Kamis, 03 September 2020

Interaksi dengan orang sefrekuensi

 The Journey of Being a Writer (7)


Pasca terbitnya karya pertama di media cetak, tentu saja beriring sejalan dengan produktivitas. Intensitas menulis semakin besar. Pak Bhe, salah seorang senior di sanggar bilang kepada kami-kami ini, sudah saatnya kalian belajar komputer. Bisa pinjam komputer anak BEM. Bisa juga belajar sendiri di rental komputer depan kampus. 

Ternyata untuk menjadi penulis di koran harus punya modal. Modal sewa rental komputer, modal ngeprint, modal transport ke kantor pos dan juga prangko. Tapi soal semangat, jangan coba diremehkan. 

Untuk menjaga intelektualitas, kami habiskan waktu dengan membaca dan berdiskusi. Jika bahan bacaan di sanggar sudah habis, kami ke perpustakaan kampus. Pinjam buku jarang kembali. Jika kehabisan teman diskusi di sanggar, kami mengembara, keliling kampus untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sefrekuensi. Kerap kami kolaborasi. Pentas bareng, konflik bareng, ketawa bareng, berkarya bareng. 

Saya tidak mengikuti perkembangan para penulis baru era kekinian. Apakah mereka sibuk masyuk dalam berbagai komunitas, atau khusuk menyendiri dalam berkarya. Ya dua duanya boleh-boleh saja. Terserah saja. Yang terpenting ada karya yang dihasilkan. 

Kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu cara yang saya pilih. Di mana dengan cara ini kreativitas dapat berlangsung secara terus menerus. Gesekan dengan orang-orang sevisi. Ini penting. Interaksi yang terjadi akan begitu mudah merangsang lahirnya ide. 

Mari kita sebutkan salah satu contoh. Tamansari Jogjakarta. Para turis yang mengunjungi tamansari, dalam kepalanya, akan menikmati keindahan tempat itu untuk diceritakan nantinya menjadi bahan cerita ke sanak kerabat, bahwa pernah ke sana. Kalau turis itu kaya kaya, besar kemungkinan mereka punya tustel. Nanti akan jepret-jepret di tempat itu, lalu klisenya dicuci, fotonya dicetak, masuk dalam album kenangan, dipajang di ruang tamu rumah agar bisa dilihat juga oleh para tamu yang berkunjung ke rumah. 

Penulis atau minimal orang-orang yang baru belajar menulis seperti saya tentu saja datang dengan mindset yang berbeda. Menikmati keindahan tamansari, ya tentu saja. Tapi tak sekadar itu. Saya juga tak punya tustel untuk mengabadikan keindahannya, maka kemudian saya menggunakan indera yang nantinya akan dicampur dengan imajinasi. Maka jadilah puisi. Maka jadilah cerpen. Perjalanan akan berlanjut ke pasar Ngasem, menikmati suasana, mengamati suasana, maka jadilah puisi, maka jadilah cerpen. Begitu seterusnya. 

Tapi sesederhana itu kah? Tentu saja tidak. Ada informasi lain yang kita butuhkan untuk membuat puisi atau cerpen kita lebih berisi. Untuk itulah interaksi diperlukan. Di angkringan, akan muncul percakapan-percakapan tentang kebudayaan Jogjakarta. Tentang lokalitas. Nanti bisa saja masuk ke Tamansari. Sejarahnya, kampung di sekitarnya, para pengrajin batik dan seniman lukis, wisatawan, dan banyak hal lainnya. 

Pilihan saya untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan inilah yang pada akhirnya punya sumbangan besar terhadap proses kreatif kepenulisan. Untuk itu saya perlu menyebut beberapa nama, yang pada fase Jogja punya andil luar biasa dalam keistiqomahan saya untuk tetap menulis. Pak Yatmin dan Pak Bhe sudah saya sebut diawal. Dua orang ini adalah senior di sanggar KSP. Teman satu sanggar ada Abror Yudhi Prabowo. Nanti datang juga seniman lain di sanggar bernama Gembel. Terus ada juga pak Sriwintolo Ahmad. Pun Sigid Nugroho, yang pada akhirnya memperkenalkan saya dengan abangnya Yatno Wibowo, seorang aktivis kiri miitan pada masanya.  Tak boleh di lupa, teman-teman di Komunitas Sastra Kalimambu. Berhubung ini bukan acara siaran radio yang  banyak kirim salam ke banyak nama, jadi saya tak bisa menyebutkan satu persatu nama orang-orang lainnya yang berengaruh dalam hidup saya. 

Poinnya adalah, jika kamu, ya kamu, baru mau belajar menulis, boleh dicoba untuk berinteraksi dengan banyak orang sefrekuensi. Aktif berdiskusi atau minimal diam mendengarkan. Akan banyak hal yang didapat yang akan sangat membantu proses kepenulisanmu. Meski itu tak harus. Mau duduk menyendiri di warung kopi sambil ngacak-acak berbagai informasi di google, juga boleh kok. 



Rabu, 02 September 2020

Proses

 The Journey of Being a Writer (6)



“Pay, tulisanmu terbit di koran.”

Akhirnya saya mendapatkan info berharga ini. Setelah entah amplop ke berapa yang saya kirim ke koran. Dulu, hampir tiap pekan saya dan beberapa kawan menulis puisi atau cerpen dan dikirimkan ke koran. Setiap hari minggu, senantiasa kami cek, dan kecewa jika tak ada nama kami tertera di sana.

Tapi tak mengapa. Begitulah risiko yang dihadapi penulis pemula. Di masa itu, hampir tiap hari kami menerima wejangan tentang bagaimana caranya memaknai proses. Bagaimana menghadapi penolakan demi penolakan. Bagaimana menghasilkan karya yang matang.

Sekarang, saat semuanya menjadi serba cepat, orang-orang juga ingin cepat-cepat berada pada puncak karier. Istilah yang sering dipakai orang modern, ‘instan’.

Sebut saja misalnya, seorang anak baru lulus SMA. Baru saja mengikuti seminar motivasi kepenulisan. Merasa begitu semangat untuk menulis. Lalu membuat tulisan yang sembaralarngan. Yang secepat kilat selesai. Karena di zaman sekarang menerbitkan buku itu gampang banget, maka karya ini pun terbit menjadi buku. Lalu buku ini di jual. Beberapa keluarga dan teman dekat membeli, selebihnya tidak. Dipromosikan di facebook dan instagram, berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, bukunya tak ada lagi yang beli.

Suatu ketika, salah satu pembaca bukunya kasih komen agak negatif. Misalnya,tulisanmu ini terkesan terburu-buru. Atau, kok aku agak bosan ya bacanya? Atau, ini alurnya bagaimana kalau diubah sedikit agar konfliknya bisa nendang. Atau, banyak salah ketik nih bukunya.

Setelah peristiwa buku kurang laris dan komentar negatif tersebut, anak ini menghilang dari dunia persilatan kepenulisan. Merajuk. Tak mau lagi menulis. Lalu menyalahkan diri sendiri. Menyesal telah terjerumus dalam seminar motivasi kepenulisan. Dimaki-makinya seminar itu dalam status facebook.

Dik, mental seperti ini tak terjadi di masa saya zaman dahulu kala. Maksudnya begini, hasil dari sebuah karya tentu saja melewati proses. Kadang memang terjadi proses yang singkat. Saya juga tak menampik bisa saja tulisan berkualitas hadir dalam waktu singkat. Tapi bukan itu poinnya.

Di sanggar, kami benar-benar diajari tentang kenapa harus menulis. Bukan, bukan terbit di koran yang menjadi tujuan, bukan pula agar menjadi popular. Pun bukan pula agar kaya raya. Tapi much more deeper.

Untuk sebuah value mendalam dari karya kepenulisan inilah, kita membutuhkan proses. Ini kebutuhan. Mutlak harus dilakukan. Bagaimana kita menikmati proses, menghayatinya, merelakan ketika sedang down, bersyukur ketika sedang up. Proses ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Maaf, kali ini saya cenderung menjadi penasihat. Tak lain dan tak bukan karena sampai hari ini masih saja berseliweran penulis-penulis muda yang merasa gagah perkasa dengan bahan tulisannya yang begitu mentah. Dikritik sedikit, mewek.

Baik, sampai di sini dulu cerita kita. Nanti akan dilanjutkan lagi dengan nostalgia. Nostalgia pengalaman pertama tulisan terbit di media cetak. Nostalgia tentang sebuah proses yang tidak singkat.

Oh iya, waktu itu koran pertama yang memuat tulisan saya bernama Bernas. Tulisan yang terbit adalah cerpen, berjudul Ranjang. Tahun 1999 akhir. Honornya 50.000, lumayan bisa buat hidup sebulan.