Selasa, 16 Juli 2019

Boulevard Maria Luiza

oleh: Pay Jarot Sujarwo


Boulevard Maria Luiza. Ini adalah jalan utama di tengah kota Sofia. Di musim dingin, pohon-pohon kehilangan daun. Tapi tentu saja bukan pohon mati. Nanti, menjelang musim semi, dedaunan akan mulai bertumbuhan. Menurutku, sebagai manusia yang berasal dari tropical area, yang ijo royo-royo, yang gemahripah loh jinawi, menyaksikan pohon-pohon tanpa daun adalah keunikan tersendiri. Tak jarang aku berhenti agak lama demi untuk menikmati, juga memotret pohon-pohon itu. Rerantingnya seperti sepi yang menyelinap di relung hati. Di beberapa batang yang agak besar, kadang gagak hitam hinggap. Jika angin berhembus, reranting kecilnya seperti tertampar. Bergoyang-goyang, mengabarkan kepada siapa saja, bahwa reranting kecil itu belum mati.



Boulevard merupakan jalan yang besar. Kerap terdapat median di tengah untuk membagi jalan menjadi dua arah. Hampir semua orang di Kota Sofia mengetahui keberadaan Boulevard Maria Luiza. Terlebih wisatawan. Ini seperti jalur wajib yang harus dilewati, sebab melalui jalan ini para turis akan bertemu dengan berbagai spot menarik.



Nama Maria Luiza diambil dari nama putri, anak perempuan dari raja Boris III, raja Bulgaria yang naik tahta di masa perang dunia I. Di Bulgaria, mungkin juga di banyak negeri-negeri lain, nama-nama tokoh di masa lalu kerap dijadikan nama jalan. Dan di zaman modern ini, barangkali orang-orang lebih banyak mengenal Maria Luiza sebagai nama jalan ketimbang tuan putri yang harus melarikan diri bersama ibunya ke Mesir dan Spanyol karena negeri tersebut mengalami kekalahan perang yang menyakitkan.



Hampir setiap hari, jalan ini selalu ramai. Di jalan raya, tak jarang kemacetan terjadi, khususnya di dekat perempatan. Di sisi dua jalan, trotoar bagi pejalan kaki, hampir pasti selalu penuh di jam pergi dan pulang kerja.



Terus terang, aku kagum dengan budaya jalan kaki orang-orang Eropa. Trotoar adalah etalase peradaban negara maju. Budaya, estetika, juga perkara kedisiplinan masyarakatnya bisa tergambar pada kondisi trotoarnya. Ini penting. Ini identitas sebuah kota.



Di Boulevard Maria Luiza, aku menyaksikan orang-orang hilir mudik berjalan kaki. Sebagian dari mereka tampak terburu. Mungkin karena harus cepat sampai di tempat tujuan. Mungkin pula karena dingin sehingga para pejalan itu enggan berlama-lama di tempat terbuka. Atau mungkin, memang sudah budaya mereka berjalan dengan langkah yang tegas dan cepat.



Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk akrab dengan tempat ini. Hampir setiap hari aku melewatinya. Dimulai dari Lions Bridge, jembatan di atas sungai Vladaya yang terletak di pusat kota Sofia, kakiku melangkah menuju rute dengan nilai sejarah mencengangkan, setidaknya bagi turis amatiran seperti aku.



Setelah berjumpa dengan hilir mudik manusia lalu lalang dengan tergesa, dari kejauhan mataku menabrak menara yang begitu khas. Masjid, itu masjid. Aku sudah membatin. Sebab menara berbentuk seperti pensil itu tegak menyertai sebuah bangunan berkubah. Walaupun tentu saja nanti akan banyak kujumpai bangunan berkubah yang bukan masjid, tapi aku tak salah menduga untuk yang satu ini.



Namanya Masjid Banya Bashi. Berdiri, sebab kekhalifahan Utsmaniyah cukup lama berada di sini. Tepat di seberang Masjid Banya Bashi, kita akan bertemu gedung dengan gaya arsitektur neo renaissance, berdiri di awal tahun 1900an berfungsi sebagai pasar central yang sampai sekarang pun masih sebagai pasar central. Ratusan tahun orang-orang melakukan aktivitas jual beli di sini. Lanjut maju sedikit ke depan, masih dengan bangunan seperti yang sering kita saksikan di film film epic dengan setting masa lalu, sungguh aku tak pernah mengira bahwa landmark yang nyaris bersebelahan dengan Masjid Banya Bashi adalah sebuah departement store modern. Dari luar ini semacam istana kuno abad pertengahan. Tapi begitu masuk ke dalam, segala barang modern tersedia. Di depan Departement Store ada banyak deretan bangku-bangku kosong. Dari sini mata kita akan dapat melihat dengan jelas bangunan megah lainnya, Gereja Santo Nedelya. Ini adalah gereja ortodox yang berada tepat di tengah kota Sofia. Berdiri sejak abad pertengahan, yang telah mengalami kehancuran selama berabad-abad dan telah direkonstruksi berkali-kali.



Kita berhenti dulu di sini, kawan. Aku menggigil. Dingin teramat sangat.



0 Comments:

Posting Komentar