Senin, 31 Agustus 2020

Sanggar

 The Journey of Being a Writer (5)


Tentu saja, meskipun penting, tetapi menunggu puisi terbit di media cetak bukan prioritas. Ada hal yang lebih penting yakni dapat kampus. Soalnya diskusi dengan bapak via wartel cukup alot kala itu. Bapak ingin saya pulang saja ke Pontianak. Saya ingin tetap tinggal di Jogja. Bapak tak kuasa berargumen, saya menang.

Seorang teman SMA, di antara banyak teman yang lain, ada juga yang belum dapat kampus. Namanya Hanif. Dia punya saudara di Jogja yang bisa pinjamkan sepeda motor. Akhirnya kami berdua berkeliling mencari brosur kampus yang masih buka.

Singkat cerita, saya lulus di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa Indonesia. Sebuah kampus yang sama sekali tidak masuk dalam perencanaan. Tapi tak mengapa, pikir saya waktu itu, tahun depan bisa daftar lagi UMPTN agar bisa masuk Fakultas Sastra atau bisa masuk ISI.

Rencana tahun depan daftar lagi pun tak terwujud, sebab baru saja beberapa minggu kuliah, seorang teman sekelas mengajakku untuk ikut workshop teater yang diselenggarakan salah satu UKM di kampus. Teman sekelasku ini tau informasinya disaat mengikuti OSPEK. Wah seru kayaknya ini. Workshop teater. Dulu waktu SMA saya pernah nonton sinetron Ali Topan Anak Jalanan yang diperankan Ari Sihasale. Meski tidak menggebu-gebu, tapi ada terbersit niat ingin jadi aktor biar bisa kayak Ali Topan.

Sanggar dan Komunitas. Ini dua kata yang kukenal setelah mengikuti workshop. Komunitas karena kami memang berkelompok serupa organisme dan saling berinteraksi. Kerap pula tempat kami berinteraksi itu disebut sanggar, karena aktivitas yang kami lakukan mengerucut pada satu hal, kesenian. Nama formalnya Kelompok Sastra Pendapa (KSP), orang-orang lebih suka menyebutnya Sanggar KSP.

Saya merasa perlu mencantumkan nama ini, sebab memang di sinilah kemudian saya pada akhirnya pertama kali berkenalan dengan proses kreatif kesenian. Tak hanya membaca koran, tak hanya diomeli wali kelas, tak hanya karena sinetron Ali Topan, tapi di sanggar ini saya betul-betul membaca teks dan peristiwa, berinteraksi panjang dalam diskusi-diskusi mendalam menyoal kesenian, hingga akhirnya lahirlah sesuatu yang kita kenal dengan sebutan Karya.

Karena senior di Sanggar mempersilakan anak-anak baru untuk tidur di sini, akhirnya saya memutuskan pindah dari asrama Kalbar. KSP angkatan 13. Saya masih ingat angka itu. Di sini mesin tik bapak punya jasa besar. Beberapa anak baru, selain saya punya hobi yang sama, membaca dan menulis karya sastra. Beberapa senior selain menjadi guru menulis, juga menjadi salah satu kompetitor dalam menguasai mesin tik. Kami bergantian.

Jika sedang berkumpul, kami kerap dengar wejangan. Jika sendirian, kami larut dalam banyaknya bacaan dan tulisan. Nanti ada lagi waktu berkumpul, kami manfaatkan untuk mendiskusikan karya yang dihasilkan. Begitu terus menerus. Kami juga latihan teater. Kami juga berkenalan dengan teman-teman sanggar dari kampus lain. Kami berinteraksi. Kami khusuk masyuk dengan soalan-soalan kesenian. Kami lupa kuliah. Atau dengan berbagai macam alasan, mulai enggan kuliah. Alasan yang cukup populer, sanggar adalah universitas kehidupan. Di kampus, dosennya diktator. Jual diktat beli motor. Ah, betapa naifnya kami kala itu.

Hingga suatu hari, datang seorang sepuh. Pak Yatmin namanya. Beliau membaca apa yang kami tulis. Kami mendiskusikannya. Lalu beliau bilang, “kirimkan karya ini ke koran.”

Kalau dulu bu Nurjanah mengatakan itu tanpa analisa. Dia hanya memberikan harapan kepada seorang remaja. Kali ini Pak Yatmin tak sekadar memberi harapan, tapi juga ¾ keyakinan bahwa apa-apa yang kami tulis bakalan terbit di koran-koran. Tulisan yang sudah mulai matang bagi anak delapanbelas tahunan.

Kami berebut mesin tik. Satu karya selesai diketik rapi. Dua karya selesai diketik rapi. Tiga karya selesai diketik rapi. Dilipat tiga. Dimasukan dalam amplop. Dikirim ke koran. Ada tiga koran ternama di Jogja yang memuat karya sastra pada waktu itu. Bernas, Keudalatan Rakyat, dan Minggu Pagi.

Kepada Redaktur Sastra Harian bla bla bla. Satu minggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu, tidak terbit. Empat minggu ditunggu, tidak terbit.


0 Comments:

Posting Komentar