Jumat, 12 Juli 2019

Lonely Planet

Oleh Pay Jarot Sujarwo

Di bangku taman Regent’s Park, London, seorang lelaki, insinyur kelahiran Bournemouth bertemu dengan seorang perempuan Irlandia. Tahun 1971. Pertemuan ini berbuah pernikahan. Perempuan pernah sangat ingin menjadi pramugari. Gagal. Masalahnya di tinggi badan. Lelaki pernah menjadi insinyur. Tapi gelar itu ditinggalkan. Setahun setelah menikah, pasangan muda ini berkelana. Perjalanan yang cukup panjang. Dari London menuju Sydney.

Awalnya ini hanyalah cerita biasa. Toh, mereka bukan orang pertama yang melakukan perjalanan panjang. Kendaraan mereka mobil van kecil. Melewati benua Eropa, masuk Asia, menerabas Afganistan, terus, hingga entah bagaimana ceritanya sepasang suami istri ini sampai di Indonesia.
Dari Bali, mereka menumpang kapal gratis yang menuju arah selatan. Lalu setelah kurang lebih enam bulan melakukan perjalanan mereka sampai di Exmouth, Western Australia. Perjalanan ini akhirnya menjadi perjalanan luar biasa ketika kita semua tahu, sang suami selalu mencatat setiap detil rute yang ditempuh. Sekali lagi, detil.

Apa saja yang dilakukan selama perjalanan? Di mana menginap? Menuju satu tempat ke tempat lain lewat jalur mana? Berapa biayanya? Dan lain sebagainya.

Nanti, dari catatan rinci ini akan lahir sebuah karya besar yang hampir setiap traveler tangguh yang pernah dicatat zaman modern pernah merasakan jasanya. Sepasang suami istri itu bernama Toni dan Maureen. Karya besar mereka bernama Lonely Planet.

Lonely Planet telah menjadi semacam kitab suci bagi ribuan atau bahkan mungkin jutaan pengembara di bumi ini. Buku yang awalnya hanya catatan perjalanan biasa Toni dan Maureen, kemudian menjadi guide book terlengkap yang pernah ada di dunia. Dicetak dalam jumlah massive. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Aku telah bertemu dan berinteraksi dengan banyak pejalan. Hampir semua yang kutemui, punya ‘kitab suci’ ini. Tunggu, pertemuanku terjadi saat internet belum seakrab sekarang. Ya, internet masih menjadi barang mewah. Telepon genggam pintar, seingatku belum ada yang menggunakan di kota Pontianak. Maka dapat dibayangkan, betapa mewahnya buku Lonely Planet pada waktu itu.

Kalau pun sekarang internet sudah tak lagi mewah dan bahkan nyaris menyamai tuhan, bukan berarti buku Lonely Planet harus dilupakan. Alasannya tak sesederhana buku kertas lebih berharga dibanding buku elektronik. Buku kertas bisa dirasa, bisa dijadikan bantal, kertasnya bisa memudar pertanda sering dibaca, bisa dicoratcoret untuk menandai paragraf-paragraf penting, bisa difotocopy, bahkan bisa disobek. Sedangkan buku elektronik tidak. Tapi sungguh, alasannya tak sesimple itu.

Kau bisa tanyakan kepada para pejalan yang betul-betul merasakan jasa buku Lonely Planet. Ini sudah seperti ruh perjalanan bagi mereka. Duduk di samping jendela penginapan murah sambil membolak-balik halaman, menandai hal-hal penting. Atau bersantai di sebuah cafe di tengah hiruk pikuk para backpacker yang bertemu tanpa bikin janji di facebook, kemudian mendiskusikan halaman demi halaman yang ada dalam buku kertas lonely planet.

Sudah ke sini belum? Sudah ke sana belum? Bagaimana pendapatmu? Haruskah kita ke sana? Membutuhkan waktu berapa hari untuk mencapai tempat itu? Pake kendaraan apa? Matahari sorenya indah? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian berganti jawaban yang menjelma dialog yang value-nya tak bisa disetarakan dengan percakapan para pelancong zaman now: ngobrol sedikit, banyak pamer foto, senyum-senyum di facebook, instagram, tweeter, dan path.

Aku perlu menceritakan perkara lonely planet, sebab inilah rute awal bagi diriku merasakan benar-benar menjadi pejalan. Kasusnya berbeda saat merantau ke Jogja. Itu dulu penyebabnya kuliah. Pun ketika pindah ke Jakarta, itu adalah episode pencarian yang tak kunjung ketemu, lalu menyerah pulang ke kampung halaman. Tapi kali ini, berbekal Lonely Planet, semangat berpetualang merasuk dalam sanubari.

Rute yang kutempuh adalah Bali. Tidur di rumah kawan di kawasan Seminyak, menyewa motor kurang lebih seminggu, kemudian menjelajahi Bali dari satu tempat ke tempat lain, pemandunya adalah Lonely Planet. Awalnya aku tidak pernah menduga bahwa buku ajaib itu akan memberikan informasi begitu detil. Bahkan ketika kita ingin melarikan diri dari pantai-pantai mainstream di Bali. Lonely Planet menawarkan pantai perawan dengan pasir putih yang sepi pengunjung. Disebutkan dalam buku itu, kelok liku jalan hingga gang-gang kecil menuju lokasi yang sangat kuyakini tak ada di dalam peta. Peta buatan google? Boro-boro, Smartphone saja aku tak punya.

Dari pantai, Lonely Planet kemudian membawaku, petualang amatiran, menelusuri Bali hingga utara. Kintamani. Berdecak kagum dengan pemandangan Gunung Batur yang begitu megah. Indah. Sama sekali tak takut tersesat. Di hari lain, nyaris aku melanjutkan perjalanan ke Lombok sebab sepeda motor yang kukendarai jejak hingga Padangbai. Tapi urung. Alasannya kenapa, aku lupa.

Ada satu hal yang perlu kalian ketahui tentang Lonely Planet. Buku ini tak sekadar berbagi rute dengan detil tentang beragam destinasi. Tapi buku ini juga telah mengubah mindset orang-orang tentang tourism. Tempo.Co pernah menulis, “Semangat berpetualang dan menggelandang”.

Toni dan Maureen mengetahui betul dengan apa yang mereka lakukan. Semangat berpetualang dan menggelandang sudah tertular ke banyak orang di muka bumi ini. Mereka tak lagi memikirkan harus punya uang banyak untuk berpergian hingga ujung dunia. Tanpa disadari, jumlah ‘backpacker’ meningkat cukup pesat dari hari ke hari. Hingga akhirnya, traveling, backpacking, berkelana, mengembara tak lagi sekadar aktivitas liburan sebab penat di aktivitas sehari-hari di ruang kerja, tapi sudah menjadi hal gaya hidup.

Kalau sudah gaya hidup, mau tidak mau akan berurusan dengan perkara pemikiran. Campur baur manusia dari seluruh dunia. Interaksi tanpa batas dan aturan. Hedon. Liberal. Fun. Mencengkram begitu kuat. Lalu masing-masing kita bangga sudah tersesat begitu jauh karenanya.

Setidaknya ini yang terjadi padaku di masa itu.

0 Comments:

Posting Komentar