Senin, 31 Agustus 2020

Sanggar

 The Journey of Being a Writer (5)


Tentu saja, meskipun penting, tetapi menunggu puisi terbit di media cetak bukan prioritas. Ada hal yang lebih penting yakni dapat kampus. Soalnya diskusi dengan bapak via wartel cukup alot kala itu. Bapak ingin saya pulang saja ke Pontianak. Saya ingin tetap tinggal di Jogja. Bapak tak kuasa berargumen, saya menang.

Seorang teman SMA, di antara banyak teman yang lain, ada juga yang belum dapat kampus. Namanya Hanif. Dia punya saudara di Jogja yang bisa pinjamkan sepeda motor. Akhirnya kami berdua berkeliling mencari brosur kampus yang masih buka.

Singkat cerita, saya lulus di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa Indonesia. Sebuah kampus yang sama sekali tidak masuk dalam perencanaan. Tapi tak mengapa, pikir saya waktu itu, tahun depan bisa daftar lagi UMPTN agar bisa masuk Fakultas Sastra atau bisa masuk ISI.

Rencana tahun depan daftar lagi pun tak terwujud, sebab baru saja beberapa minggu kuliah, seorang teman sekelas mengajakku untuk ikut workshop teater yang diselenggarakan salah satu UKM di kampus. Teman sekelasku ini tau informasinya disaat mengikuti OSPEK. Wah seru kayaknya ini. Workshop teater. Dulu waktu SMA saya pernah nonton sinetron Ali Topan Anak Jalanan yang diperankan Ari Sihasale. Meski tidak menggebu-gebu, tapi ada terbersit niat ingin jadi aktor biar bisa kayak Ali Topan.

Sanggar dan Komunitas. Ini dua kata yang kukenal setelah mengikuti workshop. Komunitas karena kami memang berkelompok serupa organisme dan saling berinteraksi. Kerap pula tempat kami berinteraksi itu disebut sanggar, karena aktivitas yang kami lakukan mengerucut pada satu hal, kesenian. Nama formalnya Kelompok Sastra Pendapa (KSP), orang-orang lebih suka menyebutnya Sanggar KSP.

Saya merasa perlu mencantumkan nama ini, sebab memang di sinilah kemudian saya pada akhirnya pertama kali berkenalan dengan proses kreatif kesenian. Tak hanya membaca koran, tak hanya diomeli wali kelas, tak hanya karena sinetron Ali Topan, tapi di sanggar ini saya betul-betul membaca teks dan peristiwa, berinteraksi panjang dalam diskusi-diskusi mendalam menyoal kesenian, hingga akhirnya lahirlah sesuatu yang kita kenal dengan sebutan Karya.

Karena senior di Sanggar mempersilakan anak-anak baru untuk tidur di sini, akhirnya saya memutuskan pindah dari asrama Kalbar. KSP angkatan 13. Saya masih ingat angka itu. Di sini mesin tik bapak punya jasa besar. Beberapa anak baru, selain saya punya hobi yang sama, membaca dan menulis karya sastra. Beberapa senior selain menjadi guru menulis, juga menjadi salah satu kompetitor dalam menguasai mesin tik. Kami bergantian.

Jika sedang berkumpul, kami kerap dengar wejangan. Jika sendirian, kami larut dalam banyaknya bacaan dan tulisan. Nanti ada lagi waktu berkumpul, kami manfaatkan untuk mendiskusikan karya yang dihasilkan. Begitu terus menerus. Kami juga latihan teater. Kami juga berkenalan dengan teman-teman sanggar dari kampus lain. Kami berinteraksi. Kami khusuk masyuk dengan soalan-soalan kesenian. Kami lupa kuliah. Atau dengan berbagai macam alasan, mulai enggan kuliah. Alasan yang cukup populer, sanggar adalah universitas kehidupan. Di kampus, dosennya diktator. Jual diktat beli motor. Ah, betapa naifnya kami kala itu.

Hingga suatu hari, datang seorang sepuh. Pak Yatmin namanya. Beliau membaca apa yang kami tulis. Kami mendiskusikannya. Lalu beliau bilang, “kirimkan karya ini ke koran.”

Kalau dulu bu Nurjanah mengatakan itu tanpa analisa. Dia hanya memberikan harapan kepada seorang remaja. Kali ini Pak Yatmin tak sekadar memberi harapan, tapi juga ¾ keyakinan bahwa apa-apa yang kami tulis bakalan terbit di koran-koran. Tulisan yang sudah mulai matang bagi anak delapanbelas tahunan.

Kami berebut mesin tik. Satu karya selesai diketik rapi. Dua karya selesai diketik rapi. Tiga karya selesai diketik rapi. Dilipat tiga. Dimasukan dalam amplop. Dikirim ke koran. Ada tiga koran ternama di Jogja yang memuat karya sastra pada waktu itu. Bernas, Keudalatan Rakyat, dan Minggu Pagi.

Kepada Redaktur Sastra Harian bla bla bla. Satu minggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu, tidak terbit. Empat minggu ditunggu, tidak terbit.


Minggu, 30 Agustus 2020

Kirim Karya ke Koran

 The Journey of Being a Writer (4)


kantor pos Jogja

Ini adalah cerita bagaimana mengirimkan karya tulis ke media cetak. Sesuatu yang barangkali tidak terlalu populer bagi penulis-penulis kekinian, tetapi begitu berharga bagi siapa saja, generasi sebelum kekinian. Termasuk saya.

Setelah beberapa pekan saya menumpang di indekos kerabat bapak di wilayah jalan Kaliurang, saya harus pindah. Ya pindah karena status saya hanya menumpang. Saya harus mencari tempat tinggal sesungguhnya. Proses pendaftaran kuliah sudah beres. Namanya waktu itu UMPTN. Gagal. Atau tidak diterima di tiga kampus negeri yang saya daftar. Cerita tentang ini ada saya tulis di buku saya berjudul RUTE: catatan tentang kembara.

Karena tidak lulus kampus negeri di Jogja, Bapak menyuruh saya pulang. Tapi saya enggan. Sudah pergi jauh-jauh menyeberang lautan dengan ombak garang yang potensial membuat isi perut pada keluar, masak harus pulang gara-gara tidak lulus di kampus negeri.

Waktu itu, saya sudah jumpa beberapa kawan SMA. Sebagian di antara mereka sudah ada yang dapat kampus. Sebagian yang lain belum. Tapi dari kawan-kawan ini saya dapat informasi tentang asrama Kalimantan Barat, di Jalan Bintaran. Sendirian, saya datangi Asrama tersebut, bertemu dengan pengurusnya, memohon agar saya bisa tinggal di situ. Gagal. Katanya asrama sudah penuh. Tidak mungkin dipaksakan lagi dengan orang baru.

“Terus saya harus tinggal dimana?” Ini bukan keluhan, tapi harapan.

Kakak senior asrama, yang saya lupa siapa namanya, kemudian mengabulkan harapan itu. Setidaknya memberi harapan baru. Katanya, di Jalan Bintaran ini adalah Asrama Kalbar I, ada juga Asrama Kalbar II, di Jalan Bausasran. Coba saja ke sana. Saya tak tau arah. Akhirnya saya diantar oleh warga asrama yang lain menuju Asrama Bausasran. Sampai di sana, sudah penuh juga. Tak ada kamar lagi bagi saya.

Tujuan selanjutnya adalah Asrama ke III. Terkenal dengan sebutan Asrama Pingit, tepatnya di kampung Badran. Kampung tempat para gali mendekam. Di sini lagi-lagi tak tersedia kamar. Sudah penuh. Tapi, kata ketua Asrama, untuk menumpang beberapa hari bisa disilakan tidur di sini, sebab ada satu kakak senior asrama yang sedang pergi ke Bandung. Betapa bahagianya hati ini.

Kebahagiaan lain adalah pertemuan saya dengan teman MTs di Asrama ini. Busrani namanya. Saya merasa punya energi baru setelah beberapa hari khawatir tak dapat tempat tinggal. Nanti, setelah kakak senior pulang dari Bandung, saya memohon-mohon kepada ketua Asrama agar saya diperbolehkan tinggal di sini, minimal hingga saya dapat kampus. Alhamdulillah diizinkan.

Di Asrama Pingit inilah saya bertemu dengan koran Republika, Kompas, dan juga koran-koran lokal. Di Asrama Pingin inilah saya mulai rajin membaca karya-karya sastra yang terbit di koran. Saya berjumpa dengan beberapa nama yang sudah saya kenal ketika masih SMA. Saya juga berjumpa dengan beberapa nama baru.

Waktu itu tahun 1999. Baru setahun pasca peristiwa aksi mahasiswa menggulingkan kekuasaan Orde Baru. Karya-karya sastra yang terbit, tak jarang berbicara tentang ini. Berbau kritik sosial, intrik politik, gerakan masasiswa, juga penculikan mahasiswa. Saya merasa bergairah dengan membaca karya-karya model begini.

“Mungkin ini yang dimaksud bu Nurjanah, ketika SMA dulu,” kata saya dalam hati.

Semakin rajin saya membaca karya di koran-koran minggu itu, semakin sering saya menulis karya berwarna serupa. Hingga akhirnya saya memberanikan diri. Mesin tik bapak menjadi saksi. Diksi demi diksi berderet beriringan dengan suara tik-tok mesin tik. Imaijinasi saya melambung-lambung. Saya membayangkan peristiwa demonstrasi mahasiswa. Saya membayangkan suara senjata. Jadilah puisi.

Selesai. Kertas HVS beberapa lembar yang sudah berisi beberapa buah puisi saya lipat tiga. Masuk dalam amplop putih yang di sana juga sudah tertulis alamat tujuan. Kepada Yth. Redaksi Sastra Republika, di Jakarta. Naik bis jalur 12, turun di depan kantor pos ujung Malioboro. Beli perangko seharga 1.500. Selesai. Lalu pulang dengan harapan yang sangat besar agar puisi tersebut bisa terbit. Nanti kopiannya akan saya kirim ke bu Nurjanah jika terbit.

Seminggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu tidak terbit. Sebulan ditunggu tidak terbit.  


Rabu, 26 Agustus 2020

Jogja dan Mesin Tik Bapak

 The Journey of Being a Writer (3)



Setamat SMA, saya ke Jogjakarta. Tak mudah untuk melakukan negoisasi dengan bapak tentang hal ini. Sebab bapak hanya pegawai negeri biasa yang tak diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas korupsi. Gajinya tak banyak. Tapi Alhamdulillah, setelah melakukan negosiasi yang alot, keinginan untuk berangkat ke Jogja terlaksana.

23 Juni 1999 menggunakan kapal laut KM Leuser jurusan Pontianak – Semarang. Kenapa saya masih ingat tanggal keberangkatan itu? Karena tercatat dalam buku harian. Masa-masa lulus SMA adalah era dimana saya getol menulis catatan harian. Sebagian buku harian itu saya bawa ke Jogja. Apa gunanya? Saya pribadi tak begitu paham apa gunanya membawa buku harian banyak-banyak ke Jogja. Bikin penuh tas saja. Toh isinya gitu-gitu doang. Tapi saya tidak menyesal. Sebab nanti, ketika sudah dapat kampus, sudah bergabung dalam komunitas sastra, saya sangat berterima kasih kepada tumpukan buku harian saya tersebut. Bagian ini akan saya ceritakan nanti. Sekarang mari kita lanjutkan kisah datang ke Jogja untuk pertama kalinya.

Bapak punya saudara yang kuliah S2 di UGM. Beliau nge-kost di jalan Kaliurang. Sebelum berangkat ke Jogja, saya sempat melakukan surat menyurat terhadap beberapa kawan yang telah berangkat lebih dahulu. MasyaAllah, meski belum ada telepon genggam, tapi ternyata tak mudah berkumpul dengan teman-teman SMA di tanah rantau. Informasinya dari mulut ke mulut. Juga dari alamat yang pernah ditulis dalam surat.

Singkat cerita, setelah beberapa saat menumpang di kost saudara di jalan Kaliurang, akhirnya saya mendapat tempat tinggal tetap. Tidak tetap sebenarnya. Tetapi setidaknya dapat menampung saya untuk beberapa saat. Tempat itu bernama Asrama Mahasiswa Rahadi Osman, tempat anak-anak Kalbar berkumpul dan berinteraksi.

Di asrama, kami langganan media cetak. Kompas, Republika, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat. Selain itu kami juga dikirimi oleh pemda Kalimantan Barat Koran lokal secara berkala, seperti Pontianak Post dan Equator. Di Koran-koran inilah, pada hari minggu, saya menemukan puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang pernah diceritakan oleh bu Nurjanah dulu. Saya masih awam terhadap kesusastraan Indonesia, tapi saya mengetahui bahwa selain majalah Horison yang terbitnya bulanan, kita juga ada peluang untuk mengirimkan karya-karya sastra ke koran-koran yang terbitnya mingguan.

Bu Nurjanah, jasamu takkan ku lupa.

Oh iya, hampir lupa saya menceritakan salah satu bagian penting dalam proses kepenulisan yang saya alami. Yakni, mesin tik bapak. Saya sudah akrab dengan mesin tik milik bapak sejak kecil. Mungkin sejak kelas tiga atau empat SD. Atau bahkan sebelum itu. Bapak saya, karena tak terlalu punya kesempatan untuk korupsi, maklum pegawai rendahan, akhirnya harus mengeluarkan kreativitasnya agar mampu bertahan hidup di tengah tuntutan zaman yang semakin menggila (bisa jadi ini hiperbol, tapi bisa jadi ini nyata).

Kreativitas yang dilakukan bapak adalah membuka jasa pembuatan skripsi. Oh God, ternyata praktik jahat ini sudah berlangsung sejak dulu kala. Praktik yang memanjakan mahasiswa. Praktik yang memalaskan mahasiswa. Praktik yang membuat bodoh mahasiswa. Dan salah satu pelakunya adalah bapak saya (pasang emotikon sedih). Tapi apalah daya saya. Hanya anak SD yang mengetahui bahwa bapaknya punya banyak koleksi buku di rumah dan juga mengoleksi beberapa mesin tik. Dari situ, sejak kelas tiga SD saya sudah mahir menggunakan mesin tik. Terima kasih bapak. Jasamu takkan kulupa. Soal dosamu membuatkan skripsi para mahasiswa itu, bertobatlah. Bertobatlah. Bertobatlah.

Nah, mesin tik ini adalah salah satu senjata yang ikut saya bawa ketika ke berangkat ke Jogja. Nanti, ketika saya hengkang dari Asrama Kalbar dan pindah ke sanggar teater di kampus, mesin tik dan buku harian akan mengambil perannya masing-masing, menjadi wasilah berharga dari lahirnya puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang tertulis nama saya di sana.

Langsung terbit di koran? Belum. Semoga bisa saya ceritakan setelah ini.


Selasa, 25 Agustus 2020

Bu Nurjanah

 The Journey of Being a Writer (2)

Karena ketika SD saya sudah disuguhi banyak bahan bacaan dan saya menyenanginya, kesenangan ini berlanjut ketika saya remaja. Membaca saya jadikan hobi. Tak hanya itu, pelan-pelan saya juga mulai menyenangi aktivitas menulis catatan harian. Ini aktivitas yang sudah saya mulai sejak kecil sebenarnya. Tapi ketika itu hanya sebatas bertukar biodata dengan teman sekelas. Atau menulis surat untuk sahabat pena yang entah berada di mana.

Nah, ketika remaja, keasikan saya membaca berdampak dengan keasikan menulis. Ada banyak sekali buku harian saya yang isinya tak sekadar soal curhat. Tapi pada tahap ini saya mulai mencoba meniru-niru tulisan dari para penulis yang saya baca. Saya mulai suka berimajinasi kemudian menuangkannya dalam catatan harian.

Waktu SD saya pernah juara lomba mengarang dan dikirim hingga tingkat kabupaten. Kemampuan mengarang itu ketika remaja saya teruskan dalam buku harian. Jadilah saya sebagai seorang penulis catatan harian.

Siapa yang membacanya? Tak ada. Ini benar-benar bersifat personal. Tapi siapa menduga bahwa aktivitas personal ketika remaja ini menjadi modal berharga ketika nantinya saya benar-benar terjun ke dalam dunia kepenulisan. Apa modal berharga tersebut? Kebiasaan.

Ya, saya terbiasa menulis meski hanya catatan harian. Ya, saya terbiasa menulis meski temanya hanya berkutat diperkara personal. Tapi apa yang terjadi ketika saya menulis ke perkara lebih luas? Perkara publik. Ya saya tetap terbiasa menulis. Jemari ini menjadi enteng menekan tuts mesin tik.

Jadi puisi. Jadi cerpen. Jadi uneg-uneg.

Waktu SMA, selain suka merokok di belakang kelas, selain suka lompat pagar untuk bolos, saya juga suka berkunjung ke perpustakaan. Di situ saya jumpa dengan Chairil Anwar juga Taufik Ismail. Saya jumpa majalah Horison. Saya jumpa tulisan-tulisan yang membuat imajinasi saya meletup-letup. Imajinasi itu harus mewujud dalam bentuk tulisan. Tulisan itu harus dibaca orang banyak, sama seperti orang banyak membaca Chairil dan Taufik Ismail.

Maka jadilah selembar puisi. Dulu, mading sekolah menjadi hak prerogatif anak-anak OSIS. Merekalah yang berhak memutuskan apakah tulisan ini dan itu layak ditempel di mading. Tapi apa lacur, tak ada aktivitas kepenulisan di mading itu. Yang ada hanya poster-poster pengumuman. Iklan-iklan kegiatan ekskul. Mading apaan ini? Tak ada edukasi ke para siswa, jika ingin menulis dan tulisannya ingin terbit di mading, silakan kirimkan tulisan tersebut ke kakak-kakak OSIS. Tak ada. Akibatnya ya jangan salahkan kalau anak-anaknya pada nongkrong di kebun belakang sekolah sambil merokok. Bukannya menulis lalu mengirimkan tulisannya ke mading.

Maka saya memberanikan diri. Tidak melalui jalur formal dengan mengirimkan tulisan ke kakak OSIS. Tetapi tanpa izin siapapun membuka segel kaca di mading, lalu menempelkan puisi yang saya tulis. Puisi kotemporer. Terinspirasi dari pelajaran bahasa Indonesia.

Apa yang terjadi setelah itu saudara pemirsa? Tak membutuhkan waktu lama, puisi itu dibredel oleh kakak-kakak OSIS. Katanya puisi-puisi itu tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan. Penulis puisinya dicari, sebab sudah bikin sekolah heboh. Tapi kakak OSIS tak berani bertemu langsung dan mengajak penulisnya berkelahi. Mereka lebih memilih jalur formal dengan mengadukan hal ini ke wali kelas sang penulis.

Sang penulis auto dipanggil. Disuruh menghadap. Ini adalah wali kelas terkiller sejagad. Aroma kebengisannya sudah tercium semenjak hak sepatunya menyentuh lantai secara konstan. Kalau dia masuk kelas, seketika huru hara yang terjadi di dalam kelas berubah suasananya menjadi toto tentrem kerto raharjo. Ibu Nurjanah namanya (cium tangan saya ke beliau).

Karena ini urusan Wali Kelas, bukan urusan guru BP, maka lokasi persidangan berada di perpustakaan. Di sana habis-habisan saya diomeli. Itu terjadi tahun 1998. Bayangkan, sudah berapa tahun peristiwa ini saya rahasiakan. Saya hanya menunduk pasrah tak berdaya dengan dada penuh debar, khawatir orang tua dipanggil. Sudah cukuplah orang tua dipanggil karena kasus merokok dan lompat pagar. Jangan lagi kasus menulis puisi yang tidak sesuai dengan norma. Akan coreng moreng lah wajah orang tua saya nanti.

Di akhir persidangan, bu Nurjanah berpesan. Katanya kurang lebih begini, “Seharusnya tulisan seperti ini tidak ditempel di mading. Tetapi dikirimkan ke media-media cetak. Kalau kamu suka menulis, lanjutkanlah hingga kamu menjadi penulis profesional,” ujarnya.

Deg! Jantung saya serasa berhenti berdetak. Saya melihat segaris senyum di bibir bu Nurjanah. Mustahil. Mustahil. Mustahil. Ketika seantero sekolah (yang membaca mading) resah gelisah dan mencerca tulisan yang saya buat, bu Nurjanah, di akhir pidatonya malah memberikan apresiasi yang tak penah diduga sama sekali oleh saya. Benar-benar di luar dugaan. Sebagai seorang Wali Kelas, Bu Nurjanah telah menjalankan tugasnya dengan benar yakni mengomel-omeli saya. Sebagai pembaca karya sastra, Bu Nurjanah telah dengan jujur mengungkapkan apresiasinya. Terharu saya. Sungguh terharu.

Fix, setelah peristiwa itu, tak ada yang mampu mengubah cita-cita saya mejadi seorang penulis profesional.


(gambar hanya ilustrasi, nemu di internet)

Minggu, 23 Agustus 2020

Suka Baca

The Journey of Being a Writer (1)


Yang paling berjasa dalam proses kepenulisan saya adalah bapak. Jauh hari sebelum saya berpikir untuk menjadi seorang penulis, tepatnya ketika saya masih sangat kecil, bapak sudah menyuguhi berbagai macam bahan bacaan. Mari kita sebut satu per satu yang masih diingat.

Donald bebek, majalah Ananda, Majalah Bobo, Komik si Buta dari Gua Hantu, aneka komik Gultom Agency, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Asmaraman Ko Ping Ho, Lima Sekawan, dan banyak lagi.

Saking banyaknya, saya ingat pada waktu SD saya membuka taman bacaan di teras rumah. Saya ajak teman-teman bermain di rumah untuk ikut membaca. Teman-teman akrab, gratis. Nanti kalau ada yang mau bawa pulang, mereka harus bayar. Kalau saya tidak salah nominalnya 25 atu 50 rupiah per buku.

Hampir semua penulis profesional, baik mereka yang benar-benar menghasilkan banyak buku atau pun mereka yang bekerja sebagai motivator kepenulisan, hampir semua dari mereka akan mengatakan bahwa jika ingin menjadi penulis berkelas, harus menjadi pembaca berkelas. Tak mungkin penulis berkualitas akan lahir jika si penulis tidak suka membaca. Nasihat semacam ini sudah lazim kita dengar. Begitu juga saya. Jika diharuskan memberikan nasihat kepada pemula tentang step by step menjadi penulis, akan saya katakan bahwa step pertama adalah membaca.

Ini bukan sekadar teori. Berapa banyak kosakata yang bisa masuk ke dalam otak kepala kita jika kita tak membaca? Lalu kalau tak punya banyak kosa kota, apa yang mau kita tulis?

Untuk itu, saya ingin ucapkan terima kasih kepada bapak, yang dengan sadar telah membelikan saya banyak buku bacaan ketika kecil. Karena buku-buku yang dibelikan bapak hampir semuanya bergenre fiksi, wajar kalau kemudian saya menjadi suka menulis fiksi. Tak bisa dipungkiri tentang korelasi ini. Apa yang kita baca, sebagian besar menjadi inspirasi kita dan akhirnya menjadi tulisan.

Step one: Reading. Done

 


Kamis, 06 Agustus 2020

Jadi Seniman




Sejak kecil jika ditanya cita-cita saya suka menjawab, ingin jadi seniman. Saya tak terlalu ingat alasannya kenapa, bisa jadi karena saya punya paman (almarhum) yang sejak saya kecil sering memutar kaset Iwan Fals. Di kamar paman juga terpajang poster Iwan Fals. Rasa-rasanya ini keren. Seniman. Saya pengen.

Ketika menginjak remaja cita-cita saya ingin jadi seniman semakin kuat. Saya sudah mulai mengerti tentang definisi. Ada yang bilang kalau seniman itu orangnya bebas. Tak ada peraturan yang biasa mencegah kreativitasnya. Saat remaja, definisi saya tentang seniman ya sebatas ini. Bebas. Saya ingin bebas. Seperti burung. Seperti seniman. 

Ketika dewasa, bikin KTP, saya bubuhkan kata seniman dalam kolom pekerjaan. Ini saya lakukan dengan sadar. Bukan karena saya sudah bisa berdendang ala ala Iwan Fals, bukan pula karena saya bisa bebas secara fisik dan pikiran. Tapi karena  saya punya karya dan bisa dikategorikan sebagai seniman. 

Pada tahap ini, saya bisa klaim bahwa telah berhasil menggapai cita-cita kecil. Tak banyak orang yang bisa menggapai cita-cita kecil. Saya salah satu dari yang tak banyak itu. Apa buktinya? Buktinya saya punya karya dan KTP saya bertuliskan seniman. 

Itu saja tak cukup. Tapi profesi ini juga harus wujud dalam eksistensi aktivitas. Saya bangun jejaring antar seniman. Ikut dalam berbagai anda kesenimanan. Mengikuti kongres seniman yang diselenggarakan kementrian. Saya petantang petenteng tidak karuan. Merasa sudah seniman tentu saja diiringin dengan berbagai unsurnya.

Artistik. Estetis. Imajinatif. Kreatif. Indah. Apa lagi? Oh iya, bebas. Definisi seniman yang saya ketahui ketika remaja juga masih berlaku saat dewasa. Seniman itu bebas. Pikirannya bisa mengembara kemana saja hingga menjelma kreativitas. Boleh menabrak norma. Mengobrak abrik aturan tanpa harus merasa bersalah. Telanjang bulat di jalan raya, boleh tidak? Tidak boleh. Sopan tidak? Tidak sopan. Tetapi karena mengatasnamakan kesenian, ini jadi boleh dan sopan. 

Seniman bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Bisa mengembara ke keberbagai negeri. Bisa "yak yak an" seenak hati. 

Sampai akhirnya saya kenal Islam. Ternyata, sebagai individu, di dalam Islam, kita itu bukanlah individu yang bebas. Kita terikat. Banyak sekali aturan dalam Islam, yang itu tidak bisa dilanggar, meskipun dia seorang seniman. 

Ya, seniman kalau muslim, berarti punya konsekuensi harus ikut aturannya sebagai muslim. Ini aqidah. Konsekuensinya jelas. Terus kalau begitu tak lagi bisa bebas dong? Kalau banyak aturan, menjadi tidak imajinatif dong? Bagaimana etikanya, estetikanya, artistiknya, jadi tidak indah lagi dong? Terus kalau sudah Islam begini, jadi tidak seniman lagi dong?

MasyaAllah, tak membutuhkan waktu lama setelah saya belajar Islam, saya malah bertemu dengan para seniman yang sadar betul akan keindahan. Dan seindah-indahnya laku kesenimanan adalah keindahan yang dibalut taqwa. Komunitas kesenian ini bernama Khat. Dan apa yang kau takutkan tentang tidak indah, tidak estetis, tidak imajinatif, kaku dan semacamnya, oleh komunitas KHAT terbantahkan. Ditambah satu hal, Islam. Taqwa. Profesi mereka ini seniman, tapi sungguh, betapa mereka ikhlas diikat oleh ikatan bernama Islam. Oleh berbagai macam aturan bernama syariat. 

Komunitas ini malah menjadikan kesenian sebagai alat untuk menuju zat yang padanya segala macam keindahan berasal. Allah SWT. 


خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا

“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, Allah menjadikannya sebagai perhiasan untuk langit, untuk melempar para syaitan, dan untuk menjadi alamat (tanda-tanda) sebagai penunjuk arah.” (Shahih Al-Bukhari 4/107)
 

Tabik!