru. Sudah. Nanti pengalaman-pengalaman baru itu bisa diceritakan dalam pertemuan komunitas backpacker, bisa juga ditulis. Tak ada motivasi lebih. Sempat terbetik di hati, seandainya bisa menjadi traveler yang dibicarakan banyak orang. Tapi untuk apa? Saya tak terlalu ambil pusing. Kalau ternyata perjalanan ini kemudian menjadi inspirasi orang-orang lain, syukurlah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Toh saya sudah melakukan perjalanan.
Tentang menulis perkara Islam di negeri minoritas, sungguh, itu hanya obrol-obrol warung kopi yang jika pun tak terwujud ya sudahlah. Tak ada beban. Meski demikian, di Phnom Penh, saya berhasil bertemu dengan seorang muslim. Lelaki yang berprofesi sebagai guru SD ini kemudian mengantarkan saya ke salah satu masjid di dekat sungai Mekong. Kurang lebih 10 KM dari pusat kota. Duh, bahkan nama kampungnya saja saya tidak ingat. Saking tidak ada target.
Yang saya ingat, di Masjid itu saya dijamu sebegitu rupa oleh salah seorang jamaah. Beruntung jamaah ini lancar berbahasa Melayu. Mengaku belajar Islam dengan jamaah tabligh di Malaysia. Mempersunting gadis Malaysia, dibawa pulang ke Kamputjia. Karena itulah cakap melayunya lancar. Pertemuan itu berlangsung kurang lebih dua jam. Selanjutnya, saya pamit untuk kembali ke pusat kota.
Sepekan di Phnom Penh, saya lanjut menuju Siem Reap. Di tanah tempat konflik dua agama (Hindu – Budha) berlangsung cukup lama itu, saya berjumpa dengan para backpacker dari berbagai belahan bumi. Angkor Wat, tak saya kunjungi. Untuk apa? Saya asik masyuk dengan para traveler yang menyamar menjadi aktivis kemanusiaan. Berpura-pura peduli dengan kaum miskin papa di Kamboja, padahal sesungguhnya agar mereka mendapat izin tinggal di negara itu. Menjadi Volunteer di berbagai aktivitas yang menjual ‘kemiskinan’. Sempat pula ia berkunjung di salah satu kampung, bertemu dengan orang Khmer yang di rumahnya tak ada kakus.
“Jadi bagaimana kalau mau buang air?” tanya saya kepada seorang volunteer Australia yang waktu itu menawarkan diri menjadi guide gratisan.
“Ya, pergi ke sana, bawa alat penggali, bikin lubang, jongkok beberapa menit, beres,” jawabnya sambil menunjuk lapangan luas yang dihiasi dua atau tiga ekor sapi kurus-kurus.
“Kapitalis keparat,” desis sayadalam hati.
Tapi waktu itu saya tak benar-benar memusuhi kapitalis. Buktinya tak ada apa-apa yang dapat saya lakukan selain diskusi-diskusi penuh utopia dengan orang-orang yang mengaku beraliran kiri. Mau bagaimana menghancurkan kapitalis? Sebenarnya saya juga tak tau bagaimana caranya.
Sepekan di Siem Reap, beli tiket bus menuju Bangkok. Beli tiket Kereta Api menuju Chiang Mai. Sewa sepeda motor menuju Ciang Rai hingga jejak ke Mae Chan, daerah paling utara di Thailand. Nyaris dua pekan di Thailand, turun ke Kuching, menginap beberapa hari. Berdebat dengan kapitalis Jerman di Malaysia bagian Kalimantan ini, lalu kembali ke Pontianak. Sudah.
Ada cerita berharga yang saya bawa? Tak ada. Kalaupun ada, tak banyak. Ada buku tentang Islam minoritas yang saya tulis? Tak ada. Kalaupun ada, mungkin nanti. Tapi saya tak terlalu hirau. Toh, sudah jalan-jalan.
Beberapa bulan setelah perjalanan itu saya berkenalan dengan Islam. Oh iya, selama ini agama saya sudah Islam. Agama nenek moyang. Tapi ya gitulah. Tak usah diceritakan. Malu. Di kedai kopi saya terlibat diskusi intensif dengan seorang kawan yang dulu bertanya tujuan saya ke Kamboja.
Beberapa waktu diskusi intensif di warung kopi, tempatnya berpindah ke masjid. Kali ini kami bikin janji untuk sepekan sekali jumpa. Perihal yang dibahas juga sistematis. Pada pertemuan ini, saya kemudian menyadari tentang dari mana saya berasal, untuk apa saya hidup, kemana pergi setelah mati.
Bersambung

Posting Komentar untuk " Why Cambodia (Part I)"