Minggu, 18 Agustus 2019

Sedikit Bocoran Soal Project Menulis buku Perjalanan di Kuala Lumpur dan Malaka

oleh Pay Jarot Sujarwo

Beberapa waktu lalu saya buka paket trip. Saya kasi judul Islamic Trip and Travel Book Project. Destinasinya adalah Kuala Lumpur dan Malaka. Pesertanya saya buka ke siapa saja. Tak hanya orang dari daerah saya Pontianak. Tapi juga dari manapun di negeri ini yang pengen ikut, disilakan.

Saya punya alasan kenapa saya buka paket trip seperti itu. Alasan prinsipilnya karena trip ini adalah perjalanan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Taqorub. Bagian dari ibadah. itu yang harus diniatkan dari awal. Jika pun ada peserta yang niat dari hatinya ingin berlibur, senang-senang, jalan-jalan ke tempat wisata, ya tidak apa-apa. Namun ikhtiar untuk senantiasa menyampaikan ide-ide Islam dalam segala situasi tidak boleh terbengkalai. Makanya kemudian judul dari perjalanan ini adalah Islamic Trip.

Tentang project menulis buku? Bukankah dengan dikasi embel-embel menulis buku kemudian pangsa pasar jadi menyempit? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak suka menulis dan tidak bisa menulis?

Itu beberapa pertanyaan yang muncul. Pertanyaan wajar karena memang seperti itulah realitasnya. Tapi lagi-lagi saya punya jawaban prinsipil. Proyek menulis buku ini harus terealisasikan. Dengan demikian ada sesuatu yang bisa dibagikan kepada khalayak. Tak sekadar umbar foto di media sosial. Dalam buku yang nanti akan terbit banyak sekali isi kepala dari tiap peserta tumpah. Ada pemikiran. Ada cuplikan sejarah. Ada laporan pandangan mata. Ada testimoni. Ada pesan kesan. Perlu diingat, ini adalah Islamic Trip. Alllah terlibat dalam perjalanan ini (idrak sillah billah). Jika pada akhirnya Allah ridha, bukankah bukunya nanti akan menjadi amal jariyah dimana tiap manfaat yang diambil oleh pembaca, kita mendapatkan pahalanya. Bagaimana jika ternyata bukunya best seller? Berapa pahala yang akan kita dapat? Tak terhitung.

Itu kalau best seller? Bagaimana kalau bukunya tidak laku?

Kalau bukunya tidak laku, tidak kemudian ikhtiar kita ini menjadi dosa. Tetap saja Allah lebih tahu tentang niat kita. Tentang ikhtiar mengabadikan momentum perjalanan dengan kata-kata. insyaAllah ini menjadi amal sholih.

Begitu kira-kira jawaban prinsipilnya. Meski demikian, saya juga punya jawaban tidak prinsipil. Kenapa Islamic Trip dan Travel Book Project? Kenapa tidak open trip biasa?

Karena saya bukan guide, seperti yang dipahami masyarakat kebanyakan tentang profesi guide turis.
"Bapak ibu, sekarang kita sudah sampai di sini, silakan menikmati tempat ini, 30 menit saja ya. nanti kita kumpul di sini. terus pindah lagi ke tempat lain,"

"Ayo bu... ibuuu. ibuuu, cukup belanjanya bu. kita dikejar waktu. ayo pada kumpul. ayo ayo ayo kumpul"
"Bapak ibu, tempat ini awalnya begini begitu sejarahnya panjang begini begitu lalu terjadi perang begini begitu (meanwhile guide bertutur, peserta poto-poto)

Bukan. Jika seperti itu profesi guide, maka itu bukan saya. Saya lebih suka menyebut diri sebagai teman perjalanan. Tour Leader yang mengikuti perintah Rasulullah. Bahwa harus ada pemimpin dalam perjalanan.

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

jika keluar 3 (tiga) orang dalam sebuah perjalanan hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin (dalam safar, pen) (HR Abu daud)

Pada posisi ini, insyaAllah kita akan lebih akrab. yang mengikat dalam perjalanan kita adalah hukum syara. Sementara potensi peserta untuk explore destinasi dengan berbagai macam imajinasi, bisa lebih besar.

Jawaban lain, kenapa Islamic Trip dan Travel Book Project, karena ini adalah perjalanan yang membahagiakan.
-----
Ah, itu sih bukan jawaban.
----

Lho? Tidak percaya?

Cerita ini tidak memaksa kamu untuk percaya atau tidak percaya. Cerita ini mengajak kamu untuk mendaftar dan ikut serta.

Seat masih terbuka
bisa WA langsung ke nomor saya 081256918507, 089505852201

Jumat, 16 Agustus 2019

Babe

oleh Pay Jarot Sujarwo


Foto Karya Almarhum Sugeng Hendratno
Wow, it’s amazing. Aku membatin setelah melihat hasil potret. Diriku yang jadi objek. Lalu jangan kau pikir gambar ini dihasilkan dari HP android dengan teknologi kamera bokeh yang digemari anak-anak alay zaman kekinian. Bukan. Itu diambil dengan kamera DSLR, entah apa merknya, memiliki lensa yang begitu panjang, diambil dari jarak yang jauh. Lokasi pemotretan, Rumah Mimpi, tahun kejadian, 2009.

Fotografernya bukan fotografer sembarangan. Dia adalah fotografer terbaik yang pernah dimiliki tanah ini. Jangan, jangan kau banding-bandingkan dia dengan fotografer lainnya. Tidaklah sekali-kali ada yang menyamainya. Titik. Tanpa penawaran.

Aku mengenalnya, barangkali sekitar tahun 2007 atau 2008. Jumpa kami pertama di markas Canopy Indonesia, jalan Karimata 43. Bang Deny Sofian yang memperkenalkannya kepadaku. Dari situ interaksi kami semakin sering. Keakraban terjalin. Nanti, setelah dari Karimata, sama-sama kita bangun Rumah Mimpi, di Taman Gitananda. Sungguh, waktu itu para seniman di kota ini merasa punya tempat. Kreatif. Guyup. Bersahaja. Akur.

Para sastrawan punya aktivitasnya sendiri. Pembuat film begitu pula. Musisi kumpul berkarya. Para fotografer begitu tangguh. Masing-masing punya ruang kreatif, namun antar disiplin ilmu punya jalur interaksi yang juga indah. Di rumah mimpi ia mengajar fotografi bagi para fotografer pemula. Apa yang terjadi saudara pemirsa? Hari ini hampir semua siswanya telah menjadi fotografer profesional. Ia dipanggil Babe. Ini bukan sekadar karena usianya lebih tua, tapi memang kebijaksanaan seorang bapak ada padanya. Orang-orang tak sekadar belajar fotografi dan perkara seni budaya, tapi ada nilai kearifan dalam dirinya. Babe. Jika ia pergi, maka semua anaknya akan merindu.

Pasca Rumah Mimpi, interaksiku dengannya mulai jarang. Tapi aku tau, ia menjadi fotografer andalan WWF. Ia memotret orang utan, memotrret burung enggang, memotret badak, memotret pedalaman. Ia membuat entah berapa pasang mata berdecak kagum karena hasil karyanya. Di tangannya, karya fotografi punya value berharga.

Oh iya, usia kami terpaut jauh, tapi kami punya tanggal lahir yang sama. 5 Juli. Jika facebook memberi selamat ulang tahun kepadaku, pasti juga mengucapkan selamat kepadanya. Di rumah mimpi, dulu para seniman pernah merayakan ulang tahun kami bersama.

Waktu merambat, musim berganti. Aku semakin jarang berjumpa Babe. Beberapa kali, jika pas main ke WWF, pernah kulihat ia sekali dua. Tapi sangat jarang. Apalagi setelah mengetahui ia harus bertugas di luar Kalimantan Barat.

Hingga suatu hari, kudengar kabar duka. Ia terkena kanker dan harus dirawat di rumah sakit di Jakarta. Ia sendiri yang menceritakan kepada dunia perihal sakitnya lewat facebook. Ya, waktu itu ia masih bisa pegang HP, unggah berita terkini sambil berharap doa dari sanak kerabat.

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (Surah Yunus ayat 49)

Pada akhirnya Allah yang punya hak atas kehidupan dan kematian. Hari ini, tak bisa dimajukan tak bisa dimundurkan, Babe pergi dari dunia. Selanjutnya ia akan melewati fase berikutnya. Fase alam kubur, dilanjutkan dengan fase pertanggungjawaban.

Semua orang yang mengenalnya tentu saja merasa kehilangan. Babe tak hanya fotografer terbaik, tetapi teman, guru, sekaligus ayah bagi banyak orang yang darinya betapa banyak pelajaran telah diambil.

Kami yang hidup ini tak ada lain yang bisa dilakukan, selain berdoa, semoga banyak pelajaran itu berbuah pahala. Menjadi bekal bagi Babe di akherat. Menjadi modal baginya jika harus berhadapan dengan malaikat saat dimintai pertangungjawaban.

Kematian Babe sekaligus menjadi pelajaran bagiku juga kita semua, bahwa besok bisa jadi kita yang dijemput ajal. Besok bisa jadi kita yang dimintai pertanggungjawaban. Sudahkah kita mempersiapkan?

Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga babe Sugeng Hendratno husnul khotimah.

----------------
Pontianak 20 Juli 2019

Senin, 05 Agustus 2019

Berjumpa Doktor Paling Produkif Sedunia


Oleh: Pay Jarot Sujarwo

Siapa yang pernah dengar nama Dr. Ahmad Sastra? Beliau adalah ketua Forum Doktor Islam Indonesia. Aktivis muslim, para pejuang yang rindu akan kebangkitan Islam tentu saja sudah tidak asing dengan beliau.

Saya pribadi belum pernah bertemu dengan seorang Doktor, super sibuk, mengajar di mana-mana, dalam dan luar negeri, jadwal dakwah juga padat, ditambah produktivitas menulisnya yang bikin siapapun geleng kepala. Tapi orang itu wujud. Nampak. Namanya Dr. Ahmad Sastra.

Di sosial media juga grup whatsApp, tulisannya berseliweran kesana kemari. 100% dari tulisan itu adalah tulisan yang mengajak kita berpikir kemudian memahami betul akar masalah yang di hadapi manusia zaman sekarang ini, sambil menemukan jalan keluar dari permasalahan itu. Setiap hari. Selalu saja ada tulisan panjang beliau. Tak jarang jumlahnya lebih dari satu.

Di media cetak, khususnya Republika, wah tak usah ditanya lagi. Dr. Ahmad Sastra adalah orang yang tulisannya langganan terbit di Republika. Bukunya juga diterbitkan beberapa penerbit. Bahkan ada penerbit yang akhirnya bangkrut tapi masih menyimpan tulisan beliau yang belum sempat terbit. MasyaAllah. Inilah senyata-nyatanya amal jariyah yang siapa pun ingin bisa melakukannya. Semoga Allah menjaga keistiqomahan beliau dalam menyampaikan ide-ide bernas via tulisan.

Kemarin saya diundang makan oleh beliau. Tentu saja ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Seorang pejalan, yang singgah di suatu kota, terus diundang makan oleh doktor istimewa. Setiap akhir pekan, doktor ini mengajar di Singapura. Di Indonesia beliau juga punya mahasiswa dari Malaysia yang dibina untuk menghasilkan buku. Mengajar di berbagai kampus, filsafat, juga literasi untuk peradaban. Ngeri betul mendengarnya. Tapi orang "ngeri" ini ternyata baik hati dan ngotot mentraktir saya makan. Mau gimana lagi, saya pasrah dan bergembira.

Di meja makan, Dr Ahmad Sastra bercerita tentang aktivitas kepenulisannya. Sudah puluhan tahun beliau berjumpa dengan orang-orang yang tak berhenti berkeluh kesah tidak bisa menulis.

"Padahal menulis itu seperti memasak," katanya.

"Ada yang memasak induktif ada pula yang memasak deduktif," beliau melanjutkan. Wah saya baru dengar perkara ini. Sepertinya seru.

Memasak induktif maksudnya: masuk dapur kemudian memasak dari bahan yang ada di dapur, masakan disesuaikan dengan bahan yang ada.

Masak deduktif adalah mau masak menu tertentu tanpa melihat bahan di dapur, jika tak ada bahan yang sesuai menu, maka dia harus ke pasar dulu untuk beli bahan.

Itulah analogi menulis, menulis induktif adalah membuat tulisan dari apa yang sudah ada dalam otak dan pengalaman selama ini. Terlalu banyak informasi dan ilmu yang selama ini mengendap dalam otak setiap orang, hanya belum dituangkan saja kan?
Modal masak, setelah ada bahan, tinggal keterampilan/teknik dan alat-alat masak. Setelah itu masaklah sesering mungkin, Insyaallah akan sedap dengan sendirinya. Bagikan masakan kepada setiap orang, untuk dirasakan dan dikomentari.

Begitu kira-kira petuah bijak dari doktor paling produktif sedunia ini. Setidaknya versi saya.

Selain soal induktif dan deduktif, beliau juga bercerita tentang ibu-ibu yang sudah puluhan tahun memasak dengan ibu-ibu muda yang baru memasak. Tentu saja akan ada beda rasa. Beda pula imajinasi juga improvisasi.

Ini indikasi nyata bahwa menulis itu memerlukan proses. Dan jika tidak betah dengan proses itu maka bersiaplah rasa yang kita hasilkan menjadi hambar.

Saya pribadi sering menemukan anak-anak muda yang begini ini. Tidak sabar dalam menulis. Inginnya tulisannya buru buru menjadi buku biar bisa dibaca banyak orang. Nanti jika bukunya terbit dan ternyata tidak laku, karena memang tulisan yang belum matang, lalu ngomel-ngomel sendiri.

Balik lagi ke meja makan. Seusai makan kami bercakap-cakap tentang kemungkinan-kemungkinan. Kita pindah meja. Beliau menyalakan laptop, dan MasyaAllah, ada ratusan tulisan yang menanti untuk diterbitkan.

Sungguh saya sangat ingin ikut campur dalam prosesi amal jariyah ini. Sungguh, saya ingin diajak. Ini peluang besar dalam rangka menyelamatkan hidup saya dari siksa di hari akhir. Entah berapa banyak dosa ini.

Bismillah, saya beranikan diri untuk "nembung" kepada pak Doktor.

"Boleh naskah-naskahnya saya bantu agar terbit jadi buku?"

Beliau mengiyakan. Saya begitu bungah. Girang tak alang kepalang. Perpindahan naskah dari laptop ke hardisk terjadi. Ya Allah, ridhoi upaya ini.

Kurang lebih satu jam perjumpaan kami. Selanjutnya kita berpisah. Dr ahmad sastra akan mengajar, saya akan melanjutkan perjalanan. Semoga Allah menjaga pertemanan kami, di dunia, juga akherat.

Kamis, 01 Agustus 2019

Feta

Chapter ke 34 buku RUTE: catatan tentang kembara
oleh Pay Jarot Sujarwo


Yang tak bisa lepas dari Eropa adalah keju. Ini tidak ada perdebatan. Seolah-olah mereka tak bisa hidup tanpa keju. Alasannya kenapa, tak tak pernah tahu. Riset tentang itu tak pernah kulakukan. Aku pribadi pada mulanya tak suka dengan keju. Maksudnya begini, selama di Indonesia, pernah beberapa kali mencicipi keju yang tentu saja rasanya cocok di lidah.

Ketika sampai di Bulgaria, berkenalan pertama kali dengan keju, langsung kuputuskan untuk tidak menyukainya. Belum, aku belum mencicipinya. Hanya menciumnya. Baunya begitu menyengat. Bau kambing yang tak sedap. Kalau gulai kambing aku suka. Tapi langsung kuputuskan tak suka dengan keju bau kambing ini.

Begitu juga dengan turunannya seperti yogurt. Tak mau kumakan. Pernah sekali disuruh mencicipi oleh seorang teman. Belum terlalu dalam masuk kerongkongan, langsung kuputuskan tak suka dengan benda satu ini. Terserah kau lah kalau mau bilang lidahku lidah kampung. Tak ada urusannya dengan kehidupanku.

Di Bulgaria, orang-orang bangga dengan keju berwarna putih. White Cheese bahasa Inggrisnya. Ini khas. Khusus daerah Balkan, keju ini dikenal dengan nama Feta. Keju berwarna putih dengan rasa sedikit asin dan memiliki tekstur yang rapuh. Feta adalah bahasa Yunani. Karena memang dari sanalah keju ini berasal. Konon sudah diproduksi manusia sejak 8000 tahun sebelum masehi. Ingat ini hanya konon. Tak perlu kau percaya seratus persen.

Menurut orang-orang Yunani, sejarah keju sama tuanya dengan kemanusiaan itu sendiri. Memang pembuatan keju tak diketahui darimana asalnya, tapi diyakini erat hubungannya dengan proses penjinakan hewan liar yang akhirnya menjadi hewan domestik. Seperti domba dan juga sapi. Itu sudah terjadi 10.000 tahun sebelum masehi. Kalau cerita Yunani kuno, biasanya hampir setiap hal dihubungkan dengan mitologi, termasuk urusan keju ini. Kata mereka, para dewa yang punya ide pertama kali mengajarkan manusia membuat keju. Artinya ini adalah makanan dewa-dewa. Aristaios, putra Apollo diutus untuk turun ke bumi, dialah dewa yang mengajarkan seni pembuatan keju kepada manusia. Catatan tentang ini akan kau temukan di Homer’s Odissey.

Tapi itu di masa Yunani Kuno. Di masa modern sekarang ini Feta telah menjelma ke dalam berbagai jenis keju yang sekaligus membawa ciri negaranya masing-masing. Feta Yunani berbeda dengan Feta Turki berbeda dengan Feta Bulgaria berbeda dengen Feta Makedonia berbeda dengan Feta Serbia berbeda dengan Feta Rumania berbeda dengan feta dari batas-batas negara yang lain.

Di Bulgaria kau akan mendengar orang-orang menamakan keju putih ini dengan sebutan Sirine. Dan sekali lagi, dia berbeda dengan keju putih Yunani atau pun negara lain. Apa bedanya? Ah, tak tau aku dan bukan itu poinnya. Tapi tak kau perhatikankah betapa urusan nasionalisme telah mennciptakan pengkotakan luar biasa bahkan hingga urusan keju? Mereka akan sangat egois demi membangga-banggakan keju dari negaranya masing-masing.

Kalau sebutan ‘sirine’ mungkin akan terdengar mirip dengan orang-orang Serbia, Kroasia, Makedonia, di Bulgaria ada lagi sebutan yang ini benar-benar asli Bulgaria. Tak ada di tempat lain. Asli. Titik. Tidak boleh kau samakan dengan batas negara lain. Namanya Brindza. Juga dikenal dengan sebutan Tangra Bulgarian Feta. Terbuat dari susu domba murni dari domba yang merumput bebas di pegunungan Rhodope. Nama Tangra berasal dari mitologi Bulgaria Kuno, sebagai Dewa yang melindungi hewan dan menjaga pertanian. Ah, lagi-lagi mitologi.

Tapi dari pegunungan Rodhope kau tak hanya akan mendengar kisah keju dan juga musik Kaba Gaida. Juga ada kisah komunitas muslim Bulgaria di sana. Mengakar dalam sejarah panjang peradaban yang sejarah itu pelan-pelan namun pasti coba dihilangkan dari ilmu pengetahuan modern oleh pemenang perang, barat. Sejarah itu tak disebut-sebut oleh Profesor Krassin kecuali hanya sekelompok orang bengis yang terus menerus melakukan pembantaian selama berabad-abad. Islam di zaman modern, seperti tak punya tempat. Kalau pun ada, tempatnya di bagian bawah yang semakin ke sini semakin mudah untuk dilecehkan.

Nanti akan kuceritakan padamu tentang pegunungan Rhodope. Sekarang aku ingin mencicipi feta rasa Bulgaria. Tapi kawan, kau jangan terkejut mendengar cerita ini. Kalau tertawa boleh lah. Sedikit saja. Tadi kau sudah dengar ceritaku tak suka keju. Tapi benda satu ini ada di mana-mana. Buka kulkas ketemu keju. Di meja makan ada keju. Terlebih saat makan salad, ada feta di dalamnya, juga olive oil (zaitun) yang begitu menggiurkan.  

Ok. Aku tak bisa terus menerus menghindar dari feta. Tak bisa. Harus kucoba. Di pasar tradisional, aku ketemu orang jual beras dan indomie. Alhamdulillah. Berasnya dari vietnam, bungkus indomienya bertuliskan huruf arab yang ternyata dari Suriah. Nanti setelah dibuka, akan ketemu bumbu indomie origin dari Indonesia. Siapa yang tidak bangga dengan Indomie Indonesia? Ah, lagi-lagi nasionalisme. Sialan. Konsep nation state ini sudah seharusnya dipinggirkan dengan persatuan umat yang hakiki.

Nasi dan Indomie inilah yang jadi makanan andalanku selama di Bulgaria. Tentu saja aku juga sedia telor dan membeli sayur beku yang tersimpan dalam pendingin untuk persiapan selama musim dingin. Ada garam, garlic, onion, juga sedikit gula dan cabe, aku selamat dari berbagai macam makanan Eropa yang rasanya hambar.

Baik, di meja makan nasi terhidang. Semangkuk indomie siap sedia. Juga telur dadar dengan kecap dan sambal. Berikutnya adalah feta. Jangan kau cium baunya. Jangan. Tapi kau kunyah nasi sesuap, kau ambil feta sedikit, masukkan dalam mulutmu yang masih terisi nasi itu. Kunyah secara bersamaan. Jika kau tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah, hirup kuah indomie juga kunyahlah makanan kebanggan Indonesia Raya itu barang sesuap. Masih belum terasa netral? Telor kecap sambal masukan mulutmu. insyaAllah aman sentausa sehat sejahtera.

Itu yang aku lakukan. Begitu terus menerus. Lama kelamaan porsi kejunya ditambah. Sebab kau akan semakin terbiasa. Nanti pada suatu titik, kau akan ketemu bahwa keju putih ini, bahwa feta yang berasal dari dewa-dewa ini, ternyata rasanya lezat. Sungguh. Aku sudah membuktikan. Berikutnya, tak lagi kau perlukan nasi juga indomie, telor kecap dan sambal.

Cukup kau cuci bayam segar, ambil daunnya, simpan di atas piring. Lumuri dengan minyak zaitun. Taburi sedikit garam. Aduk merata. Lalu makanlah daun bayam itu bersama dengan feta. Hmmm, yummi.