Rabu, 02 September 2020

Proses

 The Journey of Being a Writer (6)



“Pay, tulisanmu terbit di koran.”

Akhirnya saya mendapatkan info berharga ini. Setelah entah amplop ke berapa yang saya kirim ke koran. Dulu, hampir tiap pekan saya dan beberapa kawan menulis puisi atau cerpen dan dikirimkan ke koran. Setiap hari minggu, senantiasa kami cek, dan kecewa jika tak ada nama kami tertera di sana.

Tapi tak mengapa. Begitulah risiko yang dihadapi penulis pemula. Di masa itu, hampir tiap hari kami menerima wejangan tentang bagaimana caranya memaknai proses. Bagaimana menghadapi penolakan demi penolakan. Bagaimana menghasilkan karya yang matang.

Sekarang, saat semuanya menjadi serba cepat, orang-orang juga ingin cepat-cepat berada pada puncak karier. Istilah yang sering dipakai orang modern, ‘instan’.

Sebut saja misalnya, seorang anak baru lulus SMA. Baru saja mengikuti seminar motivasi kepenulisan. Merasa begitu semangat untuk menulis. Lalu membuat tulisan yang sembaralarngan. Yang secepat kilat selesai. Karena di zaman sekarang menerbitkan buku itu gampang banget, maka karya ini pun terbit menjadi buku. Lalu buku ini di jual. Beberapa keluarga dan teman dekat membeli, selebihnya tidak. Dipromosikan di facebook dan instagram, berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, bukunya tak ada lagi yang beli.

Suatu ketika, salah satu pembaca bukunya kasih komen agak negatif. Misalnya,tulisanmu ini terkesan terburu-buru. Atau, kok aku agak bosan ya bacanya? Atau, ini alurnya bagaimana kalau diubah sedikit agar konfliknya bisa nendang. Atau, banyak salah ketik nih bukunya.

Setelah peristiwa buku kurang laris dan komentar negatif tersebut, anak ini menghilang dari dunia persilatan kepenulisan. Merajuk. Tak mau lagi menulis. Lalu menyalahkan diri sendiri. Menyesal telah terjerumus dalam seminar motivasi kepenulisan. Dimaki-makinya seminar itu dalam status facebook.

Dik, mental seperti ini tak terjadi di masa saya zaman dahulu kala. Maksudnya begini, hasil dari sebuah karya tentu saja melewati proses. Kadang memang terjadi proses yang singkat. Saya juga tak menampik bisa saja tulisan berkualitas hadir dalam waktu singkat. Tapi bukan itu poinnya.

Di sanggar, kami benar-benar diajari tentang kenapa harus menulis. Bukan, bukan terbit di koran yang menjadi tujuan, bukan pula agar menjadi popular. Pun bukan pula agar kaya raya. Tapi much more deeper.

Untuk sebuah value mendalam dari karya kepenulisan inilah, kita membutuhkan proses. Ini kebutuhan. Mutlak harus dilakukan. Bagaimana kita menikmati proses, menghayatinya, merelakan ketika sedang down, bersyukur ketika sedang up. Proses ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Maaf, kali ini saya cenderung menjadi penasihat. Tak lain dan tak bukan karena sampai hari ini masih saja berseliweran penulis-penulis muda yang merasa gagah perkasa dengan bahan tulisannya yang begitu mentah. Dikritik sedikit, mewek.

Baik, sampai di sini dulu cerita kita. Nanti akan dilanjutkan lagi dengan nostalgia. Nostalgia pengalaman pertama tulisan terbit di media cetak. Nostalgia tentang sebuah proses yang tidak singkat.

Oh iya, waktu itu koran pertama yang memuat tulisan saya bernama Bernas. Tulisan yang terbit adalah cerpen, berjudul Ranjang. Tahun 1999 akhir. Honornya 50.000, lumayan bisa buat hidup sebulan.


0 Comments:

Posting Komentar