Senin, 15 Juli 2019

Hingar Bingar Masa Lalu

Oleh: Pay Jarot Sujarwo
Catatan Perjalanan di Bulgaria

Di tempat ini, terang baru benar-benar sempurna kurang lebih terjadi pada pukul sembilan pagi. Penghujung febuari 2010. Musim dingin masih akan berlangsung kurang lebih sebulan lagi. Meski banyak orang mengatakan, dalam beberapa tahun belakangan ini, musim dingin di Bulgaria terasa lebih panjang dari biasanya. Lebih dingin dari biasanya. Aku tak mengetahui informasi tersebut. Ini luput ketika aku harus menelusuri google di saat-saat sebelum berangkat. Aku masih ingat, waktu itu aku hanya sibuk mencari info tentang salju dan seberapa tebal jaket yang kita perlukan.

Tapi musim dinginku di Bulgaria di masa-masa awal adalah musim dingin tanpa salju. Musim dinginku di Bulgaria adalah musim dingin yang begitu menyiksa. Jaket yang kubeli dari kedai pakaian bekas impor, orang-orang Pontianak menyebutnya lelong, seperti tak berguna. Aku harus menggunakan berlapis-lapis baju. Berlapis-lapis celana. Pun, tulang belulangku masih diserang dingin yang begitu garang. Sungguh, hal begini tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku tinggal tepat di jantung kota Sofia, ibukota Bulgaria. Karena ini pusat kota, banyak tempat berharga yang bisa ditempuh hanya berjalan kaki. Banyak yang mengira perjalananku menyenangkan selama musim dingin di Bulgaria. Ya, memang menyenangkan. Maksudku, overall, tentu saja ini pengalaman tak bisa dilupakan, tapi aku harus mengingatkanmu berkali-kali, bahwa musim dingin di Eropa, wabilkhusus di sebuah negara bernama Bulgaria, adalah sesuatu yang tak bisa diremehkan.

Kau yang sehari-hari terbiasa dengan iklim tropis, harus pasrah menerima kenyataan kulit kering dan gatal. Ini yang kualami. Kalau keluar rumah, seluruh tubuh tertutup. Jika wajah terbuka, maka siap-siaplah menahan perih. Dingin itu perih, kawan. Apalagi kalau penutup kepala kau buka, lalu kau biarkan dua telingamu bertengger bebas begitu saja. Rasanya begitu menyakitkan. Dingin itu akan merasuk begitu dalam hingga tulang belulang.

Gigil. Gemerutuk gigi. Sesuatu seperti asap keluar dari mulut. Selamat datang di Eropa.

Oya, sebelum bayanganmu terlalu jauh. Mari kuantarkan kau menuju garis-garis batas Bulgaria. Ini negara lokasinya berada di Eropa bagian Tenggara. Kalau pelajaran geografimu punya nilai bagus mungkin kau bisa membayangkan dimana itu lokasi tenggara. Tapi tidak bagiku. Asia tenggara sering disebut-sebut sejak kita kecil, karena Indonesia berada di situ. Tapi percayalah, sesungguhnya aku tak terlalu tahu dimana itu lokasi tenggara. Pun begitu dengan Bulgaria. Banyak orang menyebutnya sebagai negara yang terletak di Eropa Timur, aku juga demikian. Pikiranku sederhana, ini negara berada di lokasi paling Timur Eropa, hmm, maksudnya, paling timur sebelum nanti bertemu dengan Turki. Sebenarnya Turki posisinya berada di sebelah selatan Bulgaria. Kalau benar-benar timur, Bulgaria bersebelahan dengan laut hitam. Nah sebagian Turki itulah penghujung Eropa, nanti kalau terus ke timur akan bertemu Asia. Tapi ternyata salah, kawan. Bulgaria bukan di Eropa Timur, melainkan tenggara. Perlu kau ingat itu.

Ada lima negara yang mengelilingi Bulgaria. Kalau info ini bisa kau dapat di wikipedia. Di sebelah utara kau akan bertemu dengan Rumania. Kuingatkan, jika kau mendengar Rumania, sebaiknya kau mengingat soal Drakula. Lelaki kejam itu berasal dari Rumania. Di sebelah barat ada Serbia dan Makedonia. Yunani dan Turki di Selatan, sebelah timur ada laut hitam. Untuk agar lebih mudah mengingat Bulgaria, kau juga perlu mengenal istilah Balkan Peninsula, sebab di sanalah dia berada.

Kau ingin jalan-jalan ke masa lalu yang begitu jauh, kawan?

Di Eropa ada sungai yang begitu panjang, namanya sungai Volga. Sungai ini menjadi saksi berbagai macam peristiwa. Ini adalah sungai yang menjadi tempat perlintasan berbagai sukubangsa sub Mongolia, Turk, Huns, bahkan Jerman. Berbagai macam peradaban juga terjadi di aliran sungai Volga. Di sepanjang sungai Volga yang bermuara di Laut Kaspia pernah berdiri negeri Islam Volga-Bolgar pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi. Ibn Faldan adalah tokoh penting. Beliau merupakan duta besar yang dikirim oleh Khalifah Al-Muqtadir untuk mendakwahkan Islam di daerah ini.

Orang-orang Bolgar dipercaya berasal dari keturunan bangsa Turk yang datang dari Asia Tengah. Suku Bolgar terus menyebar, ada yang serumpun dengan sukubangsa Samartan dan Iran. Ada juga kawin mawin dengan orang-orang Slavia, Yunani, yang saat itu sudah menjadi bagian dari Romawi Timur bernama Byzantium. Percampuran ini kemudian menghasilkan sukubangsa baru bernama Bulgaria. Sebagian besar mereka memeluk agama Kristen Ortodok.

Tapi kakiku jejak di Bulgaria tahun 2010. Tentu saja aku tak bertemu dengan para Mongolian, Turk, juga dinasti Abbasiyah, Romawi Timur, dan suku-suku yang hobi berperang. Semuanya telah menjelma sejarah yang oleh para sejarawan telah diceritakan dalam berbagai versi. Kawan, kau tahu cerita kemenangan Muhammad al Fatih? Kita, dari generasi ke generasi akan dengan bangga bercerita bahwa inilah kegemilangan kaum muslimin. Bukti bahwa perkataan Rasulullah itu bukan bohong belaka meski harus terwujud 800 tahun kemudian. Konstantinopel yang runtuh pada tahun 1453 adalah cerita tak terbantahkan. Di Bulgaria, kudengar versi yang lain. Bahwa orang-orang Turki adalah penjajah yang kejam selama lebih dari 500 tahun. Kudengar cerita ini dari seorang komunis tulen yang menjadi Profesor di Universitas Sofia. Dapat kau bayangkan, kawan? Di kampus, dia akan senantiasa mengatakan hal ini kepada para mahasiswanya. Terus menerus dari generasi ke generasi. Lalu kau berharap bahwa sejarah hanya akan bercerita tentang satu hal yang sama?

Di Bulgaria, aku kedinginan. Di Bulgaria, aku disergap hingar bingar masa lalu.

0 Comments:

Posting Komentar