Sabtu, 09 Mei 2020

Sesal

Salah satu rasa sesal saya saat mengunjungi tanah Eropa adalah melakukan perjalanan tidak dalam rangka mempelajari Islam. Bahkan sebaliknya. Jejak yang membekas dari tiap langkah saya pada waktu itu malah kerap berwarna maksiat. Astagfirullah. Saya ketika itu menjadi bagian dari pengusung liberalisme. Hidup ini untuk mencari kebebasan. Tak terikat oleh berbagai macam aturan.

Wal hasil, perjumpaan saya dengan orang-orang baru dalam setiap perjalanan adalah perjumpaan yang tidak sedikitpun membuat saya dekat dengan Tuhan.
Mari kita masuk ke Spanyol. Kaki saya jejak di Bandara Barajas, Madrid tahun 2012. Pada waktu itu saya sudah tahu bahwa zaman dahulu Spanyol merupakan wilayah yang dinaungi Islam bernama Andalusia. Tapi saya tak punya maklumat lebih. Sama sekali tak punya.
Ketika berjalan keliling kota saya bertemu bangunan bangunan dengan kubah menyerupai masjid. Saya hanya membatin, ya wajar, sebab dulu wilayah ini wilayah Islam. Itu saja. Saya pernah dengar istana Alhambra, tapi tak tahu itu apa. Cerita tentang masjid Cordoba, pun hanya selintas selintas lewat telinga. Thariq bin Ziyad, hanya nama. Sama sekali tak tahu sejarahnya.
Waktu itu, saat masih di Belanda, ketika masih merencanakan trip ke Madrid, teman saya menawarkan. Apakah mau ke Barcelona, ke Andalusia, atau ke Vigo.
Barcelona adalah salah satu kota besar selain Madrid. Semua orang yang ke Spanyol rasa-rasanya senantiasa ingin bisa sampai ke Madrid dan Barcelona. Tapi saya bukan turis. Bukan orang yang ketika sampai di suatu tempat, ingin bersegera pindah ke tempat lain. Lagi pula Madrid sudah cukup mewakili kalau memang alasannya adalah kota Besar.
Andalusia hari ini adalah salah satu region di negara Spanyol. Di sana ada Cordoba, Malaga, Almeria dan lima provinsi lain. Tawaran ini disampaikan kepadaku, karena di Andalusia masih terdapat bangunan-bangunan klasik yang akan mengingatkan kita akan kebesaran Islam di masa lalu. Di sinilah letak rasa sesal saya. Betapa bodohnya saya pada waktu itu. Mungkin karena memang tak punya ghirah Islam. Dan tak punya banyak informasi tentang ini, maka tawaran ini tak saya pilih. Kota berikutnya adalah Vigo. Ini tempat orang tua sahabat yang saya kunjungi di Madrid. Dari Vigo nanti kita akan menyebrang ke Portugal . Tawaran menyebrang ke Portugal cukup menggiurkan. Itu artinya tambah negara. Begitulah isi otak kepala traveler cengceremen macam saya ini. Tidak mutu sama sekali. Dan akhirnya kota Vigo jadi pilihan.
Pasca Spanyol, saya melakukan perjalanan ke beberapa tempat lainnya di Asia Tenggara. Pekan berganti bulan berganti tahun. Hingga suatu hari, di sebuah kota eksotis bernama Chiang Mai, saya bertemu Islam. Pulang ke tanah lahir, saya belajar Islam. Pelan pelan. Sampai akhirnya saya menyadari betapa luar biasanya Islam. Memiliki catatan sejarah hingga belasan abad, dan salah satunya catatan sejarah itu bermukim di Spanyol. Andalusia.
Menangis saya bertahun-tahun sesudahnya. Kenapa saya tidak singgah ke Cordoba? Kenapa saya tidak melihat Alhambra? Kenapa? Begitulah. Rasa sesal mendalam itu ingin saya bayar. Membaca kisah-kisah tentangnya. Juga menuliskannya. Empat tahun setelah perjalanan itu, 2016 saya menerbitkan buku berbahasa Melayu berjudul SEPOK. Kembara di Negeri Spanyol. Andalusia. Sedikit saya cerita Islam di buku ini.
Tapi itu belum cukup. Hasrat untuk kembali ke sana. Semangat mempelajari kelok liku sejarah panjangnya, masih senantiasa tertanam dalam dada. Video ini adalah sedikit cuplikan dari rasa sesal itu. Semoga apa yang saya bagi, membuat saya merasa tak pernah jenuh untuk belajar lagi dan lagi. Jika ada yang salah, mohon saya dikoreksi.
Salam
23 April 2020

0 Comments:

Posting Komentar