Corong-corong Toa - Catatan Bang Pay

Corong-corong Toa

Awalnya Nguyen memang sempat bilang bahwa akan mengajak temannya untuk mengantar saya ke Provinsi An Giang. Tapi saya tak menduga kalau temannya itu ternyata banyak sekali. Kalau saya tidak salah ada lima atau enam sepeda motor. Berarti ada 11 orang atau 12 orang dengan saya. “Sebenarnya kalian ini mau ke mana?” tanya saya. “Kami mau camping,” Nguyen mengaku selain mengantar saya, ia dan teman-temannya akan menginap di daerah lain (saya lupa nama tempatnya). Di dekat tempat itu sedang ada upacara perayaan agama Budha. Orang-orang ramai ke sana. Jadi akan ada dua peristiwa yang berkaitan dengan reliji yang akan ditemui Nguyen dan teman-temannya. Pertama mereka akan mendatangi perkampungan Islam bersama saya. Kedua kawasan kuil Budha. Ada juga statemen dari temannya Nguyen yang mengatakan, bahwa symbol-simbol agama cukup bagus untuk dijadikan tempat wisata. Statemen ini membuat saya teringat dengan beberapa gereja tua di Eropa. Orang-orang modern datang ke tempat itu bukan untuk melakukan ritual ibadah, melainkan berwisata. Mereka mengagumi kemegahan bagunannya, mengagumi arsitek perancangnya. Sayang, mereka tak sampai pada level mengagumi creator para arsitek bangunan itu. Allah. Sekitar pukul 5 pagi saya minta izin untuk sholat. Lokasinya di trotoar jalan raya. Ini pengalaman pertama bagi saya. Sholat di pinggir jalan sambil ditonton oleh belasan orang atheist. Nguyen terlibat percakapan dengan teman-temannya. Saya tak tau apa yang dibicarakan. Perjalanan dimulai. Tak membutuhkan waktu lama kami sudah meninggalkan kota. Di timur, cahaya jingga menyemburat. Saya menikmati cahaya jingga itu. Sejak mengenal Islam lebih dalam, pada setiap perjalanan, selalu saya niatkan, semakin jauh jarak safar semoga semakin mendekatkan diri ini kepada pencipta. Cahaya jingga di timur cakrawala itu lumayan membuat tengkuk saya bergidik. Saya akan datang ke sebuah daerah, dalam naungan kekuasaan komunis, yang masyarakatnya beragama Islam. seperti apakah? Dalam perjalanan, tak terjadi banyak percakapan. Hari mulai terang. Distrik 7 Ho Chi Minh City mulai kami tinggalkan. Mulai masuk ke jalan raya sepi penduduk. Kalau soal kiri kanan jalan, tak perlu rasanya saya cerita detil. Banyak perkampungan di Indonesia yang suasanya serupa. Suhunya lumayan panas. Rerumputan luas. Ada sapi dalam jumlah kecil. Gugusan pohon pisang juga mewarnai perjalanan. Saya menjumpai hal yang tidak biasa. Kerap saya jumpai toa yang tersangkut di tiang listrik. Terdengar suara. Anak kecil yang bernyayi. Suaranya seperti radio di Indonesia tahun 80an, atau bahkan lebih lama. Semula tak saya hiraukan. Tapi beberapa saat kemudian saya jumpa lagi toa, saya dengar lagi suara. Seperti suara pembaca berita radio. Nanti berjalan lagi. Mendengar lagi hal serupa. Setelah dua jam lebih perjalanan, kami istirahat. Ada kedai kopi pinggir jalan. Disediakan juga beberapa hammock yang boleh digunakan pengunjung. Kedai kopinya kecil. Dari kayu-kayu sederhana. Ada wifi. Kopi disuguhkan. Real Vietnam Drip. Nanti saya mau cerita sedikit tentang kopi ini. Tapi saya tak sabar mau menanyakan perkara suara-suara dari corong Toa yang tergantung di tiang listrik. “Apa itu?” “Itu pengumuman dari negara,” jawab Nguyen. Dia bercerita bahwa setiap hari negara menyampaikan pengumuman lewat toa tersebut. Tersebar di seantero negeri. Pengumuman itu seputar ideologi komunis yang mereka anut. Tentang rakyat yang harus setia kepada negara. “Ini seperti doktrin?” “If you say so,” jawab Nguyen. Lagu yang dinyanyikan anak-anak, pun berisi tentang cinta negara. Biasanya pengumuman seperti ini terdengar dua kali sehari. Pagi dan sore. Dan ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Luar biasa, batin saya. Tahun 70an Vietnam adalah serakan puing akibat dua perang besar yang terjadi sebelumnya. Kondisi kota muram. Tak ada listrik. Gulita. Tak ada mobil di jalan raya. Di bawah kuasa Partai Komunis, warga diminta bekerja di persawahan secara kolektif dan dilarang memiliki tanah pribadi. Tidak ada bisnis swasta. Pay Jarot Channel Embargo dari negara-negara liberal terjadi. Inflasi melonjak hingga 700 persen. 1986 reformasi Doi Moi terjadi. IMF otak di belakangnya. Namanya masih “ekonomi pasar berorientasi sosialis”, tapi praktiknya kapitalis yang setir. Vietnam menjadi negara terbuka. Tak lagi terisolir. Tapi negara tak rela jika kapitalisme harus mencengkram seluruh aset yang ada di Vietnam. Aset pikiran masih bisa dikendalikan. Terserahlah ekonomi rakyat berubah jadi kapitalis. Tapi pemikiran manusianya harus tetap taat terhadap komunis. Maka, corong-corong tua menjalankan fungsinya. Menjadi alat negara yang efektif dan berguna. Salam Pay Jarot Sujarwo ig: @payjarotsujarwo fb. Pay Jarot Sujarwo (full) dan Bang Pay Jarot Sujarwo (available) Sila join di channel telegram t.me/payjarot
Pay Jarot Sujarwo
Pay Jarot Sujarwo for some reasons, ever since I was little I always like running away from home