Jumat, 12 Juli 2019

Teguh Wiyatno

oleh: Pay Jarot Sujarwo

Teman-teman kenal Seniman Kenamaan Teguh Wiyatno? Saya kenal. Baru kenal. Yang berkecimpung di dunia Seni Rupa Indonesia barangkali sudah tak asing dengan nama beliau. Sejak dulu lukisannya malang melintang di dunia seni rupa negeri ini bahkan juga di beberapa negeri luar.

Saya pribadi awalnya tak terlalu mengerti dengan dunia seni rupa. Meskipun bersentuhan dengan para rupawan sudah sejak lama. Dulu di sanggar teater kampus, 99, ketua sanggar saya anak seni rupa. Dia sering bawa teman-temannya main ke sanggar. Mereka sering bikin lukisan. Realis. Surealis. Abstrak. Posmo. Macam-macam. Saya hanya tau model-model lukisan itu, tapi untuk bisa meresap masuk ke dalamnya, duh mumet ndase. Paling beberapa lukisan Realis yang benar-benar bagus, lumayan bisa saya nikmati. Terpesona? Belum pernah. Hanya nikmat saja.

Waktu itu tak banyak saya kenal seniman seni rupa yang punya nama mentereng. Nama-nama legend memang sering disebut-sebut di sanggar, misal Afandi, Fransiscus Xaverius Basuki Abdullah, Raden Saleh. Tapi penyebutan nama-nama besar tersebut tak juga membuat saya nge-click dengan dunia seni rupa. Pernah saya misuh-misuh sendiri waktu mengetahui ada lukisan bergambar babi, yang garis dan warnanya njelehi menurut saya, malah laku 1 Miliar. Tidak masuk nalar saya. Edan. Dunia yang tidak menarik, batin saya waktu itu.

Tapi karena lingkungan saya juga tak lepas dari seni rupa, tetap saja saya mencoba agar bisa menikmati lebih dalam. Betapa tidak. Jelek-jelel gini saya pernah jadi anak teater. Ingat, teater itu tak sekadar akting, tapi mencakup seluruh genre seni. Naskahnya sastra, perlu ilustrasi musik, panggungnya memerlukan kepiawaian seni visual. Setting panggung tanpa keahlian seorang yang mengerti seni rupa, makan akan terlihat kering. Kerap bersinggungan dengan dunia senia rupa, apalagi di kampus saya kuliah ada prodi pendisikan seni rupa, membuat saya tak asing dengan dunia satu ini. Meski itu tadi, untuk menikmati perlu upaya keras.

Pernah saya bersinggungan dengan pelukis terkenal. Namanya Entang Wiharso. Waktu itu beliau mau pameran di Jakarta. Dalam rangka pembukaan pameran, beliau mengundang sanggar teater kami untuk performance. Entang membayar secara profesional 3 orang aktris terbaik kami di sanggar. Waktu itu meskipun saya tak terlibat sama sekali, tapi ikut merasa bangga, sebab ada anak sanggar yang diajak berproses bersama Entang. Saya pernah diajak main ke studionya di Jogjakarta. Sebelum berangkat saya diwejangi banyak hal oleh anak sanggar yang mengajak saya. Bahwa Entang ini seniman hebat. Lukisannya terkenal. Harganya mahal. Dijual dalam dan luar negeri. Pokoknya tuop markuotop. Maka kami berangkat. Teman saya begitu bungah. Bangga bisa kenal dengan pelukis sekelas Entang. Tapi saya? Duh lagi lagi saya gagal menjadi penikmat seni rupa. Saya tak terlalu paham dengan karya-karya pak Entang. Maafkan saya pak.

Waktu merambat. Dari jogja saya ke jakarta. Dari jakarta saya pulang Pontianak. Ketika di Pontianak saya berkenalan dengan seniman kiri Martin Siregar. Kalau kalian tak rela menyebutnya seniman, sebut saja dia aktivis. Konon kabarnya wiji tukul pernah sembunyi di rumahnya di pedalaman Kalbar. Persinggungan saya dengan Martin Siregar membuat saya dikenalkan dengan temannya yang juga pelukis terkenal, bernama Yayak Kencrit.

Di Jogja, saya pernah menyambangi rumahnya. Wow, mendengar cerita cerita yang dia suguhkan bikin saya kagum. Yayak kencrit menjadikan lukisan-lukisannya senjata menyerang pemerintah. Melukis untuk melawan. Orang ini pernah ditakuti pada masanya. Pun malang melintang di dalam dan luar negeri. Kiri. Ngeri. Konsep-konsep perlawanan yang ia tawarkan dalam lukisannya bikin semangat juang menyala. Rasanya ingin terus menyanyikan lagu Darah Juang. Tapi lagi-lagi saya gagal menikmati lukisan-lukisan Pak Yayak Kencrit. Saya tau karya-karya beliau penuh semangat perlawanan. Tapi maafkan atas buruknya taste saya dalam mengapresiasi seni rupa. Lukisan yayak kencrit gagal memikat hati saya.

Persentuhan saya dengan dunia seni rupa tak mengalami perkembangan. Di Pontianak saya kenal dengan pelukis Zul MS. Bahkan begitu akrab. Makan tidur di galerinya. Berproses bareng, saya bikin buku puisi, zul MS menghiasi dengan sketsa. Entah apa selera lukis Zul MS, tapi saya lebih mengenal beliau dengan sebutan travel painter. Orang ini melukis kemanapun kakinya melangkah. Telah menjelajahi tiap kelok liku Kalimantan Barat. Prosesnya menjadi traveler sekaligus pelukis, ini yang perlu acung jempol sebanyak-banyaknya. Pelukis kalbar satu ini akhirnya memutuskan menambatkan hatinya dengan perempuan Aceh. Menetap dan bikin galeri lukisan di sana. Hingga suatu hati ada kabar mengejutkan, Zul MS pameran di Slovakia. Kalau dengan Entang dan yayak kencrit saya tak terlalu terlibat urusan emosional, tapi dengan Zul MS kami sudah seperti saudara. Traveling bareng. Lapar bareng. Ngopi bareng. Darinya saya mengetahui bagaimana memperlakukan kopi dan air panas dengan benar. Ketika kabar pameran di slovakia saya dengar, rasa haru ini tak terbantahkan. Lalu apakah saya bisa menikmati lukisan-lukisan Zul MS, lagi-lagi saya harus berjuang keras. Hati saya tertambat di beberapa lukisan khususnya yang realis dengan objek anggrek Kalimantan, tapi untuk beberapa yang lain, berat betul rasanya untuk bisa klop dengan hati ini.

Sudah. Siapa lagi? Tak ada lagi pelukis yang bisa saya sebut. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Teguh Wiyatno. Sekali lagi, Teguh Wiyatno. Biar kalian ingat namanya. Syukur bisa juga kenalan langsung minimal dengan lukisan-lukisannya.

Jadi ceritanya, saya diundang untuk hadir dalam pertemuan para seniman Muslim di Klaten 2 tahun lalu. Di sana ada banyak sekali seniman. Seni Rupa, musik, video, fotografi, design grafis, seni sastra juga. Alhamdulilah, jelek jelek gini pernah saya bikin puisi dan cerpen sehingga beberapa orang sebut saya sastrawan.

Di tempat itu, kami rapat kerja. Menentukan AD ART, program kerja, juga goal goal yang akan kita raih. Komunitas ini punya misi mulia. Mengajak orang untuk bangkit, lewat seni. Kebangkitan yang diraih adalah kebangkitan hakiki. Perjuangannya serius. Artistik sekaligus punya daya gedor yang luar biasa. Jejaringnya tak hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia.

Saya bersalaman dengan Teguh Wiyatno. Kami bercanda bersama. Kami tukar cerita. Lalu sebentar saja menjadi begitu akrab. Barangkali karena kita sevisi.

Tak hanya berkenalan dengan orangnya, saya juga berkenalan dengan lukisan Teguh Wiyatno. Cat Air di Atas Kertas. Apa yang terjadi? Saya terpikat. Sungguh. Belasan tahun saya berkenalan dengan dunia seni rupa, baru kali ini saya merasa jatuh hati. Tangan Teguh Wiyatno mampu membuat garis dan warna yang penuh daya pikat. Ok, kita tak boleh bilang sempurna terhadap hasil karya manusia. Tapi subjektivitas saya mengatakan lukisan Teguh Wiyatno jaraknya begitu dekat dengan kesempurnaan.

Di sini akan saya lampirkan beberapa lukisannya. Kau lihat sendiri lah nanti. Lalu dia punya konsep, MasyaAllah. Konsep lukisan Teguh Wiyatno begitu visioner. Artistiknya dapat. Perlawanannya dapat. Kritiknya terhadap peradaban rusak bernama kapitalisme begitu bernas disajikannya lewat gambar. Orang ini punya daya imajinasi dan pola pikir yang begitu digdaya.

Akhirnya saya memutuskan untuk jatuh hati. Meski tetap saja saya tak bisa bercerita banyak tentang estetika seni rupa, tapi lukisan Teguh Wiyatno telah mampu membuat saya terkesima. Sungguh ingin sekali saya mengoleksi lukisannya, tapi apa daya, hanya sebatas keinginan saja sebab harga lukisannya begitu fantastis.

Tapi tahukah kau kawan, Teguh Wiyatno bisa dibilang nyaris tak punya koleksi lukisan yang ia buat. Seberapapun mahal harga lukisannya, selalu saja ada kolektor yang membelinya.

Kawan, Tentu saja Teguh Wiyatno melukis tak hanya agar karyanya laku dibeli orang. Tapi visi besar di balik itu yang harus kau cermati dengan baik. Pelukis ini punya mimpi tentang runtuhnya sebuah peradaban. Mimpi itu terpatri dalam keseriusannya memilih cara dan metode agar kelak bisa terwujud. Ya, Teguh Wiyatno punya ambisi besar menjadi bagian dalam meruntuhkan peradaban yang telah nyata-nyata merusak berbagai generasi. Peradaban itu sedang berlangsung sekarang. Peradaban itu sudah memperlihatkan kebobrokannya. Di berbagai sudut dunia, peradaban itu sudah memperlihatkan tanda-tanda kehancurannya.

Teguh Wiyatno tidak sendirian. Dia punya jutaan teman saudara di dunia ini yang punya visi serupa. Bersama-sama, mereka yakin dan pasti menjadi bagian dari keruntuhan peradaban ini. Kapitalisme. Selesai sebentar lagi.

2 komentar:

  1. Mengalir deras, tak terasa di akhir cerita... Tanpa sadar membawa banyak oleh-oleh

    BalasHapus