Minggu, 28 Juni 2020

Sudah Lama tidak Membaca Ernest Hemingway

Kemarin pagi aku mengunjungi kedai kopi yang kutemukan di sosial media. Seseorang menceritakannya di facebook, kutemukan mapnya di instagram. Meluncur. Untuk sebuah kedai kopi, tak terlalu istimewa. Ini adalah usaha anak-anak muda, ya si barista masih belia. Usaha ini ia jalankan bersama temannya ketika pulang dari Jogja. Di kota itu, ia belajar banyak tentang kopi.

Begitu kira-kira percakapan perkenalanku dengan barista. Yang menarik, salah seorang pengelola kedai kopi ini adalah penyuka sastra. Beberapa buku sastra ia pajang di ruang tamu. Bukan untuk dibaca para tamu. Tapi dibeli. Wait, ini buku-buku sastra klasik. Bukan klise. Siapa yang mau membelinya dikota ini. Harganya juga tidak murah.
Maaf, aku tidak bermakud underestimate dengan selera baca manusia Pontianak. Faktanya beberapa komunitas sastra lumayan bergeliat di sini. Tapi pemandangan pagi itu, disebuah kedai kopi, salah satu meja menghamparkan beraneka ragam buku “daging” semua.

Pramudya, Haruki Murakami, Tan Malaka, Chairil Anwar, Eka Kurniawan, Ernest Hemmingyway, George Orwell, Andrea Hirata, Tan Malaka, Mark Manson, dan buku-buku berkualitas lainnya, mejeng di situ. Kuabaikan sebentar, sebab aku penasaran dengan cerita di baliknya. Kenapa tema ini; kopi dan sastra yang mereka pilih?

Di 101 coffee house juga banyak buku. Mereka punya kopi dengan kualitas baik. Juga buku-buku yang tak kalah menarik. Tapi buku-buku yang dipajang sebagian besar bercerita kopi. Barista 101 memang punya semangat luar biasa mengedukasi tamu tentang kopi. Ya, kopi. Bukan sastra. Dulu di Kopi Bandar Premium, yang sekarang namanya sudah berganti menjadi @Nowadayscoffe, juga ada beberapa buku sastra. Tapi bukan untuk dijual, melainkan koleksi pribadi barista. Nantilah, kapan-kapan, semoga aku bisa melanjutkan percakapan dengan barista, tentang sastra.

Oh iya, pada percakapan kemarin pagi, aku menyebut nama Andi Ds. Si Barista menyebut nama Fase. Kami menjadi lebih cair, sebab kami berdua mengenal orang yang sama. Lebih cair lagi ketika kami berdua punya ikatan emosional yang sama dengan Jogjakarta. Memang, tak semudah itu bagiku untuk mengatakan bahwa sudah akrab dengan barista. Toh ini baru pertemuan pertama. Tapi, sebagai awal jumpa, aku sudah jatuh hati dengan tempat ini.

Percakapan kami terhenti, karena beberapa temanku datang. Kemudian aku menjauh dari bar, menuju ruang tamu. Bercengkrama dengan beberapa sahabat. Membikin rencana seperti yang biasa kami lakukan. Ya, rencana. Kami seperti bersindikat dalam rencana demi rencana. Rentjana Kopi

Pagi itu berakhir. Sebelum pulang, aku mengambil Ernest Hemmingway. Menuju Bar, lalu membayar. Kami bubar.

o0o0o0o0o0o few moment later o0o0o0o0o

Pagi ini, cerita kemarin pagi kutuliskan di sini. Di sebuah kedai kopi. Kopi Bos Pontianak

“Biar seperti Ernest,” ucapku dalam hati.

Selasa, 09 Juni 2020

Proses

Oleh Pay Jarot Sujarwo

Kapan terakhir kali kamu, sebagai penulis, menulis dengan media kertas dan pulpen seperti ini?


Dulu, saya melakukannya. Masa ketika komputer masih menjadi barang mewah, senjata saya adalah mesin ketik. Tapi saya tidak mau gegabah langsung menuangkan ide via mesin ketik tersebut. Saya tidak suka membubuhi kertas dengan type-X jika terdapat kesalahan. Makanya saya perlu kertas dan pena, untuk bikin draft, konsep, atau langsung menjadi cerita. Nanti kalau ceritanya sudah jadi baru disalin ke mesin ketik.



Lama? Dua kali kerja? Ya, tentu saja. Tapi ini tidak berlaku bagi siapa saja yang menganggap ini sebagai bagian dari proses kreatif. Dulu, siapa saja yang berkarya senantiasa menjadikan proses sebagai sebuah prioritas. Lebih penting daripada hasil. Dan melakukan dua kali kerja seperti ini, saya pribadi menjadi begitu menikmati prosesnya.



Editing lebih mengasyikkan. Kertas penuh dengan coretan. Jika lelah, kertasnya bisa juga dijadikan kipas sejenak, lalu lanjut menulis lagi. Proses, ini yang sudah mulai jarang saya temui pada karya-karya penulis pemula. Barangkali sudah zamannya. Tapi masak sih? Cobalah untuk sabar sedikit. Percayalah, yang instan itu kerap hanya berusia instan juga.



Kembali kepada proses menulis di atas kertas. Ketika komputer sudah mulai akrab, di depan kampus, saya mulai rajin pergi ke rental komputer. Di sana saya kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk bisa menguasai benda satu itu, lalu membuat tulisan. Lebih mudah dan lebih cepat. Tapi waktu itu, saya masih menulis di kertas sebagai konsep ataupun cerita yang utuh.



Nanti, kebiasaan menulis dulu di kertas ini akhirnya berhenti ketika saya sudah mampu membeli laptop. Barang itu bisa saya bawa kemana-mana, jadi dimana tempat saya singgah saya bisa menulis. Jika salah, cukup backspace atau delete.



Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Hari ini saya merindukannya.

Tadi, sepulang mengantar pesanan madu, saya pergi ke fotokopi. Membeli buku tulis dan pena. Masya Allah. Harganya murah sekali. 4.500 untuk buku tulis, 3.500 untuk pena. Dari situ, saya ke warung kopi (tentu saja dengan protokol kesehatan), memesan kopi, duduk.



Lalu kata demi kata mulai saya bubuhi di atas kertas. Nikmat betul proses ini. Proses yang kemudian menjadikan saya setia untuk tetap menulis sampai hari ini. Proses yang telah mengantarkan saya pada perjalanan yang begitu jauh.



Di atas kertas, saya membuat sebuah cerita yang kelak akan kamu baca. Ya, kamu.