Kamis, 03 September 2020

Interaksi dengan orang sefrekuensi

 The Journey of Being a Writer (7)


Pasca terbitnya karya pertama di media cetak, tentu saja beriring sejalan dengan produktivitas. Intensitas menulis semakin besar. Pak Bhe, salah seorang senior di sanggar bilang kepada kami-kami ini, sudah saatnya kalian belajar komputer. Bisa pinjam komputer anak BEM. Bisa juga belajar sendiri di rental komputer depan kampus. 

Ternyata untuk menjadi penulis di koran harus punya modal. Modal sewa rental komputer, modal ngeprint, modal transport ke kantor pos dan juga prangko. Tapi soal semangat, jangan coba diremehkan. 

Untuk menjaga intelektualitas, kami habiskan waktu dengan membaca dan berdiskusi. Jika bahan bacaan di sanggar sudah habis, kami ke perpustakaan kampus. Pinjam buku jarang kembali. Jika kehabisan teman diskusi di sanggar, kami mengembara, keliling kampus untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sefrekuensi. Kerap kami kolaborasi. Pentas bareng, konflik bareng, ketawa bareng, berkarya bareng. 

Saya tidak mengikuti perkembangan para penulis baru era kekinian. Apakah mereka sibuk masyuk dalam berbagai komunitas, atau khusuk menyendiri dalam berkarya. Ya dua duanya boleh-boleh saja. Terserah saja. Yang terpenting ada karya yang dihasilkan. 

Kesempatan kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu cara yang saya pilih. Di mana dengan cara ini kreativitas dapat berlangsung secara terus menerus. Gesekan dengan orang-orang sevisi. Ini penting. Interaksi yang terjadi akan begitu mudah merangsang lahirnya ide. 

Mari kita sebutkan salah satu contoh. Tamansari Jogjakarta. Para turis yang mengunjungi tamansari, dalam kepalanya, akan menikmati keindahan tempat itu untuk diceritakan nantinya menjadi bahan cerita ke sanak kerabat, bahwa pernah ke sana. Kalau turis itu kaya kaya, besar kemungkinan mereka punya tustel. Nanti akan jepret-jepret di tempat itu, lalu klisenya dicuci, fotonya dicetak, masuk dalam album kenangan, dipajang di ruang tamu rumah agar bisa dilihat juga oleh para tamu yang berkunjung ke rumah. 

Penulis atau minimal orang-orang yang baru belajar menulis seperti saya tentu saja datang dengan mindset yang berbeda. Menikmati keindahan tamansari, ya tentu saja. Tapi tak sekadar itu. Saya juga tak punya tustel untuk mengabadikan keindahannya, maka kemudian saya menggunakan indera yang nantinya akan dicampur dengan imajinasi. Maka jadilah puisi. Maka jadilah cerpen. Perjalanan akan berlanjut ke pasar Ngasem, menikmati suasana, mengamati suasana, maka jadilah puisi, maka jadilah cerpen. Begitu seterusnya. 

Tapi sesederhana itu kah? Tentu saja tidak. Ada informasi lain yang kita butuhkan untuk membuat puisi atau cerpen kita lebih berisi. Untuk itulah interaksi diperlukan. Di angkringan, akan muncul percakapan-percakapan tentang kebudayaan Jogjakarta. Tentang lokalitas. Nanti bisa saja masuk ke Tamansari. Sejarahnya, kampung di sekitarnya, para pengrajin batik dan seniman lukis, wisatawan, dan banyak hal lainnya. 

Pilihan saya untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan inilah yang pada akhirnya punya sumbangan besar terhadap proses kreatif kepenulisan. Untuk itu saya perlu menyebut beberapa nama, yang pada fase Jogja punya andil luar biasa dalam keistiqomahan saya untuk tetap menulis. Pak Yatmin dan Pak Bhe sudah saya sebut diawal. Dua orang ini adalah senior di sanggar KSP. Teman satu sanggar ada Abror Yudhi Prabowo. Nanti datang juga seniman lain di sanggar bernama Gembel. Terus ada juga pak Sriwintolo Ahmad. Pun Sigid Nugroho, yang pada akhirnya memperkenalkan saya dengan abangnya Yatno Wibowo, seorang aktivis kiri miitan pada masanya.  Tak boleh di lupa, teman-teman di Komunitas Sastra Kalimambu. Berhubung ini bukan acara siaran radio yang  banyak kirim salam ke banyak nama, jadi saya tak bisa menyebutkan satu persatu nama orang-orang lainnya yang berengaruh dalam hidup saya. 

Poinnya adalah, jika kamu, ya kamu, baru mau belajar menulis, boleh dicoba untuk berinteraksi dengan banyak orang sefrekuensi. Aktif berdiskusi atau minimal diam mendengarkan. Akan banyak hal yang didapat yang akan sangat membantu proses kepenulisanmu. Meski itu tak harus. Mau duduk menyendiri di warung kopi sambil ngacak-acak berbagai informasi di google, juga boleh kok. 



Rabu, 02 September 2020

Proses

 The Journey of Being a Writer (6)



“Pay, tulisanmu terbit di koran.”

Akhirnya saya mendapatkan info berharga ini. Setelah entah amplop ke berapa yang saya kirim ke koran. Dulu, hampir tiap pekan saya dan beberapa kawan menulis puisi atau cerpen dan dikirimkan ke koran. Setiap hari minggu, senantiasa kami cek, dan kecewa jika tak ada nama kami tertera di sana.

Tapi tak mengapa. Begitulah risiko yang dihadapi penulis pemula. Di masa itu, hampir tiap hari kami menerima wejangan tentang bagaimana caranya memaknai proses. Bagaimana menghadapi penolakan demi penolakan. Bagaimana menghasilkan karya yang matang.

Sekarang, saat semuanya menjadi serba cepat, orang-orang juga ingin cepat-cepat berada pada puncak karier. Istilah yang sering dipakai orang modern, ‘instan’.

Sebut saja misalnya, seorang anak baru lulus SMA. Baru saja mengikuti seminar motivasi kepenulisan. Merasa begitu semangat untuk menulis. Lalu membuat tulisan yang sembaralarngan. Yang secepat kilat selesai. Karena di zaman sekarang menerbitkan buku itu gampang banget, maka karya ini pun terbit menjadi buku. Lalu buku ini di jual. Beberapa keluarga dan teman dekat membeli, selebihnya tidak. Dipromosikan di facebook dan instagram, berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, bukunya tak ada lagi yang beli.

Suatu ketika, salah satu pembaca bukunya kasih komen agak negatif. Misalnya,tulisanmu ini terkesan terburu-buru. Atau, kok aku agak bosan ya bacanya? Atau, ini alurnya bagaimana kalau diubah sedikit agar konfliknya bisa nendang. Atau, banyak salah ketik nih bukunya.

Setelah peristiwa buku kurang laris dan komentar negatif tersebut, anak ini menghilang dari dunia persilatan kepenulisan. Merajuk. Tak mau lagi menulis. Lalu menyalahkan diri sendiri. Menyesal telah terjerumus dalam seminar motivasi kepenulisan. Dimaki-makinya seminar itu dalam status facebook.

Dik, mental seperti ini tak terjadi di masa saya zaman dahulu kala. Maksudnya begini, hasil dari sebuah karya tentu saja melewati proses. Kadang memang terjadi proses yang singkat. Saya juga tak menampik bisa saja tulisan berkualitas hadir dalam waktu singkat. Tapi bukan itu poinnya.

Di sanggar, kami benar-benar diajari tentang kenapa harus menulis. Bukan, bukan terbit di koran yang menjadi tujuan, bukan pula agar menjadi popular. Pun bukan pula agar kaya raya. Tapi much more deeper.

Untuk sebuah value mendalam dari karya kepenulisan inilah, kita membutuhkan proses. Ini kebutuhan. Mutlak harus dilakukan. Bagaimana kita menikmati proses, menghayatinya, merelakan ketika sedang down, bersyukur ketika sedang up. Proses ini akan menjadi sesuatu yang berharga.

Maaf, kali ini saya cenderung menjadi penasihat. Tak lain dan tak bukan karena sampai hari ini masih saja berseliweran penulis-penulis muda yang merasa gagah perkasa dengan bahan tulisannya yang begitu mentah. Dikritik sedikit, mewek.

Baik, sampai di sini dulu cerita kita. Nanti akan dilanjutkan lagi dengan nostalgia. Nostalgia pengalaman pertama tulisan terbit di media cetak. Nostalgia tentang sebuah proses yang tidak singkat.

Oh iya, waktu itu koran pertama yang memuat tulisan saya bernama Bernas. Tulisan yang terbit adalah cerpen, berjudul Ranjang. Tahun 1999 akhir. Honornya 50.000, lumayan bisa buat hidup sebulan.


Senin, 31 Agustus 2020

Sanggar

 The Journey of Being a Writer (5)


Tentu saja, meskipun penting, tetapi menunggu puisi terbit di media cetak bukan prioritas. Ada hal yang lebih penting yakni dapat kampus. Soalnya diskusi dengan bapak via wartel cukup alot kala itu. Bapak ingin saya pulang saja ke Pontianak. Saya ingin tetap tinggal di Jogja. Bapak tak kuasa berargumen, saya menang.

Seorang teman SMA, di antara banyak teman yang lain, ada juga yang belum dapat kampus. Namanya Hanif. Dia punya saudara di Jogja yang bisa pinjamkan sepeda motor. Akhirnya kami berdua berkeliling mencari brosur kampus yang masih buka.

Singkat cerita, saya lulus di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Seni, Program Studi Bahasa Indonesia. Sebuah kampus yang sama sekali tidak masuk dalam perencanaan. Tapi tak mengapa, pikir saya waktu itu, tahun depan bisa daftar lagi UMPTN agar bisa masuk Fakultas Sastra atau bisa masuk ISI.

Rencana tahun depan daftar lagi pun tak terwujud, sebab baru saja beberapa minggu kuliah, seorang teman sekelas mengajakku untuk ikut workshop teater yang diselenggarakan salah satu UKM di kampus. Teman sekelasku ini tau informasinya disaat mengikuti OSPEK. Wah seru kayaknya ini. Workshop teater. Dulu waktu SMA saya pernah nonton sinetron Ali Topan Anak Jalanan yang diperankan Ari Sihasale. Meski tidak menggebu-gebu, tapi ada terbersit niat ingin jadi aktor biar bisa kayak Ali Topan.

Sanggar dan Komunitas. Ini dua kata yang kukenal setelah mengikuti workshop. Komunitas karena kami memang berkelompok serupa organisme dan saling berinteraksi. Kerap pula tempat kami berinteraksi itu disebut sanggar, karena aktivitas yang kami lakukan mengerucut pada satu hal, kesenian. Nama formalnya Kelompok Sastra Pendapa (KSP), orang-orang lebih suka menyebutnya Sanggar KSP.

Saya merasa perlu mencantumkan nama ini, sebab memang di sinilah kemudian saya pada akhirnya pertama kali berkenalan dengan proses kreatif kesenian. Tak hanya membaca koran, tak hanya diomeli wali kelas, tak hanya karena sinetron Ali Topan, tapi di sanggar ini saya betul-betul membaca teks dan peristiwa, berinteraksi panjang dalam diskusi-diskusi mendalam menyoal kesenian, hingga akhirnya lahirlah sesuatu yang kita kenal dengan sebutan Karya.

Karena senior di Sanggar mempersilakan anak-anak baru untuk tidur di sini, akhirnya saya memutuskan pindah dari asrama Kalbar. KSP angkatan 13. Saya masih ingat angka itu. Di sini mesin tik bapak punya jasa besar. Beberapa anak baru, selain saya punya hobi yang sama, membaca dan menulis karya sastra. Beberapa senior selain menjadi guru menulis, juga menjadi salah satu kompetitor dalam menguasai mesin tik. Kami bergantian.

Jika sedang berkumpul, kami kerap dengar wejangan. Jika sendirian, kami larut dalam banyaknya bacaan dan tulisan. Nanti ada lagi waktu berkumpul, kami manfaatkan untuk mendiskusikan karya yang dihasilkan. Begitu terus menerus. Kami juga latihan teater. Kami juga berkenalan dengan teman-teman sanggar dari kampus lain. Kami berinteraksi. Kami khusuk masyuk dengan soalan-soalan kesenian. Kami lupa kuliah. Atau dengan berbagai macam alasan, mulai enggan kuliah. Alasan yang cukup populer, sanggar adalah universitas kehidupan. Di kampus, dosennya diktator. Jual diktat beli motor. Ah, betapa naifnya kami kala itu.

Hingga suatu hari, datang seorang sepuh. Pak Yatmin namanya. Beliau membaca apa yang kami tulis. Kami mendiskusikannya. Lalu beliau bilang, “kirimkan karya ini ke koran.”

Kalau dulu bu Nurjanah mengatakan itu tanpa analisa. Dia hanya memberikan harapan kepada seorang remaja. Kali ini Pak Yatmin tak sekadar memberi harapan, tapi juga ¾ keyakinan bahwa apa-apa yang kami tulis bakalan terbit di koran-koran. Tulisan yang sudah mulai matang bagi anak delapanbelas tahunan.

Kami berebut mesin tik. Satu karya selesai diketik rapi. Dua karya selesai diketik rapi. Tiga karya selesai diketik rapi. Dilipat tiga. Dimasukan dalam amplop. Dikirim ke koran. Ada tiga koran ternama di Jogja yang memuat karya sastra pada waktu itu. Bernas, Keudalatan Rakyat, dan Minggu Pagi.

Kepada Redaktur Sastra Harian bla bla bla. Satu minggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu, tidak terbit. Empat minggu ditunggu, tidak terbit.


Minggu, 30 Agustus 2020

Kirim Karya ke Koran

 The Journey of Being a Writer (4)


kantor pos Jogja

Ini adalah cerita bagaimana mengirimkan karya tulis ke media cetak. Sesuatu yang barangkali tidak terlalu populer bagi penulis-penulis kekinian, tetapi begitu berharga bagi siapa saja, generasi sebelum kekinian. Termasuk saya.

Setelah beberapa pekan saya menumpang di indekos kerabat bapak di wilayah jalan Kaliurang, saya harus pindah. Ya pindah karena status saya hanya menumpang. Saya harus mencari tempat tinggal sesungguhnya. Proses pendaftaran kuliah sudah beres. Namanya waktu itu UMPTN. Gagal. Atau tidak diterima di tiga kampus negeri yang saya daftar. Cerita tentang ini ada saya tulis di buku saya berjudul RUTE: catatan tentang kembara.

Karena tidak lulus kampus negeri di Jogja, Bapak menyuruh saya pulang. Tapi saya enggan. Sudah pergi jauh-jauh menyeberang lautan dengan ombak garang yang potensial membuat isi perut pada keluar, masak harus pulang gara-gara tidak lulus di kampus negeri.

Waktu itu, saya sudah jumpa beberapa kawan SMA. Sebagian di antara mereka sudah ada yang dapat kampus. Sebagian yang lain belum. Tapi dari kawan-kawan ini saya dapat informasi tentang asrama Kalimantan Barat, di Jalan Bintaran. Sendirian, saya datangi Asrama tersebut, bertemu dengan pengurusnya, memohon agar saya bisa tinggal di situ. Gagal. Katanya asrama sudah penuh. Tidak mungkin dipaksakan lagi dengan orang baru.

“Terus saya harus tinggal dimana?” Ini bukan keluhan, tapi harapan.

Kakak senior asrama, yang saya lupa siapa namanya, kemudian mengabulkan harapan itu. Setidaknya memberi harapan baru. Katanya, di Jalan Bintaran ini adalah Asrama Kalbar I, ada juga Asrama Kalbar II, di Jalan Bausasran. Coba saja ke sana. Saya tak tau arah. Akhirnya saya diantar oleh warga asrama yang lain menuju Asrama Bausasran. Sampai di sana, sudah penuh juga. Tak ada kamar lagi bagi saya.

Tujuan selanjutnya adalah Asrama ke III. Terkenal dengan sebutan Asrama Pingit, tepatnya di kampung Badran. Kampung tempat para gali mendekam. Di sini lagi-lagi tak tersedia kamar. Sudah penuh. Tapi, kata ketua Asrama, untuk menumpang beberapa hari bisa disilakan tidur di sini, sebab ada satu kakak senior asrama yang sedang pergi ke Bandung. Betapa bahagianya hati ini.

Kebahagiaan lain adalah pertemuan saya dengan teman MTs di Asrama ini. Busrani namanya. Saya merasa punya energi baru setelah beberapa hari khawatir tak dapat tempat tinggal. Nanti, setelah kakak senior pulang dari Bandung, saya memohon-mohon kepada ketua Asrama agar saya diperbolehkan tinggal di sini, minimal hingga saya dapat kampus. Alhamdulillah diizinkan.

Di Asrama Pingit inilah saya bertemu dengan koran Republika, Kompas, dan juga koran-koran lokal. Di Asrama Pingin inilah saya mulai rajin membaca karya-karya sastra yang terbit di koran. Saya berjumpa dengan beberapa nama yang sudah saya kenal ketika masih SMA. Saya juga berjumpa dengan beberapa nama baru.

Waktu itu tahun 1999. Baru setahun pasca peristiwa aksi mahasiswa menggulingkan kekuasaan Orde Baru. Karya-karya sastra yang terbit, tak jarang berbicara tentang ini. Berbau kritik sosial, intrik politik, gerakan masasiswa, juga penculikan mahasiswa. Saya merasa bergairah dengan membaca karya-karya model begini.

“Mungkin ini yang dimaksud bu Nurjanah, ketika SMA dulu,” kata saya dalam hati.

Semakin rajin saya membaca karya di koran-koran minggu itu, semakin sering saya menulis karya berwarna serupa. Hingga akhirnya saya memberanikan diri. Mesin tik bapak menjadi saksi. Diksi demi diksi berderet beriringan dengan suara tik-tok mesin tik. Imaijinasi saya melambung-lambung. Saya membayangkan peristiwa demonstrasi mahasiswa. Saya membayangkan suara senjata. Jadilah puisi.

Selesai. Kertas HVS beberapa lembar yang sudah berisi beberapa buah puisi saya lipat tiga. Masuk dalam amplop putih yang di sana juga sudah tertulis alamat tujuan. Kepada Yth. Redaksi Sastra Republika, di Jakarta. Naik bis jalur 12, turun di depan kantor pos ujung Malioboro. Beli perangko seharga 1.500. Selesai. Lalu pulang dengan harapan yang sangat besar agar puisi tersebut bisa terbit. Nanti kopiannya akan saya kirim ke bu Nurjanah jika terbit.

Seminggu ditunggu, tidak terbit. Dua minggu ditunggu, tidak terbit. Tiga minggu ditunggu tidak terbit. Sebulan ditunggu tidak terbit.  


Rabu, 26 Agustus 2020

Jogja dan Mesin Tik Bapak

 The Journey of Being a Writer (3)



Setamat SMA, saya ke Jogjakarta. Tak mudah untuk melakukan negoisasi dengan bapak tentang hal ini. Sebab bapak hanya pegawai negeri biasa yang tak diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas korupsi. Gajinya tak banyak. Tapi Alhamdulillah, setelah melakukan negosiasi yang alot, keinginan untuk berangkat ke Jogja terlaksana.

23 Juni 1999 menggunakan kapal laut KM Leuser jurusan Pontianak – Semarang. Kenapa saya masih ingat tanggal keberangkatan itu? Karena tercatat dalam buku harian. Masa-masa lulus SMA adalah era dimana saya getol menulis catatan harian. Sebagian buku harian itu saya bawa ke Jogja. Apa gunanya? Saya pribadi tak begitu paham apa gunanya membawa buku harian banyak-banyak ke Jogja. Bikin penuh tas saja. Toh isinya gitu-gitu doang. Tapi saya tidak menyesal. Sebab nanti, ketika sudah dapat kampus, sudah bergabung dalam komunitas sastra, saya sangat berterima kasih kepada tumpukan buku harian saya tersebut. Bagian ini akan saya ceritakan nanti. Sekarang mari kita lanjutkan kisah datang ke Jogja untuk pertama kalinya.

Bapak punya saudara yang kuliah S2 di UGM. Beliau nge-kost di jalan Kaliurang. Sebelum berangkat ke Jogja, saya sempat melakukan surat menyurat terhadap beberapa kawan yang telah berangkat lebih dahulu. MasyaAllah, meski belum ada telepon genggam, tapi ternyata tak mudah berkumpul dengan teman-teman SMA di tanah rantau. Informasinya dari mulut ke mulut. Juga dari alamat yang pernah ditulis dalam surat.

Singkat cerita, setelah beberapa saat menumpang di kost saudara di jalan Kaliurang, akhirnya saya mendapat tempat tinggal tetap. Tidak tetap sebenarnya. Tetapi setidaknya dapat menampung saya untuk beberapa saat. Tempat itu bernama Asrama Mahasiswa Rahadi Osman, tempat anak-anak Kalbar berkumpul dan berinteraksi.

Di asrama, kami langganan media cetak. Kompas, Republika, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat. Selain itu kami juga dikirimi oleh pemda Kalimantan Barat Koran lokal secara berkala, seperti Pontianak Post dan Equator. Di Koran-koran inilah, pada hari minggu, saya menemukan puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang pernah diceritakan oleh bu Nurjanah dulu. Saya masih awam terhadap kesusastraan Indonesia, tapi saya mengetahui bahwa selain majalah Horison yang terbitnya bulanan, kita juga ada peluang untuk mengirimkan karya-karya sastra ke koran-koran yang terbitnya mingguan.

Bu Nurjanah, jasamu takkan ku lupa.

Oh iya, hampir lupa saya menceritakan salah satu bagian penting dalam proses kepenulisan yang saya alami. Yakni, mesin tik bapak. Saya sudah akrab dengan mesin tik milik bapak sejak kecil. Mungkin sejak kelas tiga atau empat SD. Atau bahkan sebelum itu. Bapak saya, karena tak terlalu punya kesempatan untuk korupsi, maklum pegawai rendahan, akhirnya harus mengeluarkan kreativitasnya agar mampu bertahan hidup di tengah tuntutan zaman yang semakin menggila (bisa jadi ini hiperbol, tapi bisa jadi ini nyata).

Kreativitas yang dilakukan bapak adalah membuka jasa pembuatan skripsi. Oh God, ternyata praktik jahat ini sudah berlangsung sejak dulu kala. Praktik yang memanjakan mahasiswa. Praktik yang memalaskan mahasiswa. Praktik yang membuat bodoh mahasiswa. Dan salah satu pelakunya adalah bapak saya (pasang emotikon sedih). Tapi apalah daya saya. Hanya anak SD yang mengetahui bahwa bapaknya punya banyak koleksi buku di rumah dan juga mengoleksi beberapa mesin tik. Dari situ, sejak kelas tiga SD saya sudah mahir menggunakan mesin tik. Terima kasih bapak. Jasamu takkan kulupa. Soal dosamu membuatkan skripsi para mahasiswa itu, bertobatlah. Bertobatlah. Bertobatlah.

Nah, mesin tik ini adalah salah satu senjata yang ikut saya bawa ketika ke berangkat ke Jogja. Nanti, ketika saya hengkang dari Asrama Kalbar dan pindah ke sanggar teater di kampus, mesin tik dan buku harian akan mengambil perannya masing-masing, menjadi wasilah berharga dari lahirnya puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang tertulis nama saya di sana.

Langsung terbit di koran? Belum. Semoga bisa saya ceritakan setelah ini.


Selasa, 25 Agustus 2020

Bu Nurjanah

 The Journey of Being a Writer (2)

Karena ketika SD saya sudah disuguhi banyak bahan bacaan dan saya menyenanginya, kesenangan ini berlanjut ketika saya remaja. Membaca saya jadikan hobi. Tak hanya itu, pelan-pelan saya juga mulai menyenangi aktivitas menulis catatan harian. Ini aktivitas yang sudah saya mulai sejak kecil sebenarnya. Tapi ketika itu hanya sebatas bertukar biodata dengan teman sekelas. Atau menulis surat untuk sahabat pena yang entah berada di mana.

Nah, ketika remaja, keasikan saya membaca berdampak dengan keasikan menulis. Ada banyak sekali buku harian saya yang isinya tak sekadar soal curhat. Tapi pada tahap ini saya mulai mencoba meniru-niru tulisan dari para penulis yang saya baca. Saya mulai suka berimajinasi kemudian menuangkannya dalam catatan harian.

Waktu SD saya pernah juara lomba mengarang dan dikirim hingga tingkat kabupaten. Kemampuan mengarang itu ketika remaja saya teruskan dalam buku harian. Jadilah saya sebagai seorang penulis catatan harian.

Siapa yang membacanya? Tak ada. Ini benar-benar bersifat personal. Tapi siapa menduga bahwa aktivitas personal ketika remaja ini menjadi modal berharga ketika nantinya saya benar-benar terjun ke dalam dunia kepenulisan. Apa modal berharga tersebut? Kebiasaan.

Ya, saya terbiasa menulis meski hanya catatan harian. Ya, saya terbiasa menulis meski temanya hanya berkutat diperkara personal. Tapi apa yang terjadi ketika saya menulis ke perkara lebih luas? Perkara publik. Ya saya tetap terbiasa menulis. Jemari ini menjadi enteng menekan tuts mesin tik.

Jadi puisi. Jadi cerpen. Jadi uneg-uneg.

Waktu SMA, selain suka merokok di belakang kelas, selain suka lompat pagar untuk bolos, saya juga suka berkunjung ke perpustakaan. Di situ saya jumpa dengan Chairil Anwar juga Taufik Ismail. Saya jumpa majalah Horison. Saya jumpa tulisan-tulisan yang membuat imajinasi saya meletup-letup. Imajinasi itu harus mewujud dalam bentuk tulisan. Tulisan itu harus dibaca orang banyak, sama seperti orang banyak membaca Chairil dan Taufik Ismail.

Maka jadilah selembar puisi. Dulu, mading sekolah menjadi hak prerogatif anak-anak OSIS. Merekalah yang berhak memutuskan apakah tulisan ini dan itu layak ditempel di mading. Tapi apa lacur, tak ada aktivitas kepenulisan di mading itu. Yang ada hanya poster-poster pengumuman. Iklan-iklan kegiatan ekskul. Mading apaan ini? Tak ada edukasi ke para siswa, jika ingin menulis dan tulisannya ingin terbit di mading, silakan kirimkan tulisan tersebut ke kakak-kakak OSIS. Tak ada. Akibatnya ya jangan salahkan kalau anak-anaknya pada nongkrong di kebun belakang sekolah sambil merokok. Bukannya menulis lalu mengirimkan tulisannya ke mading.

Maka saya memberanikan diri. Tidak melalui jalur formal dengan mengirimkan tulisan ke kakak OSIS. Tetapi tanpa izin siapapun membuka segel kaca di mading, lalu menempelkan puisi yang saya tulis. Puisi kotemporer. Terinspirasi dari pelajaran bahasa Indonesia.

Apa yang terjadi setelah itu saudara pemirsa? Tak membutuhkan waktu lama, puisi itu dibredel oleh kakak-kakak OSIS. Katanya puisi-puisi itu tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan. Penulis puisinya dicari, sebab sudah bikin sekolah heboh. Tapi kakak OSIS tak berani bertemu langsung dan mengajak penulisnya berkelahi. Mereka lebih memilih jalur formal dengan mengadukan hal ini ke wali kelas sang penulis.

Sang penulis auto dipanggil. Disuruh menghadap. Ini adalah wali kelas terkiller sejagad. Aroma kebengisannya sudah tercium semenjak hak sepatunya menyentuh lantai secara konstan. Kalau dia masuk kelas, seketika huru hara yang terjadi di dalam kelas berubah suasananya menjadi toto tentrem kerto raharjo. Ibu Nurjanah namanya (cium tangan saya ke beliau).

Karena ini urusan Wali Kelas, bukan urusan guru BP, maka lokasi persidangan berada di perpustakaan. Di sana habis-habisan saya diomeli. Itu terjadi tahun 1998. Bayangkan, sudah berapa tahun peristiwa ini saya rahasiakan. Saya hanya menunduk pasrah tak berdaya dengan dada penuh debar, khawatir orang tua dipanggil. Sudah cukuplah orang tua dipanggil karena kasus merokok dan lompat pagar. Jangan lagi kasus menulis puisi yang tidak sesuai dengan norma. Akan coreng moreng lah wajah orang tua saya nanti.

Di akhir persidangan, bu Nurjanah berpesan. Katanya kurang lebih begini, “Seharusnya tulisan seperti ini tidak ditempel di mading. Tetapi dikirimkan ke media-media cetak. Kalau kamu suka menulis, lanjutkanlah hingga kamu menjadi penulis profesional,” ujarnya.

Deg! Jantung saya serasa berhenti berdetak. Saya melihat segaris senyum di bibir bu Nurjanah. Mustahil. Mustahil. Mustahil. Ketika seantero sekolah (yang membaca mading) resah gelisah dan mencerca tulisan yang saya buat, bu Nurjanah, di akhir pidatonya malah memberikan apresiasi yang tak penah diduga sama sekali oleh saya. Benar-benar di luar dugaan. Sebagai seorang Wali Kelas, Bu Nurjanah telah menjalankan tugasnya dengan benar yakni mengomel-omeli saya. Sebagai pembaca karya sastra, Bu Nurjanah telah dengan jujur mengungkapkan apresiasinya. Terharu saya. Sungguh terharu.

Fix, setelah peristiwa itu, tak ada yang mampu mengubah cita-cita saya mejadi seorang penulis profesional.


(gambar hanya ilustrasi, nemu di internet)

Minggu, 23 Agustus 2020

Suka Baca

The Journey of Being a Writer (1)


Yang paling berjasa dalam proses kepenulisan saya adalah bapak. Jauh hari sebelum saya berpikir untuk menjadi seorang penulis, tepatnya ketika saya masih sangat kecil, bapak sudah menyuguhi berbagai macam bahan bacaan. Mari kita sebut satu per satu yang masih diingat.

Donald bebek, majalah Ananda, Majalah Bobo, Komik si Buta dari Gua Hantu, aneka komik Gultom Agency, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Asmaraman Ko Ping Ho, Lima Sekawan, dan banyak lagi.

Saking banyaknya, saya ingat pada waktu SD saya membuka taman bacaan di teras rumah. Saya ajak teman-teman bermain di rumah untuk ikut membaca. Teman-teman akrab, gratis. Nanti kalau ada yang mau bawa pulang, mereka harus bayar. Kalau saya tidak salah nominalnya 25 atu 50 rupiah per buku.

Hampir semua penulis profesional, baik mereka yang benar-benar menghasilkan banyak buku atau pun mereka yang bekerja sebagai motivator kepenulisan, hampir semua dari mereka akan mengatakan bahwa jika ingin menjadi penulis berkelas, harus menjadi pembaca berkelas. Tak mungkin penulis berkualitas akan lahir jika si penulis tidak suka membaca. Nasihat semacam ini sudah lazim kita dengar. Begitu juga saya. Jika diharuskan memberikan nasihat kepada pemula tentang step by step menjadi penulis, akan saya katakan bahwa step pertama adalah membaca.

Ini bukan sekadar teori. Berapa banyak kosakata yang bisa masuk ke dalam otak kepala kita jika kita tak membaca? Lalu kalau tak punya banyak kosa kota, apa yang mau kita tulis?

Untuk itu, saya ingin ucapkan terima kasih kepada bapak, yang dengan sadar telah membelikan saya banyak buku bacaan ketika kecil. Karena buku-buku yang dibelikan bapak hampir semuanya bergenre fiksi, wajar kalau kemudian saya menjadi suka menulis fiksi. Tak bisa dipungkiri tentang korelasi ini. Apa yang kita baca, sebagian besar menjadi inspirasi kita dan akhirnya menjadi tulisan.

Step one: Reading. Done

 


Kamis, 06 Agustus 2020

Jadi Seniman




Sejak kecil jika ditanya cita-cita saya suka menjawab, ingin jadi seniman. Saya tak terlalu ingat alasannya kenapa, bisa jadi karena saya punya paman (almarhum) yang sejak saya kecil sering memutar kaset Iwan Fals. Di kamar paman juga terpajang poster Iwan Fals. Rasa-rasanya ini keren. Seniman. Saya pengen.

Ketika menginjak remaja cita-cita saya ingin jadi seniman semakin kuat. Saya sudah mulai mengerti tentang definisi. Ada yang bilang kalau seniman itu orangnya bebas. Tak ada peraturan yang biasa mencegah kreativitasnya. Saat remaja, definisi saya tentang seniman ya sebatas ini. Bebas. Saya ingin bebas. Seperti burung. Seperti seniman. 

Ketika dewasa, bikin KTP, saya bubuhkan kata seniman dalam kolom pekerjaan. Ini saya lakukan dengan sadar. Bukan karena saya sudah bisa berdendang ala ala Iwan Fals, bukan pula karena saya bisa bebas secara fisik dan pikiran. Tapi karena  saya punya karya dan bisa dikategorikan sebagai seniman. 

Pada tahap ini, saya bisa klaim bahwa telah berhasil menggapai cita-cita kecil. Tak banyak orang yang bisa menggapai cita-cita kecil. Saya salah satu dari yang tak banyak itu. Apa buktinya? Buktinya saya punya karya dan KTP saya bertuliskan seniman. 

Itu saja tak cukup. Tapi profesi ini juga harus wujud dalam eksistensi aktivitas. Saya bangun jejaring antar seniman. Ikut dalam berbagai anda kesenimanan. Mengikuti kongres seniman yang diselenggarakan kementrian. Saya petantang petenteng tidak karuan. Merasa sudah seniman tentu saja diiringin dengan berbagai unsurnya.

Artistik. Estetis. Imajinatif. Kreatif. Indah. Apa lagi? Oh iya, bebas. Definisi seniman yang saya ketahui ketika remaja juga masih berlaku saat dewasa. Seniman itu bebas. Pikirannya bisa mengembara kemana saja hingga menjelma kreativitas. Boleh menabrak norma. Mengobrak abrik aturan tanpa harus merasa bersalah. Telanjang bulat di jalan raya, boleh tidak? Tidak boleh. Sopan tidak? Tidak sopan. Tetapi karena mengatasnamakan kesenian, ini jadi boleh dan sopan. 

Seniman bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Bisa mengembara ke keberbagai negeri. Bisa "yak yak an" seenak hati. 

Sampai akhirnya saya kenal Islam. Ternyata, sebagai individu, di dalam Islam, kita itu bukanlah individu yang bebas. Kita terikat. Banyak sekali aturan dalam Islam, yang itu tidak bisa dilanggar, meskipun dia seorang seniman. 

Ya, seniman kalau muslim, berarti punya konsekuensi harus ikut aturannya sebagai muslim. Ini aqidah. Konsekuensinya jelas. Terus kalau begitu tak lagi bisa bebas dong? Kalau banyak aturan, menjadi tidak imajinatif dong? Bagaimana etikanya, estetikanya, artistiknya, jadi tidak indah lagi dong? Terus kalau sudah Islam begini, jadi tidak seniman lagi dong?

MasyaAllah, tak membutuhkan waktu lama setelah saya belajar Islam, saya malah bertemu dengan para seniman yang sadar betul akan keindahan. Dan seindah-indahnya laku kesenimanan adalah keindahan yang dibalut taqwa. Komunitas kesenian ini bernama Khat. Dan apa yang kau takutkan tentang tidak indah, tidak estetis, tidak imajinatif, kaku dan semacamnya, oleh komunitas KHAT terbantahkan. Ditambah satu hal, Islam. Taqwa. Profesi mereka ini seniman, tapi sungguh, betapa mereka ikhlas diikat oleh ikatan bernama Islam. Oleh berbagai macam aturan bernama syariat. 

Komunitas ini malah menjadikan kesenian sebagai alat untuk menuju zat yang padanya segala macam keindahan berasal. Allah SWT. 


خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا

“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga perkara, Allah menjadikannya sebagai perhiasan untuk langit, untuk melempar para syaitan, dan untuk menjadi alamat (tanda-tanda) sebagai penunjuk arah.” (Shahih Al-Bukhari 4/107)
 

Tabik!

Minggu, 26 Juli 2020

Malabar dan Dosa Kita yang Abai


Kau pernah merasakan nikmatnya Malabar? Ini bukan kopi langka. Sudah banyak tersebar di seantero nusantara. Di tangan barista yang tepat, kopi dari pegunungan di ataa 1.400 mdpl ini akan terasa melenakan. Rasa buahnya. Rasa floralnya.

Tapi rasanya naif jika pada akhirnya kita terus-terusan terlena sambil membangga-banggakan nikmatnya citarasa ini kemana-mana. Malabar. Kopi terbaik. Kopi menang lomba. Kopi ekspor. Kopi idaman, dan lain sebagainya.

Sementara di kaki gunung yang namanya diambil dari salah satu wilayah penghasil kopi di India itu, para petani terus saja mengiba kepada para tengkulak. Agar harganya dinaikkan sedikit saja. Tapi iba itu nyaris terdengar sia-sia.

Petani menanam kopi. Merawat tanaman. Memanen buahnya. Mengumpulkannya ke dalam karung-karung. Mengupah kuli angkut agar bisa sampai ke pinggir jalan raya. Dari sinilah para tengkulak menanti.

Harganya sudah ditentukan. Sebut saja, 8.000/kg. Dikurangi 2.000/kg untuk upah kuli angkut. Ini jumlah yang jauh dari cukup. Tapi petani tak punya kuasa menuntut. Pasrah sebab tak ada pilihan.
Kopi ini akan dibawa. Akan dipilah dipilih. Akan dikemas dengan penampakan yang lebih baik. Akan dijual. Berapa harga roasted bean dari petani tadi? 70.000 – 75.000 – bahkan hingga 80.000 rupiah/kilogram.

Lalu kopi ini akan melenggang ke kedai-kedai di dalam negara. Diterbangkan juga ke berbagai wilayah mancanegara. Harganya sudah naik lagi.

Di kedai kopi, pelanggan akan memesan. Berharap seduhan terbaik dari barista terbaik. Menghirup dengan mata terpejam. Mendesah setelah hasil seduhan itu menerabas kerongkongan. Puas. Fruitynya pas. Floralnya mantap. Bungah. Sumringah.

“Apakah minum kopi dengan cara ini haram?”

Tentu saja tidak.

Tapi abai dengan nasib petani, membiarkan sistem model begini terus menganiaya yang miskin, bisa jadi Tuhan juga mengirimkan dosa kepada kita.

Tetap ngopi kawan dan jangan sampai kita berhenti berjuang

#malabar
#petanikopi
#tengkulang
#v60
#endofcapitalism

Sabtu, 25 Juli 2020

Single Strong

Hari ini jatahnya espresso. "single, strong!" kataku ke barista.

Di sini berbagai macam kopi bersaing minta perhatian. Gayo, Ciwidey, Bali plaga, Toraja yale, malabar. Kopi dari dataran terbaik di Indonesia.

Sesekali, hadir Ethiopia dan Kenya. Menjadi varian rasa tersendiri di tempat ini.

Tapi kali ini aku ingin espresso. 70% arabica, 30% robusta. Pahit yang merayap di kerongkongan menjelma rindu dendam tak terkatakan pada masa-masa emas di abad-abad lampau.

Begitulah, kopi menjadi sejarah tersendiri yang tak pernah habis diceritakan. Seorang pengembala kambing, bandar-bandar besar dekat pelabuhan. Cafe di lorong kecil islambol, ulama yang terjaga di tengah malam, para penemu, juga aktivis gerakan yang merencanakan pemberontakan di bagian barat sana.

Kopi juga punya andil lahirnya revolusi industri. Ekspor impor barang juga gagasan. Tentang sekulerisme. Tentang demokrasi. Tentang pengkhianatan hukum-hukum Tuhan.

 "espresso single," kataku, langsung menuju tempat duduk, di sini. Di Bandar ini.

Follow me

Instagram
@payjarotsujarwo

Kopi, Perang, dan Ideologi

"Karena kopi dua kerajaan di Sulawesi pernah berperang," kata barista beberapa saat sebelum aku pamit pulang.

-

Cerita kopi sejak dulu tentu saja jadi cerita yang menarik. Soal perang kopi di Sulawesi according to si barista, sebenarnya tak hanya terjadi di dunia kerajaan, tapi banyak kerajaan.

-

Ini bermula dari para pedagang kopi (pengusaha) yang akhirnya melibatkan para penguasa. Peristiwa perang itu terjadi pada kisaran tahun 1887-1888. Dominasi ada pada kerajaan Luwu. Antar pedagang bersaing, berebut sumber kopi. Nanti, setahun kemudian, masuk juga pasukan dari Bone ke Toraja. Perang kopi II pecah.

-

Setahun kemudian Kerajaan Enrekang ambil alih. Tata niaga kopi diatur oleh Enrekang. Sudah reda kah perang?  Belum, sebab Belanda datang. Beberapa tahun setelahnya, Enrekang tunduk pada Belanda. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui bersama. Kolonialisasi. Kopi diperdagangkan ke Eropa seperti mutiara. Nama Toraja mendunia. Darah dan keringat para petaninya nyaris tak pernah disebut, kala itu.

-

Hari ini beda cerita. Perang masih berlanjut. Perang dagang. Perang rasa. Perang GAYA. Dari Sulawesi cerita bisa berpindah ke sudut Panama. Lalu akan ada aroma yang menyerang hidung, akan ada aliran air di kerongkongan, dan juga tetap ada cerita nasib para petani kopi yang hanya bisa nurut dengan aturan main para kapitalis.

-

Tidak adil?
Memang

-

Berjuang?
Harus

-
Follow me
www.payjarotsujarwo.com

Instagram
@payjarotsujarwo


#kopi #geisha
#panamageisha #arabica #enrekang #toraja #fruity #floral #capitalism #coffee

Minggu, 28 Juni 2020

Sudah Lama tidak Membaca Ernest Hemingway

Kemarin pagi aku mengunjungi kedai kopi yang kutemukan di sosial media. Seseorang menceritakannya di facebook, kutemukan mapnya di instagram. Meluncur. Untuk sebuah kedai kopi, tak terlalu istimewa. Ini adalah usaha anak-anak muda, ya si barista masih belia. Usaha ini ia jalankan bersama temannya ketika pulang dari Jogja. Di kota itu, ia belajar banyak tentang kopi.

Begitu kira-kira percakapan perkenalanku dengan barista. Yang menarik, salah seorang pengelola kedai kopi ini adalah penyuka sastra. Beberapa buku sastra ia pajang di ruang tamu. Bukan untuk dibaca para tamu. Tapi dibeli. Wait, ini buku-buku sastra klasik. Bukan klise. Siapa yang mau membelinya dikota ini. Harganya juga tidak murah.
Maaf, aku tidak bermakud underestimate dengan selera baca manusia Pontianak. Faktanya beberapa komunitas sastra lumayan bergeliat di sini. Tapi pemandangan pagi itu, disebuah kedai kopi, salah satu meja menghamparkan beraneka ragam buku “daging” semua.

Pramudya, Haruki Murakami, Tan Malaka, Chairil Anwar, Eka Kurniawan, Ernest Hemmingyway, George Orwell, Andrea Hirata, Tan Malaka, Mark Manson, dan buku-buku berkualitas lainnya, mejeng di situ. Kuabaikan sebentar, sebab aku penasaran dengan cerita di baliknya. Kenapa tema ini; kopi dan sastra yang mereka pilih?

Di 101 coffee house juga banyak buku. Mereka punya kopi dengan kualitas baik. Juga buku-buku yang tak kalah menarik. Tapi buku-buku yang dipajang sebagian besar bercerita kopi. Barista 101 memang punya semangat luar biasa mengedukasi tamu tentang kopi. Ya, kopi. Bukan sastra. Dulu di Kopi Bandar Premium, yang sekarang namanya sudah berganti menjadi @Nowadayscoffe, juga ada beberapa buku sastra. Tapi bukan untuk dijual, melainkan koleksi pribadi barista. Nantilah, kapan-kapan, semoga aku bisa melanjutkan percakapan dengan barista, tentang sastra.

Oh iya, pada percakapan kemarin pagi, aku menyebut nama Andi Ds. Si Barista menyebut nama Fase. Kami menjadi lebih cair, sebab kami berdua mengenal orang yang sama. Lebih cair lagi ketika kami berdua punya ikatan emosional yang sama dengan Jogjakarta. Memang, tak semudah itu bagiku untuk mengatakan bahwa sudah akrab dengan barista. Toh ini baru pertemuan pertama. Tapi, sebagai awal jumpa, aku sudah jatuh hati dengan tempat ini.

Percakapan kami terhenti, karena beberapa temanku datang. Kemudian aku menjauh dari bar, menuju ruang tamu. Bercengkrama dengan beberapa sahabat. Membikin rencana seperti yang biasa kami lakukan. Ya, rencana. Kami seperti bersindikat dalam rencana demi rencana. Rentjana Kopi

Pagi itu berakhir. Sebelum pulang, aku mengambil Ernest Hemmingway. Menuju Bar, lalu membayar. Kami bubar.

o0o0o0o0o0o few moment later o0o0o0o0o

Pagi ini, cerita kemarin pagi kutuliskan di sini. Di sebuah kedai kopi. Kopi Bos Pontianak

“Biar seperti Ernest,” ucapku dalam hati.

Selasa, 09 Juni 2020

Proses

Oleh Pay Jarot Sujarwo

Kapan terakhir kali kamu, sebagai penulis, menulis dengan media kertas dan pulpen seperti ini?


Dulu, saya melakukannya. Masa ketika komputer masih menjadi barang mewah, senjata saya adalah mesin ketik. Tapi saya tidak mau gegabah langsung menuangkan ide via mesin ketik tersebut. Saya tidak suka membubuhi kertas dengan type-X jika terdapat kesalahan. Makanya saya perlu kertas dan pena, untuk bikin draft, konsep, atau langsung menjadi cerita. Nanti kalau ceritanya sudah jadi baru disalin ke mesin ketik.



Lama? Dua kali kerja? Ya, tentu saja. Tapi ini tidak berlaku bagi siapa saja yang menganggap ini sebagai bagian dari proses kreatif. Dulu, siapa saja yang berkarya senantiasa menjadikan proses sebagai sebuah prioritas. Lebih penting daripada hasil. Dan melakukan dua kali kerja seperti ini, saya pribadi menjadi begitu menikmati prosesnya.



Editing lebih mengasyikkan. Kertas penuh dengan coretan. Jika lelah, kertasnya bisa juga dijadikan kipas sejenak, lalu lanjut menulis lagi. Proses, ini yang sudah mulai jarang saya temui pada karya-karya penulis pemula. Barangkali sudah zamannya. Tapi masak sih? Cobalah untuk sabar sedikit. Percayalah, yang instan itu kerap hanya berusia instan juga.



Kembali kepada proses menulis di atas kertas. Ketika komputer sudah mulai akrab, di depan kampus, saya mulai rajin pergi ke rental komputer. Di sana saya kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk bisa menguasai benda satu itu, lalu membuat tulisan. Lebih mudah dan lebih cepat. Tapi waktu itu, saya masih menulis di kertas sebagai konsep ataupun cerita yang utuh.



Nanti, kebiasaan menulis dulu di kertas ini akhirnya berhenti ketika saya sudah mampu membeli laptop. Barang itu bisa saya bawa kemana-mana, jadi dimana tempat saya singgah saya bisa menulis. Jika salah, cukup backspace atau delete.



Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama. Hari ini saya merindukannya.

Tadi, sepulang mengantar pesanan madu, saya pergi ke fotokopi. Membeli buku tulis dan pena. Masya Allah. Harganya murah sekali. 4.500 untuk buku tulis, 3.500 untuk pena. Dari situ, saya ke warung kopi (tentu saja dengan protokol kesehatan), memesan kopi, duduk.



Lalu kata demi kata mulai saya bubuhi di atas kertas. Nikmat betul proses ini. Proses yang kemudian menjadikan saya setia untuk tetap menulis sampai hari ini. Proses yang telah mengantarkan saya pada perjalanan yang begitu jauh.



Di atas kertas, saya membuat sebuah cerita yang kelak akan kamu baca. Ya, kamu.

Sabtu, 09 Mei 2020

Sesal

Salah satu rasa sesal saya saat mengunjungi tanah Eropa adalah melakukan perjalanan tidak dalam rangka mempelajari Islam. Bahkan sebaliknya. Jejak yang membekas dari tiap langkah saya pada waktu itu malah kerap berwarna maksiat. Astagfirullah. Saya ketika itu menjadi bagian dari pengusung liberalisme. Hidup ini untuk mencari kebebasan. Tak terikat oleh berbagai macam aturan.

Wal hasil, perjumpaan saya dengan orang-orang baru dalam setiap perjalanan adalah perjumpaan yang tidak sedikitpun membuat saya dekat dengan Tuhan.
Mari kita masuk ke Spanyol. Kaki saya jejak di Bandara Barajas, Madrid tahun 2012. Pada waktu itu saya sudah tahu bahwa zaman dahulu Spanyol merupakan wilayah yang dinaungi Islam bernama Andalusia. Tapi saya tak punya maklumat lebih. Sama sekali tak punya.
Ketika berjalan keliling kota saya bertemu bangunan bangunan dengan kubah menyerupai masjid. Saya hanya membatin, ya wajar, sebab dulu wilayah ini wilayah Islam. Itu saja. Saya pernah dengar istana Alhambra, tapi tak tahu itu apa. Cerita tentang masjid Cordoba, pun hanya selintas selintas lewat telinga. Thariq bin Ziyad, hanya nama. Sama sekali tak tahu sejarahnya.
Waktu itu, saat masih di Belanda, ketika masih merencanakan trip ke Madrid, teman saya menawarkan. Apakah mau ke Barcelona, ke Andalusia, atau ke Vigo.
Barcelona adalah salah satu kota besar selain Madrid. Semua orang yang ke Spanyol rasa-rasanya senantiasa ingin bisa sampai ke Madrid dan Barcelona. Tapi saya bukan turis. Bukan orang yang ketika sampai di suatu tempat, ingin bersegera pindah ke tempat lain. Lagi pula Madrid sudah cukup mewakili kalau memang alasannya adalah kota Besar.
Andalusia hari ini adalah salah satu region di negara Spanyol. Di sana ada Cordoba, Malaga, Almeria dan lima provinsi lain. Tawaran ini disampaikan kepadaku, karena di Andalusia masih terdapat bangunan-bangunan klasik yang akan mengingatkan kita akan kebesaran Islam di masa lalu. Di sinilah letak rasa sesal saya. Betapa bodohnya saya pada waktu itu. Mungkin karena memang tak punya ghirah Islam. Dan tak punya banyak informasi tentang ini, maka tawaran ini tak saya pilih. Kota berikutnya adalah Vigo. Ini tempat orang tua sahabat yang saya kunjungi di Madrid. Dari Vigo nanti kita akan menyebrang ke Portugal . Tawaran menyebrang ke Portugal cukup menggiurkan. Itu artinya tambah negara. Begitulah isi otak kepala traveler cengceremen macam saya ini. Tidak mutu sama sekali. Dan akhirnya kota Vigo jadi pilihan.
Pasca Spanyol, saya melakukan perjalanan ke beberapa tempat lainnya di Asia Tenggara. Pekan berganti bulan berganti tahun. Hingga suatu hari, di sebuah kota eksotis bernama Chiang Mai, saya bertemu Islam. Pulang ke tanah lahir, saya belajar Islam. Pelan pelan. Sampai akhirnya saya menyadari betapa luar biasanya Islam. Memiliki catatan sejarah hingga belasan abad, dan salah satunya catatan sejarah itu bermukim di Spanyol. Andalusia.
Menangis saya bertahun-tahun sesudahnya. Kenapa saya tidak singgah ke Cordoba? Kenapa saya tidak melihat Alhambra? Kenapa? Begitulah. Rasa sesal mendalam itu ingin saya bayar. Membaca kisah-kisah tentangnya. Juga menuliskannya. Empat tahun setelah perjalanan itu, 2016 saya menerbitkan buku berbahasa Melayu berjudul SEPOK. Kembara di Negeri Spanyol. Andalusia. Sedikit saya cerita Islam di buku ini.
Tapi itu belum cukup. Hasrat untuk kembali ke sana. Semangat mempelajari kelok liku sejarah panjangnya, masih senantiasa tertanam dalam dada. Video ini adalah sedikit cuplikan dari rasa sesal itu. Semoga apa yang saya bagi, membuat saya merasa tak pernah jenuh untuk belajar lagi dan lagi. Jika ada yang salah, mohon saya dikoreksi.
Salam
23 April 2020

Rabu, 22 Januari 2020

POKOKNYA INI SISTEM TERBAIK. TITIK!

Plato pernah menulis, demokrasi adalah pendahuluan untuk menuju tirani.
-
Ini sedikit catatan sejarah tentang Plato. Abad ke 5 SM adalah era setelah dua kali kemenangan melawan Persia. Athena berjaya, demokrasi menjadi mantap jaya. Ini terjadi di masa Perikles.
-
Athena yang semakin hebat cenderung semakin korup. Ini memunculkan rasa dengki dari Sparta. 431 SM muncul perang saudara. Karena ini Yunani menjadi lemah.
-
Tahun 404 SM Athena kalah. Sparta mendudukkan rezim boneka. Nanti Athena akan otonom lagi. Memiliki rezim demokrasi lagi.
-
Plato lahir 428 SM, dia mengalami sedikit sisa-sisa kejayaan Athena tapi dia hidup besar selama perang saudara. Dia melihat kehancuran Athena. Dia melihat demokrasi muncul lagi dan demokrasi yang sama pada tahun 399 SM kemudian menghukum mati Socrates.
-
Plato melihat kondisi demokrasi yang ringkih dan beberapa tahun setelah ia meninggal Athena sebagai simbol utama demokrasi akhirnya runtuh di bawah kerajaan Makedonia.
-
Begitulah, pasca kehancuran Athena, dunia berada di bawah kendali kerajaankerajaan. Demokrasi yang sejak awal lahir tak sempurna semakin ditinggalkan. Rajaraja bertindak sesuai kemauannya. Agar legal, dibikin otoritas bahwa suara raja suara Tuhan. Pada fase ini, ratusan tahun, demokrasi tak terdengar apalagi terlihat.
-
Abad 15, rajaraja mendapat perlawanan. Selama ribuan tahun di tangan para raja kehidupan porak poranda. Rasionalitas tak dipakai. Ilmu pengetahuan tak ada gunanya. Di sekolahsekolah modern era ini disebut the dark ages.
-
Di masa kejayaan Athena, tak ada seorang pun menduga bahwa peradaban itu akan hancur. Tapi dugaan orang salah. Athena hancur. Demokrasi lebur. Rajaraja bertahta.
-
Di era rajaraja berjaya, orang-orang juga tak menduga bahwa era ini juga akan hancur. Para raja dan birokrat asik menikmati tahta, jelata dibiarkan tak mampu berbuat apa-apa. Tapi dugaan orang salah. Perlawanan muncul. Intelektualitas dikedepankan. Ilmu pengetahuan seperti Dewa.
-
Renaissance. Raja-raja bertekuk lutut di bawah daulat para rakyat lewat wakilwakilnya. Fox populi fox dei. Suara raja tak lagi suara Tuhan. Kini sudah berganti menjadi suara rakyat.
-
Tapi sayang, rakyat waktu itu kebingungan mencari ide terbaik. Otoritas Tuhan yang telah diselewengkan rajaraja membuat para rakyat membenci segala hal berbau Tuhan. Ya, Tuhan harus menyingkir. Tak boleh ikut campur dalam roda pemerintahan yang akan berlangsung sebentar lagi.
-
Revolusi Perancis. Manusia berbondongbondong memperlemah posisi rajaraja. Akhirnya monarki tamat riwayat. Di tengah kebingungan, ide usang demokrasi, yang telah memosil ribuan tahun diangkat kembali. Dipaksakan dipakai menjadi sistem. Ditopang kapitalisme sebagai sistem ekonominya. Berhasil. Sistem ini menggurita. Menyebar ke seluruh dunia.
-
Lalu, orangorang menduga bahwa inilah sistem terbaik. Orangorang menduga sistem ini tak akan hancur. Untuk memperkuat dugaannya, orangorang harus rela kehilangan rasionalitasnya.

20/01/2020

Sabtu, 18 Januari 2020

JILBAB TAK WAJIB

©Pay Jarot Sujarwo

Wanita tua berkata, jilbab tidak wajib bagi muslimah. Kalau muslimah itu sudah tua, ya. Maka benarlah perkataannya. Sebab ada dalilnya.

Jilbab itu tak wajib bagi muslimah. Wanita tua bawa-bawa nama budaya. Nuduh banyak orang salah tafsir soal dalil agama. Konon kabarnya jalan tengah.

Bukan. Ini bukan jalan tengah namanya. Tetapi sembrono. Bikin statemen seenak hatinya. Ups, tapi benarkah ini seenak hatinya? Atau jangan-jangan sudah terencana sejak lama?

Di bumi ini, hari ini, muslim tak taat syariat jumlahnya banyak. Meski demikian tidak otomatis orang-orang tidak taat ini mengubah sesuatu yang ditetapkan.

Mereka tahu alkohol itu haram. Mereka minum tapi tak bilang alkohol jadi halal. Mereka tahu babi itu haram. Mereka makan tapi tak bilang babi jadi halal. Mereka tau homosexual itu dilaknat. Mereka homo tapi tak bilang menjadi homo itu boleh.

Mereka tahu sholat itu wajib Mereka tak sholat dan tidak mengatakan bahwa tak sholat itu sudah berubah menjadi mubah. Inilah yang disebut maksiat. Dilakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Namun tidak sampai pada level keyakinan. Kepada mereka dibebankan dosa maksiat. Kepada mereka kita berharap bisa bertobat.

Soal aurat begitu juga. Sudah sejak duduk di bangku SD mereka, orang-orang beragama Islam ini, tahu batasan aurat. Lalu ketika baligh, mereka membuka aurat, memamerkannya kepada khalayak. Tapi tak pernah mereka mengubah batasan aurat. Tetap saja pusar hingga lutut bagi lelaki. Tetap saja seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan bagi wanita. Dan menutup aurat wajib adanya.

Orang-orang ini tidak taat, tetapi menyadari bahwa mereka tidak taat. Sekali lagi, mereka adalah pelaku maksiat yang kepadanya kita harapkan bertaubat. Tak batal syahadat.

Tapi bagaimana kalau kita benar-benar yakin bahwa babi tak haram? Bagaimana jika kita meyakini bahwa alkohol yang memabukkan itu halal? Bagaimana jika kita mengatakan dengan kesadaran penuh disertai dengan keyakinan bahwa sholat itu tidak wajib?

Dengan cara apa kita nanti menghadap Allah di akhirat? Masih tetap dengan cara membusungkan dada? Coba saja kalau kau bisa!

19/01/2020

facebook.com/payjarotsujarwo1924