Minggu, 30 Agustus 2020

Kirim Karya ke Koran

 The Journey of Being a Writer (4)


kantor pos Jogja

Ini adalah cerita bagaimana mengirimkan karya tulis ke media cetak. Sesuatu yang barangkali tidak terlalu populer bagi penulis-penulis kekinian, tetapi begitu berharga bagi siapa saja, generasi sebelum kekinian. Termasuk saya.

Setelah beberapa pekan saya menumpang di indekos kerabat bapak di wilayah jalan Kaliurang, saya harus pindah. Ya pindah karena status saya hanya menumpang. Saya harus mencari tempat tinggal sesungguhnya. Proses pendaftaran kuliah sudah beres. Namanya waktu itu UMPTN. Gagal. Atau tidak diterima di tiga kampus negeri yang saya daftar. Cerita tentang ini ada saya tulis di buku saya berjudul RUTE: catatan tentang kembara.

Karena tidak lulus kampus negeri di Jogja, Bapak menyuruh saya pulang. Tapi saya enggan. Sudah pergi jauh-jauh menyeberang lautan dengan ombak garang yang potensial membuat isi perut pada keluar, masak harus pulang gara-gara tidak lulus di kampus negeri.

Waktu itu, saya sudah jumpa beberapa kawan SMA. Sebagian di antara mereka sudah ada yang dapat kampus. Sebagian yang lain belum. Tapi dari kawan-kawan ini saya dapat informasi tentang asrama Kalimantan Barat, di Jalan Bintaran. Sendirian, saya datangi Asrama tersebut, bertemu dengan pengurusnya, memohon agar saya bisa tinggal di situ. Gagal. Katanya asrama sudah penuh. Tidak mungkin dipaksakan lagi dengan orang baru.

“Terus saya harus tinggal dimana?” Ini bukan keluhan, tapi harapan.

Kakak senior asrama, yang saya lupa siapa namanya, kemudian mengabulkan harapan itu. Setidaknya memberi harapan baru. Katanya, di Jalan Bintaran ini adalah Asrama Kalbar I, ada juga Asrama Kalbar II, di Jalan Bausasran. Coba saja ke sana. Saya tak tau arah. Akhirnya saya diantar oleh warga asrama yang lain menuju Asrama Bausasran. Sampai di sana, sudah penuh juga. Tak ada kamar lagi bagi saya.

Tujuan selanjutnya adalah Asrama ke III. Terkenal dengan sebutan Asrama Pingit, tepatnya di kampung Badran. Kampung tempat para gali mendekam. Di sini lagi-lagi tak tersedia kamar. Sudah penuh. Tapi, kata ketua Asrama, untuk menumpang beberapa hari bisa disilakan tidur di sini, sebab ada satu kakak senior asrama yang sedang pergi ke Bandung. Betapa bahagianya hati ini.

Kebahagiaan lain adalah pertemuan saya dengan teman MTs di Asrama ini. Busrani namanya. Saya merasa punya energi baru setelah beberapa hari khawatir tak dapat tempat tinggal. Nanti, setelah kakak senior pulang dari Bandung, saya memohon-mohon kepada ketua Asrama agar saya diperbolehkan tinggal di sini, minimal hingga saya dapat kampus. Alhamdulillah diizinkan.

Di Asrama Pingit inilah saya bertemu dengan koran Republika, Kompas, dan juga koran-koran lokal. Di Asrama Pingin inilah saya mulai rajin membaca karya-karya sastra yang terbit di koran. Saya berjumpa dengan beberapa nama yang sudah saya kenal ketika masih SMA. Saya juga berjumpa dengan beberapa nama baru.

Waktu itu tahun 1999. Baru setahun pasca peristiwa aksi mahasiswa menggulingkan kekuasaan Orde Baru. Karya-karya sastra yang terbit, tak jarang berbicara tentang ini. Berbau kritik sosial, intrik politik, gerakan masasiswa, juga penculikan mahasiswa. Saya merasa bergairah dengan membaca karya-karya model begini.

“Mungkin ini yang dimaksud bu Nurjanah, ketika SMA dulu,” kata saya dalam hati.

Semakin rajin saya membaca karya di koran-koran minggu itu, semakin sering saya menulis karya berwarna serupa. Hingga akhirnya saya memberanikan diri. Mesin tik bapak menjadi saksi. Diksi demi diksi berderet beriringan dengan suara tik-tok mesin tik. Imaijinasi saya melambung-lambung. Saya membayangkan peristiwa demonstrasi mahasiswa. Saya membayangkan suara senjata. Jadilah puisi.

Selesai. Kertas HVS beberapa lembar yang sudah berisi beberapa buah puisi saya lipat tiga. Masuk dalam amplop putih yang di sana juga sudah tertulis alamat tujuan. Kepada Yth. Redaksi Sastra Republika, di Jakarta. Naik bis jalur 12, turun di depan kantor pos ujung Malioboro. Beli perangko seharga 1.500. Selesai. Lalu pulang dengan harapan yang sangat besar agar puisi tersebut bisa terbit. Nanti kopiannya akan saya kirim ke bu Nurjanah jika terbit.

Seminggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu tidak terbit. Sebulan ditunggu tidak terbit.  


7 komentar: