Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Felix The Traveler

oleh: Pay Jarot Sujarwo
Ada berapa traveler yang kau kenal, kemudian membuat dirimu terinspirasi?
Kalau kau sudah membaca bukuku, RUTE judulnya, kau akan menemukan di salah satu chapter dalam buku itu ada tiga traveler yang sempat mempengaruhiku. Ketiga traveler ini kukenal lewat tulisannya. Pengaruh yang dihasilkan tak sekadar "ingin jadi seperti" mereka, mengelilingi setiap lekuk tubuh dunia, tapi juga sampai kepada persoalan pemikiran.
Nama ketiga orang ini Sigit Susanto, Trinity, Agustinus Wibowo. Tak perlu kuceritakan berulang-ulang tentang siapa mereka. Kau beli saja buku RUTE, atau kalau uangmu kurang, bisa juga kau ketik nama masing-masing mereka di google.
Di dunia traveling modern sekarang ini hampir pasti kita tak bisa lari dari panutan. Hari ini banyak orang berlomba-lomba ingin jadi traveler sebab mereka menyaksikan para traveler sebelumnya.
Peristiwa itu juga terjadi padaku. Waktu itu kejadiannya di Bali. 2008, kalau tak salah. Aku bertemu orang-orang dari Perancis juga Kanada. Bertahun-tahun hidup mereka hanya berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Untuk bertahan hidup, ada yang menjadi Volunteer di Lembaga Swadaya, ada yang bekerja profesional sebagai expatriat, ada yang bisnis, ambil barang di Asia dengan harga murah, jual di Eropa dengan harga mahal.
Waktu itu setelah bertemu dengan manusia model begini, aku langsung bilang mereka keren. Tak ada aku pikir lama-lama untuk ambil ini kesimpulan. Keren mereka bisa keliling dunia. Ingin tiru. Berbanding lurus juga ingin tiru perangkat-perangkat yang membersamainya. Ingin pakek baju seperti yang mereka pakai. Ingin makan dan minum seperti mereka. Bisa cakap-cakap Inggris sambil kritik kritik Amerika. Kayaknya paling keren sedunia. Iya, serius, kalau kita kumpul sama para traveler mancanegara speak speak sambil ketawa-ketawa, lalu kritik Amerika, itu kayaknya tak ada yang lebih keren dibanding kita. Tak percaya? Kau coba sendirilah sana.
Lalu mimpi sandang gelar sebagai traveler kejadian. Aku pergi ke Eropa. Jangan kau pikir kepergianku ikut paket tour. Mana punya aku uang sebanyak itu. Lagi pula di di zaman itu, para pejalan mode paket tour tak bisa digolongkan sebagai traveler. Meski aku tau, mas Sigit Susanto akan protes. Betapa tidak, berpuluh belas tahun orang ini jadi tour guide. Terus menikah dengan perempuan Switzerland. Berpuluh belas tahun juga tinggal di Swiss, setiap tahunnya hampir pasti keliling dunia. Lebih sudah 40 negara dikunjunginya. Dan itu sebagian besar via paket tour.
Tapi mas Sigit ini istimewa. Dia punya skill tingkat dewa untuk meramu peristiwa dalam perjalanannya menjadi catatan yang penuh nilai. Dia khatam belajar sosialisme. Filsafat sastra di kuasainya. Menggemari Franz Kafka sampai belabela ziarah ke makamnya. Lalu jadilah buku Menelusuri Lorong-lorong dunia hingga tiga jilid. Traveling bawa buku sastra cerita politik. Wih keren sekali. Bukan, dia bukan traveler manja seperti yang barangkali kau tuduh orang-orang yang keliling dunia lewat paket tour.
Tiga bulan aku hidup di Eropa. Pas balik ke Indonesia Raya aku sudah punya tiket balik lagi ke Eropa tiga bulan lagi. Ini fase dimana aku merasa mentereng. Bisa nyicipi anggur yang umurnya ratusan tahun, atau dibuat di pembuatan anggur abad pertengahan. Bisa nonton film Amerika tak pakai teks sambil makin sering kritik Amerika. Keren kan? Tahap setelah ini mulai kenal dengan para traveler yang sekaligus influencer.
Di tanah air ada manusia bernama Elok Dyah Messwati. Wartawan senior Kompas. Founder komunitas online Backpacker Dunia. Wuih, kalau kau bagian dari komunitas ini di era 2010/2011, aku bisa menduga bahwa kau juga merasa keren. Di komunitas ini pada masa itu nama Agustinus Wibowo sering disebut. Mba Elok ini menginisiasi gathering Backpacker Dunia dan pada saat itu terjadi, pada saat para traveler Indonesia yang pada keliling dunia bertemu, kau bayangkan sendirilah seperti apa hebohnya. Tak tau lagi aku bagaimana kabar mereka sekarang ini. Udah mulai tidak update beberapa tahun belakangan. Tapi nama Elok Dyah sudah terlanjur jadi ikon berikutnya yang menginspirasi.
Sudah cukup daftar traveler inspiratif yang begitu berpengaruh dalam hidupku? Belum, kawan. Kau sabarlah dulu. Jangan buru-buru ingin sampai penghujung cerita.
Setelah bertemu dengan pengembara Eropa di Bali, berteman dengan aktivis NGO di Pontianak, nongkrong dengan komunitas kreatif yang juga kreatif dalam meramu perjalanan, membaca buku Sigit Susanto, Trinity, Agustinus Wibowo, berkenalan dengan Elok Dyah and the gank di Backpacker Dunia, terbang begitu jauh hingga Bulgaria, pertemuan-pertemuan inspiratif dengan para traveler baru terus berlangsung.
Semakin ke sini tentu saja teknologi semakin canggih. Dulu andalannya buku tebal berjudul Lonely Planet lalu berubah ke koneksi internet, lanjut lagi ke telepon pintar yang jadi senjata. Menggenggam dunia. Saatnya keliling dunia.
Berbagai macam bentuk rupa traveler dalam waktu yang begitu singkat. Couchsurfing hadir. Nanti datang orang dari berbagai belahan negeri gara-gara portal satu ini. Modusnya tukar budaya, faktanya adalah propaganda hedonisme. Dan aku, menjadi bagian di dalamnya. Di Phnom Penh, kawasan backpacker dekat Museum Nasional, “tukar budaya” dengan orang-orang dari Belgia, Rusia, Jawa, Sumatra, Perancis dan lain-lain. Nanti bertemu orang Israel dalam bis tidur menuju Siem Reap. Di salah satu kawasan miskin Asia Tenggara ini kau akan bertemu betapa banyaknya foreigner yang tergabung dalam kerja sosial. Membantu edukasi anak-anak kamboja. Advokasi perempuan. Mendampingi kaum miskin kota. Dan macam-macam lagi istilahnya. Nanti terjadi “tukar budaya” di kawasan PubStreet. Begitu juga di Vietnam. Begitu juga di ChiangMai. Merasa semakin keren? Dulu, itu yang kurasakan. Para pejalan ini telah jadi inspirasi besar bagiku. Hingga sampai pada satu titik aku menganggap bahwa hedonisme yang diakibatkan oleh diberlakukannya liberalisme adalah sebuah pandangan hidup yang keren. Siapa lagi agennya kalau bukan para traveler ini. Ampuni aku ya Allah.
Kawan, kalau kau pelajari tabiat para traveler dari seluruh penjuru dunia pada zaman modern ini, selain perkara agen hedonisme baik langsung maupun tidak langsung nanti semua analisa, data, perkiraan, yang kau lakukan akan mengerucut pada satu kata, “freedom”.
Ini semua demi kebebasan. Kau bisa kroscek lagi. Kau pelajari betul. Nanti kau akan ketemu lagi pada kesimpulan yang sama. Orang-orang ini, para traveler tangguh ini, keliling dunia ingin mencari freedom. Barangkali kau juga. Betul tidak, kawan? Betul tidak? Kalau aku, betul. Aku cari freedom. Kata orang-orang Barat, freedom itu bisa kita dapatkan kalau kita jauh dari rumah.
Sampai di sini kau mulai muak dengar ceritaku, kawan? Sialan. Jauh-jauh pergi ke sana ke mari, seolah-olah menjadi traveler keren, mencari makna hidup, mengejar-kejar kebebasan, ternyata salah arah.
Dimulai dari percakapan sore hari di Thailand Utara dengan seorang traveler dari Dominika berkebangsaan Amerika. Dia pesan bir cap gajah, aku juga. Cerita sesama traveler pun dimulai. Asal dari mana, sudah kemana saja, how is your trip, are you happy, habis duit berapa, kalau mau ke sana naik apa, di tempat itu banyak penipu coa coa coa, coa coa coa, agama Islam itu agama kekerasan.
What? Tiba-tiba muncul saja kalimat itu. Dari mulutnya tentu saja. Aku tak terima. Agamaku Islam. Minimal begitu yang tertulis di KTP.
Hey, kau dengar dulu ceritaku ini. Kawan, jangan kau tutup kuping dan alihkan pandangan. Bukan, aku bukan mau ceramah dengan bawa-bawa Islam. Kenapa malas betul kau dengar? Hey, kau punya punya muka itu, arahkan ke sini. Kita cerita sebentar.
Betul, aku terkejut saat tiba-tiba orang Dominika itu singgung-singgung Islam. Tengik betul mulutnya. Serangannya berlanjut. Islam tidak pro perempuan. Islam ajarkan membunuh. Muhammad itu pedofil. Sampai kalimat ini aku muntab. Tapi dia tak berhenti. Lanjutnya, aku baca bukumu itu, Qur’an. Semua itu ku ketahui dari quran yang kubaca. Apa kau sudah baca Quranmu? Buku agamamu? Sampai kalimat ini aku tercengang. Kapan terakhir aku baca qur’an.
Kawan, ini cerita betulan. Sekarang pertanyaan orang Dominika itu yang ditujukan kepadaku, ku tujukan balik kepadamu. Kau jawab ya. Kapan terakhir kau baca Qur’an? Ngerti kau apa yang diceritakan qur’an?
Sialan. Dari Thailand, aku pulang membawa dendam. Orang Dominika itu telah menyakiti hatiku. Meski pada akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa, sebab aku memang tak tau sama sekali tentang agamaku. Lalu buat apa pergi traveling jauh-jauh sampai ujung dunia? Tuhan saja tak kau kenal. Guide booknya tak kau baca.
Di rumah, aku mulai ubah persepsiku tentang perjalanan. Benarkah aku mencari freedom? Kalau ya, benarkah arah yang kutempuh? Aku ketemu catatan Ibn Batuttah. Rihlah. Aku baca sedikit. Review tentang Batutta juga kubaca. Mengagumkan. Boleh kau sebut dia Bapak Travel Writing. Ibn Batuta juga cari kebebasan. Tapi dia tak minum bir cap gajah.
Pada fase ini, aku mulai suka membaca sejarah. Dulu aku pernah ke Spanyol. Dari bacaan yang kutemukan, ternyata di tempat itu pernah jadi peradaban yang terang benderang. Dulu aku pernah ke Belanda. Ketemu aku dengan anak-anak muda, mengaku sebagai mahasiswa sejarah di Rotterdam. Bercerita sedikit kepadaku bahwa ada banyak sekali penghapusan fakta pada periode kolonialisasi di Indonesia. Dulu aku ke Bulgaria. Bau bekas komunisme masih tercium meski sekarang orang-orangnya sudah di jajah neo imperialisme.
Kejadiannya, 2015. Sejak 2008 aku punya mimpi jadi traveler, sebab orang-orang dan bacaan yang kutemui. Sebab freedom yang kucari. Tujuh tahun berselang, tetap aku ingin jadi traveler. Kuubah orang-orang yang kutemui. Kutambah bacaan. Persepsiku tentang freedom berubah. Ya, tetap aku cari makna kebebasan. Tapi kali ini kebebasan hakiki. Dan itu tak kan kau temukan di lorong sempit Legian dengan suara musik jedug-jedug. Tak ada juga di cafe-cafe jalan Prawirotaman yang dengan bangga mempersembahkan bir bintang bagi bule-bule miskin jarang mandi. Di tepian sungai Mekong, di gelap malam pojokan Mae Chan, di sudut dunia mana pun, jika persepsi dalam kepalamu tentang kebebasan belum diubah, maka kau akan tetap tersesat. Freedom yang orang-orang barat agung-agungkan selama ini adalah unlimited freedom. Apa-apa terserah. Parahnya kita dengan senang hati mengikutinya.
Kawan, kukenalkan kau dengan seorang traveler yang barangkali bisa memperkenalkanmu dengan freedom yang hakiki. Namanya Felix Siauw. Orang Cina, punya paspor Indonesia. Iya bener, Felix Siauw yang da’i itu. Oke kita ralat. Namanya Ustadz Felix Siauw. Jangan kaget kawan. Orang ini juga traveler handal. Tak cuma ceramah-ceramahnya yang memikat, tapi jejak langkah dari tiap perjalanan yang dilakukan tak jarang bikin kita deg deg ser. “Ingin sepertinya” bisa menapaki tiap kelok liku dunia, muncul kembali.
Kebebasan yang hakiki itu bisa kita dapat justru ketika terikat dengan aturan. Kau sudah tau kan dengan ustadz Felix Siauw? Pernah kau dengar ceramah-ceramahnya? Hah? Tak pernah? Oke tak apa. Pernah kau dengar cerita kalau orang ini baru peluk Islam waktu usianya sudah 18 tahun, bukan dari bayi. Pernah dengar? Oke bagus. Tak apa, meskipun kau cuma dengar dari orang.
Kuceritakan kepadamu, semoga tak salah ceritaku ini. kalaupun ada salahnya, semoga tak terlalu melenceng jauh. Dulu, ustadz Felix itu sama sepertimu. Pengagum sekulerisme. Apa-apa tak boleh dikaitkan dengan Tuhan. Ada ruangnya masing-masing. Ruang tuhan sendiri. Ruang apa-apa sendiri. Bahkan beliau lebih parah. Kalau di KTP mu bertuliskan Islam, kau mengakuinya, meski tak menjalankannya, Ustadz Felix itu di KTP nya bertuliskan Kristen, namun setelah melalui berbagai pertanyaan dan perenungan dia memutuskan tidak mengakui kekristenannya. Ia lebih senang menjadi agnostic.
Sampai nanti dia bertemu dengan kawan, mereka diskusi panjang, lalu diakhir diskusinya itu akalnya juga batinnya terpuaskan. Berbagai macam pertanyaan terjawab. Misal, dari mana kita berasal, kemana kita setelah mati, untuk apa kita hidup? Untuk apa kita hidup? Cari bahagia? Cari freedom?
Hey hey hey, jangan pergi dulu. Janganlah kau risau begitu. Sebentar lagi cerita ini selesai. Oke oke . soal jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, kalau kau risau sekarang, kita cari jawabannya nanti saja. Pending. Sekarang kita kembali ke Laptop. Cerita traveler.
Nah setelah beliau mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ustadz Felix memutuskan memeluk Islam. Lalu tak alang kepalang, dia pelajari Islam dari A to Z. Dari Akar sampai Daun. di antara banyak pelajarannya itu, ada cerita sejarah perkembangan Islam selama 14 abad. Puncak keemasannya hingga masa keruntuhannya.
Kawan, percayalah, kalau kau mau terbuka sedikit saja, lalu kau pelajari fakta sejarah dunia ini, kau akan dibuat berdecak kagum. Sejak Adam diciptakan, maka sejak itulah traveler lahir. Kau tau berapa jarak yang ditempuh Adam? Generasi berikutnya pun begitu. Mereka menempuh perjalanan jauh. Mencari. Singgah sebentar. Pergi lagi. Ada yang ketemu apa yang mereka cari. Ada yang tak ketemu. Ada yang bisa kembali pulang. Ada yang mati di perjalanan.
Sejak dulu, betapa orang-orang sudah menjadi pejalan tangguh. Ada yang merasa perlu melakukan pembantaian dari setiap orang yang ditemuinya di jalan. Ada yang menebar cinta dan mengajarkan kebebasan hakiki saat melakukan traveling. Orang-orang mengarungi tiap kelok lekuk dunia. nanti pada masanya, mereka kemudian menghasilakan peradaban. Kawan, peradaban besar itu dilahirkan oleh para pejalan, juga dibantu dengan sistem kekuasaan.
Lahirlah Roma yang ketenarannya rasa-rasanya tak ada manusia di dunia ini yang belum pernah dengar. Kalau pun ada, jumlahnya paling hanya sedikit. Betapa peradaban Roma begitu mentereng. Terbentang dari Barat ke Timur. Saingan Roma, bernama Persia. Ini juga peradaban yang mentereng. Orang-orangnya juga traveler tangguh. Menjelajahi barat ke timur. Nanti menyusul, di abad ke-7 lahir lagi peradaban baru. Bernama Islam. Tak kalah mentereng. Membentang dari barat ke timur, utara ke selatan. Meliputi 2/3 bumi. Berjaya selama kurang lebih 1300 tahun. Orang-orangnya juga traveler tangguh.
Terus apa hubungannya dengan ustadz Felix? Kusarankan kau untuk mengenalnya lebih dalam, kawan. Dia punya video berserakan di youtube. Orang ini telah menjejaki entah berapa negara. Bahkan dideportasi dari Amerika pun pernah. Pengalamannya traveling tak terbantahkan. Dan di antara banyak tempat yang ia tapaki, ada satu wilayah yang begitu spesial. Namanya Istanbul.
Kau mau aku sudahi cerita ini, lalu selanjutnya kau cari tahu sendiri tentang traveler tangguh bernama Felix Siauw ini?
Kemarin dia unggah 3 part video di Youtube bertajuk Istanbul Winter 2019. Kau tonton detik demi detik. Lalu kau perhatikan bagaimana otak kepalanya bekerja. Bagaimana dia mampu mencerna sejarah panjang peradaban gemilang. Kau akan terkesima, kawan. Maaf, kalau aku punya kesimpulan sepihak. Tapi serius, kalaupun itu tak membuatmu terkesima sebab kau telah membentengi diri dengan pikiran negatif dari awal, saranku kita ngopi. Kita mulai lagi cerita dari awal tentang dari mana kita berasal, kemana kita setelah ini, untuk apa kita hidup.
Tak sempat malam ini, besok pun tak apa.
Salam

Posting Komentar untuk "Felix The Traveler"