Minggu, 26 Juli 2020

Malabar dan Dosa Kita yang Abai


Kau pernah merasakan nikmatnya Malabar? Ini bukan kopi langka. Sudah banyak tersebar di seantero nusantara. Di tangan barista yang tepat, kopi dari pegunungan di ataa 1.400 mdpl ini akan terasa melenakan. Rasa buahnya. Rasa floralnya.

Tapi rasanya naif jika pada akhirnya kita terus-terusan terlena sambil membangga-banggakan nikmatnya citarasa ini kemana-mana. Malabar. Kopi terbaik. Kopi menang lomba. Kopi ekspor. Kopi idaman, dan lain sebagainya.

Sementara di kaki gunung yang namanya diambil dari salah satu wilayah penghasil kopi di India itu, para petani terus saja mengiba kepada para tengkulak. Agar harganya dinaikkan sedikit saja. Tapi iba itu nyaris terdengar sia-sia.

Petani menanam kopi. Merawat tanaman. Memanen buahnya. Mengumpulkannya ke dalam karung-karung. Mengupah kuli angkut agar bisa sampai ke pinggir jalan raya. Dari sinilah para tengkulak menanti.

Harganya sudah ditentukan. Sebut saja, 8.000/kg. Dikurangi 2.000/kg untuk upah kuli angkut. Ini jumlah yang jauh dari cukup. Tapi petani tak punya kuasa menuntut. Pasrah sebab tak ada pilihan.
Kopi ini akan dibawa. Akan dipilah dipilih. Akan dikemas dengan penampakan yang lebih baik. Akan dijual. Berapa harga roasted bean dari petani tadi? 70.000 – 75.000 – bahkan hingga 80.000 rupiah/kilogram.

Lalu kopi ini akan melenggang ke kedai-kedai di dalam negara. Diterbangkan juga ke berbagai wilayah mancanegara. Harganya sudah naik lagi.

Di kedai kopi, pelanggan akan memesan. Berharap seduhan terbaik dari barista terbaik. Menghirup dengan mata terpejam. Mendesah setelah hasil seduhan itu menerabas kerongkongan. Puas. Fruitynya pas. Floralnya mantap. Bungah. Sumringah.

“Apakah minum kopi dengan cara ini haram?”

Tentu saja tidak.

Tapi abai dengan nasib petani, membiarkan sistem model begini terus menganiaya yang miskin, bisa jadi Tuhan juga mengirimkan dosa kepada kita.

Tetap ngopi kawan dan jangan sampai kita berhenti berjuang

#malabar
#petanikopi
#tengkulang
#v60
#endofcapitalism

Sabtu, 25 Juli 2020

Single Strong

Hari ini jatahnya espresso. "single, strong!" kataku ke barista.

Di sini berbagai macam kopi bersaing minta perhatian. Gayo, Ciwidey, Bali plaga, Toraja yale, malabar. Kopi dari dataran terbaik di Indonesia.

Sesekali, hadir Ethiopia dan Kenya. Menjadi varian rasa tersendiri di tempat ini.

Tapi kali ini aku ingin espresso. 70% arabica, 30% robusta. Pahit yang merayap di kerongkongan menjelma rindu dendam tak terkatakan pada masa-masa emas di abad-abad lampau.

Begitulah, kopi menjadi sejarah tersendiri yang tak pernah habis diceritakan. Seorang pengembala kambing, bandar-bandar besar dekat pelabuhan. Cafe di lorong kecil islambol, ulama yang terjaga di tengah malam, para penemu, juga aktivis gerakan yang merencanakan pemberontakan di bagian barat sana.

Kopi juga punya andil lahirnya revolusi industri. Ekspor impor barang juga gagasan. Tentang sekulerisme. Tentang demokrasi. Tentang pengkhianatan hukum-hukum Tuhan.

 "espresso single," kataku, langsung menuju tempat duduk, di sini. Di Bandar ini.

Follow me

Instagram
@payjarotsujarwo

Kopi, Perang, dan Ideologi

"Karena kopi dua kerajaan di Sulawesi pernah berperang," kata barista beberapa saat sebelum aku pamit pulang.

-

Cerita kopi sejak dulu tentu saja jadi cerita yang menarik. Soal perang kopi di Sulawesi according to si barista, sebenarnya tak hanya terjadi di dunia kerajaan, tapi banyak kerajaan.

-

Ini bermula dari para pedagang kopi (pengusaha) yang akhirnya melibatkan para penguasa. Peristiwa perang itu terjadi pada kisaran tahun 1887-1888. Dominasi ada pada kerajaan Luwu. Antar pedagang bersaing, berebut sumber kopi. Nanti, setahun kemudian, masuk juga pasukan dari Bone ke Toraja. Perang kopi II pecah.

-

Setahun kemudian Kerajaan Enrekang ambil alih. Tata niaga kopi diatur oleh Enrekang. Sudah reda kah perang?  Belum, sebab Belanda datang. Beberapa tahun setelahnya, Enrekang tunduk pada Belanda. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui bersama. Kolonialisasi. Kopi diperdagangkan ke Eropa seperti mutiara. Nama Toraja mendunia. Darah dan keringat para petaninya nyaris tak pernah disebut, kala itu.

-

Hari ini beda cerita. Perang masih berlanjut. Perang dagang. Perang rasa. Perang GAYA. Dari Sulawesi cerita bisa berpindah ke sudut Panama. Lalu akan ada aroma yang menyerang hidung, akan ada aliran air di kerongkongan, dan juga tetap ada cerita nasib para petani kopi yang hanya bisa nurut dengan aturan main para kapitalis.

-

Tidak adil?
Memang

-

Berjuang?
Harus

-
Follow me
www.payjarotsujarwo.com

Instagram
@payjarotsujarwo


#kopi #geisha
#panamageisha #arabica #enrekang #toraja #fruity #floral #capitalism #coffee