Jumat, 12 Juli 2019

Tentang Perjalanan, Tentang Ketaatan

Oleh: Pay Jarot Sujarwo
Seandainya kita hidup di masa kejayaan Islam, tentu tidak perlu bersusah payah menghitung kurs mata uang yang harus ditukarkan jika ingin ke luar negeri. Dinar dirham cukup. Berlaku di seluruh wilayah Khilafah Islamiyah. Begitu juga dengan paspor yang merupakan dokumen paling nyata tentang pengkotak-kotakan umat manusia. Umat Indonesia berbeda dengan umat Malaysia berbeda dengan umat Thailand, Kamboja, Spanyol, Belanda, berbeda pula dengan umat Bulgaria, meskipun beragama sama, Islam. Umat Indonesia tak bisa begitu saja masuk wilayah Bulgaria. Punya uang berapa di rekening? Begitu pertanyaan umum yang biasa dilontarkan petugas wawancara di kedutaan dalam rangka mengurus visa.
Ya, semenjak 1924 Islam kalah. Hari ini, 3 Maret 92 tahun lalu, Islam tunduk dan pasrah dipecah belah atas nama nasionalisme. Sistem juga tentu saja harus nurut dengan pemenang perang. Dipaksa sistem yang tak lagi menerima Dinar dirham di batas negara, akhirnya terpaksa menukar uang Dolar, Ringgit, dan Dong Vietnam. Tujuan saya adalah Vietnam dengan transit di Kuala Lumpur. Karena itu lah kedua mata uang tersebut saya miliki. Lalu bagaimana dengan dolar? Saya juga miliki meski tak berangkat ke Amerika. Tapi Amerika pemenang perang, meski kita tak suka, dolar tetap dibutuhkan. Bahkan Kamboja, mata uangnya seperti tak bernilai. Orang-orang lokal berbangga-bangga berbelanja dengan US dolar.
Baik, ini rencana awal saya. 2 Maret terbang dari Pontianak ke Kuala Lumpur, lanjut ke Ho Chi Minh. Di negara yang menerapkan sistem sosialis komunis tersebut saya akan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain. Motivasi utama perjalanan kali ini adalah ibadah. Ya, berbeda dengan apa yang saya lakukan pada perjalanan sebelumnya. Gagah sebab menyandang predikat backpacker, namun abai dengan perintah pencipta, adalah hal yang sangat saya sesali.
Membuat bekas jejak di salju yang membentang di kota tua Sofia. Menggenjot pedal sepeda di di jalur khusus kota Rotterdam. Masuk perpustakaan dan menemukan buku yang saya tulis sendiri di Leiden. Menyaksikan ratusan demonstran menembus dingin malam di Madrid. Apa lagi? Menyebrangi Spanyol, lintas batas, menuju ujung Protugal, pernah saya alami. Betapa bangganya saya waktu itu. Tapi apa? Selain riya’ sana sini.
Hingga akhirnya saya harus menangis menyaksikan saudara sesama muslim, yang miskin, yang minoritas, yang diabaikan negara, namun tetap berbahagia menjadi muslim. Kejadian itu saya alami di salah satu pojok kota Phnom Penh. Roti dan susu kental manis menjadi santapan kami di Masjid tak jauh dari sungai Mekong. Ada seorang yang bisa berbahasa Melayu. Belajar Islam di Malaysia. Bercerita banyak hal. Luar biasa. Kejadian lain, seorang ibu asal Surabaya, bekerja 10 tahun di Malaysia, kemudian dipercaya mengelola restoran halal di Siem Riep. Ketulusan muslimah berusia lanjut ini beberapa kali membuat jantung saya berdegup lebih kencang. Bulu kuduk merinding. Seminggu saya disuruh makan di restoran tempat ia bekerja tanpa membayar. Halal dan langka. Orang-orang itu betapa sederhana.
Suatu hari, di pedesaan Mae Chan, ujung Thailand, masuk dalam provinsi Chiang Rai, saya sudah putus asa. Tak menemukan makanan halal di sebuah tempat seperti lapangan bola yang berisi puluhan tempat makan. Seorang perempuan berkerudung di seberang jalan berteriak memanggil saya. Dia pedagang roti. Bahasanya tentu saja tidak saya mengerti. Dia juga tidak mengerti bahasa Inggris yang saya ucapkan. Pedagang roti ini mengulurkan setumpuk nasi dengan telor goreng ke saya. Nasi itu dibawanya dari rumah. Yang seharusnya masuk ke perutnya sebagai makan malam. Tapi perempuan muslimah pedagang roti ini memilih memberikan makanannya kepada saya. Saya sodorkan Bath, ia menolak. Lagi, saya terenyuh. Manusia macam apa ini? Eropa begitu mentereng. Foto sana sini sambil disebar ke sosial media agar dilihat orang-orang dari kampung halaman. Begitu tersesat, hendak bertanya ke orang yang lewat, dibalas “No!” Bahkan bertanya arah saja orang-orang Eropa enggan menjawab.
“Islam itu tidak pro dengan perempuan. Al-Qur’an itu kejam. Seenaknya saja menyuruh membunuh atau pun juga potong tangan!” kata seorang traveler Dominica berkebangsaan Amerika ketika berbicara dengan saya dan mengetahui bahwa saya seorang muslim. Waktu itu saya sudah lama tidak sholat. Waktu itu saya sudah lama sekali abai dengan apa yang diperintah dan dilarang pencipta. Tapi waktu itu darah saya mendidih.
Kalau Islam itu kejam, ibu-ibu tua di sebuah restoran halal di Siem Riep tak akan memberikan makanannya kepada saya secara gratis. Juga perempuan berkerudung yang berjualan roti di tengah puluhan pilihan aneka ragam makanan tak halal. Tapi tentu saja memang bukan itu takarannya. Kejadian-kejadian itu tak bisa pula disebut sebagai alasan utama saya kemudian memilih membersihkan diri dari segala najis kemudian mengambil air wudhu dan takbirratul ihram. Tentu saja banyak kisah lain.
Banyak sekali orang bertanya kepada saya. Hampir semua pertanyaan tersebut saya jawab, “tidak tahu.” Ada kuasa Allah yang kemudian membuat saya merasa perlu bergabung di barisan kaum muslimin pada sebuah subuh yang dingin. Kami semua teriak “Aamiin!” sesaat setelah imam berucap “waladholin”. Kenapa saya ngotot menyisihkan selimut dan memilih bercengkrama dengan dingin demi sampai di dalam masjid, tidak tahu. Begitu yang saya ucapkan ke beberapa teman. Saya merasakan kenikmatan yang jauh mengalahkan nikmatnya keju di sebuah resort mahal di kota Pamporovo, Bulgaria. Dahsyat. Seketika perjalanan saya berpindah dari satu bandara ke bandara lain, seperti tak ada apa-apanya.
Saya pernah begitu jauh dengan Tuhan lebih jauh daripada yang orang-orang bayangkan. Hari ini, jarak itu membuat saya harus akrab dengan airmata di sepertiga malam. Saya menyesal secara nasuha. Beberapa teman bilang, “Kalau sudah hijrah gini, berarti tidak traveling lagi dong?”
Ini pertanyaan tidak nyambung. Apa hubungannya antara ‘hijrah’ dengan traveling? Kita abaikan sebentar pertanyaan ini. Saya masih ingin bercerita tentang peristiwa yang lain. Ya peristiwa yang lain. Di Bangkok, sungguh ini sebuah kota yang begitu besar. Macet dimana-mana. Turis dimana mana. Banci dimana-mana. Ini kota tempat maksiat merajalela. Di beberapa lokasi seperti hotel, restoran, mall, tak susah untuk menemukan tiga bilik toilet. Bilik laki-laki, bilik perempuan, bilik transgender (lebih dikenal dengan sebutan ladyboy). Prostitusi dan pertunjukan aurat jadi dagangan yang begitu laris. Di bangkok, saya memilih untuk tidak bergabung dalam riuh rendah kemaksiatan tersebut. Tidur di sebuah rumah milik keluarga muslim yang menjadi pilihan.
MasyaAllah, keluarga ini mengingatkan saya akan kampung halaman di awal 90-an. Dimana semua orang begitu ramah. Ya, di tengah-tengah kota besar seperti Bangkok, terdapat sebuah keluarga muslim yang hidup di tengah perkampungan muslim yang masyarakatnya saling mendoakan satu sama lain, semoga selamat dan berkah. Hati saya semakin teraduk-aduk. Seberapa jauh jarakmu dengan Allah azza wa jalla? Waktu itu jarak saya begitu jauh. Waktu itu, saya tersentuh.
Sekarang saya sedang di HO Chi Minh, kota modern di Vietnam selatan. Duduk di dalam sebuah restoran halal milik pengusaha dari Malaysia. Tak jauh dari restoran ini ada masjid yang cukup besar. Sebentar lagi saya akan ke sana. Saya tak ingin jauh lagi dengan pencipta.
Teman, neraka itu bukan bualan para Ustadz untuk menakut-nakuti kita. Bukan metode atau kiat jitu meraih banyak jamaah. Keberadaannya pasti. Please, jangan memilih untuk pergi ke sana.

0 Comments:

Posting Komentar