Senin, 30 Desember 2019

Lari dari Rumah




Sejak kecil aku terbiasa dengan gelap. Ya, gelap. Tepatnya ruang kecil bernama kamar mandi yang pintunya dikunci dari luar kemudian lampunya dimatikan. Aku menangis. Sesekali sekadar sedu sedan, kerap pula sampai meraung. Panik. Takut. Itulah buah ketidaktaatan. Sejak kecil, jika orangtua perlu memberiku hukuman, maka hukumannya adalah gelap. Dijebloskan ke kamar mandi, dikunci dari luar, lampunya dimatikan.

Seharusnya ada efek jera setelah melakukan aktivitas yang dianggap keterlaluan, kemudian dihukum dimasukkan ke dalam gelap. Tapi hukuman itu gagal. Aku malah tumbuh menjadi pembangkang. Sewaktu ketahuan merokok padahal baru saja tamat SD, aku hanya takut sebentar saja. Beberapa hari kemudian merokok lagi. Tak bisa merokok sendirian di dalam kamar, pindah lokasi bersama beberapa orang teman merokok di semak belukar.

Semakin besar, aku punya aktivitas baru. Lari dari rumah. Tak bisa lagi aku ditangkap lalu dimasukkan ke dalam kamar mandi. Aku memilih lari. Tak pulang berhari-hari. Tidur berpindah-pindah dari rumah teman yang satu ke teman lain. Begitu terus sampai akhirnya saudaraku menjemput ke sekolah. Lalu aku pulang. Dimarahi. Dinasihati. Mengangguk sebentar. Terus lari lagi.

Teori-teori tentang ketaatan yang didapat dalam ruang-ruang sekolah, gagal merasuk dalam pikiran untuk kemudian diamalkan. Belum lagi lingkungan mendukung. Sistem mendukung. Puncaknya, ketika tamat SMA, berkesempatan meninggalkan Pontianak menuju ke Jogjakarta, di situlah aplikasi dari ketidaktaatan merajalela.

Sekarang, setelah bertahun-tahun kemudian aku berada di Bulgaria. Di negeri yang bahkan memimpikannya saja tak pernah. Tiba-tiba saja aku disergap rindu. Kenangan akan ketidaktaatan di masa lalu menggedor-gedor relung hati. Perjalanan ini telah begitu jauh.

Pertemuan dengan Pak Krassin menurutku bukan suatu kebetulan. Pada akhirnya aku dipaksa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan orang-orang di masa lalu. Tentang kebengisan. Tentang penjajahan. Apakah ini buah dari ketidaktaatan, sehingga bisa saja agama yang disandang bernama Islam, tapi perangai tak bisa dipertanggungjawabkan.

Jawabannya adalah opini yang dipaksakan untuk masuk ke kepala masing-masing kita. Kita sudah terlalu lama berada dalam cengkraman sekulerisme. Sehingga untuk yang begini-begini kita terima saja sebagai konsekuensi logis dari kehidupan.

Ternyata, rusaknya citra Islam tak hanya kudengar dari Pak Krassin. Agama ini begitu buruk di mata mereka. Dan anehnya, sebagian besar dari kita menyetujuinya.

Di tengah kota Sofia ada sebuah gereja yang berdiri cukup megah. Namanya Sveti Sedmochislenitsi Church. Berada di taman yang rimbun, gereja ini didedikasikan untuk St. Cyrirl dan Methodius dua orang bersaudara yang merupakan teolog Bizantium. Kedua orang ini kemudian menjadi begitu terkenal bahkan dianggap setara dengan rasul karena telah merancang alfabet Glagolitic, alfabet pertama yang digunakan untuk menuliskan huruf Slavonic kuno. Kalau kau bingung dengan apa yang kuceritakan, kau bayangkan saja huruf-huruf yang ada di negara Rusia, Bulgaria, Serbia, serta beberapa negara Balkan lainnya. Hari ini deretan abjad tersebut dikenal dengan nama huruf Cyrillic.

Gereja Sveti Sedmochislenitsi resmi digunakan pada tahun 1903. Agar orang-orang terus menerus mengenang santo Cyrril dan Methodius. Karena dengan alphabet inilah kemudian alkitab diterjemahkan dan orang-orang Slavia bisa membacanya kemudian diharapkan bisa taat memeluk Kristen. Kebudayaan pun berubah. Mereka seolah menemukan identitasnya.

Padahal hampir 400 tahun sebelumnya, bangunan ini adalah masjid. Dibangun dimasa pemerintahan Sulaiman Al Qanuni saat Islam begitu jaya di Bulgaria. Ini adalah Khalifah yang namanya terdengar di seluruh dunia. Di Barat, dia dikenal dengan istilah Sulaiman The Magnificien. Sulaiman yang Agung. Masjid tersebut merupakan salah satu bukti keagungannya yang tentu saja merupakan buah dari ketaatan kepada pencipta.

Dikenal dengan nama Masjid Hitam sebab menaranya terbuat dari batu granit bernama hitam. Di wilayah masjid ada sekolah untuk orang-orang belajar Ilmu pengetahuan. Ada juga dapur umum untuk orangmiskin. Tapi semenjak Utsmani tak lagi punya kuasa di Bulgaria, tempat ini berubah fungsi menjadi penjara. Hingga pada akhirnya diubah lagi menjadi gereja.

Setelah masa Sulaiman Al Qanuni, kekhilafahan Utsmani memang melemah. Terjadi kekalahan dan kemerosotan di banyak tempat. Salah satu penyebabnya adalah ketidaktaatan. Syariat mulai ditinggalkan. Banyak pejabat hidup dalam gelimang kemewahan. Tradisi barat yang dianggap menyenangkan diadopsi untuk kehidupan sehari-hari. Hingga akhirnya mereka benar-benar terusir dari Bulgaria. Beberapa waktu  masih berkuasa di Turki, tanah asalnya. Tapi tak lama. Kekuasaan itu harus diberikan kepada pecundang bernama Kemal Pasha. 1924. Tutup riwayat.

Di Sofia, Bulgaria, hari-hari yang kulakukan adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Menyandang gelar lari dari rumah,bukannya aku mendekat pada ketaatan, malah sebaliknya. Bersembunyi di balik kesan gagah seorang pengembara, padahal begitu lemah di hadapan sang pencipta. Tak berdaya.

Kakiku terus melangkah. Semakin hari semakin akrab dengan dingin. Hingga di sebuah sore, bertemu dengan sebuah taman kota yang begitu luas. Di ujung pandangan, mataku menabrak sebuah monumen yang lumayan tinggi. Aku mendekat. Ada beberapa patung tentara. Juga ada patung seorang wanita menggendong bayinya. Inilah monumen yang kemudian terus diingat-ingat warga masyarakat. Masuk ke dalam pelajaran sekolah. Dipaksa agar tiap orang melupakan kemegahan The Black Mosque yang sudah hadir sejak masa Sulaiman yang Agung. Momument itu diberinama Pametnik na Savetskata armia, Monumen yang didedikasikan untuk tentara Soviet.

Selamat datang era baru di Sofia.

Jumat, 20 Desember 2019

LUPUT



Ada Bulgaria, ada pula Bulgar. Ada juga yang menyebutnya Bolgar. Hampir mirip tapi pada satu titik antara Bulgaria dan Bulgar berbeda. Dulu, asal mereka sama. Sungai Volga. Ini sungai terpanjang di Eropa. Kalau kau suka linguistik, kau akan suka dan mencari kaitannya; volga-bolga-bolgar-bulgar-bulgaria. Ah, jadi ingat zaman-zaman kuliah dulu.

Sungai Volga merupakan saksi abadi dari berbagai macam tabiat manusia, mulai dari sekadar perlintasan berbagai suku bangsa, hingga perebutan kekuasaan yang mengharuskan pertumpahan darah.

Kita mengenal nama Genghis Khan yang dari namanya saja kita akan langsung membayangkan penaklukan demi penaklukan. Salah satu rahasia kekuatan bangsa Mongol ini adalah kepiawaian mereka dalam menciptakan teknologi pembuat ransum atau perbekalan awet lainnya untuk para tentara. Mereka akan bergerak begitu cepat dari negeri ke negeri hingga mampu mengalahkan bangsa Persia yang jauh lebih beradab. Genghis Khan dan pasukannya kala itu tak mengenal huruf, tak bisa baca tulis. Tak berperadaban.

Sungai Volga ini pula yang dipercaya sebagai pintu gerbang masuknya Islam yang nantinya akan terus meluas meliputi negeri-negeri Eropa. Kalau kau ingin berkunjung ke sana hari ini, dari Moscow, kau bisa pergi ke negeri Kazan, ibukota Tatarstan. Melewati jalan darat kurang lebih tiga sampai empat jam kau akan sampai di Bolgar yang masuk dalam distrik Spassky.

Lalu apa hubungannya Bolgar dengan Bulgaria? Jarak antara keduanya hampir 3000 kilometer. Bolgar berada di wilayah Rusia, Bulgaria di daerah Balkan yang bersebelahan dengan Yunani. Ternyata mereka memang berasal dari satu rumpun suku-suku Azov. Orang-orang Bolgar yang tidak memeluk Islam terus melakukan pengembaraan. Bertemu dengan suku-suku lain. Kawin mawin dengan orang-orang Slavia. Memeluk Kristen Ortodhox. Hingga akhirnya menetap di sungai Danube kemudian menyebut diri mereka sebagai Bulgaria.

Di masa kekhilafahan Abbasiyah, orang-orang Bolgar bertemu Islam di sungai Volga. Yang tak mau masuk Islam memilih pergi hingga beribu-ribu kilometer. Tapi inilah agama yang penuh rahmat bagi seluruh alam. Meliputi bumi hingga titik terjauh. Nanti, kurang lebih tujuh abad kemudian, di masa kekhilafahan Utsmaniyah, Islam sampai ke wilayah Balkan, masuk Bulgaria, membuat orang-orang sana jatuh hati kemudian memeluknya.

Orang-orang Slavia yang memeluk Islam kemudian menyebut dirinya sebagai orang Pomak. Entah apa maknanya. Tak kudapatkan referensi tentang ini. Orang-orang Slavia ini tinggal di sebagian Yunani, Turki, juga Bulgaria. Mereka tak mau disamakan sebagai orang Turki karena mereka memang bukan orang Turki. Tapi begitulah Islam, perbedaan suku bangsa itu kemudian melebur dalam satu akidah. Dalam satu aturan dari pemilik bumi.

Saat aku berada di kota Sofia tak banyak kutemukan sisa-sisa peradaban Islam. Sebagain besar dihancurkan pada saat komunis berkuasa. Lima abad kegemilangan, secepat kilat menjelma kabar buruk yang memilukan. Tak hanya bangunan seperti masjid dan madrasah yang dihancurkan. Tapi juga manusianya. Mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, jika tidak mau berarti mereka memilih dibunuh.

Berikutnya adalah citra buruk terhadap Islam yang harus terus menerus diangkat ke permukaan. Kasar. Begal. Hina. Terbelakang. Tak berpendidikan. Citra ini menyergap pikiran manusia-manusia modern. Didukung pemerintah yang meminggirkan Islam dengan sengaja melalui berbagai kebijakan.

Komunitas Muslim Roma adalah kelompok masyarakat yang begitu menderita di zaman modern. Desa-desa mereka tanpa listrik, fasilitas pendidikan, juga lapangan kerja. Perlakuan diskriminatif seperti tak pernah selesai mereka alami. Politik belah bambu yang dilakukan barat pun mereka rasakan. Karena mereka beragama Islam, orang-orang Bulgaria modern menyebut mereka sebagai Gipsi Turki. Tetapi komunitas Turki menolak mereka, sebab kulit mereka lebih gelap. Gipsi. Tak diterima di komunitas Turki. Tak diterima di komunitas Bulgaria. Beragama Islam. Masih hidup. Tapi luput dari perhatian kita semua.

Itulah kenapa kita memerlukan kepemimpinan yang satu. Yang akan melindungi kaum muslimin di seantero negeri. Tak peduli apa suku bangsanya, selama akidahnya Islam, mereka adalah saudara yang wajib mendapat perlindungan. Kepemimpinan yang satu ini akan menerapkan syariat secara menyeluruh.

Jangan luput lagi. Mari ikut berjuang, kawan.