"It’s Stupidity” - Catatan Bang Pay

"It’s Stupidity”

Setelah perang Indochina kedua berakhir Vietnam terbagi menjadi dua bagian. Utara dan Selatan. Utara beraliran komunis yang disupport penuh oleh Soviet dan Selatan mendapat dukungan dari Amerika Serikat untuk menjalankan demokrasi. Setelah kurang lebih 20 tahun mengalami perang akhirnya kedua negara ini bersatu kembali pada tahun 1976. Alirannya komunis. 

Akan tetapi setelah runtuhnya komunisme dunia tahun 90an, Vietnam ikut membuka pintu dalam pasar ekonomi dunia hingga beberapa prinsip ekonomis sosialis telah digantikan oleh ekonomi kapitalis. Negara komunis ini tak lagi utuh. Dimasa pemerintahan Bill Clinton pada tahun 1995 hubungan Amerika Serikat dan Vietnam terlihat cukup baik.

Tentu saja apa yang terjadi ini mengubah kebijakan negara dan juga berakibat berubahnya persepsi masyarakat. Nguyen adalah salah satunya. Usianya masih muda. Belum jejak 30 tahun. Saya tidak menanyakan dimana orang tuanya tapi dia mengaku berasal dari luar kota Saigon. Di Saigon dia sendirian. 

Bertahan hidup dengan menjadi tukang service barang-barang elektronik. Prinsipnya bisa memperbaiki banyak hal, tapi ia lebih fokus kepada komputer dan seluler. Di kediamannya kami sepakat hanya istirahat tidur saja, besok subuh kita akan melakukan perjalanan panjang. Menuju Provinsi An Giang. 

Setelah menyimpan barang dan melihat-lihat sebentar, kami kembali keluar. Menuju minimarket untuk membeli makanan. Saya mengambil buah-buahan, biscuit, juga mie instan berlogo halal. Sepulangnya kami mampir minum juice mangga pinggir jalan. Di sinilah perkenalan kami secara real (tidak hanya via internet) terjadi. 

Percakapannya hampir sama saat saya bertemu dengan Dong. Tapi tiap orang tentu saja beda pemahaman. Dong agak sedikit terbuka. Meski ia mengaku tak pernah diajari agama oleh orang tua, sekolah, dan lingkungannya, tapi ia tidak serta merta membenci agama. Bahkan berterima kasih saat saya bercerita tentang Islam kemudian tidak menutup kemungkinan baginya untuk mempelajari agama tingkat lanjut. 

Nguyen tidak demikian. “It’s Stupidity,” katanya blak-blakkan ketika menyoal tentang agama. Kali ini saya berhadapan dengan seorang atheist radikal. Seharusnya ini peluang untuk memberikannya pemahaman. Tapi sayang, kemampuan Bahasa Inggrisnya buruk. Ditambah kemampuan Bahasa Inggris saya yang tidak terlalu baik. Lengkap sudah. However, dialog tetap terlaksana. 

Nguyen memuja ilmu pengetahuan. Menurutnya, seluruh kejadian yang ada di bumi ini berkat science. Sifatnya dinamis, mengalami perkembangan terus menerus. Tapi sayang perkembangan ilmu pengetahuan terhambat disebabkan oleh orang-orang yang memercayai takhayul (mith). Mereka itu yang hari ini disebut sebagai orang-orang beragama. 

“Jadi maksudmu agama itu mitos?” tanya saya. 

“Absolutely!” tidak tedeng aling-aling. Saya kembali membiarkan Nguyen bercerita. 

Terjadinya alam semesta, itu semua karena science. Perkembangan zaman juga karena science. Sudah seharusnya kita semua bersungguh-sungguh mempelajari science. Jika semua orang melakukannya kedamaian dunia dapat terlaksana. 

“Bagaimana dengan negara? Apakah negara ini mendukung scinece sepenuhnya?” Saya mulai tidak sabar. Nguyen bercerita berputar-putar. Ia mendewa-dewakan rasionalitas dengan cara yang tidak rasional. Terhadap negara sikapnya 50:50. Jika kebijakan negara pro kepada ilmu pengetahuan maka ia pro. Jika ada kebijakan yang tidak pro maka ia tidak pro. 

“Kau tau Iron Man?” tiba-tiba ia bertanya. 

“Ya, saya tahu. Ada apa dengan Iron Man?” 

Seharusnya setiap orang punya mimpi bisa seperti Iron Man. Orang itu dengan kecerdasannya telah menghasilkan banyak hal. Melakukan perubahan besar secara individu yang berdampak kepada lingkungan sosial. 

Saya ingin ketawa tapi takut dosa. Sekaligus menaruh iba pada Nguyen. Ia gagal menggunakan akalnya secara maksimal. Sejarah kelam negaranya tentu saja punya peran besar. Di bawah kendali komunisme potensi masyarakat untuk berpikir optimal itu kecil. Penyeragaman terjadi di tiap sektor, termasuk sektor pemikiran. 

Nanti, ketika ideologi kapitalisme masuk, pola pikir rusak komunisme itu kembali dirusak. Iming-iming kemajuan teknologi, pasar bebas, kemajuan zaman, liberalisme dan semacamnya menghantui masyarakat. Pemikiran rusak yang dirusak oleh pemikiran rusak lainnya dilakukan secara sistematis lewat pendidikan. Kampus-kampus barat berdiri di Vietnam. Image tentang tingginya derajat orang yang sekolah tinggi juga menyergap orang-orang Vietnam. Nguyen salah satunya. 

Juice Mangga sudah habis. Tapi kami belum beranjak. Masih lama. Masih akan ada percakapan berikutnya, bahkan nyaris saja ke arah perdebatan tiada guna. Seperti apa itu? Setelah ini ya. 

Salam Pay Jarot Sujarwo 
Ig: @payjarotsujarwo 
fb: Pay Jarot Sujarwo 
Silakan join di channel telegram untuk cerita lebih lengkap t.me/payjarot
Pay Jarot Sujarwo
Pay Jarot Sujarwo for some reasons, ever since I was little I always like running away from home