Senin, 29 Juli 2019

Sebuah Akhir yang Baik

Quarter pertama 2015, sepulang dari perjalanan ke Kamboja dan Thailand, aku terlibat percakapan intensif dengan seorang teman ngopi tentang Islam. Hingga akhirnya dari percakapan intensif ini muncul kesepakatan bahwa kita akan mengkaji Islam secara intensif pula. Minimal sepekan sekali waktu maksimal dua jam setiap pertemuan. Kemudian aku mengenal pertemuan ini dengan sebutan halaqoh. Teman ngopi ini berubah fungsi menjadi guru ngaji, dikenal dengan sebutan musyrif.

Meski sudah ada kesepakatan halaqoh sekali sepekan, dan musyrif punya kesibukan yang teramat sangat, tapi aktivitas ngopi bareng dan cerita pemikiran Islam tidak dihentikan. Malah semakin intensif. Aku masih ingat, waktu itu hampir tiap hari kita berjumpa. Sarapan, sebelum musyrif berangkat mengajar di kampus, sempatkan sarapan bersamaku. Nanti siang, jika ada kesempatan jumpa, kita minum kopi bersama. Terus malam hari, jumpa lagi di warung kopi.

Inilah fase pembinaan. Konon, keputusanku untuk berhijrah harus terus dikawal. Orang-orang di Pontianak sudah tau trackrecord-ku. Pecundang kelas kakap terhadap aturan Allah. Diajak sholat, apa jawabanku? Yak, tepat. Sudah pernah! Untuk itu musyrif merasa perlu bertemu denganku hampir setiap hari. Lama kelamaan aku mengetahui metode ini dengan sebutan mutaba'ah.

Perkataan mutaaba’ah berasal dari kata taaba’a. Kata ini memiliki beberapa pengertian. Di antaranya, tatabba’a (mengikuti) dan raaqaba’ (mengawasi). Dengan demikian, kata mutaaba’ah bererti pengikutan dan pengawasan. Yang dimaksud dengan mutaaba’ah sebenarnya adalah mengikuti dan mengawasi sebuah program agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Keren juga kelompok dakwah ini, batinku. Metode pembinaan luar biasa. Musyrif harus benar-benar memastikan bahwa pola pikir para daris (murid) adalah pola pikir Islam, dilanjutkan dengan pola sikap Islam. Selanjutnya akan terbentuk kepribadian Islam. Tentu saja aqidah Islam adalah bagian yang harus tertanam dalam. Aqidah yang dibangun atas landasan pemikiran ini kemudian akan mendorong seseorang untuk menyongsong kebangkitan. Karena pola pikirnya Islam, pola sikapnya Islam, kepribadiannya Islam, aqidahnya Islam, maka kebangkitan yang disongsong adalah kebangkitan Islam.

Keren kan. Keputusan untuk bertobat setelah dibina dalam halaqoh-halaqoh dan mutaba'ah-mutaba'ah membuat kita punya komitmen kuat untuk menjadi pejuang Islam yang semata-mata hanya berharap ridhaNya. Tak banyak kutemukan kelompok dakwah yang begitu rapi seperti ini. Atau mungkin tak ada?

Di masa-masa mutaba'ah ini, musyrif memberiku beberapa referensi bacaan. Salah satu buku Yang diberikannya di masa-masa awal pertemuan kami adalah buku berjudul Indonesia Milik Allah karya ustaz Hari Moekti. Aku kaget. Hari Moekti? Tanyaku dalam hati. Maksudnya, kabar roker kondang ini hijrah kemudian memutuskan menjadi da'i, sudah kuketahui sejak dulu. Tapi aku tak menduga, ternyata "mantan setan" ini juga bersama kelompok dakwah yang sekarang sedang membinaku. Berarti Hari Moekti juga ikut halaqoh? Berarti Hari Moekti juga didatangi musyrifnya untuk mutaba'ah? Luar biasa, pantas saja kemudian beliau begitu istiqomah dalam jalan dakwahnya. Menyerahkan hidupnya hanya untuk Islam.

Selanjutnya nama Hari Moekti menjadi kerap kudengar bersama dengan da'i - da'i pejuang syariat Islam lainnya. Pantas saja, dulu sebelum aku ikut kelompok dakwah ini, musyrif, yang waktu itu masih sebatas teman ngopi pernah cerita bahwa dia dan teman-temannya akan mengundang Hari Moekti ke Pontianak. Dalam hatiku, jago betul orang ini. Bikin acara tak tanggung-tanggung, yang diundang orang sekaliber Hari Moekti. Berapa besar dana yang dipunya?

Ternyata eh ternyata, Hari Moekti adalah teman satu pengajian. Ternyata eh ternyata tak perlu honor untuk mendatangkan Hari Moekti dalam agenda dakwah. Cukup menyediakan akomodasi seadanya.

Kesempatan lain, aku dapat berita bahwa Hari Moekti akan ke Pontianak lagi. Kali ini yang mengundangnya dari Masjid Kapal Munzalan Mubarakan di jalan Ampera. Maka tak kan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan datang paling depan, membawa buku karangan beliau, nanti selesai tausiyah aku akan menghampiri beliau sambil minta tanda tangan di buku lalu berfoto bersama. Begitu rencanaku.

Hari yang ditentukan tiba. Saking semangatnya aku pergi di awal waktu menuju masjid Munzalan. Membawa kamera, membawa tripod. Sesuai rencana aku akan duduk paling depan, kan kurekam ceramah beliau, kuunggah di Youtube. Berhasil. Tak ada yang lebih depan dari tempat dudukku. Kami hanya berjarak beberapa meter. Aku begitu dekat dengan mantan setan ini. Ceramahnya menggelegar. Waktu itu beliau datang dalam rangka maulid nabi. Katanya, Nabi Muhammad SAW itu bukan diutus oleh Allah hanya untuk mengurusi urusan individu, tapi juga masyarakat, bahkan negara. Meneladani Nabi itu artinya secara individu kita harus mencontoh nabi, dalam kelompok masyarakat, tata sosial kehidupan harus mencontoh seperti apa yang dilakukan nabi, dalam bernegara juga tak boleh lari dari aturan yang diajarkan nabi. Yakni aturan Allah SWT. Itu baru namanya mencintai Nabi Muhammad SAW.

Sungguh, gayanya berceramah punya ciri yang khas. Sesekali beliau melucu, tak jarang membuat haru, kerap mendidihkan darah ini untuk ikut bangkit, taat di jalan Allah dan memperjuangkan jalan ini agar bisa diterapkan secara menyeluruh. Allahu Akbar.

Salah satu kalimat yang membekas disampaikan ustaz Hari Moekti malam itu di Masjid Munzalan, kira-kira begini, "Semenjak runtuhnya Daulah Islamiyah, para pemimpin berganti, bukan raja, bukan presiden, tetapi para pengusaha."

Para pengusaha inilah yang menguasai negara-negara. Sebut saja negaranya, di belakang para penguasanya pasti ada pengusaha. Ini langgeng, berlangsung terus menerus semenjak awal abad 20 sampai sekarang. Hampir seratus tahun. Kenapa langgeng? Karena sistem untuk menjalankan negara di dunia ini adalah sistem bentukan mereka, para pengusaha itu. Nama sistemnya sekulerisme, anak kandunya bernama kapitalisme, teknis menjalankan sistemnya dikenal dengan nama demokrasi.

Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Suara rakyat lewat wakil-wakilnya menjelma menjadi suara Tuhan. Vox populi Vox dei. Para wakil rakyat ini berhak membuat hukum yang seharusnya ini adalah tugasnya Tuhan. Di belakang para wakil rakyat ini siapa? Benar, pengusaha. Merekalah yang menguasai negara dimanapun berada. Lalu untuk siapa demokrasi ini dijalankan? Ya untuk para pengusaha. Dari pengusaha oleh pengusaha untuk pengusaha. Lho, rakyatnya kemana? Tenang saja, rakyat sudah cukup puas berpesta memeriahkan demokrasi bentukan pengusaha ini yang katanya untuk memilih para wakil rakyat yang sejatinya adalah para suruhan pengusaha.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Tegas dalam setiap dakwah yang disampaikan. Kalimatnya yang cukup terkenal adalah dakwah itu menyampaikan apa yang harus mereka dengar bukan apa yang ingin mereka dengar.

Di waktu yang lain, sebenarnya aku kembali punya kesempatan bertemu lagi dengan ustaz Hari Moekti. Waktu itu aku dipercaya oleh panitia penyelenggara kegiatan Kalbar Book Fair untuk mengurusi sesi acara bedah buku. Ada beberapa penulis nasional yang hendak diundang.

Pesan panitia, yang penting ramai. Pokoknya gimana caranya pembicara tersebut mampu menyedot masa. Langsung terucap dari mulutku nama ustaz Hari Moekti. Panitia kaget seraya bertanya, memangnya aku punya kontak beliau?

"Tenang saja, aku punya," jawabku yang tetap saja tidak membuat para panitia ini percaya. Aku membantin, gampanglah itu, teman sepengajian kok. Singkat cerita aku dapat nomor kontak manajemen Ustaz Hari Moekti. Setelah dihubungi, pihak manajemen mengatakan insyaallah ustaz Hari Moekti berkenaan namun akan dikonfirmasi ulang sebab manajemen harus melihat ulang jadwal beliau.

Kata manajemen, ustaz Hari belakangan mulai suka sakit karena kelelahan. Jadi kalau harus keliling keluar daerah harus disediakan waktu untuk beristirahat setidaknya sehari. Tidak boleh kayak dulu. Habis ceramah di kota ini, langsung bandara, pindah ke kota itu. Selesai, pindah lagi ceramah ke kota lain. Naik mobil, naik kapal, tidur di hotel, tidur di camp pengungsian, dijalani. Dari Aceh hingga Papua, tiap daerah pernah disinggahi beliau untuk berdakwah. Tak kenal lelah.

Tapi manajemen bersikeras, sekarang tak bisa lagi seperti dulu. Sudah ada ring di jantungnya, meski sesungguhnya pemasangan ring di jantungnya itu bukan alasan baginya untuk kendor berdakwah. Hingga akhirnya rencana ustaz Hari Moekti untuk hadir di kegiatan kalbar Book Fair gagal karena jadwalnya berbenturan dengan kota lain, dan jika beliau harus terbang ke Pontianak itu artinya beliau tak sempat istirahat.

Hal ini saya sampaikan ke panitia. Terus, penggantinya siapa? Tanya panitia. Yang tetap pokoknya harus ramai. Saya katakan, Felix Siauw.

"Hah, Felix Siauw? Memangnya kamu punya kontaknya?"

Kalau saja panitia Book Fair mau ikut mengkaji Islam bersama kelompok dakwah tempat ku belajar, juga tempat ustaz Hari Moekti belajar, juga tempat Ustaz Felix Siauw belajar, dia mungkin tidak seketerkejut itu. Akhirnya Ustaz Felix datang Ke Pontianak, bukunya yang dibahas berjudul habbits. Ribuan orang tumpah ruah memadati acara. Alhamdulillah.

Setelah itu, tak ada lagi kesempatanku bertemu ustaz Hari Moekti. Wajahnya hanya kerap kusaksikan dalam desain poster tabligh yang berseliweran di grup-grup WA. Juga beberapa kali kusaksikan beliau di Televisi. Hingga akhirnya kami berada dalam satu grup WA yang sama. Ini adalah grup para seniman muslim yang punya tekat berkesenian dalam rangka menyongsong peradaban gemilang bernama Islam. Ustaz Hari adalah salah satu pembina grup seniman muslim ini. Dari grup ini kuketahui semakin ke sini ustaz Hari Moekti kerap dilanda sakit. Tapi berkali-kali beliau sakit, berkali-kali beliau bangkit. Berdakwah lagi dari satu kota ke kota yang lain. Adik kandungnya yang juga anggota grup seniman muslim ini, abah Moekti Candra yang sering update perkembangan kesehatan beliau.

Begitulah ustaz Hari Moekti. Roker yang menjadi idola jutaan manusia seantero nusantara. Menyebut dirinya sendiri sebagai setan. Sebab ambisinya sebagai artis populer adalah ambisi setan. Hari Moekti sudah mengajak jutaan manusia jingkrak-jingkrak tak karuan di saat konser. Hari Moekti telah menjadi perantara para lelaki perempuan berpelukan di tempat umum padahal mereka bukan mahrom. Hari Moekti telah mengundang orang untuk menenggak alkohol. Hari Moekti, pada masanya telah mengajak orang secara terang-terangan untuk bermaksiat. Untuk mengikuti langkah - langkah setan. Maka Hari Moekti menyebut dirinya sebagai setan.

Ketika beliau memutuskan untuk bertobat, maka beliau adalah mantan setan. Yang senantiasa menyeru kepada orang-orang beriman untuk tidak mengikuti langkah langkah setan. Untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh. Seruan ini adalah seruan Allah dalam Al-Quran, yang ketika dijalani maka rahmat bagi seluruh alam akan kita rasakan.

Hari Moekti adalah salah satu pejuang yang layak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Totalitasnya dalam berdakwah seperti tak tergantikan. Suaranya lantang menyerukan penegakan syariah dan khilafah. Kerinduannya akan kejayaan Islam tampak nyata dalam setiap ceramahnya. Hari Moekti, telah menjadi inspirasi jutaan manusia untuk ramai-ramai bertobat, ramai-ramai berjuang menerapkan syariat.

Saat mengetahui kabar kepergiannya lewat adiknya, Abah Moekti Candra via grup WA, darah di dadaku langsung berdesir kencang. Beliau telah dipanggil. Manajer hakiki ustaz Hari Moekti sudah meminta beliau untuk istirahat. Sudah, jangan keliling lagi. Sudah. Cukup. Sekarang istirahat lah bersama pemilik hidup.

Aku menangis? Tentu saja. Apalagi setelah membaca banyak catatan orang-orang seperjuangan. Ustaz Titok Priastomo menulis dalam status facebooknya, Ya Allah, berikanlah kpd beliau pengganti yg lebih baik dari dunia ini, dan berilah juga kepada kami pengganti-pengganti seperti -atau lebih baik dari- beliau. Ini doa tulus dari teman seperjuangan sekaligus bukti nyata bahwa sosok Hari Moekti adalah salah satu manusia terbaik dari umat terbaik. Yang tak pernah menolak panggilan Allah untuk berdakwah, untuk menyeru kepada yang makruf mencegah kepada yang mungkar. Bukan untuk popularitas dirinya pribadi, tapi semata-mata untuk menjalankan perintah Allah. Ya. Perintah Allah. Menolak perintah Allah, berarti menolak berada di surganya Allah.

Manusia terbaik ini, pulang dengan jalan terbaik pula. Saat sedang memenuhi panggilan dakwah di Cimahi. Di hotel terserang sakit, langsung dibawa ke rumah sakit, beberapa menit kemudian wafat. Tak perlu berlama-lama, Allah sudah sangat merindukannya.

Terakhir, mengiringi kepergian beliau, izinkan saya mengutip kalimat Ustaz Ismail Yusanto. Ini sahabat beliau. Ini inspirator beliau, yang juga inspirator jutaan manusia di Indonesia yang untuk senantiasa istiqomah berada di jalan dakwah.

Kata ustaz Ismail, di saat tabligh, beliau dipanggil Allah. Sebuah akhir yang baik, Insyaallah.

Izinkan kami melanjutkan perjuanganmu wahai kekasih Allah, hingga pada saatnya nanti syariah dan khilafah dapat benar-benar kita rasakan di dunia ini. Bersama barisan Imam Mahdi ikut berjuang menegakkan kalimat La illaha ilallah Muhammad Rasulullah.

Pontianak, 25 Juni 2018

Jumat, 26 Juli 2019

Buku Perjalanan

Dulu, ketika saya bercerita tentang rencana menerbitkan buku perjalanan, banyak orang yang kemudian menunggu-nunggu terbitnya buku tersebut. Orang-orang ini punya ekspektasi besar tentang seperti apa perjalanan yang saya lakukan. Pergi ke mana saja. Pemandangannya yang indah. Kawasan yang sulit dijangkau. Pengalaman menggendong tas ransel di pundak. Sepatu gunung.  Tantangan rintangan selama perjalanan. Bahkan ada yang berharap saya menulis “how to”. Tips dan trik jalan-jalan murah. Panduan perjalanan di musim dingin. Dan semacamnya.

Pada kesempatan ini saya ingin memohon maaf sebab barangkali tak bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Saya tak menulis travel guide juga hal-hal lainnya seperti heroisme seorang traveler. Bisa jadi karena memang saya tak ahli untuk menuliskan detil tentang guidance juga saya bukan seorang traveler yang heroik. Meski saya memahami, buku-buku seperti ini adalah buku-buku yang paling banyak dicari. Nanti lah ya, kapan-kapan, semoga saya ada bisa menulis buku ‘how to’ gaya saya. Tapi saya tidak berjanji. Khawatir tidak terlaksana.

Lalu, ini buku soal apa? Saya sendiri tak terlalu pandai menceritakan buku apa ini. Benar saya telah melakukan perjalanan. Setamat SMA, saya melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Waktu itu saya kuliah di sana. Episode ketika saya di Jogja ini adalah episode seru dalam proses hidup saya. Bertemu dengan berbagai macam pemikiran. Bergejolak. Sungguh, sejak dulu saya ingin mencatatkannya. Alhamdulillah pada kesempatan ini, keinginan itu bisa terwujud. Meski tentu saja tidak semua episode Jogja bisa saya lampirkan di sini. Banyak juga yang tak saya ceritakan dan tak harus saya ceritakan.

Lima tahun di Jogja, jejak kembara ini berlanjut ke Jakarta. Tak terlalu lama di ibukota negara, tapi banyak hal yang mampir dalam otak ini. Pemikiran saya acak kadut ketika di Jakarta. Ini lumrah. Banyak orang sudah tahu karakteristik Jakarta yang kejam. Banyak orang yang ketika berada di Jakarta seketika berubah menjadi orang-orang yang bengis dalam mengejar keuntungan. Industri. Kapital. Baik sekadar untuk bertahan hidup atau pun dalam rangka meraup kekayaan dan terus menyiksa orang kebanyakan. Jakarta menjadi saksi bahwa pemikiran yang sudah lama dibangun di Jogja harus porak poranda begitu saja di ibukota. Belakangan ini saya memahami masalahnya. Pondasi yang tak kuat.

Tanpa pondasi yang kuat, saya pulang kampung. Pontianak. Melewati episode demi episode dalam hidup. Bertemu banyak orang. Bertemu banyak peristiwa. Bertemu banyak pelajaran. Juga kerap tak mengambil pelajaran. Yang penting senang yang penting menang. Di Pontianak, hasrat untuk berkelana muncul menggebu-gebu. Hingga pada suatu waktu, saya berkesempatan untuk terbang begitu jauh, Bulgaria.

Saya merasa ada hal penting yang perlu saya ceritakan selain sekadar tips and trik menjadi pengembara sejati. Pemikiran. Pondasi. Sebab dalam tiap kembara kita akan bergesekan dengan pemikiran berbeda. Sebab dalam tiap kembara kita akan berjumpa dengan hal asing yang punya konsekuensi  logis pada perkembangan hidup mati kita ke depan. Pada titik ini kita perlu pondasi kokoh untuk menopang pemikiran yang benar. Ah, saya jadi seperti mewejang. Tak layak rasanya.

Begini saja biar lebih mudah. Kamu baca saja buku ini. ada banyak kisah di sana. Siapa tahu saja kamu bertemu kesalahan-kesalahan, lalu jangan segan untuk memberikan kritikan. Siapa tahu saja setelah membaca buku ini kamu punya inspirasi untuk mengoreksi saya, untuk menasehati saya, untuk membuat saya semakin termotivasi untuk tak henti berjuang menuju kebangkitan.

Begitu kira-kira RUTE ini ditulis. Sekarang ada di tangan kamu semua. Jika ada waktu, semoga kita bisa jumpa, barangkali kita bisa jalan bersama, atau minimal menyicipi kopi bersama. Sungguh, saya kenal barista yang seduhannya, membuat kita betah berlama-lama.

Jika memang buku ini membawa pesan kebaikan, jangan pelit untuk menyebarkan pesan kebaikan ini kepada orang-oran lain. Semoga Allah ridha dan berbuah pahala bagi kita semua. Aamiin.


Selasa, 23 Juli 2019

Menjelajahi Surga Bakau di Negeri Mitos

Tiga lampu senter menyala menembus gelap. Aroma lumpur dari parit kering merambat di hidung. Sebagian orang masih terlelap. Tengah malam baru saja lewat. Beberapa lelaki di Desa Kubu telah bersiap. Menembus dingin musim barat. Sigap. Membuka temali perahu, merayap menelusuri parit menuju sungai bakau sarat dengan aroma misteri.

Bersama mitos tentang orang bulian atau yang lebih dikenal dengan panggilan Orang Kebenaran, serta kecemasan hutan bakau milik nenek moyang yang semakin hari semakin berkurang dibabat perusahaan kayu milik pengusaha Singapura, para lelaki pencari kepiting tetap setia dengan bubu dan perahunya.

Alkisah, sejak ratusan tahun silam, Orang Kebenaran hidup bersama-sama masyarakat di Desa Kubu, Kalimantan Barat. Orang Kebenaran adalah makhluk kasat mata. Hanya orang-orang yang kejujurannya mencapai tingkat Dewa yang bisa melihat keberadaan mereka. Entah jin entah setan, tapi masyarakat percaya bahwa jika mereka tidak mengganggu kediaman Orang Kebenaran, maka masyarakat juga tidak akan diganggu.

Minggu, 21 Juli 2019

Posisi Mulia

oleh Pay Jarot Sujarwo

Beberapa hari lalu dikirimi teman foto lama. Katanya itu kejadian tahun 2013. Momentumnya adalah ngisi acara diskusi, yang dibahas persoalan traveling, terkait buku saya tentang jalan jalan kampungan ke Belanda.

Momen-momen begini yang kerap membuat saya rindu untuk ajak orang-orang jalan-jalan. Dulu, saya suka jalan sendirian. Ke sana ke mari sendirian. Nanti bisa bertemu teman dalam perjalanan. Ada yang menjadi akrab. Ada pula yang hanya ketemu selewat

Setelah bertemu dengan Islam, saya jadi tahu bahwa traveling sendirian oleh para ulama dihukumi makruh. Maka melakukan traveling tidak sendirian insyaallah berpahala minimal pahala meninggalkan sesuatu yang makruh.

Tapi tak sesederhana itu. Ada banyak keutamaan dengan melakukan traveling bersama-sama (tidak sendirian) setidaknya tiga orang. Selain keamanan lebih terjaga, jika berpergian bersama kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Bukankah perintah amar ma'ruf nahi mungkar sangat sering disebut Allah dalam alquran? Mereka yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dalam kemungkaran punya posisi mulia di mata Allah swt. Dan potensi posisi mulia itu bisa didapat dengan traveling bersama

Emangnya kalau traveling bersama tidak bisa maksiat, tidak bisa mungkar? Tentu saja bisa, bahkan mudah banget. Untuk itulah dalam traveling, dibutuhkan adab yang lain. Pertama, tidak sendirian, berikutnya, bersama mereka yang sholeh. Orang-orang taat jika bersama-sama, maka potensi meningkatkan ketaatan akan semakin besar.

Oleh karena itu Islamic Trip and Travel Book Project menjadi perlu. Masing-masing kita tentu saja tak bisa mengklaim sebagai orang sholeh. Tapi Allah tau niat kita. Kita bersama ingin menuntut ilmu. Kita bersama ingin jalan bareng dalam rangka meningkatkan ketaatan. Dalam rangka berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam rangka amar ma'ruf nahi mungkar. Kuatkan niat itu. InsyaAllah ganjaran posisi mulia akan Allah berikan.

Yuk ngetrip bareng. 11-13 oktober 2019. Rutenya Kuala Lumpur - Malaka








Jumat, 19 Juli 2019

Bekas Jejak

oleh Pay Jarot Sujarwo


Bekas jejak. Saya suka dengan frase ini. Kalau mau dicari filosofinya, silakan lah masing-masing bikin penasfsiran. Tapi bagi saya sederhana saja. Langkah meninggalkan jejak, jejak bekas. Bekas ini jadi kenangan pun berpotensi menjelma harapan.
Begitulah, 'Bekas Jejak' saya rencanakan menjadi judul dari Islamic Travel Book yang insyaAllah akan diterbitkan pasca trip ke Kuala Lumpur - Malaka pada 11 - 13 Oktober 2019 mendatang.
Siapa penulis buku ini? Mereka adalah peserta Islamic Travel Writing class. Maksudnya, ini adalah open trip, dibuka bagi siapa saja, dan dalam trip yang diselenggarakan kali ini sekaligus kita akan belajar dan praktik menulis.
Sekadar mengunjungi Kuala Lumpur - Malaka, mungkin banyak orang sudah mengalaminya. Tapi terlibat secara langsung dalam project penulisan buku, ini penggalaman bersejarah.
Saya tak berani menjamin bahwa nanti bukunya akan menjadi buku yang bagus, dijual best seller, penulisnya akan terkenal diwawancarai tv tv nasional. Tentu saja tidak semuluk itu. Bahkan bisa jadi sebagian besar peserta adalah mereka yang baru pertama kali punya pengalaman menulis.
Tapi perlu diingat, pengalaman pertama akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dipupuk dan dirawat dengan semestinya. Berapa banyak penulis besar yang lahir di muka bumi ini yang disebabkan dari pengalaman pertama dari sesuatu yang tak diduga-duga. Dan yang pasti, mereka yang mencoba, mereka yang berangkat ke Kuala Lumpur dan Malaka nanti, adalah mereka yang mampu merasakan dan membuktikannya.
Sekali lagi, saya tak terlalu berharap imbalan dunia dalam projek penulisan buku ini. Biarlah nanti masing-masing penulis yang akan berproses ke depan. Apakah ini buku pertama dan terakhirnya,
atau malah ini menjadi pemicu luar biasa dalam melahirkan buku-buku berikutnya. Dalam percakapan via WA seorang calon peserta bilang ke saya, ingin ikut kegiatan ini karena memang ingin belajar dan menekuni kepenulisan. Selama ini dia sudah bolak balik kuala lumpur malaka. sudah hafal mati dengan kota itu. Bahkan dia bekerja di travel Agent. Tapi pengalaman menulis bersama, itu yang dia incar. InsyaAllah dia akan ikut nanti. Mana tahu bisa menulis buku tunggal ke depannya.
Harapan saya akhirat. Saya sering membatin bahwa project Islamic Trip kali ini adalah project akherat. Buku, jika bagus, postitif, mengandung nilai ilmu bermanfaat, dibaca orang, menginspirasi orang, akan berbuah pahala. Pahala ini bisa jadi bekal yang luar biasa di akherat. sebab ini akan terus menerus mengalir. Jariyah. Sampai kiamat. Syaratnya dilakukan dengan ikhlas dan dengan cara yang benar.
Untuk itulah BEKAS JEJAK menjadi perlu untuk diterbitkan. untuk itulah agenda travel writing class ini perlu diselenggarakan. Untuk itulah, Islamic Trip ini perlu kamu. Ya, kamu.
Kamu mau ikut?
------
jangan lupa follow akun instagram
@payjarotsujarwo
@islamictripalkayyis


Open Trip, Why?

Oleh: Pay Jarot Sujarwo
Saya awalnya tak terlalu paham bagaimana menjadi seorang tour guide. Tentu saja. Selama mengembara, saya tak pernah ikut travel agent. Tapi hasrat saya untuk bisa mengajak orang traveling cukup besar. Hingga akhirnya terwujud di awal 2017.
Waktu itu saya bikin pengumuman di sosmed, bahwa saya akan open trip. Rutenya Malaysia – Vietnam – Kamboja. Ini pengalaman perdana. Agak deg-deg-an sebenarnya. Tapi berkali-kali saya kasi penjelasan saat promosi di facebook, bahwa tipe perjalanan kita kali ini bukan tipe perjalanan travel agent. Saya bukan tour guide. Saya lebih suka disebut teman perjalanan. Nanti kita punya itenerary, tapi tidak kaku. Fleksible. Coboy.
Maka berangkatlah kami, kalau saya tidak salah pesertanya ada 10 orang. Waktu itu, dari Pontianak terbang ke Kuala Lumpur, langsung menuju kota Putrajaya, malam hari ke Dataran Merdeka dan Menara Petronas. Esoknya terbang ke Vietnam. Dua hari di Ho Chi Minh kebanyakan kita jalan kaki ke berbagai tempat wisata. Hari berikutnya naik bis ke Phonm Penh. Betapa bahagianya seluruh peserta ketika berjumpa restoran Indonesia di Ibu Kota Kamboja itu. Warung Bali, milik kang Firdaos.
Dari Kamboja, terbang ke KL lalu pulang ke Potianak. Total 5 malam 6 hari 3 Negara. MasyaAllah. Saya tak pernah menyangka mendapat respon yang menggembirakan dari seluruh peserta. Dugaan saya adalah saya memang bukan tour guide dari travel agent, yang setiap saat harus sibuk melirik jam tangan dan mengibarkan bendera perusahaan. Tidak, saya tidak seperti itu.
Kebetulan sebelum-sebelumnya saya pernah ke Malaysia – Vietnam – Kamboja. Saya hafal beberapa daerah di sana, selanjutnya saya bebaskan para peserta untuk eksplorasi. Di sela-sela itu saya juga berkesempatan bercerita tentang bagaimana Islam bisa berkembang di daerah ini hingga kemudian porak poranda oleh penjajah Perancis.
Pengalaman pertama menjadi teman perjalanan, cukup menyenangkan. Selanjutnya saya buka lagi trip ke Bangkok - KL. Hampir 2 kali lipat pesertanya, 18 orang. Di kesempatan lain ada trip ke KL – Genting – Malaka, juga 18 orang. Terus saya bawa keluarga dan 1 keluarga lainnya dan 1 orang mahasiswa ke Batam – Singapura.
Lalu kenapa saya sampai bikin open trip? Apakah hanya untuk memuaskan hasrat saja? Tentu saja tidak. Meskipun belum mengunjungi banyak negara, tapi saya cukup memahami dunia traveling. Berbagai macam rupa tujuan orang traveling, mulai dari sebagai wujud eksistensi kaum hedonis hingga merasa perlu belajar dengan kehidupan dan kebudayaan asing. Mulai dari foto-foto untuk kebutuhan sosmed sampai soal charity bagi orang-orang miskin di negara tujuan. Ada banyak perisitiwa dalam traveling. Ada banyak cerita. Itu yang perlu kita bagi.
Tapi hanya berbagi cerita saja tak cukup. Saya juga ingin berbagi impian. Suatu hari, saya punya mimpi, dan mimpi itu sampai hari ini tetap terjaga. Mimpi itu adalah bisa jalan-jalan keliling dunia, tapi juga bisa masuk surga. Ini sesuatu yang begitu mudah diimpikan juga diucapkan. Tapi untuk dipraktikkan tak semudah yang kita duga.
Berapa banyak traveler di dunia ini yang semakin jauh kakinya melangkah, semakin jauh mereka dengan Tuhannya? Ada banyak sekali. Kau tau Seam Riep, Kamboja? Di kota ini ada kawasan yang disebut Pub Street. Ini adalah kawasan tempat para western melampiaskan maksiatnya. Pub, alkohol, lokalisasi, ganja, hingar bingar musik. Lalu berapa orang yang kemudian tertular? Wohoho, banyak sekali. Mengaku diri traveler, merasa perlu menjadi bagian dari itu semua.
Dan kawasan model Pub Street hadir merata di hampir semua wilayah tujuan wisata dunia. Khao San, Legian, Chiang Rai, Pam Ngu Lao, Jalan Jaksa, dan berbagai tempat lainnya. Semakin ke sini, situasinya semakin mengkhawatirkan. Mereka melabeli aktivitasnya sebagai aktivitas menuju freedom. Dan ini menular, kawan. Percayalah.
Padahal, bukan itu hakikat perjalanan. Beberapa ayat dalam Al Qur’an saya temukan terkait traveling. Memang kita disuruh untuk berjalan di muka bumi, menjelajahi tempat-tempat asing. Tapi bukan untuk maksiat, melainkan untuk mendekat kepada Tuhan. Sebaik-baiknya perjalanan adalah perjalanan menuju ketaqwaan.
Sampai di sini, rasanya bisa dipahami. Ada alasan ruhhiyah dalam trip yang saya selenggarakan. Meskipun juga tak bisa dipungkiri, juga ada nilai madiyah di sini. Tapi sungguh, saya ingin berbagi. Lalu dari apa yang saya bagikan ini, sukur-sukur bisa dibagikan kembali. Lewat tulisan. Harapannya Allah ridha. Sehingga akan menjelma pahala yang terus mengalir. Untuk saya sendiri, juga untuk para peserta yang mengikuti trip ini.
Kita akan ngetrip dan menulis bersama. Islamic Trip and Travel Book Project. Kuala Lumpur – Malacca. 11 – 13 Oktober 2019. You are invited, kawan. Yes, you are.

Selasa, 16 Juli 2019

Boulevard Maria Luiza

oleh: Pay Jarot Sujarwo


Boulevard Maria Luiza. Ini adalah jalan utama di tengah kota Sofia. Di musim dingin, pohon-pohon kehilangan daun. Tapi tentu saja bukan pohon mati. Nanti, menjelang musim semi, dedaunan akan mulai bertumbuhan. Menurutku, sebagai manusia yang berasal dari tropical area, yang ijo royo-royo, yang gemahripah loh jinawi, menyaksikan pohon-pohon tanpa daun adalah keunikan tersendiri. Tak jarang aku berhenti agak lama demi untuk menikmati, juga memotret pohon-pohon itu. Rerantingnya seperti sepi yang menyelinap di relung hati. Di beberapa batang yang agak besar, kadang gagak hitam hinggap. Jika angin berhembus, reranting kecilnya seperti tertampar. Bergoyang-goyang, mengabarkan kepada siapa saja, bahwa reranting kecil itu belum mati.



Boulevard merupakan jalan yang besar. Kerap terdapat median di tengah untuk membagi jalan menjadi dua arah. Hampir semua orang di Kota Sofia mengetahui keberadaan Boulevard Maria Luiza. Terlebih wisatawan. Ini seperti jalur wajib yang harus dilewati, sebab melalui jalan ini para turis akan bertemu dengan berbagai spot menarik.



Nama Maria Luiza diambil dari nama putri, anak perempuan dari raja Boris III, raja Bulgaria yang naik tahta di masa perang dunia I. Di Bulgaria, mungkin juga di banyak negeri-negeri lain, nama-nama tokoh di masa lalu kerap dijadikan nama jalan. Dan di zaman modern ini, barangkali orang-orang lebih banyak mengenal Maria Luiza sebagai nama jalan ketimbang tuan putri yang harus melarikan diri bersama ibunya ke Mesir dan Spanyol karena negeri tersebut mengalami kekalahan perang yang menyakitkan.



Hampir setiap hari, jalan ini selalu ramai. Di jalan raya, tak jarang kemacetan terjadi, khususnya di dekat perempatan. Di sisi dua jalan, trotoar bagi pejalan kaki, hampir pasti selalu penuh di jam pergi dan pulang kerja.



Terus terang, aku kagum dengan budaya jalan kaki orang-orang Eropa. Trotoar adalah etalase peradaban negara maju. Budaya, estetika, juga perkara kedisiplinan masyarakatnya bisa tergambar pada kondisi trotoarnya. Ini penting. Ini identitas sebuah kota.



Di Boulevard Maria Luiza, aku menyaksikan orang-orang hilir mudik berjalan kaki. Sebagian dari mereka tampak terburu. Mungkin karena harus cepat sampai di tempat tujuan. Mungkin pula karena dingin sehingga para pejalan itu enggan berlama-lama di tempat terbuka. Atau mungkin, memang sudah budaya mereka berjalan dengan langkah yang tegas dan cepat.



Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk akrab dengan tempat ini. Hampir setiap hari aku melewatinya. Dimulai dari Lions Bridge, jembatan di atas sungai Vladaya yang terletak di pusat kota Sofia, kakiku melangkah menuju rute dengan nilai sejarah mencengangkan, setidaknya bagi turis amatiran seperti aku.



Setelah berjumpa dengan hilir mudik manusia lalu lalang dengan tergesa, dari kejauhan mataku menabrak menara yang begitu khas. Masjid, itu masjid. Aku sudah membatin. Sebab menara berbentuk seperti pensil itu tegak menyertai sebuah bangunan berkubah. Walaupun tentu saja nanti akan banyak kujumpai bangunan berkubah yang bukan masjid, tapi aku tak salah menduga untuk yang satu ini.



Namanya Masjid Banya Bashi. Berdiri, sebab kekhalifahan Utsmaniyah cukup lama berada di sini. Tepat di seberang Masjid Banya Bashi, kita akan bertemu gedung dengan gaya arsitektur neo renaissance, berdiri di awal tahun 1900an berfungsi sebagai pasar central yang sampai sekarang pun masih sebagai pasar central. Ratusan tahun orang-orang melakukan aktivitas jual beli di sini. Lanjut maju sedikit ke depan, masih dengan bangunan seperti yang sering kita saksikan di film film epic dengan setting masa lalu, sungguh aku tak pernah mengira bahwa landmark yang nyaris bersebelahan dengan Masjid Banya Bashi adalah sebuah departement store modern. Dari luar ini semacam istana kuno abad pertengahan. Tapi begitu masuk ke dalam, segala barang modern tersedia. Di depan Departement Store ada banyak deretan bangku-bangku kosong. Dari sini mata kita akan dapat melihat dengan jelas bangunan megah lainnya, Gereja Santo Nedelya. Ini adalah gereja ortodox yang berada tepat di tengah kota Sofia. Berdiri sejak abad pertengahan, yang telah mengalami kehancuran selama berabad-abad dan telah direkonstruksi berkali-kali.



Kita berhenti dulu di sini, kawan. Aku menggigil. Dingin teramat sangat.



Senin, 15 Juli 2019

Hingar Bingar Masa Lalu

Oleh: Pay Jarot Sujarwo
Catatan Perjalanan di Bulgaria

Di tempat ini, terang baru benar-benar sempurna kurang lebih terjadi pada pukul sembilan pagi. Penghujung febuari 2010. Musim dingin masih akan berlangsung kurang lebih sebulan lagi. Meski banyak orang mengatakan, dalam beberapa tahun belakangan ini, musim dingin di Bulgaria terasa lebih panjang dari biasanya. Lebih dingin dari biasanya. Aku tak mengetahui informasi tersebut. Ini luput ketika aku harus menelusuri google di saat-saat sebelum berangkat. Aku masih ingat, waktu itu aku hanya sibuk mencari info tentang salju dan seberapa tebal jaket yang kita perlukan.

Tapi musim dinginku di Bulgaria di masa-masa awal adalah musim dingin tanpa salju. Musim dinginku di Bulgaria adalah musim dingin yang begitu menyiksa. Jaket yang kubeli dari kedai pakaian bekas impor, orang-orang Pontianak menyebutnya lelong, seperti tak berguna. Aku harus menggunakan berlapis-lapis baju. Berlapis-lapis celana. Pun, tulang belulangku masih diserang dingin yang begitu garang. Sungguh, hal begini tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku tinggal tepat di jantung kota Sofia, ibukota Bulgaria. Karena ini pusat kota, banyak tempat berharga yang bisa ditempuh hanya berjalan kaki. Banyak yang mengira perjalananku menyenangkan selama musim dingin di Bulgaria. Ya, memang menyenangkan. Maksudku, overall, tentu saja ini pengalaman tak bisa dilupakan, tapi aku harus mengingatkanmu berkali-kali, bahwa musim dingin di Eropa, wabilkhusus di sebuah negara bernama Bulgaria, adalah sesuatu yang tak bisa diremehkan.

Kau yang sehari-hari terbiasa dengan iklim tropis, harus pasrah menerima kenyataan kulit kering dan gatal. Ini yang kualami. Kalau keluar rumah, seluruh tubuh tertutup. Jika wajah terbuka, maka siap-siaplah menahan perih. Dingin itu perih, kawan. Apalagi kalau penutup kepala kau buka, lalu kau biarkan dua telingamu bertengger bebas begitu saja. Rasanya begitu menyakitkan. Dingin itu akan merasuk begitu dalam hingga tulang belulang.

Gigil. Gemerutuk gigi. Sesuatu seperti asap keluar dari mulut. Selamat datang di Eropa.

Oya, sebelum bayanganmu terlalu jauh. Mari kuantarkan kau menuju garis-garis batas Bulgaria. Ini negara lokasinya berada di Eropa bagian Tenggara. Kalau pelajaran geografimu punya nilai bagus mungkin kau bisa membayangkan dimana itu lokasi tenggara. Tapi tidak bagiku. Asia tenggara sering disebut-sebut sejak kita kecil, karena Indonesia berada di situ. Tapi percayalah, sesungguhnya aku tak terlalu tahu dimana itu lokasi tenggara. Pun begitu dengan Bulgaria. Banyak orang menyebutnya sebagai negara yang terletak di Eropa Timur, aku juga demikian. Pikiranku sederhana, ini negara berada di lokasi paling Timur Eropa, hmm, maksudnya, paling timur sebelum nanti bertemu dengan Turki. Sebenarnya Turki posisinya berada di sebelah selatan Bulgaria. Kalau benar-benar timur, Bulgaria bersebelahan dengan laut hitam. Nah sebagian Turki itulah penghujung Eropa, nanti kalau terus ke timur akan bertemu Asia. Tapi ternyata salah, kawan. Bulgaria bukan di Eropa Timur, melainkan tenggara. Perlu kau ingat itu.

Ada lima negara yang mengelilingi Bulgaria. Kalau info ini bisa kau dapat di wikipedia. Di sebelah utara kau akan bertemu dengan Rumania. Kuingatkan, jika kau mendengar Rumania, sebaiknya kau mengingat soal Drakula. Lelaki kejam itu berasal dari Rumania. Di sebelah barat ada Serbia dan Makedonia. Yunani dan Turki di Selatan, sebelah timur ada laut hitam. Untuk agar lebih mudah mengingat Bulgaria, kau juga perlu mengenal istilah Balkan Peninsula, sebab di sanalah dia berada.

Kau ingin jalan-jalan ke masa lalu yang begitu jauh, kawan?

Di Eropa ada sungai yang begitu panjang, namanya sungai Volga. Sungai ini menjadi saksi berbagai macam peristiwa. Ini adalah sungai yang menjadi tempat perlintasan berbagai sukubangsa sub Mongolia, Turk, Huns, bahkan Jerman. Berbagai macam peradaban juga terjadi di aliran sungai Volga. Di sepanjang sungai Volga yang bermuara di Laut Kaspia pernah berdiri negeri Islam Volga-Bolgar pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi. Ibn Faldan adalah tokoh penting. Beliau merupakan duta besar yang dikirim oleh Khalifah Al-Muqtadir untuk mendakwahkan Islam di daerah ini.

Orang-orang Bolgar dipercaya berasal dari keturunan bangsa Turk yang datang dari Asia Tengah. Suku Bolgar terus menyebar, ada yang serumpun dengan sukubangsa Samartan dan Iran. Ada juga kawin mawin dengan orang-orang Slavia, Yunani, yang saat itu sudah menjadi bagian dari Romawi Timur bernama Byzantium. Percampuran ini kemudian menghasilkan sukubangsa baru bernama Bulgaria. Sebagian besar mereka memeluk agama Kristen Ortodok.

Tapi kakiku jejak di Bulgaria tahun 2010. Tentu saja aku tak bertemu dengan para Mongolian, Turk, juga dinasti Abbasiyah, Romawi Timur, dan suku-suku yang hobi berperang. Semuanya telah menjelma sejarah yang oleh para sejarawan telah diceritakan dalam berbagai versi. Kawan, kau tahu cerita kemenangan Muhammad al Fatih? Kita, dari generasi ke generasi akan dengan bangga bercerita bahwa inilah kegemilangan kaum muslimin. Bukti bahwa perkataan Rasulullah itu bukan bohong belaka meski harus terwujud 800 tahun kemudian. Konstantinopel yang runtuh pada tahun 1453 adalah cerita tak terbantahkan. Di Bulgaria, kudengar versi yang lain. Bahwa orang-orang Turki adalah penjajah yang kejam selama lebih dari 500 tahun. Kudengar cerita ini dari seorang komunis tulen yang menjadi Profesor di Universitas Sofia. Dapat kau bayangkan, kawan? Di kampus, dia akan senantiasa mengatakan hal ini kepada para mahasiswanya. Terus menerus dari generasi ke generasi. Lalu kau berharap bahwa sejarah hanya akan bercerita tentang satu hal yang sama?

Di Bulgaria, aku kedinginan. Di Bulgaria, aku disergap hingar bingar masa lalu.

Minggu, 14 Juli 2019

Uighur

oleh Pay Jarot Sujarwo


Pertama kali mengetahui tentang Uighur, saat saya membaca catatan perjalanan Agustinus Wibowo. Perjalanan tersebut dilakukannya (jika saya tidak salah) sekitar tahun 2008 atau mungkin sebelum 2008, namun saya baru membacanya antara 2012-2013. Baru kemudian tahun 2014 kisah perjalanan seorang pengembara dari Lumajang ini terbit dalam bentuk buku berjudul Titik Nol. Dalam buku ini cerita tentang Uighur juga tertera.

Meskipun Agustinus menyentil sedikit perkara politik dalam tulisannya-China, Tibet, Xinjiang, dan beberapa wilayah lainnya khususnya terkait garis batas- tapi bagaimanapun juga tulisan itu tetap saja merupakan catatan perjalanan. Penulis ini lihai menghadirkan paragraf deskriptif yang pada akhirnya memiliki nilai jual cukup berharga dari keseluruhan isi catatan. Deskripsi yang memukau dari Agustinus membuat banyak pembaca terpukau, termasuk saya.

Begitulah, kemudian saya mengetahui bahwa di dunia ini ada kawasan bernama Uighur. Secara politik, wilayah ini berada di bawah kekuasaan negara China. Diambil secara paksa. Sebelumnya ini sebuah negara independent bernama Turkistan Timur.  Secara geografis, wilayah ini sejatinya sudah masuk ke kawasan Asia Tengah. Fisik manusia-manusianya lebih terlihat seperti orang-orang Asia Tengah, bahkan Eropa. Mata mereka tak sipit, melainkan lebar. Tak jarang yang memiliki mata kehijauan atau kebiruan. Rambut pirang pun banyak ditemukan. Sama sekali tak tergambar fisik seperti orang China.



Keindahan deskripsi Agustinus Wibowo saat bercerita tentang Uighur kemudian menarik minat saya untuk juga bisa berkunjung ke sana. Sebagai travelbook, Titik Nol adalah buku yang berhasil. Cuplikan-cuplikan peristiwa politik, meski tak terlalu detil diceritakan, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk lebih banyak mengetahui tentang Uighur. Apalagi ketika mendapatkan fakta bahwa mereka seakidah dengan kita, kemudian hidup dalam ketertindasan pemerintahan komunis China.

Cukup sampai di situ. Selebihnya tak ada lagi yang saya ketahui tentang Uighur.

Waktu merambat. Tahun 2015 saya bertemu dengan Islam. Maksudnya, saya memang dilahirkan dari orangtua yang beragama Islam, namun baru tahun 2015 lah saya merasa benar-benar bertemu dengan Islam. Mempelajarinya. Mengikuti kajian Islam cukup intensif. Membaca buku-buku mengenai sejarah Islam. Sirah Nabawiyah, sejarah sahabat, juga tentang bagaimana Islam kemudian mampu tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia, komplit dengan segala pernak-perniknya; ketangguhan militer, kedidayaan ilmu pengetahuan, keindahan seni, keluhuran akhlak, kesempurnaan sistem sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Pada periode ini kembali saya dipertemukan dengan Uighur. Lewat bacaan. Kalau pergi ke sana, belum kesampaian. Dokumen yang saya baca adalah kisah Ibn Fadlan saat menjadi duta Islam dimasa kekhilafahan Abbasiyah. Waktu itu Ibn Fadlan menjadi juru dakwah di wilayah Sungai Volga. Ini adalah sungai yang menjadi tempat perlintasan berbagai sukubangsa sub Mongolia, Turk, Huns, bahkan Jerman. Berbagai macam peradaban juga terjadi di aliran sungai Volga. Di sepanjang sungai Volga yang bermuara di Laut Kaspia pernah berdiri negeri Islam Volga-Bolgar pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi.

Dokumen yang lain adalah buku karya sejarawan yang banyak menganalisa soal Timur Tengah, Eamonn Gearon. Buku itu berjudul Turning Points in Middle Eastern History. Di chapter ketujuh, Eamonn menulis tentang Battle of Talas, kisah pertempuran dua adidaya besar yakni dinasti Tang dari China berhadapan dengan pasukan kaum muslimin dari Khilafah Abbasiyah.

Pertempuran di Sungai Talas ini (saat ini adalah wilayah perbatasan Khazakstan dan kirgiztan) adalah pertempuran terjauh dari ibukota negara dari kedua belah pihak. Abbasiyah berpusat di Baghdad Dinasti Tang berpusat di Chang’an, hari ini berada di wilayah Provinsi Xi’an, negara China. Kedua belah pihak harus menempuh jarak ribuan kilometer hingga akhirnya mereka bertemu di sungai Talas.  Meskipun kedua belah pihak memiliki kekuatan yang sudah begitu tersohor, dua kekuatan adidaya, tapi tetap saja tentara bayaran punya peran signifikan dalam pertempuran kali ini.  Pasukan Abbasiyah menggunakan jasa tentara Tibet yang memang sedang dalam kondisi bermusuhan dengan Dinasti Tang. Sedang Dinasti Tang menggunakan jasa suku Karluk yang merupakan ¾ dari total jumlah pasukan Dinasti Tang.

The Karluks were Turkic, nomads who made up part of a large, prominent, nomadic confederacy that hailed from Central Asia. Their descendants are the modern-day Uighers and Uzbeks. Begitu ditulis  Eamonn Gearon dalam bukunya. Orang-orang Karluk merupakan bagian dari bangsa Turk bangsa nomaden yang begitu terkenal.

Dalam pertempuran Talas, kemenangan berpihak bagi kaum muslimin. Tak ada yang menduga sebelumnya, pertempuran yang nyaris luput dari catatan para sejarawan ini malah menjadi turning poin perseberan Islam. Pertempuran ini tak menghasilkan dendam bagi kedua belah pihak. Tak ada catatan yang menceritakan pertempuran ulang. Situasi malah berbalik. Kedua belah pihak malah menjalin hubungan. Islam menyebar nyaris tanpa hambatan. Bahkan tak lama setelah pertempuran Talas, Dinasti Tang meminta bantuan kepada pasukan Abbasiyah untuk memadamkan pemberontakan yang terjadi di China.

Ada orang-orang Turk di peristiwa pertempuran Talas, mereka kemudian memeluk Islam dan menjadi pendukung setia bani Abbasiyah, nanti keturunan Turk ini menjadi kekuatan besar yang pada akhirnya mengganti kekuasaan Abbasiyah. Pun menjadi kekuatan adidaya. Tak tertandingi selama berabad-abad, mengemban dakwah Islam hingga ke  ⅔ penjuru dunia. Dikenal dengan sebutan khilafah Utsmaniyah. Muhammad sang penakluk, merupakan bagian dari keturunan orang-orang Karluk (Turk).

Begitu juga di sungai Volga, sekarang posisinya berada dalam wilayah negara Rusia. Islam berkembang pesat di sana. Orang-orang Turk menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan. Dakwah yang disampaikan Ibn Fadlan membuat mereka tak hanya memeluk Islam secara individu, namun juga menerapkan Islam dalam komunitas masyarakat, bahkan dalam pemerintahan negara. Negara yang cukup terkenal di sana bernama kerajaan Volga-Bulgar. Mereka tunduk terhadap kekuasaan Abbasiyah yang menerapkan sistem kenegaraan dengan bersandar kepada syariat Allah.

Orang-orang sungai Volga dari suku Bolgar yang tidak mau memeluk Islam kemudian menyingkir. Mereka kemudian kawin mawin dengan orang-orang Slavic, bermukim di suatu tempat, memeluk agama kristen Ortodok, namun tidak mau melepaskan nama suku mereka. Bolgar. Bulgar. Wilayah mereka hari ini bernama Bulgaria.

Tak ada yang menduga sebelumnya, bahwa kemenangan kaum muslimin pada pertempuran Talas adalah awal mula revolusi dunia. Setelah pertempuran singkat tersebut, banyak orang dari Dinasti Tang yang dibawa ke Baghdad. Ada yang menjadi tawanan perang, ada pula yang sukarela ikut setelah mendengar popularitas Baghdad. Mereka berasal dari suku Tibet, Mongol, Uyghur, Khazak, Turkic.

Di Baghdad, mereka membantu pemerintah dengan mengembangkan teknologi kertas. Ya, 4 – 5 abad ke belakang, di China kertas sudah berkembang terlebih dahulu. Orang-orang ini, secara turun temurun memiliki keahlian membuat kertas yang tak ada tandingannya di dunia kala itu. Kertas dibuat, ilmu pengetahuan terdokumentasi. Mulai dari syair untuk para raja hingga penelitian orang-orang terhadap dokumen kuno yang terpatri pada batu, kayu, dan kulit binatang. 

Boom! Khalifah Harun Al Rasyid mendirikan Baitul Hikmah, perpustakaan tempat menyimpan ratusan ribu buku. Ilmu pengetahuan meledak. Dilanjutkan oleh anaknya, Khalifah Al Ma’mun, hingga kemudian Baitul Hikmah menjadi rujukan utama orang-orang dalam menuntut ilmu. Mengembangkan teknologi canggih pada masanya. Menghasilkan penemuan-penemuan mengagumkan. Untuk perkara ini, tentu saja jasa orang-orang yang mengembangkan teknologi kertas terpatri dalam. Orang-orang Uighur adalah salah satu suku yang tak boleh luput disebut.

Semakin hari Baghdad semakin tak tertandingi. Inilah peradaban luar biasa yang menjadi satu-satunya pesaing peradaban Roma yang berpusat di Byzantium kala itu. Bahkan tak membutuhkan waktu lama, Byzantium redup, Baghdad terang benderang.

Kemajuan ilmu pengetahuan tersebut seiring sejalan dengan perkembangan Islam. Ya, di dalam Islam, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Berkomunikasi bahkan bergaul, pun merupakan bagian dari ajaran Islam. Akhlak, kecermelangan berpikir, pengelolaan sistem keuangan, politik, sosial, semua dilakukan dengan asas Islam. Karena itu, perkembangannya melesat. Kemakmuran menjadi hal yang lumrah. Berkah melimpah kemana-mana.

Dari Baghdad menuju timur, wilayah-wilayah rata dengan Islam. Di utara, wilaya Volga – Bolgar semakin berkembang. Lanjut ke Balkan. Lanjut ke Himalaya. India sampai nusantara. Berada di bawah satu garis komando. Syariat! Begitu pula ke Barat. Dari Mesir, kemajuan iptek dan ketertarikan orang terhadap Islam semakin tak terbendung. Hingga lahirlah manusia penerus Khalid bin Walid bernama Musa bin Nusair. Gubernur Mesir ini terkenal tak terkalahkan dalam perang, pun begitu piawai mendakwahkan Islam. Maka peradaban agung ini pun sampailah ke ujung paling barat Afrika. Al-Maghrib. Maroko.  

Sudah selesai? Tentu saja tidak. Orang-orang Maroko yang telah mendalami Islam setia terhadap pemerintahan Musa bin Nusair. Salah satu kadernya, yang kemudian namanya akan terus disebut hingga kiamat, Thoriq bin Ziyad, merangsek ke utara. Sekejab Islam rata di suluruh tanah Andalus. Kembali, dari Andalusia ilmuan-ilmuan lahir. Kurtubi, Cordoba, menjadi ibu kota yang membuat orang-orang barat tercengang. Istana Al-hambra, membuat raja-raja kecil Perancis ternganga. Kemudian orang-orang ini tak mampu berbuat banyak melainkan ikut mencemplungkan diri dalam menimba ilmu pengetahuan. Universitas berdiri di Al Magrhib. Fatimah El Bihri pendirinya. Selanjutnya, bisa kau bayangkan, kembali perhatian dunia hanya tertuju kepada Andalusia. Islam. Menjadi penerus Baghdad.

Tetapi kekuasaan suatu kaum ada batas masanya. Seperti yang sudah difirmankan. Andalusia melemah. Terjadi perpecahan besar bagi Dinasti Islam. Reconquista terjadi. Granada, kerajaan terakhir bagi kaum muslimin takluk. Tak lama kemudian orang-orang Eropa mendarat di Benua Amerika. Disusul munculnya Imperium baru. Imperium Spanyol dan Portugal. Orang-orang Eropa juga ikut merasakan kemegahan ilmu pengetahuan.

Dari Eropa, kertas dikirim ke Amerika. Mesin cetak modern ditemukan. Produksi masal kertas tak terbantahkan. Ilmu pengetahuan terus menyebar. Kali ini bermunculan pemikir-pemikir Barat. Ada harapan tentang kebangkitan di Eropa. Ada harapan tentang kelahiran kembali.

Pada tahun 1762 Jean-Jacques Rousseau seorang filsuf dari Swis menerbitkan buku Du Contrat Social (Kontrak Sosial). Buku ini dianggap sebagai pilar revolusi besar Perancis. Rousseau menyerukan percaya kepada tuhan namun mengingkari wahyu. Dengan kata lain Rousseau menyerukan pemisahan agama dari kehidupan. Rousseau berpendapat bahwa para pembuat peraturan seperti para penguasa dan raja tidak mengaitkan perundang-undangan dan peraturan tersebut dengan tuhan kecuali demi memberikan sifat memaksa kepadanya dan menumbuhkan rasa takut dalam hati masyarakat untuk melanggarnya. Tulisan-tulisan Rousseau merupakan faktor penting bagi pertumbuhan sosialisme, romantisme dalam kesusastraan, totaliterisme, serta perintis jalan ke arah pecahnya revolusi Perancis.

Selain JJ Rousseau, ada pula Montesquieu yang menulis Trias Politica. Pada akhirnya rakyat sebagai suatu bangsa juga menuntut pembagian kekuasaan politik yang adil, yaitu kekuasaan raja harus dibatasi oleh undang-undang dan rakyat harus mempunyai wakil dalam parlemen. Dalam pemerintahan pun harus ada tiga kekuasaan yang satu sama lain terpisah, yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dari sini ide-ide mengenai persamaan hak terus berkembang biak. Gagasan mengenai demokrasi sejak era Yunani kuno, lahir kembali. Dibungkus dengan sesuatu yang berbau modern.

Di Perancis muncul revolusi besar, rakyat melawan raja dan gereja. Di Inggris muncul revolusi industri yang dilandasi oleh paham liberalisme. Kemudian lahirlah golongan kapitalis yang selanjutnya akan memunculkan tindakan imperialisme. Tentu saja ini bertolak belakang dengan ide ingin terbebas dari penguasa. Ketika masyarakat sudah terbebas dan punya hak politik, mereka malah melakukan tindakan imperialisme yang mau tidak mau juga mengurangi hak kemerdekaan bagi masyarakat yang lain. Tak hanya itu, eksploitasi ekonomi terhadap daerah jajahan terjadi begitu masif. Pencaplokan tanah-tanah jajahan tak henti terjadi. Muncul negara-negara adidaya. Perancis, mencaplok sebagian Eropa dan Indocina. Sebelumnya Spanyol dan Portugal sudah keliling dunia, mulai dari Amerika latin hingga Nusantara. Inggris dan Belanda begitu juga. Maka lahirlah perlawanan. Orang-orang menginginkan kemerdekaan. Kita kemudian mengenalnya dengan nasionalisme.

Sampai tahap ini, benarkah kemerdekaan hakiki terjadi? Tidak. Sebab nasionalisme pada akhirnya hanya melahirkan batas-batas wilayah yang terikat dalam sebuah aturan negara. Namun esensi dari penjajahan terus berlangsung. Penjajahan tak lagi bersifat fisik. Kita kemudian mengenalnya dengan istilah neo imperialisme. Barat telah benar-benar menguasai dunia dengan ditandai runtuhnya musuh utama, kekhilafahan Utsmaniah. Akidah yang diemban bernama sekulerisme dan liberalisme yang ditopang sistem perekonomian bernama kapitalisme. Maka lahirlah demokrasi. Yang oleh sebagian orang diagung-agungkan sedemikian rupa. Padahal ini sistem jelas-jelas hanya membahagiakan sebagian kecil orang, menyengsarakan sebagian besar yang lain. Persamaan yang dielu-elukan oleh demokrasi berakhir ditataran konsep bagi para penguasa dan tak lebih dari sekadar utopia bagi jelata. Betul-betul jauh dari rahmat ilahiyah.

Kasus yang menimpa saudara-saudara kita di Uighur adalah buah dari semua itu. Pada abad ke-16 sampai abad ke-18, bangsa Cina dan Rusia mulai mengerlingkan nafsu duniawinya. Ekspansi teritorial terjadi. Cina mulai bergerak menaklukkan Turkistan Timur dan kemudian merubah namanya menjadi Sinkiang, sementara Turkistan Barat telah lebih dahulu dicaplok Rusia. Dengan berbagai alasan politik, Soviet menghapuskan nama Turkistan dari peta dunia dan memancangkan nama Republik Soviet Uzbekistan, Republik Soviet Turkmenistan, Republik Soviet Tadzhikistan, Republik Soviet Kazakestan, dan Republik Soviet Kirgistan.

Nanti perlawanan-perlawanan dilakukan. Tapi tidak lagi mampu menjadi perlawanan yang berarti. Sebab semangat perlawanannya sudah berbeda. Nasionalisme. Orang-orang khazak hanya melawan untuk suku dan wilayahnya saja. Begitu pula orang-orang uzbek. Pun sama dengan perlawanan kirgiz dan Uighur. Kemenangan hakiki tak diraih dari perlawanan ini. Islam yang menjadi akidah mereka tak digunakan sebagai pemersatu. Padahal sejak dulu, selama berabad-abad begitu tersohor kekuatan Islam di segala bidang. Militer tak terkalahkan. Ekonomi mensejahterakan. Politik adil. Sosial terjaga kehormatannya. Inilah masalah utama kita. Akidah.

Lihat hari ini. Saudara-saudara kita di Uighur mengalami penindasan begitu rupa. Apa yang bisa kita lakukan? Maksimal menghujat negara Cina. Karena kita masih punya sedikit iman, kita berdoa siang malam demi keselamatan Uighur. Tapi ikhtiar apa yang bisa kita lakukan? Mana kekuatan besar yang begitu dibanggakan pada masa lalu itu? Mana?!

Beberapa kali saya harus menahan sesak dada ketika membaca berita tentang Uighur. Orang-orang di sana betul-betul perlu pertolongan yang nyata. Orang-orang di sana butuh persatuan yang nyata. Persatuan yang dilandasi akidah, yang membuat kita benar-benar bersaudara. Akidah ini akan membentuk sebuah peraturan yang akan dijalankan sebuah institusi pemerintahan. Jika ini terjadi, maka begitu mudah kita akan selesaikan kasus Uighur. Menyusul wilayah-wilayah yang lain seperti Suriah, Palestina, Rohignya, Kashmir, dan lain sebagainya.

Akan muncul Mu’tasim baru. Musa bin Nusair baru. Khalid bin Walid baru.

Sebentar lagi!