Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pementasan Teater Sampah Bertutur, Mengubah Sampah Menjadi Kritik Sosial dan Ruang Refleksi Publik


Kota pekalongan — Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengumpulkan, memindahkan, atau membuangnya. Di balik tumpukan sampah, terdapat persoalan kesadaran masyarakat, tanggung jawab bersama, hingga tata kelola lingkungan yang membutuhkan keterlibatan publik. Berangkat dari kegelisahan tersebut, komunitas Teater Reakses menghadirkan Sampah Bertutur: Teater Instalasi Rupa Sampah, sebuah karya seni yang memadukan teater, instalasi seni rupa berbahan sampah, dan diskusi publik sebagai medium kritik sosial sekaligus kampanye lingkungan.

Pementasan ini dilatarbelakangi kondisi darurat sampah yang menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan. Permasalahan tersebut berdampak pada kebersihan lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan hidup masyarakat. Pada saat yang sama, pengelolaan sampah juga menuntut transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi masyarakat dalam mencari solusi yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan artistik, Sampah Bertutur mengajak penonton melihat sampah bukan semata-mata sebagai material sisa yang tidak lagi berguna, melainkan sebagai benda yang menyimpan jejak perilaku manusia dan persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.

Sampah-sampah tersebut dihadirkan seolah-olah memiliki suara, kesaksian, dan gugatan terhadap manusia. Pendekatan ini menjadikan pertunjukan bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan lingkungan serta tanggung jawab berbagai pihak dalam pengelolaan sampah.

Teater dan instalasi rupa sebagai medium edukasi lingkungan

Sutradara pementasan, Ahmad Bukhori, menjelaskan bahwa perpaduan teater dan instalasi seni rupa berbahan sampah merupakan upaya menyampaikan persoalan lingkungan melalui pendekatan yang dekat dengan pengalaman penonton, terutama generasi muda.

“Material yang selama ini dianggap tidak bernilai kami olah menjadi bagian dari ekspresi artistik. Melalui pertunjukan ini, kami ingin mengajak penonton mempertanyakan kembali cara masyarakat memperlakukan sampah dan lingkungan di sekitarnya. Sampah bukan hanya persoalan benda yang harus disingkirkan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, kebiasaan, dan tanggung jawab kita bersama,” ujar Ahmad Bukhori.

Menurutnya, seni pertunjukan dapat menjadi ruang edukasi yang memungkinkan isu lingkungan disampaikan secara lebih reflektif. Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak mengalami, menyaksikan, dan memikirkan kembali persoalan yang selama ini hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam karya ini, instalasi berbahan sampah tidak sekadar menjadi dekorasi panggung. Material tersebut menjadi bagian penting dari bahasa visual pertunjukan, yang mempertemukan ekspresi tubuh, ruang, benda, dan kritik sosial dalam satu kesatuan artistik.

Membuka ruang partisipasi melalui kerja kebudayaan


Pimpinan produksi Muhammad Ma’ruf Hidayat Sulthon menyampaikan bahwa Sampah Bertutur dirancang tidak berhenti pada penyelenggaraan pementasan. Kegiatan ini juga menjadi upaya memperluas ruang perjumpaan antara seni, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk membicarakan persoalan lingkungan.

“Bagi kami, produksi ini bukan semata-mata menghadirkan pertunjukan teater. Kami ingin menjadikan kegiatan kebudayaan sebagai ruang pertemuan dan partisipasi publik. Persoalan sampah merupakan persoalan bersama, sehingga penanganannya juga membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari masyarakat, komunitas, hingga pemerintah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa rangkaian kegiatan ini dikembangkan dengan menggabungkan pementasan dan diskusi publik agar pesan yang disampaikan melalui karya seni dapat berlanjut menjadi pertukaran gagasan dan refleksi bersama.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami persoalan sampah sebagai masalah kebersihan, tetapi juga melihat pentingnya perubahan perilaku, pengelolaan yang bertanggung jawab, dan kolaborasi lintas sektor.

Riset Penulisan Naskah

Penulis naskah, Abror Y. Prabowo, mengembangkan Sampah Bertutur berdasarkan riset mengenai persoalan lingkungan dan sampah di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan. Hasil riset tersebut menjadi pijakan untuk menerjemahkan persoalan lingkungan ke dalam bahasa dramatik yang memadukan kritik sosial dan pendekatan satir.

“Dalam Sampah Bertutur, saya ingin memberi ruang kepada sampah untuk bertutur. Benda-benda yang biasanya kita singkirkan dari pandangan dihadirkan sebagai saksi atas cara manusia memperlakukan lingkungan. Dari situ, pertunjukan ini mengajak kita melihat bahwa sampah bukan hanya persoalan material yang tersisa, tetapi juga berkaitan dengan keputusan, kebiasaan, dan tanggung jawab manusia,” kata Abror.

Menurutnya, pendekatan satir digunakan untuk menghadirkan kritik tanpa menjadikan pertunjukan sekadar ceramah tentang lingkungan. Melalui suara dan keberadaan sampah sebagai pusat penceritaan, penonton diajak menghadapi kembali persoalan yang sering dianggap biasa, padahal dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Naskah tersebut kemudian diwujudkan ke dalam pertunjukan yang disutradarai Ahmad Bukhori dengan Nur Aya’ Rozak sebagai aktor utama. Perpaduan teater, instalasi seni rupa berbahan sampah, dan ekspresi tubuh menjadi strategi artistik untuk mempertemukan persoalan lingkungan dengan pengalaman penonton.

Pementasan Perdana di Comal Menarik Sekitar 300 penonton

Pementasan perdana Sampah Bertutur: Teater Instalasi Rupa Sampah telah berlangsung di Taman Kota Comal pada 23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menarik sekitar 300 penonton dan memperoleh respons positif dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, komunitas seni, unsur kedinasan, hingga pelajar.

Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ruang bagi seni pertunjukan untuk mengambil bagian dalam penyampaian isu-isu publik, termasuk persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan masyarakat secara luas.

Selanjutnya pagelaran yang sama akan dilangsungkan di GOR UNIKAL, Kota Pekalongan, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. 

Pementasan dan diskusi publik untuk mendorong refleksi bersama

Selain pertunjukan, rangkaian kegiatan Sampah Bertutur dirancang menghadirkan diskusi publik sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai pengelolaan sampah, pemanfaatan material daur ulang, dan kolaborasi masyarakat dengan pemerintah. Narasumber yang terlibat meliputi Suyatmin Widodo, pengamat lingkungan, DS. Priyadi, seniman dan tokoh budayawan. 

Diskusi ini diharapkan dapat mempertemukan perspektif seni, lingkungan, dan kebijakan publik. Dengan demikian, kritik yang disampaikan melalui panggung dapat berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas mengenai kemungkinan solusi dan langkah nyata dalam pengelolaan sampah.

Sampah Bertutur: Teater Instalasi Rupa Sampah merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam lingkup program pemanfaatan hasil kelola dana abadi kebudayaan 2025, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana 2025.

Melalui karya ini, Ahmad Bukhori bersama Teater Reakses ingin menegaskan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Diperlukan perubahan perilaku, tanggung jawab bersama, pemanfaatan material secara bijaksana, serta tata kelola publik yang transparan dan akuntabel.

Pada akhirnya, Sampah Bertutur mengundang masyarakat untuk mendengarkan kembali apa yang selama ini diabaikan. Sebab, ketika sampah diberi ruang untuk bertutur, yang sesungguhnya sedang dipertanyakan adalah cara manusia hidup, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya terhadap lingkungan.


Posting Komentar untuk "Pementasan Teater Sampah Bertutur, Mengubah Sampah Menjadi Kritik Sosial dan Ruang Refleksi Publik"