Sabtu, 25 Juli 2020

Kopi, Perang, dan Ideologi

"Karena kopi dua kerajaan di Sulawesi pernah berperang," kata barista beberapa saat sebelum aku pamit pulang.

-

Cerita kopi sejak dulu tentu saja jadi cerita yang menarik. Soal perang kopi di Sulawesi according to si barista, sebenarnya tak hanya terjadi di dunia kerajaan, tapi banyak kerajaan.

-

Ini bermula dari para pedagang kopi (pengusaha) yang akhirnya melibatkan para penguasa. Peristiwa perang itu terjadi pada kisaran tahun 1887-1888. Dominasi ada pada kerajaan Luwu. Antar pedagang bersaing, berebut sumber kopi. Nanti, setahun kemudian, masuk juga pasukan dari Bone ke Toraja. Perang kopi II pecah.

-

Setahun kemudian Kerajaan Enrekang ambil alih. Tata niaga kopi diatur oleh Enrekang. Sudah reda kah perang?  Belum, sebab Belanda datang. Beberapa tahun setelahnya, Enrekang tunduk pada Belanda. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui bersama. Kolonialisasi. Kopi diperdagangkan ke Eropa seperti mutiara. Nama Toraja mendunia. Darah dan keringat para petaninya nyaris tak pernah disebut, kala itu.

-

Hari ini beda cerita. Perang masih berlanjut. Perang dagang. Perang rasa. Perang GAYA. Dari Sulawesi cerita bisa berpindah ke sudut Panama. Lalu akan ada aroma yang menyerang hidung, akan ada aliran air di kerongkongan, dan juga tetap ada cerita nasib para petani kopi yang hanya bisa nurut dengan aturan main para kapitalis.

-

Tidak adil?
Memang

-

Berjuang?
Harus

-
Follow me
www.payjarotsujarwo.com

Instagram
@payjarotsujarwo


#kopi #geisha
#panamageisha #arabica #enrekang #toraja #fruity #floral #capitalism #coffee

0 Comments:

Posting Komentar