Kamis, 01 Oktober 2020

Berkenalan dengan Deni Je dan Lukisannya yang Mendebarkan

Leiden Centraal. Situasinya tak jauh berbeda dengan stasiun kereta di kota-kota lainnya di Belanda. Sibuk. Orang-orang dengan cermat melihat papan jadwal kereta yang terpajang di beberapa sudut. Ada yang terlihat berlari mengejar kereta yang hendak berjalan sambil membawa segelas kopi yang baru dibelinya. Sebagian yang lain berdiri di smoking area, bersantai sambil menunggu jadwal keberangkatan. Suara peluit terdengar. Satu kereta berjalan.


Di Leiden Centraal ini saya bikin janji dengan seorang kawan. Jordi namanya. Kami akrab ketika Jordi tinggal kurang lebih satu tahun di Pontianak, volunteer fisioterapi. Saat saya punya kesempatan mengunjungi negerinya, tentu saja kami bikin janji untuk jumpa.

Di Belanda, saya tinggal di Rotterdam dengan memegang visiting visa selama 90 hari. Tapi kota Rotterdam terlalu megah. Terlalu sibuk. Terlalu kapitalistik. Saya yang sebelum ini tinggal di salah satu negara Balkan, yang masih menyisakan aroma komunisme, Bulgaria, agak sulit beradaptasi dengan Rotterdam.

Beruntung, setiap akhir pekan ada tiket kereta terusan yang dijual dengan harga murah. Maka, berbekal tiket murah itulah beberapa kota seperti Amsterdam, Utrecht, Breda, Mastrich, Den Haag, Kinderdijk, dan banyak lagi kota lainnya termasuk Leiden, tertapaki.

Tak ada destinasi khusus yang ingin saya kunjungi di Leiden selain perpustakaan KITLV. Saya ingin lihat fisik buku yang saya tulis yang jadi koleksi perpustakaan ini. Sisanya, ya tempat-tempat umum yang biasa dikunjungi para pejalan. Saya turisnya, Jordi guidenya.

“Itu patung Rembrandt,” kata Jordi saat kami melewati taman kecil. Saya bukan orang yang paham betul dengan dunia seni rupa, tapi nama Rembrandt, bukanlah nama asing di telinga saya. Dulu, ketika masih kuliah di Jogja, kerap saya mendengar nama-nama pelukis dunia diperbincangkan oleh teman-teman perupa, termasuk nama Rembradt ini.

Cerita di atas adalah sedikit cuplikan peristiwa yang saya alami pada 2012 silam. Leiden dan Rembrandt, dua hal yang kemudian menyeret saya pada kubangan masa lalu, the dark ages. Selama ratusan tahun, Leiden dan juga berbagai kota lainnya di Eropa mengalami masa yang begitu gelap. Wabah penyakit, kelaparan, miskin, bodoh, terbelakang. Sementara itu para raja sibuk berperang satu sama lain, dan juga sibuk menindas rakyatnya sendiri. Inilah masa paling kelam yang pernah dialami Eropa.

1648 sebuah perjanjian ditandatangani. Perjanjian yang menghentikan perang 30 tahun antara Katolik dan Protestan. Perjanjian yang juga membuat Spanyol mengakui kedaulatan Republik Belanda setelah mendudukinya selama 80 tahun. Dikenal dengan sebutan perjanjian Westphalia.

Kata sejarawan, Westphalia menjadi penanda perubahan sistem politik Eropa. Dari sistem kerajaan yang berkoalisi dengan gereja, berganti menjadi konsep negara berdaulat. Rakyat ikut campur menentukan pemimpinnya. Gereja tak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sekuler asasnya. Demokrasi sistemnya. Dari sini kemudian kita mengenal negara berdaulat. Nasionalisme.

Di masa inilah pelukis kelahiran Leiden, Rembrant Harmenszoon van Rijn menikmati masa jayanya. Masa Renaisance. Masa dimana namanya sejajar dengan pelukis Italia yang hanya menggunakan nama depannya saja, sebutlah Leonardo, Michaelangelo, Rafael, atau Titian. Ia mulai mengeja namanya sebagai Rembrandt—dengan sisipan huruf d.

Dulu, ketika berjumpa dengan patung Rembrandt di Leiden, yang saya pahami tak lebih dari sekadar nama besarnya dan juga lukisan legendarisnya. Itu saja. Karena memang seperti itulah maklumat yang saya dapatkan. Ceritanya berbeda bertahun-tahun kemudian saat saya berjumpa dengan pelukis nyentrik dari Jogjakarta pada 2016 silam. Nama lengkapnya Deni Junaedi tapi ia kerap memperkenalkan diri dengan sebutan Deni Je.

Saya dan Deni Je bertemu di Jogjakarta. Momentumnya adalah pertemuan sesama seniman muslim. Waktu itu, dari Jogja kami melakukan perjalanan ke sebuah desa sunyi di Klaten. Di sana, kami sama-sama berkarya dan berdiskusi tentang banyak hal, khususnya kesenian.

Ada satu statemen dari Deni Je yang menjadi pemantik luar biasa diskusi kami kala itu. Kata Deni, karya seni dan gerakan seni yang hadir, khususnya karya seni yang menjadi mainstream, selalu terkait dengan politik, kekuasaan, kepemimpinan dan ideologi yang terjadi pada saat itu. Deni Je mencontohkan di masa kerajaan Hindu – Budha di Nusantara, maka karya-karya seni yang hadir adalah karya-karya seni yang bernafaskan Hindu – Budha, beragam candi dan patung adalah sebagian contohnya.

Selanjutnya Deni Je bercerita tentang sejarah gerakan seni di Nusantara. Ketika dominasi Hindu – Budha harus tersisih dengan hadirnya Islam, warna karya seni yang hadir pun bernafaskan Islam. Nanti, kolonialisme hadir dengan sifat utamanya yang eksploitatif. Keindahan yang ada di nusantara di eksploitasi sedemikian rupa dalam berbagai macam karya seni. Lukisan wanita telanjang hadir sekaligus sebagai bentuk pemuas nafsu para kolonial.

Kolonialisme di nusantara kemudian digantikan oleh nasionalisme. Karya-karya seni yang hadir pun memiliki core nasionalisme. Estetika yang dimunculkan adalah estetika yang mengarah kepada perjuangan nasional. Selanjutnya muncul kekuatan baru, sosialisme – komunisme. Hadir gerakan seni atas nama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang kemudian berkarya untuk perlawanan. Lekra membawa nilai estetis baru, yakni seni untuk rakyat. Tujuannya adalah membangkitkan semangat-semangat kerakyatan sesuai dengan visi sosialisme. Hadir karya-karya berbentuk misalnya kepalan tangan, orang-orang protes, petani, palu, arit, teriakan-teriakan rakyat terhadap penindasan, dan semacamnya.

Kehadiran Lekra (sosialisme) tentu saja mendapat pertentangan. Para seniman yang mengusung ideologi liberalisme kapitalis juga tidak mau diam. Mereka memunculkan gerakan Manifes Kebudayaan (manikebu). Nilai estetikanya seni untuk seni (ansich). Formalisme. Seni itu bukan untuk rakyat. Seni itu bukan untuk nilai yang lain. Seni itu ya untuk seni. Maka pada masa ini jayalah karya-karya seni beraliran abstrak dan bentuk formalisme lainnya. Tentu saja ini sangat dibenci oleh kelompok Lekra. Kenapa? Karena seni abstrak tidak bisa digunakan untuk propaganda. Tidak bisa dimanfaatkan untuk melawan.

Karena pada kenyataannya sosialisme komunisme tidak bisa berkuasa, maka seni bergaya formalis yang kemudian naik panggung. Di masa ordebaru seni semacam ini semakin berkembang. Hingga akhirnya mucullah seni modern dan post modern.

Lalu bagaimana dengan kita? Seniman, beragama Islam, apakah ikut larut menghasilkan karya yang berwarna sekuler kapitalistik seperti para seniman kebanyakan? Atau menghasilkan karya yang kemudian mewarnai arah perjuangan kita? Sebuah karya yang kemudian akan mengisi peradaban yang gilang gemilang pasca runtuhnya peradaban kapitalistik ini.

Sampai di sini jeda sebentar.
Tarik nafas panjang.

"Luar biasa," saya membatin. Deni Je, seniman lukis yang baru saya kenal, memiliki isi kepala yang mustanir. Seorang pejuang ideologi dengan kesenian sebagai salah satu senjatanya.

Beberapa hari lalu saya bertanya tentang Rembrandt kepada Deni Je via WhatsApp. Saya ingin tahu apa impresi pertamanya tentang pelukis Renaisance tersebut.

“Totalitas gelap terang,” demikian Deni Je membalas pesan singkat saya.

Dalam dunia seni rupa, Rembrandt dikenal sebagai pelukis dengan gaya Chiaroscuro (kontras antara gelap dan terang). Saya pribadi tidak terlalu mendalami (atau sebut saja tidak punya maklumat) seni rupa. Tapi saya ingin mengaitkan “gelap terang” nya Rembrandt dengan arah gerakan kesenian sesuai dengan ideologi yang diembannya.

Rembrandt termasuk salah satu pelukis yang beruntung, hidup di masa Renaissance, saat Eropa “lahir kembali” dan menuju masa keemasan. Pembeli karya-karya Rembrandt adalah orang-orang Eropa kaya dari berbagai kalangan. Tapi begitulah, satu hal yang tak boleh di lupa, seniman ini hidup di masa kapitalisme diagung-agungkan. Kekayaan menjadi tolok ukur. Gaya hidup yang membuat orang-orang menjadi begitu rakus. Rembrandt out of control, pelukis mahsyur di masa produktifnya ini pada akhirnya harus menanggung beban kemiskinan yang teramat parah.

Lalu apa kaitannya dengan cerita Deni Je di atas? Ternyata Renaissance memang mengantarkan Eropa pada jalan kemenangan. Ideologi sekuler dengan bertopang pada sistem ekonomi kapitalis kemudian menyebar hingga seluruh penjuru dunia. Menghancurkan Islam (1924), menghancurkan sosialisme (1991) yang sempat mencoba memberikan perlawanan. Lalu para seniman, seperti yang disampaikan Deni Je, pada akhirnya ikut arus dengan ideologi mainstream yang sedang berkuasa.

Nah, posisi kita dimana?

Saya pribadi adalah orang yang begitu bersyukur bisa bertemu, kenal dan akrab dengan Deni Je. Jika tidak, barangkali saya juga akan berkarya seni seperti orang-orang kebanyakan. Menulis sajak dengan tema humanisme universal, membuat cerpen dengan gaya-gaya formalis struktural atau surealis. Atau bisa juga ikut-ikutan genit bikin karya-karya sastra kekiri-kirian.

Pertemuan dengan Deni Je waktu itu pada akhirnya membuat saya betul-betul menyadari, bahwa sebagai seorang Islam, sudah sepantasnya kita mengaplikasikan Islam ini ke dalam seluruh aspek kehidupan. Tak terkecuali kesenian. Jika mereka yang mengemban ideologi kapitalisme mengatakan bahwa nilai estetis seni itu ya untuk seni (ansich), atau ada juga pengemban ideologi sosialis komunis tak henti memperjuangankan kesenian sebagai alat propaganda yang berpihak kepada rakyat, para seniman muslim seharusnya berkarya seni dengan berlandaskan Islam. Bukankah kita telah sama-sama sepakat bahwa Islam adalah ideologi (mabda) yang apabila ideologi ini diterapkan di seluruh lini kehidupan akan menghasilkan sebuah peradaban yang begitu luhung? Lalu kenapa kita tidak berkarya seni demi tegaknya peradaban Islam?

Jeda lagi. Tarik nafas lagi.

Sebentar lagi, Deni Je, akan melakukan pameran tunggal. Pameran lukisan yang sekaligus mengabarkan posisinya sebagai seniman mabda’i. Menghadirkan lukisan-lukisan remarkable, fokus terhadap sebuah tema unik yang jarang terlintas di benak seniman kebanyakan.

The Sent Down Iron. Besi yang diturunkan. Tema ini inspirasi utamanya adalah Al Qur’an al Karim. Khususnya surah Al Hadid ayat 25.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Akan ada beberapa lukisan, karya-karya terbaru Deni Je, yang keseluruhannya menampilkan besi dalam berbagai konsep. Menurut Deni Je, Allah dengan sengaja menggunakan kata “anzalna” (Kami menurunkan) alkitab (Al-Qur’an) yang menandakan bahwa Al-Qur’an berasal dari luar bumi. Kata yang sama juga terdapat pada besi (al hadid) yang ini, sesuai surah Al Hadid ayat 25 tersebut menunjukkan bahwa besi adalah sesuatu yang diturunkan Allah ke bumi. Bukan berasal dari bumi.

Pada blog www.denijunaedi.com Deni Je menulis “Besi dikirim ke bumi dari supernova. Ledakan bintang raksasa ini menyebar besi ke jagad raya dan memberikan paket hadiah pada bumi. Oleh karena itu, ia menyebut konsepnya: "The Sent Down Iron" (besi yang diturunkan).”

Secara visual, saya menikmati lukisan-lukisan cat air bertemakan besi karya Deni Je. Tapi tentu saja sebuah pameran lukisan bukan sekadar ingin memanjakan mata penikmat dengan tampilan visual. Ada pesan yang ingin disampaikan sang seniman. Bagi seorang Deni Je, pesan itu tentu saja pesan ideologis. Pesan seorang pejuang kebangkitan peradaban gemilang.

4 Oktober 2019, Eropa merayakan 350 tahun kematian Rembrandt. The Rembrandt Exhibiton dihelat di London. Seolah-olah mereka ingin mengabarkan kepada dunia tentang kemahsyuran pelukis pengemban ideologi liberal tersebut. Karya-karyanya masih eksis sampai hari ini.

4 Oktober 2020, tak ada kaitannya dengan kematian Rembrandt. Sebuah pameran lukisan juga akan dihelat. Secara online. Bisa dinikmati siapa saja dari berbagai sudut dunia. The Sent Down Iron. Besi Yang Diturunkan. Al Hadid 25. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua untuk ikut terlibat dalam proyek besar. Ikut terlibat dalam perjuangan. Ikut terlibat dalam kemenangan. Tegaknya sebuah peradaban agung. Peradaban Islam.

Pontianak, 30 September 2020


0 Comments:

Posting Komentar