Jumat, 12 Juli 2019

Melayu Champa; tidak ada bom tidak ada pembunuhan


oleh: Pay Jarot Sujarwo

Malam sebelum keberangkatan, saya berdiskusi sepanjang malam dengan seorang teman. Seorang komunis asli Ho Chi Minh. Diskusinya tentu saja menyoal ideologi.

Mengaku tak bertuhan. Tapi protes dengan aturan negara yang tak bertuhan. Maksudnya, sebagai seorang komunis, kawan saya ini tidak menyetujui penerapan komunisme dalam tatanan negara. Belakangan dia bersyukur, sebab Vietnam mulai membuka diri, mulai menerapkan sistem Ekonomi yang ditiru dari Amerika, katanya. Atau sebut saja kapitalisme.

Tapi di sistem kapitalisme, Tuhan itu ada walapun tidak ikut campur dalam berbagai urusan kehidupan?

Beberapa kali, dia mengaku heran dengan orang-orang yang mengaku bertuhan. Apalagi jika sampai urusan ketuhanan diajarkan oleh negara via instansi pendidikan. Itu doktrin. Manusia hanya akan terkungkung dengan doktrin. Katanya berapi-api.

Sesekali kuceritakan tentang Islam yang kupahami. Bahwa dalam agama Islam, kita tidak diajarkan untuk membunuh orang lain tanpa sebab. Kusampaikan ini karena dia menuduh sebelumnya. Katanya, Islam itu pembunuh.

Darimana kau tau itu? tanyaku.

Dari media tentu saja, katanya.

Lalu kenapa kau tidak kubunuh? Padahal aku beragama Islam. Lalu kenapa kau persilakan aku tidur di tempatmu, padahal aku beragama Islam. Apa kau tidak takut kubunuh?

Dia tertawa. Diam sebentar, lalu mempersilakan aku melanjutkan cerita.

Ternyata Islam yang dia dengar dariku adalah Islam yang pertama kali ia dengar seumur hidupnya. Dan hampir semua orang Vietnam tak pernah mendengar Islam seperti yang ia dengar malam itu. Islam yang ia ketahui adalah Islam yang disampaikan media.

kukatakan, bahwa di Vietnam ini ada orang beragama Islam.

Really? dia tidak percaya.

Betul ada. kataku. Mereka menyebut dirinya Melayu Champa. Tapi adalah warga negara Vietnam. Mereka punya kampung sendiri. Mereka punya tempat ibadah.

Seperti kuil? seperti orang-orang Cina tu beribadah? tanyanya

Orang-orang Cina di Vietnam sebagian beragama Budha. Jumlahnya tak banyak.

Kujelaskan, tempat ibadah orang Islam bernama Masjid.

Deal, temanku ini, oh ya, namanya Tuan Nguyen, setuju untuk mengantarkanku menuju perkampungan Islam yang kuceritakan kepadanya. Kuketahui perkampungan itu dari google.

Namanya Chau Doc di Provinsi An Giang. Sekitar 6-7 jam perjalanan dengan sepeda motor dengan kecepatan maksimal 50km/jam. kecepatan maksimal yang diharuskan oleh pemerintah komunis Vietnam. Ya, tak ada pembalap di Vietnam.

Tak sendirian. Nguyen mengajak teman-temannya. Subuh, kami berangkat. Menuju tempat yang asing bagi orang-orang Ho Chi Minh. Masih di dalam negeri, Vietnam. Benar, perkampungan Islam itu ada. Nguyen terkejut saat menemukan mereka begitu ramah. Orang-orang tua yang tersenyum menyambut tamu tak dikenal. Salah satu di antara mereka berbahasa melayu, menyambutku dengan ramah.

Tak ada bom. Tak ada pembunuhan. Nguyen dan teman-temannya pergi, setelah sebelumnya menyalamiku dengan begitu erat.


2 komentar:

  1. Mantab Semoga Blog Bang PY ini semakin ramai semakin Jos, meng-inspirasi teman-teman yang lainnya.

    BalasHapus