Kamis, 28 November 2019

Pulang Halaqoh Masih Pagi



Puisi oleh: Pay Jarot Sujarwo
Inspired by: water colour painting of Deni Junaedi

Di luar, langit sudah biru
Awan putih tipis tipis mengarak rindu
Pekan depan kita akan kembali bertemu
Mengeja aksara meraba fakta mematri waktu
Dengan siasat jitu

Suasananya terkadang syahdu
Tak jarang menggebu

Sepulang Halaqoh,
Rerupa warna luruh dalam genang air.
Menjelma rumah jawa, jalan gang, juga pepohonan.
Barangkali juga ada selokan, kelokan,
ketemu belokan, berakhir dengan kuburan.
Tapi pagi ini jabat tangan musyrif seperti titip pesan,
Bahwa perkampungan yang kita gambar,
bisa jadi noktah berharga meraih kebangkitan.

Di kampung itu kita halaqoh.
Di kampung itu kita setia dengan fikroh dan thoriqoh.

Sepulang halaqoh, pagi bercerita tentang harapan tanpa umpama
Dahsyat dan berharga!

Pontianak, November 2019

Selasa, 26 November 2019

Nasionalisme (Part 2)

Perjanjian Westphalia telah mengakhiri perang tiga puluh tahun antara Katolik dan Protestan di Jerman. Setelah perjanjian ini juga warna politik di Eropa berubah. Kekuatan Kaisar Romawi Suci Hancur. Belanda merdeka dari Spanyol. Perancis muncul sebagai kekuatan baru. Jerman menentukan wilayahnya sendiri. Swedia menguasai baltic. Konsep nation-state berkembang. Pemisahan agama dari kehidupan adalah asasnya. Kita kenal dengan nama sekulerisme. 1648 kejadiannya.

Jika kita jeli, sekularisme sebenarnya hadir bukan dari proses berpikir, melainkan hasil kompromi. Sekulerisme diambil sebagai jalan tengah dari dua pemikiran kontradiktif.

Pemikiran pertama berasal dari tokoh-tokoh gereja semenjak abad pertengahan (abad ke5 sampai 15) yang mengatakan bahwa seluruh urusan kehidupan harus tunduk dengan aturan agama yang otoritasnya ada di tangan gereja.

Pemikiran kedua berasal dari para filsuf di akhir abad pertengahan yang menolak keberadaan pencipta. Tuhan itu tidak ada. Jadi kenapa harus ikut aturan Tuhan?

Dua pemikiran ini begitu kontradiktif dan menimbulkan gejolak baru. Maka orang-orang berkompromi dan mengambil jalan tengah. Gereja mengurusi agama saja. Negara mengurusi kehidupan.

Negara-bangsa yang muncul pada waktu itu, dengan bangga mengusung sekulerisme sebagai asasnya dalam rangka menatap kehidupan yang lebih baik.

Dominasi gereja melemah. Ilmu pengetahuan semakin memuncak. Isaac Newton hadir dengan bukunya Principia. Dia merupakan ilmuwan paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di abad pencerahan.

Selain Newton, ada pula John Locke yang menerbitkan buku Two Treatises of Government, yang menyajikan ide dasar yang menekankan arti penting konstitusi demokrasi liberal.

Menurut Locke, ide hak suci raja harus ditolak. Pemerintah harus menjalankan pemerintahan berdasarkan persetujuan yang diperintah. Maka lahirlah hak-hak asasi individu manusia serta bagaimana negara melindungi hak-hak individu tersebut.

Pemikiran John Locke ini kemudian mendorong orang-orang untuk bertindak bebas, karena ini dilindungi oleh negara. Tidak ada lagi urusannya dengan agama. Selanjutnya, seperti yang sudah kita pelajari bersama, gagasan ini melahirkan revolusi monumental di dunia yang kita kenal dengan nama Revolusi Perancis.

Sekarang, mari kita runut ulang, agar tidak lupa.

Eropa berada di Era yang begitu gelap selama kurang lebih 10 abad. Perang berkepanjangan. Bodoh. Miskin. Terbelakang. Amoral.

1648, ditandatangani perjanjian Westphalia. Nasionalisme hadir dan menyebar ke Eropa.

Dalam rangka mewujudkan nasionalisme ini mereka perlu asas. Perlu pondasi. Perlu akidah. Dipilihlah akidah moderat, jalan tengah, bernama sekulerisme.

Setelah itu ilmu pengerahuan berkembang. Issac Newton memunculkan berbagai macam teori pengetahuan, John Locke menginspirasi orang berbuat bebas (liberal) yang hak-haknya dilindungi negara.

Revolusi perancis terjadi, Eropa lahir kembali. Renaissance. Dan ini harus disebarkan ke seluruh dunia. Nasionalisme dianggap konsep paling ideal demi kemajuan. Agama tak boleh atur kehidupan.

Ditetapkanlah konsep ideal itu hingga hari ini.

Tapi benarkah ini konsep yang benar-benar ideal?

Minggu, 10 November 2019

Nasionalisme (Part 1)

Dahulu, di masa gelap, di Eropa, orang-orang tak berhenti berperang. Alasannya bisa macam-macam; agama, suku, bisnis, geografi, dan lainnya.

Kejadian ini berlangsung terus menerus. Yang cukup terkenal adalah perang 30 tahun (1618 - 1648).

Kasat mata, ini terlihat seperti konflik antara Katolik dan Protestant. Padahal kepentingan antar dinasti (yang saat ini berlokasi di negara Jerman) cukup kuat. Para pemilik tanah juga terlibat. Selanjutnya, bunuh membunuh antar rakyat.
  
Peristiwa lain, perang 80 tahun antara Spanyol dan Belanda (1568 - 1648). What? 80 tahun mereka berperang? Mulai dari saling menghina antar suku hingga saling bunuh.

Begitulah Eropa, benua gelap yang diakibatkan oleh perang, menjadi terang pun dengan perang.

1648, pihak-pihak penting sepakat untuk menandatangani perjanjian damai. Berlokasi Osnabrück dan Münster, Westfalen (sekarang di Jerman).

Melibatkan Kaisar Romawi Suci, Ferdinand III, dari Wangsa Habsburg, Kerajaan Spanyol, Kerajaan Prancis, Kekaisaran Swedia, Republik Belanda, Pangeran Kekaisaran Romawi Suci, dan perwakilan berdaulat dari kota imperium bebas.

Selanjutnya perjanjian damai ini dikenal dengan nama Perjanjian Westfalen (Westphalia). Kerajaan Spanyol berdamai dengan Belanda. Sekaligus mengakui eksistensi Republik Belanda. Di sini juga ditandatangani dengan perdamaian antara Kaisar Romawi Suci dan Perancis juga sekutu-sekutunya. Swedia juga sekutu-sekutunya begitu pula.

Kata sejarawan, Westphalia menjadi penanda perubahan sistem politik Eropa. Dari sistem kerajaan yang berkoalisi dengan gereja, berganti menjadi konsep negara berdaulat. Rakyat ikut campur menentukan pemimpinnya. Gereja tak boleh ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sekuler asasnya. Demokrasi sistemnya. Dari sini kemudian kita mengenal negara berdaulat. Nasionalisme.

Nasionalisme hadir dan menyebar begitu cepat di Eropa. Apakab masalah beres? Apakah perang berakhir? Tidak. Selanjutnya kita akan mengenal kekejaman demi kekejaman dalam rangka pencaplokan wilayah kekuasaan baru. Kolonialisme berlangsung. Ratusan tahun umurnya. Nasionalisme dipaksakan hingga ke seluruh penjuru dunia.

(bersambung)

Selasa, 05 November 2019

Cerita Kopi

Kopi adalah sesuatu yang luar biasa. Bisa memberikan kebaikan di dua sisi. Pantang Alkohol di Inggris dan Peradaban di mana-mana.
---
Ini adalah percakapan imajiner antara pengusaha kopi dan penyair yang ia rekrut untuk menjadi marketing dari usaha yang ia jalankan. Pinker dan Wallis.

Percakapan itu terjadi di London dengan setting waktu di tahun 1896. Di bagian-bagian awal, si pencipta karakter Pinker dan Wallis akan cukup membuat pembaca terksesima untuk melanjutkan kecintaannya pada kopi.

Saya ingin masuk ke latar waktu dari adegan itu.

Ini adalah masa dimana Alfonso de Albuquerque sukses mempromosikan rempah ke sisi barat dunia, sehingga mereka berebut datang ke wilayah timur. Untuk rempah, pada mulanya. Belanda berhasil. Cerita sebelumnya, Belanda tahu betul, bahwa kopi juga sesuatu yang tak boleh ditinggalkan. Dari Al-Mukha, kopi dibawa, dipaksakan ditanam di Jawa. Pada akhirnya menjadi pundi-pundi harta tak ternilai. Aromanya menyebar di atas meja, dihirup para pejuang Renaissance Eropa. Berkelas terlebih bagi mereka yang pantang Alkohol.

Memang, saya tak menemukan data berapa jumlah pecandu alkohol di Inggris yang kemudian berpindah ke kopi. Tapi berbagai literatur telah kita baca, bahwa kopi ikut membersamai bangun jatuhnya peradaban di mana-mana. Mulai dari teman para pemburu ilmu yang mencintai penciptanya di malam hari, agar kuat terjaga, agar banyak karya tertulis, agar banyak zikir terucap, agar dekat dengan pencipta, hingga menjadi alasan kolonialisasi berbagai macam negeri.

Anthony Cappella berhasil mengaduk-aduk perasaan pembaca untuk lebih larut menyelami kopi. Tapi perlu digarisbawahi, dia adalah penulis yang otaknya berkembang karena Renaissance. Pemuja sekulerisme. Pengakuannya terhadap kemajuan besar di segala bidang yang menghasilkan peradaban mulia bernama Islam, tak membuatnya menjadi pengembannya.

Tentu saja pembaca perlu untuk senantiasa kritis, agar tidak mudah larut dalam diksi berbahaya yang berkumpul dalam 680 halaman bookpapaer 65 mg yang kemudian kita menyebutnya dengan nama Novel.

Ngopi dimana kita pagi ini?